Rafasya tak mengira jika kelebihannya membuatnya harus kehilangan orang-orang yang di cintainya.
Rafa dan Raka akan berjuang demi cinta mereka, meski harus menghadapi semua tantangan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meidina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tiga pria Rania.
"Kenapa masih di sini pergi!" bentak Raka kasar.
Lulu pun masih menangis di depan Rafa, karena marah Rafa pun membaca mantra.
"pergi atau aku akan membuat mu mati sekarang, pergi!" teriak Rafa yang sudah tak tahan lagi.
"cepat pergi, Rafa dan Raka sudah marah, atau kamu ingin Adri yang mengusir mu," kata Luna meminta Lulu bergegas.
Lulu pun pergi, tapi sebelum itu Rafa sudah menanamkan sebuah mantra pada gadis itu.
"apa yang kamu lakukan," kata Raka melihat saudaranya itu.
"dia akan mati jika berani menyentuh seujung rambut Rania, dan biar aku yang tanggung dosanya," jawab Rafa melepas tangan Raka.
melati ingin mengikuti Rafa yang kembali ke sekolah, "jangan ikut aku, lebih baik lihat bagaimana tabiat wanita itu sebenarnya," perintah Rafa.
"siap prabu, tapi anda harus tersenyum karena kalau cemberut anda begitu jelek," kata melati sebelum menghilang.
sedang Lulu tak mengira jika semua terjadi padanya. dia hanya tak sengaja melampiaskan dengan memarahi Rania.
Lulu pun pulang ke rumah dan langsung mendapat tamparan dari ibunya cukup keras.
"ada apa Bu?" kaget Lulu.
"gadis bodoh, Kenapa kamu bisa di usir dari rumah keluarga Adri," maki Bu lakah.
"bagaimana ibu tau, ibu membuntuti ku," tanya Lulu terkejut.
"kau saja bodoh, setiap tembok itu punya telinga, kamu lupa jika bibik mu juga membantu di sana, harusnya kamu itu merebut hati gadis kecil itu, Kenapa malah membuatnya terluka, kamu tau jika gadis kecil itu adalah kelemahan dari Adri," omel Bu lakah.
"karena aku tak ingin menjadi istri dari orang itu maupun ibu sambungnya," jawab Lulu.
Bu lakah langsung marah dan memukuli Lulu dengan alat pemukul kasur.
beruntung ajian yang di kirim oleh Rafa bisa memberikan perlindungan meski tak banyak.
melati hanya mengawasi semua dari atas lemari, "dasar anak tak berguna, lebih baik kamu menikah dengan juragan untung untuk jadi istri keempatnya."
Bu lakah pun pergi dari sana, sedang Lulu masih menangis merasakan nyeri di tubuhnya.
"aku tak mau, aku tau jika hanya angkat, tapi kenapa aku hars mengalami semua ini," tangis gadis itu.
melati pun tak sengaja menangis mendengar itu, kemudian dia turun dan mencoba mengusap air mata dari Lulu.
"kenapa aku merasa sakit melihat gadis ini menangis," gumam melati.
melati pun langsung pergi, karena dia tak bisa mengendalikan perasaannya.
saat sampai di sekolah Rafa, melati masih menangis sesenggukan, Rafa hanya melihat wanita itu sekilas.
"kamu kenapa?" tanya Rafa tanpa mengalihkan pandangannya.
"aku- aku- huwa...." tangis melati menjadi.
Rafa pun melepaskan kaca mata miliknya dan menghampiri melati, tanpa bicara Rafa langsung mengenggam tangan melati.
Rafa memejamkan matanya, sedang melati melihat pria yang sedang berjongkok di depannya.
melati pun menelisik setiap inci wajah Rafa, "bulu mata yang panjang dan lentik, hidung mancung, bibir yang menggoda, dan kulit wajah yang mulus tanpa celah, dan bulu yang Bru tumbuh itu membuat makin sempurna."
"sudah kagumnya, biarkan aku melihat apa yang kamu lihat, jangan melihat yang aneh-aneh," kata Rafa membuka mata.
"ah... maaf," jawab melati kikuk.
Rafa pun terkejut saat melihat apa yang terjadi pada Lulu, Rafa pun langsung kembali ke kursinya.
Rafa mengambil apa yang dia tempelkan pada wanita itu, sedang melati pun sudah berdiri di sampingnya sambil tersenyum.
"kamu ngapain di sini?" kaget Rafa.
"aku ingin kamu membantunya ya, please..." mohon Rafa.
"tidak mau, aku sibuk, sana pergi temuin Raka jangan mengangguku," kata Rafa mengusir melati.
"dasar pelit, kamu jahat," kata melati yang langsung menghilang.
dan bertepatan dengan itu dari luar terdengar suara teriakan dari para siswi.
Rafa pun bergegas keluar dan melihat apa yang terjadi, Rafa kaget melihat seorang siswi yang jatuh dari lantai dua.
"kenapa malah diam, cepat telepon ambulan sekarang," kata Rafa.
kepala sekolah pun hanya melihatnya dari jauh, sedang Rafa sempat melihat sesosok bayangan yang kemudian menghilang.
"Alda, Bertahan ambulan segera datang, jangan menutup matamu, bapak mohon..." kata Rafa mencoba membuat siswinya itu tetap sadar.
"maaf..." Alda muntah darah sebelum dia menghembuskan nafasnya di depan Rafa.
semua siswa-siswi dan para guru kaget, Rafa pun meneteskan air mata melihat murid pandai itu mati.
ambulans dan polisi datang, mereka segera mengevakuasi jenazah, sedang polisi naik ke lantai tempat Alsa melompat.
tapi sudah ada Rafa di lantai itu, Rafa seperti sedang melihat sesuatu yang menakutkan.
dan tanpa sadar tubuhnya sudah di kendalikan oleh mahluk astral, tubuh Rafa pun sudah menuju ke tempat Alsa melompat.
beruntung polisi menarik Rafa, "apa anda sudah gila, itu bahaya," bentak polisi itu.
Rafa pun kemudian pingsan, dalam ketidak sadarannya, Rafa berhasil menghampiri gubuk yang berada di tengah hutan itu.
saat dia berusaha masuk, dia pun melihat bayangan Alda yang masuk ke gubuk itu melalui pintu lain.
Rafa pun mengikuti Alsa, dan Rafa terkejut saat melihat Della yang di rantai oleh sesosok mahluk besar dengan warna emas.
tapi saat akan mendekati Della, sesosok pria tua berjubah putih mendorongnya.
"kenapa kamu disini, cepat kembali," kata pria itu mendorongnya Rafa, tapa sadar Rafa terpental kembali ke tubuhnya.
"Della!!!!!" teriak Rafa.
dia pun membuka mata, pak Mudin, Raka dan Alfin kaget melihat Rafa yang membuka mata.
pasalnya mereka akan mengkafani Rafa, setelah Raka kuat melihat saudara kembarnya itu.
"Allahuakbar, kamu bangun nak!" kaget pak Mudin.
"hantu!" teriak setiap orang yang berteriak melihat sosok Rafa yang bangun.
Rafa pun kaget melihat ada keranda di sampingnya, "ada apa ini kak alfin, Raka?" gumam Rafa yang masih lemas.
Raka pun langsung memeluk Rafa, "Alhamdulillah, aku sudah katakan pada mereka jika kamu belum mati, tapi mereka tak percaya, karena dokter sudah menyatakan kamu meninggal dunia," tangis Raka.