Warning!! sebelum membaca usahakan untuk membaca terlebih dahulu "ISTRI UNTUK TUAN MUDA PSYCHOPATH"
supaya kalian tau alur ceritanya.
🌹🌹🌹🌹
Erlon yang mabuk berat membuat dirinya kehilangan kendali, sehingga tanpa sadar ia melakukan pelecehan terhadap Briana. Yang membuat Kenzo sang daddy harus rela melihatnya menikah dengan anak dari musuhnya, dari situlah kisah perjalanan cinta mereka akan dimulai.
Siapakah yang akan terlebih dahulu jauh cinta? Apakah Erlon atau Briana?
🍃🍃🍃🍃
Eeetsss!! disini juga bakal ada kisah cinta Erlan dan juga Aurora lho, penasaran seperti apa kisah mereka. Cus dibaca saja bestie. Tapi sebelum kalian baca usahakan berikan Ayuza yang mental patungan ini dukungan ya ... .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berduka
Alisa dan Morgan kabur setelah tahu yang mereka jebak adalah Erlan bukan Erlon. Setelah mereka pergi tak lama Erlan sadar ia melihat Aurora yang masih ada di sebelahnya. "Aurora," suara Erlan paru. Ketukan pintu membuatnya mengurungkan niatnya untuk membangunkan Aurora. Dengan langkah yang masih sempoyongan Erlan berjalan ke arah pintu sambil memegang kepalanya. Ceklek … saat pintu terbuka terlihat dua orang dengan seragam polisi. Erlan sempat diam sebelum ia membuka suara, "Ada yang bisa saya bantu?"
"Selamat malam tuan, apa benar Anda putra dari pasangan Pak Kenzo dan juga Nyonya Zizi?" tanya polisi itu yang kini memperlihatkan identitasnya.
"Iya betul, kenapa dengan kedua orang tua saya?"
"Maaf kami membawa kabar, yang kurang menyenangkan," ucap polisi itu. "Begini tuan, mereka mengalami kecelakaan tunggal. Dan kini jasad mereka ada di rumah sakit untuk melakukan otopsi."
"Tunggu, mungkin Anda salah."
Polisi itu memberikan Erlan ponsel dan KTP Kenzo sebagai barang bukti dan liontin yang dulu tuan Hercules berikan untuk Zizi. "Kami menemukan ini tuan, apa bukti ini belum cukup meyakinkan Anda?"
Erlan tak mampu berkata apa-apa di saat ia melihat dengan jelas, KTP serta liontin Zizi. Perasaannya kini hancur lebur di saat kedua orang tua yang sangat ia sayangi kini telah tidak ada.
"Kami akan terus menyelidiki penyebab kecelakaan ini tuan, kalau begitu kami permisi." Polisi itu pergi setelah mengatakan itu.
"Tidakkkk!!!!" teriak Erlan. "Kenapa ini harus terjadi." Erlan tertunduk lemas. Ia membayangkan wajah Zizi dan Kenzo. "Mommy … daddy," lirih Erlan. Suara Zizi, canda tawanya terngiang-ngiang di telinga Elan. "Jadi, itu semua pesan terakhir mereka berdua."
Seminggu yang lalu saat Erlan sedang berada di kantor Zizi datang bersama Kenzo, mereka ingin membicarakan sesuatu dengan Erlan.
"Mommy, daddy. Kenapa gak bilang mau ke kantor, apa mommy kangen dengan Erlan?"
"Bukannya suruh mommy masuk dulu." Zizi pura-pura merajuk. "Udah dad, kita pulang saja. Erlan memang duplikat kamu kalau soal kerja," sambung Zizi.
"Lah, bukannya Mommy sudah masuk, sini duduk dulu, mau minum apa?"
"Mommy sama daddy gak lama," kata Kenzo sambil menuntun Zizi untuk duduk di sopa. "Daddy cuma mau nyerahin ini." Kenzo memberi Erlan surat yang berisi jumlah harta kekayaan Kenzo. "Tolong kamu bagi rata dengan adikmu, jika nanti kalian punya anak. Maka bagi rata lagi, supaya cucu-cucuku tidak kelaparan dan kehausan seperti yang dulu daddy rasakan, sewaktu oma sama opa kalian mengalami kebangkrutan."
"Dad, simpan saja. Erlan maupun Erlon tidak pernah merasa kekurangan. Kami berdua yakin pasti akan mampu menghidupi anak dan istri kami."
Kenzo menggeleng tidak setuju. Ia tahu Erlan dan Erlon tidak kekurangan harta tapi ia merasa harus menyampaikan ini ke Erlan. "Jangan menolak Erlan, kalau bukan pada kalian berdua, ke siapa lagi?"
"Benar Erlan, mommy juga minta kamu harus menjadi kakak yang baik. Setelah mommy dan daddy tidak ada." Raut wajah Zizi memancarkan kesedihan.
