COVER FROM PINTEREST
"Perjanjian? Perjanjian apa?” tanya Jasmine tak menyangka kalau pernikahan yang sangat ingin dia lakukan seumur hidup sekali ini harus serumit ini.
“Aku sudah membuat semua keinginanku. Jadi, giliranmu untuk membuatnya. Kalau sudah selesai, segera berikan padaku. Kau boleh menulis apapun yang kau mau dalam 5 poin saja dan itu pun tidak boleh bertentangan dengan poin yang sudah aku buat untuk dirimu. Silakan pikirkan dulu baik-baik. Jika sudah, mari kita sepakati bersama dan tanda tangani. Jika salah satu dari kita melanggar, maka ada hukumannya.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzieraHill, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Posesif
Jasmine membawakan rainbow cake untuk Laura. Wanita itu nampak suka sekali dengan kuenya dan hampir menghabiskan setengahnya. Jam sudah menunjukkan pukul 6 sore. Sementara Endra tentunya belum pulang dari kantor.
“Kamu enggak apa-apa memangnya kalau pulang terlalu sore? Nanti Jordan nyariin kamu lagi! Nanti kamu enggak bisa godain dia lagi loh kalau udah ngambek!” kata Laura, tapi Jasmine masih sibuk mengupas buah mangga untuk Laura.
Mereka sudah dekat sejak lama dan tentunya sangat senang bisa berbagi cerita antara satu dengan yang lainnya. Apalagi kejadian kemarin tanpa Jasmine duga-duga. Entah hari ini ada kejutan apalagi tapi Jasmine justru tidak mau terburu-buru pulang ke rumah. Dia ingin sedikit santai setelah pulang kerja.
“Dia suka pulang jam 9 kak. Udah mah berangkatnya pagi-pagi dia engga kira-kira apa, pulangnya juga terlalu malam.”
“Yah kan Jordan yang punya perusahaan. Pulang malam itu wajar, apalagi kalau lagi banyak pekerjaan. Bahkan sampai rumah pun pasti akan buka lagi! Sama aja tuh kaya kakakmu. Aku sampai enggak diperhatiin,” Laura mencemberutkan bibirnya membuat Jasmine terkekeh.
Endra dari dulu memang sibuk bekerja, tapi tentunya meski sibuk, dia punya banyak wanita yang bisa dia kencani. Entah bagaimana membagi waktunya, tapi Jasmine yakin kakaknya itu bukan playboy biasa. Dia jelas playboy papan atas.
“Kak bagaimana rasanya hamil? Rasanya perjalananku untuk mencapai ke titik ini masih susah banget. Nyentuh dia aja enggak boleh, apalagi bisa hamil.” Jasmine sadar meski kemarin Jordan baru saja melakukan hal manis padanya, tapi siapa tahu hari ini dia berubah pikiran.
Rasanya menyeramkan sekali!
“Jujur aja, aku enggak mau ada di keadaan seperti ini. Hamil di luar nikah itu bukan hal yang baik. Aku tahu ini salah dan Endra enggak pernah lupa untuk selalu minta maaf atas apa yang dia lakuin meskipun ini juga kesalahanku, tapi Jas…” Laura kini menarik tangan Jasmine. Lalu menepuknya pelan.
“Anak itu anugerah. Aku senang bisa merasakan hamil besar seperti ini. Tidak semua orang bisa merasakan seperti ini. Rasanya benar-benar luar biasa,” ucap Laura kini menaruh tangan Jasmine di atas perutnya.
Jasmine terdiam sejenak menatap Laura. Wanita itu menganggukkan kepalanya memberikan kode pada Jasmine bahwa dia diperbolehkan menyentuhnya. Tentu, Jasmine mengusapnya pelan-pelan. Merasakan perut besar cukup keras itu dengan hati ikut bahagia. Seandainya dia juga bisa hamil. Seandainya Jordan mencintainya sepenuh hatinya. Seandainya Jordan mau menyentuhnya. Apakah dia bisa segera hamil menyusul Laura? Lalu anak mereka berlari ke sana kemari, tapi…
Jasmine menarik tangannya refleks. Bagaimana jika Jordan tahu keadaan sebenarnya? Jasmine tidak bisa membayangkan kalau Jordan tahu Laura sebenarnya hamil anak Endra dan Endra sengaja menikahi mereka berdua dengan alasan-alasan yang tentunya hanya Endra yang tahu.
“Kak, aku harus pulang sekarang,” ucap Jasmine nampak panik.
Dia tidak boleh seperti ini! Sebelum itu terjadi. Dia ingin Jordan jatuh cinta padanya lebih dulu. Harus! Apapun yang terjadi. Jasmine ingin Jordan melihatnya lebih dulu sebagai seseorang yang berharga di dalam hidupnya.
“Oh mau aku pesankan ojek online?” tanya Laura berusaha menggapai HP-nya di atas meja.
