NovelToon NovelToon
TERJERAT OBSESI ELZIO

TERJERAT OBSESI ELZIO

Status: tamat
Genre:Obsesi / One Night Stand / CEO / Percintaan Konglomerat / Office Romance / Tamat
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

"Dendanya lima miliar rupiah, Clara. Atau... kamu tanda tangani kontrak tiga tahun jadi asisten pribadi saya!"
Berniat kabur dari masa lalu dan hidup mandiri, Clara justru terjebak dalam jaring laba-laba Elzio Mahendra—CEO tampan, kaya raya, dan obsesif yang tak mempan digertak. Hanya demi mengikat Clara di sisinya, Elzio tak ragu membeli perusahaan tempat Clara melamar dan menjeratnya dengan kontrak denda bernilai fantastis.
Segala cara Clara lakukan agar Elzio ilfil—mulai dari bersikap super galak, memboroskan uangnya, hingga kabur naik KRL. Namun, bukannya menyerah, sang CEO gila justru makin gila dan posesif padanya.
Di tengah intrik perjodohan elit dan trauma masa lalu yang menghantui, akankah Clara berhasil bebas dari jerat denda lima miliar, atau justru akhirnya bertekuk lutut dalam pelukan sang CEO?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 34

Suhu dingin di Titlis, pegunungan Alpen Swiss, menyelimuti hamparan salju putih yang membeku. Namun di sebuah teras pondok kayu privat, kehangatan seolah tak pernah memudar.

​Clara tertawa renyah saat sebuah bola salju kecil mendarat di bahu jaket tebalnya. Dia buru-buru membungkuk, mengepal salju dengan sarung tangannya, lalu melemparkannya kembali ke arah pria tegap di depannya.

​"Elzio! Curang banget ya!" seru Clara antusias, matanya berbinar riang dengan pipi merona merah akibat terpaan angin dingin.

​Brak!

​Sebelum bola salju Clara mengenai sasaran, Elzio sudah lebih dulu melangkah cepat, menyambar tubuh mungil Clara dan membawanya ke dalam pelukan erat hingga mereka berdua jatuh ke atas hamparan salju empuk.

​"Aaa! Elzio!" jerit Clara terkejut, tertawa lepas di dalam dekapan suaminya.

​"Dapat," bisik Elzio rendah, menindih tubuh Clara tanpa beban berat, menatap wajah istrinya dari jarak beberapa sentimeter saja. Matanya memancarkan rasa kagum dan kegilaan yang tak pernah surut. "Kamu tidak akan pernah bisa lari dari saya, sweetheart."

​"Siapa juga yang mau lari?" cicit Clara, tersenyum manis lalu menyentuh kedua pipi Elzio yang dingin. "Seneng banget ya bikin aku basah kuyup begini?"

​"Saya selalu senang melihat kamu tertawa lepas seperti ini, Clara," balas Elzio tulus, menunduk dan mencium bibir Clara yang manis dengan kelembutan yang dalam di tengah terpaan rintik salju. "Senyum kamu itu... obat paling ampuh buat saya."

​Clara melingkarkan tangannya di leher Elzio, membalas ciuman itu tanpa ragu lagi. Rasa cinta yang tumbuh subur di dadanya membuat setiap sentuhan Elzio terasa begitu mengikat jiwanya.

​Sementara itu, ribuan kilometer dari Swiss. Di sebuah griya tawang mewah di kawasan elit Jakarta Selatan.

​PRANG!

​Sebuah gelas kristal hancur berkeping-keping di atas lantai marmer. Seorang wanita bergaun merah elegan berdiri dengan napas memburu, menatap layar tablet di tangannya dengan tatapan penuh amarah dan ketidakpercayaan.

​"Pernikahan tertutup di pulau pribadi?!" desis wanita itu tajam, jemarinya mengepal erat hingga kukunya memutih. "Elzio... kamu beneran menikah dengan wanita lain?!"

​"Tenanglah, Karenina," ujar asisten pribadinya ragu-ragu di belakangnya. "Kabar dari orang dalam AetherCorp memang membenarkan itu. Tuan Elzio sudah mendaftarkan pernikahannya dua minggu lalu."

​Karenina—wanita cantik berparas anggun dengan postur tubuh ramping dan senyuman khas yang teramat mirip dengan Clara—menatap foto wanita di layar tabletnya dengan tatapan benci yang mendalam.

