NovelToon NovelToon
Istri Gemuk Yang Selalu Di Remehkan

Istri Gemuk Yang Selalu Di Remehkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: yani 11

Sejak tubuhnya menggemuk, Laila tak pernah lagi dihargai oleh suaminya. Ia terus dihina karena penampilannya, padahal sang suami sendiri hanya mampu memberi nafkah seadanya. Demi membeli satu botol skincare impiannya, Laila diam-diam menyisihkan sisa uang belanja setiap hari. Namun, ketika sebuah kesempatan mengubah hidupnya, pria yang dulu merendahkannya justru mulai menyesal. Akankah Laila memaafkan, atau memilih meninggalkan semua luka yang pernah ia terima?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab_19

"Ada apa, Nathan?" tanya Adrian tenang. Wajahnya dipenuhi kewaspadaan, sementara sorot matanya langsung berubah tajam.

"Salah satu petugas keamanan menemukan jejak seseorang di halaman belakang." jawab Nathan serius. Wajahnya dipenuhi ketegangan, sementara tangannya menggenggam sebuah alat komunikasi.

"Apa orang itu berhasil ditangkap?" tanya Adrian cepat. Wajahnya dipenuhi harapan.

"Belum, Tuan." jawab Nathan lirih. Wajahnya dipenuhi penyesalan. "Dia berhasil melarikan diri sebelum petugas mendekat."

Adrian mengepalkan kedua tangannya.

"Periksa seluruh rekaman CCTV." perintah Adrian tegas. Wajahnya dipenuhi ketegasan.

"Sudah kami lakukan." jawab Nathan mantap. Wajahnya dipenuhi keseriusan. "Namun orang itu mengenakan topi, masker, dan jaket hitam. Wajahnya sama sekali tidak terlihat."

Pak Surya mengernyit.

"Berarti orang itu sudah mempersiapkan semuanya." ucap Pak Surya serius. Wajahnya dipenuhi kecurigaan.

Rani yang mendengar pembicaraan itu langsung menundukkan kepala.

"Apakah... semua ini karena saya?" tanya Rani lirih. Wajahnya dipenuhi rasa bersalah.

Adrian langsung menoleh.

"Jangan pernah menyalahkan dirimu." ucap Adrian lembut. Wajahnya dipenuhi ketegasan."Mereka datang bukan karena kesalahanmu, tetapi karena mereka takut kebenaran terungkap."

Nathan menganggukkan kepala.

"Tuan benar." ucap Nathan mantap. Wajahnya dipenuhi keyakinan. "Semakin mereka bergerak, semakin jelas bahwa penyelidikan kita berada di jalur yang benar."

Pak Surya perlahan menutup map di hadapannya.

"Pak Adrian." ucap Pak Surya tenang. Wajahnya dipenuhi pertimbangan. "Kalau memang ada pihak yang ingin menggagalkan perceraian Bu Rani, saya khawatir mereka tidak akan berhenti sampai di sini."

Adrian mengangguk pelan.

"Itulah sebabnya keamanan rumah ini harus ditingkatkan." ucap Adrian tegas. Wajahnya dipenuhi kewibawaan.

Nathan segera mengangkat alat komunikasinya.

"Tim satu, tim dua, dengarkan." ucap Nathan serius. Wajahnya dipenuhi fokus. "Mulai saat ini seluruh pintu masuk diperketat. Tidak seorang pun boleh keluar ataupun masuk tanpa izin saya atau Tuan Adrian."

"Siap!" jawab beberapa suara dari alat komunikasi secara bersamaan.

Rani tampak semakin gelisah.

"Pak Adrian..." ucap Rani pelan. Wajahnya dipenuhi kecemasan. "Saya tidak ingin membahayakan semua orang di rumah ini."

Adrian tersenyum tipis.

"Rumah ini sudah lama menjadi tempat berlindung bagi orang-orang yang membutuhkan." ucap Adrian tenang. Wajahnya dipenuhi ketulusan. "Dan aku tidak pernah menyesali keputusan itu."

Belum sempat Rani menjawab, terdengar suara langkah kaki tergesa-gesa dari arah pintu depan.

"Tuan!" seru Leonard sambil memasuki ruang tamu. Wajahnya dipenuhi kelelahan, sementara bajunya masih dipenuhi debu.

"Leonard." ucap Adrian lega. Wajahnya dipenuhi rasa syukur. "Bagaimana keadaanmu?"

"Saya baik-baik saja, Tuan." jawab Leonard hormat. Wajahnya dipenuhi semangat. "Dan saya membawa sesuatu."

Nathan segera menghampiri Leonard.

"Apa itu?" tanya Nathan penasaran. Wajahnya dipenuhi rasa ingin tahu.

Leonard mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari dalam tasnya.

