NovelToon NovelToon
My Handsome Rich Husband

My Handsome Rich Husband

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Tamat
Popularitas:81.9k
Nilai: 5
Nama Author: PiEl

🍁Sequel dari SEMESTA RAI.🍁

Ranu Wais Prianggoro.
Tampan, terlahir dari keluarga kaya. Sejak lahir, seolah seluruh perhatian dunia berpusat padanya. Pesonanya sebagai konten kreator nomor 1 di indonesia, membuatnya tidak pernah luput dari perhatian dari semua orang.
Sampai suatu ketika ia bertemu dengan Miara Tisha, gadis yang sama sekali tidak peduli dengan ketenaran yang disandang Ranu. Gadis yang sama sekali mengabaikannya padahal orang-orang di sekitarnya sibuk menginginkan perhatian Ranu.
Dan sejak saat itu, hati Ranu seperti tertarik ke dunia Mia.
Bagaimana perjalaan kisah Ranu demi menarik perhatian Mia?
Yukk,, cuuussss...➡️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PiEl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21. Berharap Akan Goyah.

Mia terus terisak di pelukan ibunya. Nafasnya bahkan sampai tersengal-sengal hingga tubuhnya bergoyang.

“Udah, Nak. Kamu bilang kalau kamu udah mengira semua ini.” Lirih Yayuk mengelus punggung putrinya.

“Tapi tetep aja, Bu. Rasanya sakit banget.” Jawab Mia yang masih terisak.

“Apa salah Mia kalau Mia terlahir dari hubungan zina? Mia gak pernah minta terlahir begini, Bu. Orangtua Mia yang melakukannya, kenapa Mia yang harus menanggung aibnya? Huhuhuhuhu..”

Yayuk juga tak bisa menahan airmatanya. Ia sangat mengerti bagaimana sakitnya perasaan Mia.

“Sabar, Nak. Allah pasti punya rencana yang terbaik buat kamu. Semoga kamu mendapatkan jodoh yang jauh lebih baik dari Fandra. Yang bisa mengerti kalau aib ini bukan atas kemauanmu, melainkan kesalahan kedua orang tuamu. Sudah adzan, ayo kita sholat zuhur dulu.” Ajak Yayuk.

Terpaan air wudhu menyegarkan wajah Mia. Walaupun matanya masih perih dan sembab, ia harus tetap melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim.

Mia memang bukan muslimah yang sempurna. Ia masih banyak sekali kekurangan. Namun ia terus berusaha untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik. Selama ia tidak meninggalkan sholat lima waktu, maka yang lain akan mengikuti di belakang dengan sendirinya.

Di mushola kecil yang ada di dalam rumah, sudah ada Pak Zul, Fuan dan Ranu yang sedang menunggu Mia dan Yayuk. Mia langsung mengenakan mukenahnya. Selang beberapa detik kemudian, Yayuk datang dan langsung ikut begabung di sebelah Mia.

“Ranu, mau jadi imam?” Tanya Pak Zul.

Ranu menatap Pak Zul tidak yakin. “Nanti kalau salah gimana, Pak?”

“Gak apa-apa. Belajar.” Pak Zul meyakinkannya. Dan akhirnya Ranu mengambil posisi sebagai imam.

Sholat zuhur berjalan dengan sangat baik. Ternyata suara Ranu sangat merdu saat melantunkan ayat-ayat suci Alqur’an. Dan dia memimpin dengan sangat baik. Bahkan tidak ada kesalahan sama sekali.

“Gimana? Pengalaman pertama jadi imam?” Tanya Pak Zul setelah mereka selesai sholat.

“Lumayan, Pak. Deg-degan. Hehehehe.”

“Diem-diem suaramu merdu juga ya, Nu.” Timpal Fuan.

Selesai melaksanakan sholat, Mia membantu ayahnya dengan memasukkan barang-barang yang tersisa ke dalam bak mobil. Kali ini, Yayuk ikut bersama suaminya ke kecamatan. Ada yang harus dia urus disana. Sedangkan Rolif akan tetap tinggal bersama dengan Fuan dan Mia.

Selepas mengantarkan ayah dan ibunya, Mia kembali masuk ke dalam rumah. Ia harus mengoleskan obat dan mengganti perban lukanya karna tadi ia lepas saat mengambil wudhu.