​"Clara..." bisik Karenina dingin, menyapu layar tablet itu dengan jarinya. "Siapa cewek murah dari kampung ini?! Kenapa... kenapa senyumnya bisa sejuta kali mirip sama aku?!"

​"Nona Karenina, Anda kan tahu Tuan Elzio dulu sangat mencintai Anda sebelum Anda pergi ke Paris tiga tahun lalu—"

​"Dia tidak pernah melupakan aku!" potong Karenina histeris, memutar tubuhnya galak. "Elzio cuma mencari pelampiasan! Dia menikahi wanita ini cuma karena wajah dan perawakannya mirip dengan aku! Cewek ini cuma bayangan aku!"

​Karenina menyunggingkan senyuman licik penuh tekad di bibirnya yang merona merah.

​"Siapkan jet pribadi ke Eropa sekarang juga," perintah Karenina dingin. "Aku akan menyusul Elzio ke Zurich. Aku yang pertama ada di hatinya, dan aku yang akan merebut Elzio kembali dari cewek tak berguna itu!"

​Malam harinya di presidential suite hotel berbintang lima di Zurich.

​Uap hangat membumbung dari bak mandi berbusa. Clara baru saja selesai mengeringkan rambutnya dan mengenakan piyama sutra tipis berwarna merah muda. Seluruh persendiannya terasa pegal dan lemas luar biasa setelah seharian bermain salju di Titlis.

​"Aduh... badan aku rasanya kayak mau copot," gumam Clara lelah, merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk dan memejamkan mata.

​Sret.

​Pintu kamar mandi terbuka. Elzio melangkah keluar hanya dengan handuk yang melilit pinggangnya, menampilkan dada bidang bertato tipis dan otot perutnya yang sempurna dengan bulir air yang masih menetes.

​Melihat istrinya berbaring lemas, Elzio menyunggingkan seringai tipisnya yang penuh rasa haus. Dia merangkak naik ke atas kasur, menyusup ke bawah selimut dan mengurung tubuh Clara di bawah bayangannya.

​"Capek, sweetheart?" bisik Elzio rendah, menempelkan bibirnya di ceruk leher Clara yang hangat.

​"El... pliss..." cicit Clara tanpa membuka mata, meraba dada Elzio untuk mendorongnya pelan. "Aku capek banget, Elzio. Seharian main salju, main ski... besok aja ya?"

​"Tidak mau," balas Elzio cepat tanpa bantahan, jemarinya mulai melucuti kancing piyama Clara satu per satu dengan gerakan lihai.

​"Elzio! Kamu bener-bener gak ada matinya ya?!" protes Clara melotot galak, mendudukkan diri meski dengan sisa tenaganya. "Setiap malam! Setiap malam kamu minta terus! Aku ini manusia, El, bukan mesin!"

​Elzio justru terkekeh rendah, memajukan wajahnya hingga hidung mereka saling bersentuhan. Binar matanya mendadak berubah sangat dalam dan penuh godaan yang memabukkan.

​"Salah kamu sendiri kenapa makin hari makin cantik dan manis," bisik Elzio parau, meraih kedua tangan Clara dan meletakkannya di dadanya yang berdetak kencang. "Gimana saya bisa tahan kalau istri saya selalu menggoda seperti ini?"

​"Mana ada aku menggoda! Aku cuma piyama-an doang!" seru Clara gemas.

​"Piyama sutra tipis ini sudah cukup bikin saya gila, Clara," desis Elzio, lalu menunduk dan membungkam bibir Clara dengan ciuman yang luar biasa menuntut dan panas.

​"Mmph... El..." rintih Clara pelan. Rencananya untuk menolak runtuh seketika saat lidah Elzio menyapu lembut bibirnya, mengirimkan sengatan hangat yang membuat seluruh tubuhnya melayang.

​Elzio membalikkan posisi mereka, mengecupi rahang, leher, hingga tulang selangka Clara dengan sangat obsesif. Setiap kali Clara mendesah lelah, Elzio membalasnya dengan bisikan-bisikan cinta yang manis di dekat telinganya.

​"Katakan kamu milik siapa, Clara?" bisik Elzio parau di dada Clara.

​"Milik... milik kamu, Elzio..." sahut Clara pasrah, jemarinya meremas rambut belakang suaminya.

​"Punya Elzio Mahendra selamanya," tegas Elzio penuh dominasi, sebelum kembali membawa istrinya tenggelam dalam malam panjang penuh gairah yang tak membiarkan Clara tertidur hingga fajar menyingsing.

1
umie chaby_ba
mampir thor..🙏
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak 🙏🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!