"Ini hasil cetakan foto album kelulusan." jawab Leonard serius. Wajahnya dipenuhi keyakinan.

Adrian langsung mengambil amplop tersebut.

"Coba kita lihat bersama." ucap Adrian tenang. Wajahnya dipenuhi konsentrasi.

Leonard mengeluarkan beberapa lembar foto.

"Ini Bu Rani ketika masih SD." jelas Leonard. Wajahnya dipenuhi keseriusan. "Dan ini adalah daftar seluruh murid."

Nathan memperhatikan dengan saksama.

"Benar..." gumam Nathan pelan. Wajahnya dipenuhi keterkejutan. "Nama Bu Rani memang berada tepat di samping nama yang ditutupi tinta hitam."

Pak Surya ikut mendekat.

"Aneh sekali." ucap Pak Surya pelan. Wajahnya dipenuhi rasa heran. "Siapa yang sengaja menghitamkan nama itu?"

Leonard menggeleng.

"Itu belum semuanya." ucap Leonard serius. Wajahnya dipenuhi ketegangan.

Semua orang langsung menatapnya.

"Ada bekas goresan pada tinta hitam itu." lanjut Leonard. Wajahnya dipenuhi keyakinan."Seolah-olah seseorang pernah mencoba menghapus nama tersebut menggunakan cairan kimia."

Nathan membelalak.

"Artinya..." ucap Nathan pelan. Wajahnya dipenuhi keterkejutan.

"Artinya nama itu sangat penting." jawab Adrian dingin. Wajahnya dipenuhi keyakinan. "Sampai-sampai seseorang rela merusak album kelulusan demi menghilangkan identitasnya."

Rani sejak tadi hanya diam memperhatikan Adrian, Nathan, dan Leonard yang terus membicarakan seorang wanita bernama Rani serta sebuah foto kelulusan SD. Wajahnya dipenuhi kebingungan, sementara pandangannya terus berpindah dari satu orang ke orang lain.

"Maaf..." ucap Rani pelan. Wajahnya dipenuhi keraguan, sementara kedua tangannya saling menggenggam. "Boleh saya bertanya sesuatu?"

Adrian menoleh ke arahnya.

"Tentu." jawab Adrian tenang. Wajahnya dipenuhi ketenangan.

Rani menarik napas perlahan sebelum kembali berbicara.

"Sejak tadi Bapak terus menyebut nama Rani." ucap Rani lirih. Wajahnya dipenuhi rasa penasaran. "Nama wanita itu... sama persis dengan nama saya. Apa hanya kebetulan, atau... sebenarnya yang sedang Bapak bicarakan adalah saya?"

Ruangan seketika menjadi sunyi.

Nathan dan Leonard saling berpandangan. Keduanya tampak menunggu reaksi Adrian, tetapi tidak seorang pun berani membuka suara.

Rani semakin merasa ada sesuatu yang sedang disembunyikan darinya.

"Apa saya salah bertanya?" tanya Rani pelan. Wajahnya dipenuhi kebingungan.

Adrian tersenyum tipis untuk menenangkan suasana.

"Kau terlalu banyak berpikir." ucap Adrian lembut. Wajahnya dipenuhi ketenangan. "Nama Rani bukanlah nama yang langka. Ada banyak orang yang memiliki nama yang sama."

Rani masih menatap Adrian lekat-lekat.

"Jadi... wanita yang sedang Bapak bicarakan bukan saya?" tanyanya lagi. Wajahnya dipenuhi rasa ingin tahu.

Adrian tidak langsung menjawab. Sesaat kemudian, ia sengaja mengalihkan pembicaraan.

"Pak Surya." panggil Adrian tenang. Wajahnya dipenuhi keseriusan. "Bagaimana perkembangan berkas perceraian Rani?"

Pak Surya segera membuka map yang sejak tadi berada di hadapannya.

"Semua dokumen sudah lengkap." jawab Pak Surya profesional. Wajahnya dipenuhi ketenangan. "Prosesnya tinggal menunggu jadwal persidangan."

Rani tampak sedikit terkejut karena pembicaraan tiba-tiba berubah.

"Apakah semuanya akan berjalan lancar?" tanya Rani pelan. Wajahnya dipenuhi kekhawatiran.

"Tenang saja." jawab Pak Surya meyakinkan. Wajahnya dipenuhi keyakinan. "Selama seluruh dokumen sesuai, prosesnya tidak akan mengalami kendala berarti."

Rani mengangguk perlahan, tetapi raut wajahnya masih menunjukkan kebingungan.

Di sisi lain, Nathan dan Leonard memahami alasan Adrian mengubah arah pembicaraan. Sejak awal, Adrian telah menegaskan bahwa Rani tidak boleh mengetahui penyelidikan itu sebelum seluruh kebenarannya terungkap.

