Sebuah kecelakaan mengubah hidup Nara Anindya selamanya. Saat membuka mata, dia terbangun di tubuh Bianca Ardhana, istri CEO tempatnya bekerja, sementara tubuhnya sendiri telah dimakamkan. Di balik rumah tangga yang tampak sempurna, tersimpan pengkhianatan, ancaman, dan rahasia yang belum terungkap. Mampukah Nara mengembalikan kebahagiaan keluarga itu tanpa kehilangan hatinya sendiri?
Jangan lupa like dan votenya ya. terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waya520, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nasi Goreng Spesial
Nara baru saja keluar dari kafe ketika sebuah mobil hitam berhenti tepat di hadapannya.
Pintu mobil terbuka. "Masuk." ucap Elvano yang suaranya dingin dan datar seperti biasa.
Nara membeku. "Pak...eh maksudku."
"Masuk." perintah Elvano yang sepertinya tidak ingin di bantah.
Bianca bingung. Tapi tidak ada pilihan lain. Dia langsung masuk ke dalam mobil Elvano dan duduk di samping pria itu.
Sepanjang perjalanan, tidak ada satu pun dari mereka berbicara. Nara terus memainkan ujung tasnya dengan gelisah.
Apa Elvano melihatnya bertemu Damian?. Kalau iya, bagaimana dia harus menjelaskan semuanya? Dia merasa baru saja ketahuan berselingkuh.
Beberapa menit kemudian, Elvano memecah keheningan. "Orang itu siapa?"
Deg....
Pertanyaan itu membuat Nara menelan ludah. Jantungnya berdetak tidak karuan. Keringat dingin mulai menetes dari dahinya.
"Te... Teman lama." ucapnya gugup. Astaga bagaimana jika Elvano bertanya lebih lanjut lagi.
"Hm." Hanya satu gumaman. Elvano tidak bertanya lagi.
Justru sikap itulah yang membuat Nara semakin tidak tenang. Sepertinya pria itu sudah curiga. Mengingat hubungan mereka sebelum ini sudah buruk. Tidak mungkin kan jika Elvano tidak tahu jika selama ini istrinya berselingkuh.
Sesampainya di mansion, pintu baru saja terbuka ketika terdengar langkah kaki kecil berlari.
"Mama!"
"Papa!"
Elora langsung memeluk kaki mereka bergantian. "Akhirnya kalian pulang."
Nara tersenyum lalu menggendong putrinya. "Elora sudah makan?" tanyanya lirih.
Balita itu menggeleng. "Nggak mau."
"Kenapa?" tanya Nara yang bingung dengan Elora yang tiba-tiba menutup mulutnya dengan tangan.
"Bibi masak sayur." bisik anak itu di telinganya, sementara Elora mencoba menghindari tatapan tajam papa nya.
Nara terkekeh pelan. "Jadi Elora mogok makan karena menunya sayur?"
Elora mengangguk polos. Melihat tingkah putrinya, Elvano mengusap dahinya.
"Dia memang susah makan kalau bukan makanan yang dia suka, tapi kan papa sudah bilang, belajar makan sayur agar bisa tinggi seperti papa."
Nara memandang wajah Elora yang mulai cemberut. Dia juga tidak menyangka jika Elvano bisa mengomel karena anaknya. Maksudnya, selama dia bekerja di perusahaan pria itu. Elvano tidak banyak bicara dan untuk pertama kalinya. Dia melihat pria itu mengomel.
"Kalau Mama yang masak, mau makan?" tanya Nara yang sebenarnya tidak tega melihat wajah sendu Elora karena di marahin papa nya.
Mata Elora langsung berbinar. "Mau!"
Ucapan itu membuat seluruh pelayan saling pandang. Bahkan kepala pelayan sampai terbatuk pelan.
"Ibu, mau memasak?" tanyanya memastikan. Mungkin saja kan dia salah dengar tapi.....
Nara mengangguk tanpa merasa ada yang aneh. "Iya."
Semua pelayan membeku. Bianca Ardhana. Masuk dapur?
Keajaiban apa lagi yang sedang terjadi?
para pelayan langsung menyingkir saat Nara berjalan santai ke dapur. Begitu memasuki dapur, Nara langsung membuka kulkas.
"Untung bahannya lengkap." gumamnya lirih
Tanpa ragu, dia mengambil telur, wortel, daun bawang, dan nasi putih.
"Bu, biar kami saja." salah satu pelayan berjalan mendekati Bianca dengan tubuh bergetar.
Nara menggeleng sambil tersenyum. "Tidak apa-apa. Dulu waktu tinggal sendiri, aku sering masak kok." ucapnya santai.
Ucapan itu kembali membuat para pelayan kembali saling berpandangan. Bahkan Elvano pun terkejut mendengarnya.
