Kaisar Tertinggi sang Kaisar Xuan Wu penguasa 100.000 Dunia. Perang Terakhir itu menyebabkan Jiwa nya bereinkarnasi ke tubuh lemah seorang pemuda berna Lin Fan. Lin Fan pemuda dari keluarga Lin cabang. hidup keseharian nya selalu mendapat penyiksaan dari sepupu nya Lin Hao. Lin Fan dulu sudah mati yang ada sekarang adalah Lin Fan dengan jiwa Kaisar Xuan Wu. dengan pengetahuan masa lalu sebagai Kaisar dia mulai merangkak dari Bocah Sampah mejadi kultivator hebat di dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tawaki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Tulang Besi dan Tinju yang Berubah
Fajar belum sepenuhnya menyingsing ketika Lin Fan terbangun. Biasanya, ia akan merasa lemas, dengan sendi-sendi yang kaku dan rasa sakit sisa dari cedera lama. Namun pagi itu, sensasi yang ia rasakan sangat berbeda.
Tubuhnya terasa ringan, seolah-olah gravitasi bumi telah kehilangan setengah cengkeramannya padanya. Otot-ototnya, yang dulu lembek dan atrofi karena kurangnya nutrisi spiritual, kini terasa padat dan kenyal seperti baja yang ditempa berulang kali. Ia mengepalkan tangan, dan mendengar suara krak halus dari sendi-sendinya—bukan suara rapuh, melainkan suara kekuatan yang terkompresi.
Efek pil "Sampah Tingkat Satu" buatannya ternyata jauh melampaui ekspektasinya. Karena jiwanya yang kuat mampu mengendalikan aliran energi dengan presisi sempurna, tidak ada energi yang terbuang. Setiap tetes esensi dari Akar Besi Hitam telah terserap sepenuhnya ke dalam sumsum tulangnya.
Lin Fan bangkit dari tikarnya. Ia melihat tangannya; kulitnya masih pucat, tapi di bawah permukaan kulit, urat-uratnya tampak lebih jelas, mengalirkan darah dengan vigor baru. Ia melakukan beberapa gerakan dasar pemanasan—tinju lurus, tendangan samping, putaran pinggang. Angin berdesir di sekitar tinjunya, lebih cepat dan lebih tajam daripada sebelumnya.
"Ia bekerja," gumam Lin Fan, tersenyum tipis."
"Tulangku sekarang sekeras besi tempa rendah. Cukup untuk menahan pukulan biasa tanpa memar."
Ia mencuci muka, mengenakan jubah lusuhnya, dan keluar gubuk. Ibunya sudah bangun, sedang menyiapkan sarapan sederhana berupa bubur jagung. Saat melihat Lin Fan, Nyonya Li terdiam sesaat. Ada sesuatu yang berbeda pada cara anaknya berjalan. Punggungnya lebih tegak, langkahnya lebih pasti, dan matanya... matanya bersinar dengan vitalitas yang sudah lama hilang.
"Fan'er?" panggil ibunya ragu-ragu.
"Kau terlihat... lebih sehat."
"Aku merasa baik, Bu," jawab Lin Fan sambil mengambil mangkuk bubur.
"Sangat baik."
Setelah sarapan cepat, Lin Fan tidak kembali ke kamarnya. Ia menuju Lapangan Latihan Utara Klan Lin. Ini adalah area terbuka berpasir di mana anggota klan muda berlatih seni bela diri dasar dan menguji kekuatan fisik mereka. Biasanya, Lin Fan menghindari tempat ini seperti menghindari wabah, karena di sinilah ejekan paling keras dilontarkan. Tapi hari ini, ia punya alasan untuk datang: ia perlu menguji batas kekuatan barunya secara realistis, dan ia butuh penonton.
Lapangan Latihan Utara sudah ramai. Puluhan remaja berusia belasan hingga awal dua puluhan sedang berlatih. Suara teriakan, benturan kayu, dan desisan napas memenuhi udara. Di tengah lapangan, sebuah tiang kayu setinggi tiga meter berdiri kokoh. Tiang itu terbuat dari Kayu Oak Besi, material yang cukup keras sehingga praktisi Tahap Pembukaan Meridian Tingkat 2 pun akan kesulitan membuatnya bergoyang hanya dengan satu pukulan.
Di sekitar tiang itu, kerumunan kecil telah terbentuk. Di pusatnya berdiri Lin Hao, dikelilingi oleh para pengikutnya. Ia sedang memamerkan kekuatannya.