"Mommy ngomong apa sih, memang mau kemana? Pakai acara bilang tidak ada segala." Erlan tidak mau berpikiran sampai sejauh itu.
"Setiap yang bernyawa pasti akan mati, tidak mungkin akan kekal di dunia ini. Apa Erlan mengerti." Zizi beranjak dari duduknya, ia menuju jendela. "Terimalah, Nak. Jangan membuat mommy sama daddy kecewa."
"Belum saatnya mom, dad. Sudahlah jangan bahas itu," kata Erlan yang merasa Zizi dan Kenzo hanya menakuti dirinya. "Lebih baik kita pergi makan siang saja, kebetulan sudah jam istirahat. Ayo mom, dad. Kebetulan Erlan sangat lapar." Ingatan Erlan kilas balik.
Kembali ke Erlan yang sedang duduk lemas ia kembali berteriak histeris. "Kenapa harus mommy dan Daddy, kenapa tidak aku!" Erlan memukul dadanya sekuat tenaga. "Kenapa!!" Erlan seperti orang yang tidak memiliki tenaga. Tapi ia terus memaksa dirinya ia ingin memastikan bahwa itu bukan kedua orang tuanya.
*
*
Erlon dan Ana yang baru datang di rumah sakit melihat Erlan sedang duduk sambil menunduk. Penampilan Erlan sama seperti Erlon mereka terlihat sangat menyedihkan mereka juga seperti kehilangan semangat untuk hidup. "Ini bukan mommy dan daddy, 'kan. Kak Erlan," suara Erlon terdengar lirih. "Tolong yakinkan aku, kak."
Erlan diam seribu bahasa. Ia tidak sanggup untuk sekedar menjawab Erlon karena ia tahu Erlon jauh lebih dekat dengan Zizi.
Sedangkan Ana bisa merasakan apa yang sekarang sedang Erlon rasakan, ia hanya bisa menangis mengingat bagaimana Zizi dan Kenzo memperlakukannya layaknya seperti anak sendiri. Saat ia mencoba membuka kain putih yang menutupi tubuh yang sudah tak bernyawa itu, Ana tidak sanggup untuk melihatnya dengan cepat ia kembali menutupnya. "Tuan, ayo lihat mommy dan daddy untuk yang ter–"
"Minggir," ucap Erlon yang kini berada di tengah-tengah jasad Zizi dan Kenzo. Ia lalu membuka kedua kain putih itu sampai ke dada. Tubuhnya hampir saja tumbang di saat melihat wajah Zizi dan Kenzo sudah tidak bisa dikenali lagi. Ia berusaha untuk menahan keseimbangan tubuhnya. "Mom, bangun. Erlon janji gak akan buat mommy menangis lagi." Untuk yang pertama kalinya seorang Erlon mengeluarkan air mata. "Dad, Erlon juga janji gak bakal buat daddy marah-marah lagi. Ayo bangun," suara Erlon sudah mulai serak. Sehingga membuat Erlan bangun ingin menguatkan sang adik meski ia juga sangat rapuh. "Kak, katakan pada daddy, Erlon membuat kesalahan lagi. Sekarang suruh daddy bangun untuk hukum Erlon lagi. Ayo kak," seru Erlon.
"Erlon, birkan mommy dan daddy pergi dengan te–"
"Apa kakak buta, daddy sama mommy masih hidup. Sekarang panggil dokter suruh mereka rawat mommy dan daddy sampai sembuh." Erlon memotong ucapan Erlan. "Erlon mau di supain mommy, kalau nanti mommy bangun, Erlon juga bersedia menerima hukum dari daddy."
"Erlon, hentikan!! Dan tenangkan dirimu, apa cuma kamu yang merasa sedih, apa cuma kamu yang merasa kehilangan. Kakak juga sama ... malah kakak jauh lebih terpukul daripada kamu." Erlan berkata begitu karena Erlon sudah terlihat sangat frustasi. "Jauh lebih terpukul, karena kakak tidak sempat untuk meminta maaf di detik-detik terakhir mereka."
Erlon menepis tangan Erlan, ia sekarang memeluk jasad Zizi. "Mommy, Erlon mohon bangun, siapa yang akan menyuapi Erlon kalau Erlon lagi tidak mau makan." Ia tidak merasa takut atau jijik padahal jasad Zizi sudah tidak bisa dikenali lagi di tambah seluruh tubuh Zizi gosong. "Siapa juga yang akan menasehati Erlon, kalau Erlon melakukan kesalahan. Kemana Erlon akan mencari senyum indah yang selalu mommy ukir di bibir indah ini." Air mata Erlon menjadi saksi bagaimana hancurnya perasaannya saat ini.
Ana bisa melihat sosok baju putih sedang membelai rambut Erlon, ia beberapa kali mengucek matanya ia pikir penglihatannya sedang bermasalah. Bukankah itu mommy, wajahnya begitu bercahaya. Apa mata ku tidak salah lihat," gumam Ana pelan.