NovelToon NovelToon
Pesona Pengasuh Anak Dokter Duda Nyebelin

Pesona Pengasuh Anak Dokter Duda Nyebelin

Status: tamat
Genre:Dokter / Romansa pedesaan / Pengasuh / Tamat
Popularitas:1.7M
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

Krisna Wijaya, seorang dokter berusia 32 tahun, pulang ke kampung halaman setelah perceraian yang menghancurkan hidupnya. Ia membawa luka, kesepian, dan seorang bayi enam bulan yang kini menjadi pusat dunianya. Di desa kecil Yogyakarta itu, Krisna berniat membuka klinik—membangun hidup baru dengan jarak aman dari perasaan.

Raisa, gadis 19 tahun yang keras dan apa adanya, berjuang membantu keluarganya demi bertahan hidup. Ia tidak bermimpi besar, hanya ingin bekerja dan tidak merepotkan orang tuanya. Takdir mempertemukan mereka dalam sebuah insiden di jalan—penuh amarah dan salah paham.

Namun perlahan, bayi kecil bernama Ezio menjadi jembatan yang tak mereka rencanakan. Dalam pelukan Raisa, Ezio menemukan ketenangan. Dalam kehadiran Raisa, Krisna dipaksa menghadapi egonya sendiri.

Ketika kelas sosial, usia, dan luka masa lalu menjadi penghalang, mampukah dua hati yang sama-sama lelah ini menemukan rumah … satu sama lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11. Minta Maaf

Krisna tidak menyangka itu yang Raisa tangkap dari ucapannya. Untuk pertama kalinya sejak mereka berinteraksi, ia kehabisan kata.

Raisa tidak menunggu jawaban.

Dengan gerakan cepat dan tegas, ia memindahkan baby Ezio ke pelukan Krisna.

“Nih,” katanya dingin. “Urus anakmu sendiri. Enak aja main pakai nyuruh-nyuruh segala. Saya ini cuma gantiin kerjaan ibu saja! Bukannya ngurus Ezio!”

Krisna refleks menerima baby Ezio, sedikit terkejut.

Raisa melangkah mundur satu langkah, menatap Krisna dengan mata tajam. “Dan soal kaca mobil itu,” lanjutnya, suaranya mantap meski dadanya bergetar, “bakal saya ganti. Tapi tunggu sampai saya punya uang.”

Ia menunduk singkat—bukan hormat, lebih seperti penutup.

“Permisi, Dokter Krisna yang terhormat!”

Dan tanpa menunggu respons, Raisa berbalik menuruni tangga dengan langkah cepat.

“Kamu—” Krisna tersentak. “Tunggu!”

Namun terlambat.

Tangisan baby Ezio mendadak pecah.

Lagi.

Krisna membeku di anak tangga, menggendong Noval yang kembali merengek keras. Bayi itu menggeliat, tangannya terangkat, suaranya menggema di lorong lantai atas.

“Lho,” Krisna panik kecil. “Kenapa lagi?”

Ia mengayun, menepuk punggung baby Ezio. “Ssst … sst .…”

Tangisan justru semakin keras.

Dari bawah, Bu Lita berlari kecil menaiki tangga. “Ada apa? Ezio kenapa?”

Krisna menggeleng frustrasi. “Aku nggak tahu.”

Bu Lita mendekat, menatap wajah cucunya yang merah. “Kok bisa nangis lagi? Tadi anteng sama Raisa.”

Nama itu membuat Krisna terdiam.

Bu Lita menatap wajah anaknya, membaca ekspresi yang jarang ia lihat—kebingungan, kesal, dan … sedikit terguncang.

“Krisna,” kata Bu Lita pelan tapi tajam, “kamu ngomong apa sama Raisa?”

Krisna mengalihkan pandang. “Nggak ngomong apa-apa, Bu.”

Bu Lita menatapnya lama. “Ibu dengar nada suara kamu berbeda.”

Krisna mengatupkan rahang. “Ibu nggak ngerti.”

Bu Lita mendesah. “Justru Ibu ngerti. Kamu lagi menjaga emosimu. Kamu lagi takut kehilangan kendali atas sikapmu sendiri. Mau sampai kapan kamu kayak begini, Krisna?”

Tangisan baby Ezio semakin kencang, seolah menuntut sesuatu yang tidak bisa diberikan Krisna dengan logika.

Sementara itu, di lantai bawah—

Raisa berhenti di dekat dapur, dadanya naik turun. Tangannya gemetar, bukan karena lelah, tapi karena emosi yang meledak tanpa ia rencanakan.

Anak pembantu.

Kata-kata itu menggema di kepalanya, meski Krisna tidak mengucapkannya secara langsung. Tapi maknanya terasa nyata.

Bik Sum menghampirinya. “Raisa? Kamu kenapa?”