"Lihat ini!" seru Lin Hao dengan sombong. Ia menarik napas, mengumpulkan Qi di tinju kanannya yang bersinar redup. Dengan raungan keras, ia memukul tiang tersebut.
BOOM!
Tiang itu bergoyang hebat, daun-daun di atasnya rontok berjatuhan. Beberapa retakan kecil muncul di permukaan kayu. Kerumunan bersorak kagum.
"Bagus, Kakak Hao! Itu pasti kekuatan Tingkat 3 puncak!" puji salah satu pengikutnya.
Lin Hao tersenyum puas, menyeka keringat di dahinya dengan angkuh. Ia menatap sekeliling, mencari wajah-wajah yang bisa ia intimidasi lebih lanjut. Matanya lalu tertuju pada sosok yang baru saja memasuki lapangan.
Lin Fan.
Remaja kurus itu berjalan masuk dengan tenang, tangan terlipat di belakang punggung, seolah-olah ia sedang berjalan-jalan di taman istana, bukan di lapangan latihan musuh bebuyutannya. Keheningan perlahan merayap di antara para peserta latihan lainnya. Mereka saling berpandangan, bingung mengapa "Sampah Klan" berani muncul di sini setelah insiden di pasar kemarin.
Lin Hao menyipitkan mata, senyumnya berubah menjadi seringai jahat. "Well, well. Jika bukan si hantu yang berjalan. Kau datang untuk meminta ampun karena telah membuatku malu di depan umum kemarin, Fan? Atau kau datang untuk menunjukkan bagaimana caranya lari lebih cepat saat dipukul?"
Tertawaan renyah terdengar dari kelompok Lin Hao.
Lin Fan berhenti beberapa meter dari tiang kayu. Ia tidak menanggapi ejekan itu. Ia hanya menatap tiang Oak Besi tersebut, menganalisis struktur serat kayunya, titik lemahnya, dan densitasnya.
"Aku datang untuk berlatih, Hao," kata Lin Fan datar.
"Dan aku tidak lari dari siapa pun."
"HAHAHA..." Lin Hao tertawa keras, langkahnya mendekat.
"Berlatih? Dengan tubuh kacamu itu?"
"Kau akan patah tulang jika menyentuh tiang itu. Dengar, Fan. Aku beri kesempatan. Bertaruhlah. Jika kau bisa membuat tiang itu bergoyang sedikit saja dengan satu pukulan tanpa menggunakan Qi eksternal (karena kau tidak punya), aku akan mengakui bahwa kau bukan sampah total. Aku bahkan akan memberimu lima batu spirit."
Mata para penonton melebar. Ini adalah taruhan yang mustahil. Membuat tiang Oak Besi bergoyang tanpa bantuan Qi adalah tugas bagi praktisi fisik murni tingkat tinggi, bukan untuk remaja dengan meridian rusak.
"Tapi," lanjut Lin Hao,
suaranya merendah menjadi ancaman,
"Jika kau gagal, kau harus berlutut di depanku dan menjilat sepatu botku. Di depan semua orang di sini."
"Bagaimana?" Lanjut Lin Hao
Keheningan mencekam. Semua orang menunggu jawaban Lin Fan. Menolak berarti pengecut. Menerima berarti bunuh diri sosial dan fisik.
Lin Fan menatap Lin Hao. Ia melihat arogansi buta di mata sepupunya. Lin Hao yakin Lin Fan akan gagal. Dan itulah kesalahan terbesar Lin Hao.
"Aku terima," kata Lin Fan.
Sorakan kekagetan dan ejekan meledak dari kerumunan. Lin Hao tertawa puas, mundur memberi ruang.
"Silakan, Tuan Sampah. Tunjukkan pada kami kehebatanmu."
Lin Fan melangkah maju. Ia berdiri di depan tiang kayu. Ia tidak mengambil sikap kuda-kuda dramatis. Ia tidak berteriak mengumpulkan energi. Ia hanya menghela napas pendek, memusatkan seluruh kesadaran pada titik pertemuan antara tinju kanannya dan permukaan kayu.
Ia tidak menggunakan Qi. Sesuai aturan taruhan.
Tapi ia menggunakan teknik pemadatan otot dan resonansi tulang.