“Kak, mau makan!” Pinta Rolif dari ruang TV. Anak itu, tetap menonton acara kesukaannya walaupun sudah berulangkali melihatnya.

“Dek! Kakak kan tangannya lagi sakit. Ambil sendiri kenapa? Biasanya juga ambil sendiri.” Pekik Fuan.

Rolif hanya bisa mendengus saja. Ia tidak tega meninggalkan acara kesukannya bahkan untuk sekedar mengambil nasi di dapur. Namun ia tetap melakukannya juga walaupun dengan terpaksa.

Fuan yang baru keluar dari kamar langsung menghampiri Mia di meja makan. Gadis itu sedang sibuk dengan ponselnya. Di hadapannya sudah tersedia kotak obat dan perlengkapannya.

“Mau kemana, Bang? Udah rapi?”

“Mau ke kantor bentar.” Jawab Fuan.

“Oooo.” Mia mengangguk. Ia tidak jadi meminta tolong kepada Fuan untuk mengoleskan obat dan membalut lukanya. Karna Fuan terlihat sangat terburu-buru.

Seperginya Fuan, Mia berusaha untuk mengurusi lukanya sendiri. Luka yang berada di telapak tangan kanan membuat Mia kesulitan. Sementara Ranu hanya melihatnya saja dari kejauhan. Ia jadi gemas sendiri saat Mia tak kunjung berhasil dengan kegiatannya.

Akhirnya Ranu berjalan mendekat. Ia menarik kursi ke dekat Mia kemudian duduk disana.

“Coba mana, sini.”

“Udah, gak usah. Aku bisa, kok.” Tolak Mia.

Tapi Ranu bersikeras. Ia merebut botol obat dari tangan kiri Mia dan memaksa tangan Mia terbuka di atas meja makan.

“Ranu!” Pekik Mia yang berusaha untuk menarik tangannya.

“Udah, diem.” Tegas Ranu.

Dan akhirnya Mia hanya pasrah saja saat Ranu mengoleskan obat di lukanya. Bahkan setelah itu pria itu memasang perbannya juga.

Ada sesuatu yang muncul di hati Mia. Ia terharu dengan perhatian yang di berikan oleh Ranu. Hatinya menghangat.

Kemarin-kemarin, ia selalu berdoa di saat-saat seperti ini. Agar hatinya tidak goyah dari Fandra. Namun sekarang, ia justru berdoa sebaliknya. Agar Allah menggoyahkan hatinya sehingga ia bisa melepaskan perasaannya dari Fandra.

“Udah.” Ujar Ranu yang kemudian membereskan perlatan obat dan memasukkannya kedalam kotaknya.

“Makasih.” Ujar Mia sambil memperhatikan hasil pekerjaan Ranu di telapak tangannya. Ia mengernyit saat melihat sebuah goresan pena di salah satu sisi perban. “Apa ini?Pesawat?”

“Enak aja pesawat. Itu burung.” Jawab Ranu tidak terima. Ia tersinggung.

“Burung? Ini burung?” Tanya Mia tidak yakin. “Burung apa modelannya begini?” Mia memperhatikan dengan seksama gambar itu.

“Ya burung yang lagi terbang. Masak kamu gak ngelihat itu ada mata sama mulutnya. Aku gambar dari atasnya. Bagus kan?”

Mia mengernyit. Seberapapun ia memperhatikan gambar itu, itu tetap terlihat seperti pesawat di matanya.

“Hahahahahahahahaha. Kamu bilang ini burung? Rupanya kamu punya kekurangan juga ya, Ranu? Memang benar gak ada yang sempurna di dunia ini. Bahkan orang ganteng pun punya kekurangan ternyata. Hahahahahaha.” Mia terus terbahak melihat gambar ‘burung’ hasil lukisan Ranu.

Ranu ikut tersenyum senang. Ia melakukan itu hanya untuk membuat Mia tertawa. Ia berdiri untuk mengembalikan kotak obat ke tempatnya.

“Nah, gitu dong. Ketawa. Gak usah nangis melulu. Cowok gak cuma dia di dunia ini. Masih ada aku. Hahahahahahahaha.”

Pluk!

Sebungkus tisu berhasil mendarat di dada pria itu.

“Gak lucu!” Dengus Mia.

“Gak lucu? Ya udah. Orang aku emang gak lagi ngelawak, kok. Hehehehehe.”