Raisa menggeleng cepat. “Nggak apa-apa, Bik. Saya lanjut bantu-bantu ya, Bik.”

Tapi matanya merah.

Dari lantai atas, tangisan baby Ezio terdengar jelas.

Raisa memejamkan mata sesaat.

Bukan urusanku, katanya pada diri sendiri. Tapi, hatinya nggak tegaan. Ia nggak bisa lihat anak bayi menangis.

Namun kakinya terasa berat.

Bu Lita turun tangga sambil menggendong baby Ezio yang masih menangis. Begitu melihat Raisa berdiri di dekat dapur, matanya langsung tertuju padanya.

Raisa refleks menunduk. “Bu … maaf. Saya—”

Bu Lita tidak membiarkannya menyelesaikan kalimat. Ia melangkah mendekat dan—tanpa banyak bicara—menyerahkan Ezio ke pelukan Raisa.

“Pegang sebentar,” katanya tegas.

Raisa terkejut. “Bu—”

Begitu baby Ezio berpindah tangan. Tangisan berhenti. Seperti sakelar yang dimatikan. Semua yang ada di dapur terdiam.

Raisa menelan ludah, tangannya refleks menopang kepala baby dengan lembut. “Eh … sudah, sudah,” bisiknya. “Kok Dede jadi rewel begini. Maafin Kakak ya.”

Baby Ezio mendengus kecil, lalu menempel nyaman.

Bu Lita menatap pemandangan itu lama. Lalu menoleh ke arah tangga, ke arah Krisna yang berdiri kaku di atas.

“Krisna,” panggil Bu Lita dengan suara yang tidak bisa dibantah, “turun.”

Krisna turun pelan, wajahnya tegang.

Bu Lita menatap anaknya lurus-lurus. “Lihat baik-baik.”

Krisna melihat.

Melihat anaknya tenang di pelukan Raisa. Melihat gadis itu berdiri kaku tapi tetap lembut. Melihat jarak sosial, jarak emosi, jarak ego—semuanya runtuh oleh kenyataan sederhana: bayinya merasa aman.

“Kamu tadi keterlaluan,” kata Bu Lita tanpa basa-basi.

Krisna membuka mulut, tapi Bu Lita mengangkat tangan. “Ibu tidak mau dengar alasan apa pun!”

Raisa menunduk. “Bu, saya nggak apa-apa kok.”

Bu Lita menoleh padanya, suaranya melunak. “Ibu tahu kamu bukan pembantu di sini hari ini. Kamu bantu-bantu di sini karena ibumu sakit. Dan Ibu sangat berterima kasih.”

Raisa menggigit bibirnya, menahan sesuatu yang menghangat di dada.

Bu Lita kembali menatap Krisna. “Dan kamu,” katanya tajam, “kalau mau jadi ayah yang baik, kamu harus belajar merendahkan egomu dulu.”

Krisna terdiam.

Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar kalah.

Bukan oleh Raisa.

Bukan oleh ibunya.

Tapi oleh kenyataan bahwa ia telah melukai seseorang yang seharusnya ia hormati—dan ia membutuhkannya lebih dari yang ia mau akui.

Raisa menghela napas pelan. “Bu, kalau sudah, saya balik ke dapur aja.” Ia ingin menghindari keributan yang terjadi.

Bu Lita menggeleng. “Nanti dulu Raisa.”

Ia menatap Krisna. “Krisna. Minta maaf.”

Satu kata.

Berat.

Krisna menatap Raisa. Gadis itu menghindari tatapannya, fokus pada baby Ezio.

Ia menarik napas panjang, dengan hatinya yang berbisik, “Andaikan nggak ada Ibu, sudah aku—“

“Raisa,” katanya akhirnya, suaranya lebih rendah dari sebelumnya, tidak setajam, “maaf.”

Satu kata itu jatuh canggung.

Raisa tidak langsung menjawab.

Ia menatap baby Ezio sebentar, lalu mengangkat wajahnya. Tatapannya masih dingin, tapi tidak sekeras tadi.

“Saya terima,” katanya pelan. “Tapi jangan ulangi.”

Krisna mengangguk. “Mmm ... saya janji.” Suaranya begitu pelan, seakan belum yakin pada dirinya sendiri. Dan, untuk pertama kalinya ia kalah dengan seorang gadis. Padahal, ia tak akan mau menunduk pada perempuan mana pun kecuali mantan istrinya yang pernah ia cintai.

Di antara mereka, baby tertidur.

Dan di dalam rumah besar itu, untuk pertama kalinya, kekuasaan tidak lagi berbicara paling keras.

Yang berbicara adalah kejujuran—dan luka yang mulai saling terlihat.

“Issh ... kenapa aku jadi begini. Bisa-bisanya aku minta maaf sama dia,” batin Krisna bingung sendiri.