Dalam sepersekian detik, Lin Fan mengencangkan setiap serat otot di lengan kanannya, menyelaraskan getaran tulangnya dengan frekuensi alami kayu Oak Besi. Ini adalah teknik tingkat tinggi yang disebut "Gema Tulang Naga", biasanya hanya dikuasai oleh master seni bela diri fisik. Bagi Lin Hao dan lainnya, ini terlihat seperti Lin Fan hanya berdiri diam, menatap tiang.
"Apakah dia takut?" bisik seseorang.
"Dia gemetar," ejek yang lain.
Tanpa peringatan, Lin Fan memukul.
Tidak ada kilatan cahaya. Tidak ada ledakan suara besar. Hanya suara THUD yang padat, berat, dan dalam. Seperti palu godam raksasa yang menghantam besi.
Untuk sesaat, tidak terjadi apa-apa. Lin Hao mulai tertawa, siap untuk menghina.
Tapi kemudian...
KREK.
Suara retakan terdengar jelas. Bukan retakan kecil seperti yang dibuat Lin Hao. Retakan besar memanjang dari titik pukul hingga ke dasar tiang. Dan kemudian, tiang Oak Besi yang kokoh itu... bergoyang. Bukan goyang biasa. Ia bergoyang liar, seolah-olah baru saja dihantam badak, sebelum akhirnya roboh total ke tanah dengan debu berterbangan.
Keheningan absolut menyelimuti lapangan latihan. Mulut-mulut terbuka lebar. Mata terbelalak. Lin Hao tertawa terhenti di tenggorokannya, wajahnya pucat pasi.
Lin Fan menurunkan tangannya. Ia tidak merasa sakit. Tinjunya hanya sedikit kesemutan. Ia menatap Lin Hao yang terpaku.
"Goyangannya cukup kuat, bukan?" tanya Lin Fan dingin. "Sekarang, tentang sepatu botmu..."
Lin Hao gemetar. Rasa malu, kemarahan, dan ketakutan bercampur aduk di dadanya. Ia tidak mengerti. Bagaimana mungkin sampah seperti Lin Fan bisa melakukan itu? Itu mustahil! Pasti ada trik! Pasti ia menggunakan alat curang!
"KAU.. KAU PASTI CURANG!" teriak Lin Hao,
menunjuk Lin Fan dengan jari gemetar.
"Kau pasti memakai sarung tangan berbobot atau semacamnya! Pengawal! Tangkap dia!"
Namun, sebelum pengawal klan bisa bergerak, sebuah suara tua namun berwibawa terdengar dari tepi lapangan.
"Cukup."
Semua orang menoleh. Seorang pria tua dengan jubah abu-abu, rambut putih acak-acakan, dan membawa sapu lidi berdiri di sana. Itu adalah Paman Gu, penjaga perpustakaan yang misterius itu. Matanya yang sipit menatap Lin Fan dengan ekspresi yang sulit dibaca—campuran antara kejutan, pengakuan, dan ketertarikan mendalam.
"Pukulan itu murni," kata Paman Gu, suaranya menggema di keheningan.
"Tidak ada trik. Tidak ada alat. Hanya teknik fisik murni yang... sangat langka."
Ia menatap Lin Hao. "Dan kau, Lin Hao. Kalah adalah kalah. Jangan mempermalukan diri sendiri dengan tuduhan palsu."
"Bayar taruhannya."
Wajah Lin Hao memerah padam karena malu dan amarah. Ia menatap Lin Fan dengan kebencian murni, seolah ingin membakarnya hidup-hidup dengan tatapan. Dengan tangan gemetar, ia mengeluarkan kantong kecil berisi lima batu spirit dan melemparkannya ke kaki Lin Fan.
"Ini belum selesai, Fan," geram Lin Hao melalui gigi-gigi yang terkatup rapat.
"Aku akan menemukan bagaimana kau melakukan ini. Dan ketika aku menemukannya... kau akan menyesal pernah lahir ke dunia ini."
Lin Fan memungut kantong batu spirit itu. Ia tidak tersenyum kemenangan. Ia hanya mengangguk singkat pada Paman Gu sebagai tanda hormat, lalu berbalik dan berjalan keluar dari lapangan, meninggalkan kerumunan yang masih dalam keadaan syok.
Di balik punggungnya, Lin Fan tahu bahwa ia baru saja menyatakan perang terbuka. Lin Hao tidak akan diam. Dan kini, dengan perhatian Paman Gu dan kemarahan Lin Hao, posisi Lin Fan telah berubah dari "tidak terlihat" menjadi "target prioritas".