Terlalu banyak pertanyaan hanya akan membuat Rani curiga dan bisa membahayakan penyelidikan yang sedang mereka lakukan.

Nathan memilih tetap diam. Begitu pula Leonard. Ia hanya menundukkan kepala sambil menyimpan kembali foto kelulusan SD ke dalam map cokelat, memastikan Rani tidak sempat melihatnya dengan jelas.

Meski pembicaraan telah beralih ke masalah perceraian, hati Rani tetap dipenuhi tanda tanya. Ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Adrian.

Cara Nathan dan Leonard saling berpandangan, perubahan arah pembicaraan yang begitu mendadak, serta sikap Adrian yang menghindari pertanyaannya membuat firasatnya semakin kuat. Namun Rani memilih mengurungkan niat untuk bertanya lagi.

Ia sadar, jika Adrian memang belum ingin menjelaskan, sebesar apa pun rasa penasarannya, pria itu tetap tidak akan membuka rahasia tersebut.

Sementara itu, Adrian diam-diam mengepalkan tangannya di bawah meja.

"Maaf, Rani. Belum saatnya kau mengetahui semuanya. Sampai aku benar-benar memastikan siapa dirimu sebenarnya, rahasia ini harus tetap tersimpan." batin Adrian dengan wajah tetap tenang.

Belum sempat siapa pun menanggapi, salah satu ponsel milik Nathan tiba-tiba bergetar. Nathan melihat layar ponselnya.

"Tuan..." ucap Nathan pelan. Wajahnya berubah tegang.

"Siapa?" tanya Adrian cepat. Wajahnya dipenuhi kewaspadaan.

Nathan menelan ludah.

"Nomor tidak dikenal." jawab Nathan serius. Wajahnya dipenuhi rasa curiga.

"Angkat." perintah Adrian tegas. Wajahnya dipenuhi ketenangan.

Nathan segera menerima panggilan dan mengaktifkan pengeras suara.

"Halo?" ucap Nathan waspada. Wajahnya dipenuhi kehati-hatian.

Beberapa detik tidak terdengar suara.

Kemudian terdengar suara pria yang sengaja diubah menggunakan alat pengubah suara.

"Hentikan penyelidikan kalian." ucap suara misterius itu dingin. Nada bicaranya terdengar mengancam.

Nathan mengepalkan tangannya.

"Siapa kamu?" tanya Nathan keras. Wajahnya dipenuhi kemarahan.

"Itu tidak penting." jawab suara tersebut santai. "Yang penting... jika Adrian tetap ikut campur, bukan hanya Rani yang akan kehilangan segalanya."

Sorot mata Adrian langsung berubah tajam.

"Apa maksudmu?" tanya Adrian dingin. Wajahnya dipenuhi amarah yang tertahan.

Suara itu tertawa pelan.

"Kalian terlambat." ucapnya mengejek. "Orang kami sudah berada sangat dekat dengan target berikutnya."

Nathan langsung berdiri.

"Target siapa?" tanyanya cepat. Wajahnya dipenuhi kepanikan.

Namun sambungan telepon tiba-tiba terputus. Ruangan kembali dipenuhi keheningan yang mencekam.

Beberapa detik kemudian...

Ponsel Leonard mendadak berdering nyaring. Leonard segera melihat layarnya. Wajahnya yang semula tenang langsung memucat.

"Tuan..." ucap Leonard dengan suara bergetar. Wajahnya dipenuhi keterkejutan.

"Ada apa?" tanya Adrian cepat. Wajahnya dipenuhi kecemasan.

Leonard mengangkat kepalanya perlahan.

"Rumah mantan guru SD Bu Rani..." ucap Leonard lirih. Wajahnya dipenuhi kepanikan. "Baru saja terbakar."

1
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
sunaryati jarum
Rani.anak.orang kaya yang disingkirkan atau ada orang yang suka pada Adrian
sunaryati jarum
Kamu tidak tertarik wanita karena mengharapkan Rania,Nak Adrian
sunaryati jarum
Balas budi atau ada Rasa Nak Adrian
sunaryati jarum
Tekad yang bagus Rani
sunaryati jarum
Yang menolong ternyata teman.kecilmu
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu...
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
Feni sang penulis novel
wow Saya suka dengan ceritanya Saya suka dengan alur bagian hemat harga tertawa sinis sudut bibirnya berangkat mengejek semangat terus ya kak bikin karyanya Saya suka banget dengan alur ceritanya semuanya Saya suka oh iya kak bolehkah saya mempromokan kenapa baru saya novel saya ada 3 sih tapi kalau kakak suka semuanya tolong berikan komentar dan bintang 5-nya ya kak semangat terus terima kasih
Fransiska aghata
oke kak, makasih udah mampir😁
Ayu Ara12
next dong kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!