Bosan dengan kehidupan bagaikan seorang putri membuat Kimora Candy Anastasya harus membuat perjanjian dengan sang ayah agar bisa terbebas dari semua peraturan Keluarga Besar Park.
Ayah Kimora, Baek Hyeon sangat protektif terhadap putrinya itu hingga semuanya harus sesuai dengan peraturan keluarganya. Semenjak istrinya meninggal Baek Hyun sangat over protektif hingga membuat Kimora tidak betah.
Hingga ia memilih menjadi artis dan bertemu dengan Abigail seorang vampire yang juga bekerja di dunia entertainment sebagai artis figuran. Tertarik dengan kehidupan Abigail membuatnya banyak berubah dari seorang gadis manja menjadi mandiri. Hanya saja Abigail sangat anti terhadap wanita.
Lalu bagaimanakah cara Kimora menaklukan hati Abigail? Akankah keluarga besar mereka memberikan restu dan berakhir bahagia? Atau penuh dengan rintangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Haryani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 21. PENGALAMAN PERTAMA
Seharusnya perjalanan mereka berlangsung singkat. Akan tetapi semakin banyak Kimora meminta Abigail untuk istirahat, maka perjalanan mereka semakin tertunda. Sama halnya dengan yang terjadi saat ini.
"Manusia benar-benar lemah, bagaimana mereka bisa bertahan jika terus seperti ini!" gumam Abigail setengah menggerutu.
Entah kenapa ia semakin ragu untuk membawanya kembali ke dalam keluarga besarnya. Hanya kedua orang tuanya yang terus memberikan semangat agar Abigail tidak menyerah.
"Jangan begitu, kamu harus tahan banting jika berhubungan dengan manusia. Mereka memang berbeda maka dari itu kamu harus bertahan."
Tiba-tiba saja Nyonya Meira muncul di belakang putranya.
"Mommy ...." pekik Abigail tiba-tiba.
Kimora sempat menoleh ke arah Abigail yang terdengar setengah berteriak. Lalu setelahnya justru terlihat jika Abigail memilih membuang muka.
Melihat pertengkaran kecil itu, Meira seolah mengingat masa lalunya. Untuk itu ia pun pergi ke tempat Kimora.
"Kamu masih lelah, 'kan?"
Kimora tampak menggangguk. Lalu kembali merebahkan tubuhnya di atas tumpukan jerami berlapis jubah Abigail.
Namun, kedua orang tua Abigail tidak memaksa jika memang fisik Kimora tidak cukup kuat untuk melakukan perjalanan panjang seperti yang mereka lakukan biasanya. Kedua orang tua Abigail tampaknya juga menyadari karena perbedaan ras di antara keduanya, tetapi tidak dengan Abigail yang berjiwa muda.
"Apakah kita perlu meninggalkan mereka berdua dan membiarkan menyusul kita di belakang?" tanya Meira ragu.
"Biar saja seperti ini. Lagi pula aku belum terlalu siap untuk menghadapi Ayah!" ucap Tuan Xaxier mencoba jujur.
Meskipun terlihat garang dan irit bicara, sebenarnya Ayah Abigail orang yang ramah. Bahkan ia sering terlihat lebih sabar dibandingan dengan Abigail.
Akan tetapi lemarahan yang mereka dapatkan dari Tuan Felixs membuat Xavier harus menjadi pelampiasan Sang Ayah. Belum lagi sikap dingin dari keluarganya berhasil membuat ia seolah diasingkan.
Oleh karena itu Tuan Xavier memutuskan untuk menjemput Kimora dan juga Abigail dalam waktu dekat ini. Selain untuk memperkenalkan mereka, juga ingin menunjukkan pada gadis keras kepala itu agar ia tau jika manusia tidak bisa bersanding dengan ras vampir.
Meira tampak mengusap bahu suaminya, "Maaf, semua ini salahku!"
Tuan Xavier hanya mengedikkan bahunya, lalu beranjak pergi untuk mencari makanan untuk calon menantunya itu. Meskipun begitu ia masih sempat berpamitan pada istrinya.
"Sudahlah, kamu temani mereka dan aku akan berjaga di sekitar sini."
Meira tampak mengangguk, lalu setelahnya Tuan Xavier benar-benar pergi. Sebenarnya ia sudah memprediksi hal seperti ini akan terjadi. Namun, permintaan istrinya tidak dapat ia tolak karena ia sangat mencintai Meira.
Lagi pula tidak ada jalan lain lagi. Membawa Abigail kembali bersama manusia yang dekat dengannya adalah solusi terbaik. Terlebih lagi, Abigail merupakan anak kesayangan dari istrinya tersebut. Sehingga apapun permintaan atau sikap Abigail pasti didukung olehnya.
Melihat ayahnya pergi, maka Abigail berniat untuk menyusulnya. Akan tetapi tangan kecil Kimora mampu menahan langkah Abigail untuk sementara waktu.
"Kamu mau kemana?" tanya Kimora.
"Mencari makanan," jawab Abigail singkat.
"Aku ikut!" ucap Kimora sambil berdiri.