"Dulu tinggal sendiri?" tanya Elvano yang tahu bagaimana kehidupan Bianca. Bianca berasal dari keluarga kaya?, bahkan pelayannya pun lebih banyak di bandingkan di rumah ini.
Namun tidak ada yang berani bertanya lebih lanjut.
Elvano berdiri bersandar di kusen pintu sambil menggendong Elora. Dia sebenarnya ingin melihat dari dekat. tapi mengantisipasi terjadinya hal-hal yang mungkin membahayakan putrinya. jadilah dia menunggu di sini.
Dia memperhatikan istrinya yang begitu lincah memegang spatula. Sesekali wanita itu bersenandung pelan. Pemandangan yang belum pernah dia lihat selama tiga tahun pernikahan mereka.
Aroma bawang putih yang ditumis mulai memenuhi ruangan.
Tak lama kemudian disusul harum nasi goreng yang menggugah selera. Elvano mengerutkan kening.
"Papa masakan mama harum sekali." puji Elora yang menatap lurus mamanya yang sibuk memasak.
Elvano merasakan Perutnya yang bergemuruh. Karena dia belum sempat makan malam, dia tiba-tiba merasa lapar.
"Sudah jadi!" teriak Nara yang membuat para pelayan kaget.
Mereka segera menyingkir saat Nara berjalan menuju meja makan, lalu dia meletakkan tiga piring nasi goreng di meja makan.
Elora bertepuk tangan riang. "Wahhh mama hebat hmmmm baunya enak sekali." puji anak itu kegirangan.
Nara terkekeh kecil melihat tingkah tidak sabaran anak itu. Dengan dibantu Elvano, Elora langsung mengambil sendok kecilnya. Kemudian menyendok nasi goreng yang masih panas itu.
"Pelan-pelan, sini mama tiup dulu, masih panas." Nara mengambil alih sendok Elora, meniup nasi yang masih panas itu pelan-pelan hingga dia rasa sudah tidak panas pagi.
"Buka mulutnya." Elora langsung membuka mulutnya tanpa drama. Dan ini pertama kalinya dia mendapatkan suapan dari mamanya.
"Hmm. Mama enak!" Pipi Nara memerah karena malu.
"Pelan-pelan makannya."
Elvano ikut duduk. Dia menatap ragu nasi goreng di depannya, hingga beberapa saat sebelum akhirnya dia mencicipinya.
Nara menunggu dengan wajah penuh harap. "Bagaimana?"
Elvano mengunyah perlahan. "Lumayan."
Nara langsung manyun. "Cuma lumayan?"
Elvano mengangkat sebelah alis. "Memangnya aku harus bilang apa?"
"Ya harusnya enak lah, aku susah payah memaknya." gerutu Nara yang membuat sudut bibir Elvano terangkat nyaris tidak terlihat.
"Kalau begitu." Elvano mengambil satu suapan lagi.
"Enak."
Nara tersenyum lebar tanpa sadar. "Kan!"
Melihat senyum itu, Elvano sejenak kehilangan kata-kata. Sudah lama sekali dia tidak melihat Bianca tersenyum setulus itu.
Bahkan dia hampir lupa seperti apa rasanya makan malam bersama keluarga. Di tengah suasana hangat itu, Elora tiba-tiba berkata, "Besok kita piknik ya pa, mama?" tanya Elora yang membuat Elvano berhenti mengunyah.
Nara tertawa kecil. "Minta izin Papa dulu."
Elora langsung menoleh kepada Elvano. "Papa boleh ya?" tanyanya dengan nada polos.
Elvano menatap wajah putrinya yang penuh harap. Kemudian bergeser pada Nara yang tampak ikut menunggu jawabannya.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dia merasa ingin menghabiskan waktu bersama mereka.
"Boleh. Bagaimana jika hari minggu kita ke taman."
"Hore!" Elora bersorak girang lalu memeluk kedua orang tuanya sekaligus.
"Sayang papa."
Cup... Elora mengecup pipi Elvano membuat pria itu tersenyum lebar.
Lalu anak itu beralih pada Nara.
"Sayang mama."
Cup... Nara yang mendapatkan ciuman kecil itu beralih menatap Elora dan mengecup pipi anak itu berkali-kali.
"Ahahahhaha mama sudah." Elora berusaha menahan ciuman mama nya.
Nara dan Elvano saling berpandangan karena jarak mereka tiba-tiba menjadi sangat dekat. Wajah Nara memerah. Sementara Elvano berdehem pelan, berusaha menyembunyikan rasa canggungnya.
Di sudut ruang makan, para pelayan saling tersenyum kecil. Mereka tidak tahu apa yang terjadi setelah kecelakaan itu.
Namun satu hal yang pasti. Rumah yang selama ini terasa dingin perlahan mulai dipenuhi kehangatan kembali.