Adzkia Laila Tamin, kerap di sapa Laila. Gadis cantik dan periang. Ia jatuh cinta pada seorang pemuda yang bernama Fajri. Fajri adalah seorang pemuda yang begitu tampan dan berkarisma.
pertemuan awalnya dengan Fajri membuat
Laila sangat terhipnotis dengan semua yang dimiliki Fajri. Sampai dia tidak bisa lagi membendung perasaannya.
Pada saat yang tiba Fajri di minta oleh ayah Laila menjadi supir pribadinya. Saat itulah Laila sering bertemu dengan Fajri. Semakin hari Laila tidak bisa lagi membendung perasaannya sehingga memberanikan diri megungkapkan perasaannya. namun ternyata, Fajri bukan Ia menolak atau menerima sehingga Laila merasa dipermainkan.
Bagaimanakah sebenarnya perasaan Fajri pada Laila?
Dan kankah cinta Fajri, Laila dapatkan?
Simak kisah mereka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Masrianiani Hijab, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21 Rencana Laila keluar negri
Seiring berjalannya waktu, peran sebagai mahasiswa untuk Laila dan kawan-kawannya tinggal menghitung hari. Keputusan Laila setelah selesai kuliah akan Lanjut keluar negri. Hal itu membuat Mala dan Rani bersedih.
Seperti biasa Mala, Rani dan Laila nongkrong di sebuah kafe. Mereka membicarakan masa depan mereka. Mala dan Rani berkeinginan akan mencari pekerjaan bersama.
"Terus kalian mau cari kerja dimana? tanya Laila pada Mala dan Rani.
" Tahu ah... gue belum tahu."
"Lho mau aku bantu gak?" Laila melihat Mala dan Rani secara bergantian sambil menikmati jus pesanan mereka. "Kalau mau, gue akan bicara dengan ayah, pasti beliau setuju.
" Boleh juga. "sahut Rani "Gue sih mana aja."
"Terus lho jadi ninggalin kita nih?" Mala bertanya dengan serius pada Laila.
" InsyaAllah, aku sudah pikirkan baik-baik, aku akan lanjutkan studi aku di luar negri, ayah dan ibu juga sudah memberi izin."
"Lho ke sana bukan karena menghindari Fajri kan?" Rani memastikan.
" Buat apa? gak, lagian juga buat apa mengharap orang yang tidak mencintai kita, aku sudah bahagia seperti ini. Allah tahu mana yang terbaik untukku, aku serahkan sang pemilik hati urusan itu."
"Baiklah.... aku dan Rani pasti selalu merindukan kamu, jangan lupakan kita."
" gak, tenang saja. kita masih bisa vidio call setiap saat." Laila meyakinkan temannya.
***
Sementara di sebuah restoran Fajri, Ramli dan Rama juga menikmati makan siang mereka. Ya.... Rama dan Ramli satu kantor dengan Fajri sekarang. Bekerja di kantor perusahaan ayah Laila. Walau sebenarnya Fajri memiliki usaha sendiri, tapi permintaan ayahnya mau tidak mau Fajri bekerja di sana walau sifatnya sementara.
"Bagaimana hubungan kamu dan Mala? masih lanjut nih?" tanya Rama pada Ramli sementara Fajri ikut menyimak.
" Semenjak saat itu, aku dan Mala putus kontak, entah mengapa aku atau pun dia tidak ada saling memberi kabar." jelas Ramli pada kedua sahabatnya.
"Lalu Marni?" Rama kembali bertanya
" Marni udah nikah bro."
"Alhamdulillah, itu artinya lho bebas dari Marni dong."
" Ia, juga aku sudah minta maaf padanya." jawab Ramli. "e.... tunggu dulu kenapa bahas aku terus sih, kamu sendiri gimana mau jadi bujang lapuk gak laku-laku? tanya balik Ramli pada Rama.
" Gue sih ikut Fajri, ada yang cocok gue mau ajak nikah." hahahaha..... tawa Rama. "Ribet kalau pacaran, juga ngundang dosa janji ini, janji itu..... secara tidak sengaja saat janji tidak ditepati, ali-ali dosa kan?
"Terus Fajri sendiri gimana? Laila bro maksud gue? Fajri berbalik seketika entah mengapa saat disebut nama Laila perasaan Fajri tidak menentu. "Gak di ajak ta'aruf gitu." Ramli bertanya serius pada Fajri
"Jangan mikir lama bro jika hatinya berpaling ke orang lain, lho akan kehilangan." Ramli menimpali.
Fajri masih memikirkan perkataan Laila saat itu. "Terimakasih selama ini, dan maaf jika selama ini aku merepotkan mu. Hanya itu yang ingin aku sampaikan. dan satu hal, aku menyadari siapa diriku dan aku sudah Lepaskan daripada memaksakan. Ikhlaskan daripada menyakitkan. Relakan daripada berjuang sendirian, Maaf."
"Cinta kepada manusia bisa saja bertepuk sebelah tangan. Tetapi, cinta kepada Tuhan akan selalu berbalas dengan indah apa pun bentuknya."aku tidak pernah menyesal pernah mengenalmu. juga, aku tidak pernah menyesali pernah mencintaimu. penolakan Cintamu mungkin akan memberikan luka. Tapi, semoga luka itu akan membuatku lebih dewasa. "
Entah mengapa beberapa terakhir ini Fajri sering memikirkan Laila. "maafkan aku Laila. Batin Fajri .
Tidak disadari seseorang datang menghampiri Fajri. dan menepuk bahunya. Fajri berbalik melihat siapa wanita yang menyapanya, dari segi penampilan Fajri tidak menyangka.
"Bertha, kau? Rama dan Ramli ikut menimpali. melihat penampilan Bertha dari atas sampai bawah. tidak menyangka jika Bertha menjadi seorang mualaf.
" ia, ini aku. Aku meninggalkan agamaku. dan bertekad menjadi seorang mualaf tanpa paksaan. "semoga hatimu terketuk Fajri. batin Bertha." boleh kah aku ikut duduk dengan kalian? tawar Bertha pada Fajri dan kedua sahabatnya.
"Silahkan." jawab Ramli membuat Fajri membulatkan matanya.
" Fajri maukah kau mengajarkan aku mengenal islam lebih luas lagi. setidaknya mungkin kamu bisa memiliki hati untuk mengajari aku mengaji. atau yang lainnya.
"aku akan membantumu menemukan guru terbaik.
" baiklah, aku menunggu waktu itu. Aku harap kita bisa bersahabat." senyum mereka di wajah Bertha.