Abigail mencoba melepas pegangan tangan dari Kimora dan menatapnya dengan sorot mata tajam.
Melihat ada percikan kemarahan Abigail terhadap Kimora, Nyonya Meira mulai mendekatinya.
"Pergilah!" titah Nyonya Meira pada putranya.
Mendapat kesempatan itu maka dengan senang hati Abigail bergegas pergi. Kimora tidak mampu mengatakan apapun lagi ketika calon ibu mertuanya sudah memberikan perintah.
Nyonya Meira tampak mendekati Kimora. "Apakah kamu lapar anak manis?"
Tanpa rasa sungkan Kimora mengangguk ke arah Nyonya Meira. Hingga setelahnya beliau mengulum senyumnya dan mengusap kepala Kimora secara berkali-kali dengan gemas.
"Kalau begitu kamu ingin ikut berburu atau menunggu hasil buruan dari Abigail dan juga ayahnya?"
"Be-berburu?" tanya Kimora keheranan.
Nyonya Meira tampak mengangguk.
"Ya, berburu, memangnya apa lagi? Bukankah berburu merupakan sebuah kegemaran dari bangsa vampire. Apa kau tidak mengetahui hal itu?"
Tentu saja Kimora menggeleng. Pikirannya berkecamuk saat itu. Ia merasa sangat bersalah karena membiarkan pujaan hatinya harus berburu di tengah hutan yang belum pernah mereka tinggali.
"Bagaimana ini? Aku begitu takut jika nantinya dia sampai kenapa-napa."
Nyonya Meira yang melihat raut wajah Kimoya sendu segera menegurnya kembali.
"Pasti Abigail jarang sekali bercerita kepadamu tentang keluarga kami?" tanya Nyonya Meira pada Kimora.
"Bagaimana ia bisa bercerita sementara kami jarang berkomunikasi," ucap Kimora di dalam hati.
Wajah Kimora tampak sendu. Di tambah lagi saat ini semuanya sudah terlambat jika ia meminta kembali. Perjalanan panjang mereka sudah mendapat setengah perjalanan.
Sekali lagi meskipun Kimora mengucapkan hal tersebut di dalam hatinya, tetapi Nyonya Meira bisa membaca apa yang ada di pikirannya.
"Sepertinya cintamu ini bertepuk sebelah tangan ya, Sayang. Hm, baiklah biarkan aku yang membantu kalian setelah ini."
Perbedaan antara manusia dan bangsa vampir memang lebih terasa di sini. Jika Abigail bisa bertahan beberapa puluh jam, tidak begitu dengan Kimora yang harus mengisi energi agar dirinya tetap tumbuh dan hidup.
Sama seperti hari ini, baru saja sehari ia tidak makan perutnya terasa melilit. Kimora tampak memegangi perutnya. Sementara itu Nyonya Meira menjaga calon menantunya itu.
Sebuah api unggun terus berkibar di hadapan Kimora untuk perapian sekaligus menghangatkan tubuh. Kimora akhirnya mengenakan mantel bulu milik Abigail. Harum tubuh maskulin dari Abigail sudah tercium, hal itu mampu membuat Kimora semakin menyukai Abigail.
Awalnya ia mengira jika perjalanan mereka akan menggunakan pesawat, tetapi ternyata mereka menempuh perjalanan darat.
"Apakah Ayah dan kakak akan marah jika mengetahui hal ini terjadi padaku."
Belum sempat Kimora bergerak ternyata Abigail sudah membawa barang perburuannya ke hadapan Kimora. Betapa terkejutnya Kimora saat melihat dua buah kelinci yang dibawa oleh Abigail.
"Kenapa menatapku seperti itu?"
"Ka-kamu bisa berburu?" tanya Kimora tergagap.
"Kalau bukan aku lalu siapa lagi?"
"Diam di sini dan tunggu!"
"Baik," jawab Kimora singkat.
Tidak perlu menunggu lama, Abigail membersihkan bulu-bulu kelinci lalu menusuknya dengan bilah kayu. Kimora terkesima melihat kecekatan Abigail dalam mengolah hasil buruannya tersebut.
Tidak berselang lama, Tuan Xavier juga membawa binatang buruannya. Ia juga membawa beberapa ekor kelinci. Sama seperti Abigail, Nyonya Meira juga melakukan hal yang sama. Dalam sekejap mereka sudah memanggang kelinci di atas bara api.
"Semua ini makanan kita malam ini, untuk air minumnya kita bisa meminum langsung dari dahan pohon yang menyimpan air, nanti biar Abigail yang mengambilkan untukmu."
Kimora mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Akhirnya ketiga orang itu tampak menikmati hasil buruan dengan nikmat, lain halnya dengan Kimora yang masih menatap tidak percaya pada makanan yang sedang dibawanya saat ini.
"Kenapa, apakah kau tidak suka dengan makanan ini?"
"A-aku belum pernah memakan makanan seperti ini?"
"Cobalah, Sayang. Gigit sedikit dan rasakan."
"Ba-baiklah ...."
Mau tidak mau akhirnya Kimora mencicipi kelinci bakar tersebut.