“Enggak usah, Kak! Aku bisa pesan sendiri. Salam untuk Kak Endra dan Mama ya! Jasmine pulang sekarang! Pesan di depan perumahan aja. Dah!”
Jasmine buru-buru keluar dari rumah dengan tatapan Laura yang aneh. Dia tahu Jasmine sangat resah. Pernikahan mereka baru seumur jagung. Tentunya banyak hal-hal yang wanita itu pikirkan. Laura pun mengelus pelan perutnya. Dia berdoa semoga semuanya baik-baik saja. Semoga Jordan mau membuka hatinya segera untuk Jasmine
[…]
Jordan masih ingat betul ketika Roy mengatakan bahwa moodnya hari ini tiba-tiba jelek karena Jasmine, tapi Jordan membantahnya. Untuk apa moodnya jelek hanya karena gadis payah itu!
“Bahkan seharian ini aku tidak ingin memikirkan gadis itu, heuh!” dengus Jordan seraya masuk ke dalam apartemennya, melepas sepatu dan menaruh tasnya di atas sofa.
“Mas sudah pulang?” suara Jasmine yang tiba-tiba muncul dengan apron yang dia pakai dan juga spatula berada di tangan kanannya.
“Hemm,” tanggapan Jordan seadanya seraya melonggarkan dasi dan duduk santai. Dia lelah hari ini karena memarahi pekerjaan Roy yang tidak serapi kekasihnya, Bella.
“Aku udah masak sesuatu buat Mas. Ayo makan dulu!” Jasmine hampir saja menyentuh Jordan tapi pria itu langsung menghindar.
“Aku sudah makan! Kau ingat poin kita? Jangan sentuh aku!” tegasnya lalu meninggalkan Jasmine yang sangat heran dengan tingkah Jordan.
Bahkan antara musin hujan dan panas pasti punya perbedaan jarak waktu yang Panjang untuk berubah. Kenapa pria itu sangat mudah berubah-ubah tidak jelas. Jasmine rasanya ingin menjambak rambut Jordan memukuli bokongnya hingga merah. Pria itu benar-benar labil seperti ABG.
“Mas kenapa? Ada masalah di kantor. Bukankah kemarin kita…”
“Kita? Kamu dan aku maksudmu? Kamu tidak ingat perjanjian kita? Tidak ada kita! Tidak ada sekamar! Tidak ada sentuhan! Tidak ada-“ kata-kata Jordan melayang di udara ketika melihat Jasmine terlihat sangat terkejut. Apakah dia keterlaluan?
“Baik, Mas. Aku mengerti, kau tidak perlu menjelaskannya dengan begitu detail. Aku paham apa yang kamu katakan tanpa kamu jelaskan seperti itu,” wajah Jasmine terlihat sangat sedih dan itu membuat Jordan sangat bersalah.
Dia ingin memuluknya, tapi perasaan kesal siang tadi masih membekas. Dia hanya tidak habis pikir kenapa Jasmine masih terus menempel pada pria itu. Bahkan setelah mereka menikah sekali pun. Padahal Jasmine tidak kekurangan apapun darinya.
“Malam ini aku tidur di kamarku dan besok aku tidak mau kamu bekerja di kafe temanmu itu lagi. Ini untukmu!” Jordan memberikan salah satu kartunya pada Jasmine.
Jasmine semakin merasa direndahkan, diremehkan dan apakah Jordan melihatnya kerja hari ini? Apakah Jordan merasa malu memiliki istri yang bekerja di kafe? Jasmine ingin marah, tapi dia tidak mau memperkeruh suasana saat ini karena rasanya sangat tidak enak. Baru saja mereka bisa bermesra-mesraan tapi hari ini mereka kembali ke semula. Apa yang salah dengan Jordan?
“Ini aku terima, Mas, tapi aku tetap akan bekerja. Aku tidak suka di rumah. Aku juga tidak suka berbicara dengan semua barang-barangmu sepanjang hari. Apalagi setelah kamu pulang pun aku tetap harus bicara dengan patung berjalan. Kamu kira aku ini hanya pajangan di rumah ini! Atau aku hanya pembantumu!” teriakan Jasmine meninggi lalu membanting pintu kamarnya.
Jasmine menyandarkan tubuhnya di pintu. Sementara Jordan menghela napasnya kasar. Dia tidak bermaksud seperti itu. Dia hanya tidak suka melihat istrinya bekerja di kafe pribadi pria yang terang-terangan menyukainya. Mana mungkin dia bisa tenang?
“Ah sial!” rungut Jordan. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang dan ada apa dengan perasaannya ini! Kenapa dia jadi posesif pada istrinya!
[...]
Bilang ae cemburu yehh Jordan susah amet!
beda banget arti engsel & handle🙏🙏
Kan endra mmg sengaja ngajak Laura utk dioerkenalkan ama Jordan spy dia bisa bebas Dari Laura 🤔
udh lama nunggu nya😭😭