Mia mencibir saja. Ia memilih untuk tidak menggubris guarauan Ranu. Ia mengambil piring dengan tangan kiri kemudian berusaha mengambil nasi. Ternyata sangat sulit jika harus menggunakan tangan kiri seperti itu. Ia tidak terbiasa. Sedangkan tangan kanannya masih sakit untuk di pakai.

Namun tiba-tiba Ranu merebut centong nasi dari tangan Mia dan mengambilkan nasi untuk gadis itu.

“Segini udah?” Tanya Ranu.

Mia mengangguk.

“Mau lauk apa?”

“Ikan sambal.”

Dan Ranu kembali mengambilkan ikan sambal dan menaruhnya di piring Mia. Ia juga mengambilkan sendok untuk gadis itu. Setelah selesai, Mia mulai menyendokkan nasi ke dalam mulutnya.

Namun lagi-lagi Ranu kembali merebut sendok dari tangan Mia. Bahkan piring nasinyapun ikut beralih ke hadapan Ranu. Ia tidak sabar melihat Mia kesulitan memakan makanannya.

“Apaan sih?”

“Udah, aaaaa” Ranu membuka mulutnya sebagai perintah untuk Mia agar mengikutinya. Ia menyodorkan sendok ke arah mulut Mia.

Walaupun terasa canggung dan aneh, tapi Mia tetap membuka mulutnya. Soalnya dia sudah kelaparan. Ia bisa merasakan sebuah perasaan aneh yang lagi-lagi muncul di hatinya yang sudah ke sekian kalinya ia rasakan.

“Kok kakak kayak anak kecil sih? Kalau aku di suapin Ibu, Kakak protes. Sekarang malah Kakak yang di suapin Bang Ranu.” Seloroh Rolif yang berjalan lewat dibelakangnya. Anak kecil itu segera meletakkan piring kotor ke bak pencuci piring.

Uhuk! Uhuk!

Mia yang terkejut hampir saja menyemburkan makanannya. Melihat kepada Rolif yang kembali melewatinya dan langsung menghilang ke ruang TV. Sementara Ranu hanya bisa terkekeh saja melihat wajah Mia yang memerah malu.

1
Ayu Galih
😂😂😂😂 kasihan terabaikan Ranu
Ayu Galih
Aqu sdh mampir meraoat ke jaryamu kak..maaff baru baca , pas baca sinopsisnya aqu suka lgsg tertarik...🤗🤗😘😘😘😘
Fina Fitriani
cerita menarik. walaupun tidak sepanjang cerita orang tua Ranu.. tapi ceritanya to the point gak bertele2... lanjut ah.,,.....
Dwi ratna
pk mentri ada d aceh ya pk zul
Dwi ratna
certany ranu dlu y bru ren, aq bcny kebalik deh
💕febhy ajah💕
ehhh ranu emak bapak mu nga se narsis itu kaliiii 😁😁😁😁
💕febhy ajah💕
mampir setelah sekian lama difavoritkan emak bapaknya dah lama dibaca
walaupun bukan otor/novel populer dan masih sedikit yg mengenal tp aku suka ceritanya
Pucuk Labu🍁: makasih banyak kak feby.... 🥰
total 1 replies
Mbah Edhok
Nu ... lebay ... miara itu sama sepertiku, nggak mudah histeris ... eh ... maaf. Lagi menyimak cerita, nggak boleh berisik.
qiqi
bagus cerita y,,,, 🥀🥀🥀🥀
Agnes LAMTIAR
tidak bertele tele, bab nya sedikit tetapi saya puas, cerita nya seru, thank you sudah menghibur hehehe
Pucuk Labu🍁: terimakasih kak agnes. jangan lupa mampir di novelku yang lain...
total 1 replies
울산소주
💃💃💃💃
🤣🤣🤣🤣
tina hans
bagus ceritanya. nggak bertele-tele. dan konfliknya biasa ngga seperti di sinetron yang terkesan dipanjangkan sebab tidak mau cepat habis ceritanya
Pia
kata kata legend nih... menarik🤔🤔🤔
Pia
hadeuh Bang Ranu🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️
Pia
gercep nih Bang Ranu, langsung dikenalin ke mama👍
Pia
🥺🥺🥺😥😥😥
Pia
maksud lo.....
Pia
👍👍👍👍
Pia
hadeuh... wes angel iki obatane 🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️
Pia
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!