 

Bersambung ... ✍️

1
Tamirah
Ya... namanya aja gadis desa dan dari keluarga yg sangat sederhana, untuk kata kata spt yg diucapkan dokter duda ya bukan gak nyambung tapi Raisa' beranggapan gak mungkilah seorang dokter kota anaknya Pak Kades ada hati sama dirinya yg hanya anak seorang pembantu.Makanya ia selalu bersikap bar bar agar tidak diremehkan.
Tamirah
Ha. ha. ....mulai cemburu.. Krisna...! Gak memberikan kesempatan pada Raisa dan Fahri untuk bersama dgn alasan ibu Lita butuh bantuan alias Raisa dibawa pulang lagi kerumah Bu Lita...modus.
Tamirah
Dengan bergabungnya dua wanita ular untuk menyingkir Raisa maka Krisna akan semakin melindungi Raisa demi kenyamanan anaknya.Hanya Raisa lah yg bisa mengatasi anak sang dokter..itu tdk diragukan lagi.
Tamirah
Kuakui Thor novel mu emang keren habis, pingin baca karya mu yg lain.👍👍👍👍
Tamirah
Wik ....wik..sang janda mulai mengatur strategi untuk memfinah Raisa agar dialah yg jadi pengasuh nya, apa lagi diberi wkt 1 bulan untuk bersaing dgn Raisa tentu banyak rencana jahatnya untuk menjebak Raisa .. lanjut Thor.
Tamirah
Wajar kalau Lena gak terima Raisa jadi pengasuh Ezio,janda itu sangat membutuhkan pekerjaan utk kelangsungan hidup bersama anaknya nya,yg gak ituu karena punya misi untuk mendekati dokter obsesinya berharap dijadikan ibu sambung Enzo, mimpi' kali.... mbak Lena . ....!
Tamirah
Makan ituu gengsi gak peka banget kalau anaknya sdh nyaman dgn Raisa.
Seorang bayi sangat lah peka terhadap orang yg tulus menyayangi nya,begitu ia dijauhkan otomatis tubuhnya merespon yg akhir nya bayi jadi rewel....!
Tamirah
Ternyata Lena gak selugu yg kita duga ia punya tujuan lain, selain dia bekerja sebagai pengasuh Ia juga punya niat untuk mendekati dr Krisna wik wik janda gatal....perlu waspada pada hey..hey Dokter Krisna.Tentu para readers lebih senang Krisna berjodoh dgn anak pembantu dibandingkan dgn janda gatal....!!!!!
Tamirah
Gak usah fikir fikir lagi langsung aja gantikan ibumu bekerja lagi dirumah pak dokter kan lumayan di gaji buat tabungan. sebagai anak pembantu mendapatkan uang dgn hasil keringat sendiri itu sangatlah berarti.
Tamirah
Modus Krisna untuk menjadikan Raisa jadi pengasuh anaknya dgn alasan kaca mobil yg retak 😄😄😄
Tamirah
Suka banget dgn visualnya. ... keren...!!
Tamirah
Mungkinkah Raisa akan bekerja di Klinik Krisna, karena klinik perlu tenaga admin utk proses data pasien.
Tamirah
Sudah biasa laki laki kaya meremehkan orang yg ekonomi nya dibawah standar alias miskin, walau pun tidak semua laki laki punya sikap spt itu.Toh bisa di tebak walau nnt banyak drama antara sang Dokter desa dgn anak pembantu Ahir nya yg bucin ya sang dokter itu sendiri.
Tamirah
Visual dari alur cerita nya keren, awal dari perkenalan yg gak sengaja' tapi akan berlanjut menjadi drama yg mengasyikkan... lanjut Thor.
Maria Ulfah
Syafakillah mama ghina ..dan keluarga
Maria Ulfah
gemezz sin😁😁😁
Pujierde
gak mungkin dok klo lena ngajak makan siang bukan belain lena ya dok tapi lena juga sadar diri dok gak mungkin lgsg ngajakin makan siang
Pujierde
terlalu berani raisa padahal ada bu lita, pak wijaya jadi jangab salahin lena juga klo dia marah karena belum apa" sudah ngajak perang klo memang raisa orang yang masa bodo tentu gak akan nyidir" lena semua orang tau kok klo lena berlebihan dandanannya
Pujierde
jadi seorang ayah itu harus punya hati plus logika bukan hanya punya gengsi jadi tau mana yang tulus dan mana yang gak tulus heran seorang dokter kok hati dan logika gak jalan
Pujierde
iya emang cocoknya namanya dokter oneng bukan dokter krisna 😄😄 laki" gak punya hati yang dia punya tuh gengsi klo dia punya hati harus bisa liat bagaimana anaknya lebih nyaman sama raisa dacal doktel oon klo kata bodel mah 😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!