Kania mengira pernikahannya dengan Firman adalah takdir bahagia. Selama dua tahun, Firman menjadi suami sempurna sekaligus pahlawan yang menyelamatkan ekonomi keluarganya.
Meski hidup dengan disabilitas pada kaki kirinya akibat sebuah kecelakaan, Kania tak pernah menyerah menjalani hidup. Ia percaya, selama Firman tetap berada di sisinya, semua kekurangan itu bukanlah penghalang untuk meraih kebahagiaan.
Namun, saat perusahaan Firman bangkrut, badai besar menghantam rumah tangga mereka.
Pria yang pernah berjanji akan terus menggenggam tangannya mendadak berubah dingin. Lalu, seorang wanita dari masa lalu Firman datang menawarkan suntikan dana untuk menyelamatkan perusahaan dengan satu syarat, Firman harus membuang Kania dari hidupnya.
Demi mengembalikan kejayaan dan mempertahankan ambisinya, Firman tak ragu mengkhianati janji suci pernikahan mereka.
Terluka hebat, Kania memutuskan pergi meraih kebahagiaannnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 10 Mengepel Lantai
Suara tawa dari ruang tamu menandakan betapa meriahnya acara arisan siang itu. Di dapur, Kania baru saja menghela napas sejenak, mengusap peluh yang membanjiri dahinya.
Namun, belum genap satu menit ia bersandar pada pinggiran meja, ibu mertuanya kembali memanggil.
"Kania! Mana minumannya?! Bawa kemari, ini gelasnya sudah pada kosong! Lelet sekali sih jadi orang!" teriak Tuti dari ruang tengah, nada suaranya sengaja dibuat seangkuh mungkin agar terlihat berkuasa di depan teman-temannya.
Kania tersentak kaget. "Iya, Bu! Sebentar, ini Kania bawa!" balas Kania setengah berteriak agar terdengar.
Kania dilarang memanggil Tuti mama di depan mereka.
Dengan terburu-buru, Kania mengangkat nampan besar berbentuk bundar yang berisi teko es sirup melon dan belasan gelas. Beban nampan itu lumayan berat, membuat tangan Kania sedikit gemetar.
Kania melangkah secepat yang ia bisa, meski pergelangan kaki kirinya sudah terasa kebas dan berdenyut nyeri akibat diforsir berdiri sejak subuh.
Saat Kania setengah berlari melewati ambang batas antara ruang keluarga dan ruang tamu, kaki kirinya tiba-tiba kehilangan tenaga. Ujung kakinya tersandung karpet tebal yang sedikit terlipat.
Prang!
Tubuh mungil Kania ambruk menghantam lantai dengan keras. Nampan terlepas dari tangannya. Pecahan gelas mahal itu berserakan ke segala arah, sementara es sirup melon yang lengket tumpah membasahi lantai, karpet, serta sebagian pakaian Kania.
Suasana ruang tamu mendadak hening. Tawa belasan ibu-ibu sosialita itu terhenti seketika, berganti dengan pekikan kaget dan napas tertahan.
Kania meringis kesakitan. Telapak tangannya sedikit tergores serpihan kaca, dan lututnya berdenyut hebat. Namun, rasa sakit di fisiknya tak sebanding dengan rasa takut yang kini menjalar ke sekujur tubuhnya saat melihat wajah Tuti memerah padam menahan amarah.
Bukannya menolong atau menanyakan keadaan menantunya, Tuti justru langsung berdiri dari sofanya dan berkacak pinggang. Matanya melotot tajam, seolah ingin menelan Kania hidup-hidup.
"Astaga! Kania! Apa yang kamu lakukan, hah?!" bentak Tuti. Ia menuding tepat ke depan wajah Kania yang masih terduduk tak berdaya di lantai. "Kamu ini punya mata tidak sih?! Gelas itu harganya jutaan, tahu?! Dasar perempuan tidak berguna!"
Kania menunduk dalam-dalam sembari meremas ujung bajunya yang basah. Tubuhnya gemetar menahan tangis.
"M–maaf, Bu... Kania benar-benar nggak sengaja. Kaki Kania tadi tiba-tiba lemas, terus tersandung karpet—"
"Alasan!" potong Tuti bengis, tak memberikan Kania kesempatan membela diri.
"Bilang saja kamu memang sengaja mau mempermalukan aku di depan teman-temanku, kan?! Sudah jalannya pincang, kerjanya lelet, sekarang malah menghancurkan barang-barang berharga di rumah ini. Bikin malu saja!"
Hati Kania hancur berkeping-keping. Dihina pincang dan tidak berguna oleh ibu mertuanya sendiri di hadapan belasan orang asing rasanya seperti ditusuk ribuan jarum tajam.
Air matanya mulai menggenang, namun ia buru-buru menyekanya, tak ingin terlihat semakin menyedihkan.
Melihat Kania yang hanya diam dan menunduk pasrah di tengah genangan sirup lengket, Tante Rina, salah satu teman Tuti yang sejak tadi merasa iba, akhirnya tak tahan.
Wanita paruh baya itu berdiri dari duduknya, perlahan menghampiri Kania, memegang lengannya, dan memapahnya untuk berdiri.
"Sudah... sudah, Jeng Tuti. Jangan dimarahi terus, kasihan dia sampai pucat begitu," ucap Rina lembut, mengusap lengan Kania. Ia lalu menoleh pada Tuti. "Namanya juga musibah, Jeng. Siapa sih yang mau jatuh? Pembantunya mungkin memang benar-benar nggak sengaja keserimpet kakinya sendiri."
Bukannya mereda, perkataan Tante Rina justru membuat ego Tuti semakin meradang. Ia mendengus kasar, bersedekap dada sambil menatap Kania dengan tatapan merendahkan.
"Jeng Rina nggak usah kasihan sama dia! Perempuan ini memang dari dulu selalu bikin susah hidup saya!" oceh Tuti tanpa ampun, sengaja mengeraskan suaranya agar seluruh ruangan mendengarnya.
"Bisa-bisanya saya punya pembantu yang kerjanya cuma merugikan! Sudah fisiknya cacat, tenaganya lemah, otaknya juga nggak dipakai! Coba Jeng lihat, gara-gara dia, acara kita jadi berantakan begini! Karpet Turki saya yang mahal ini kena noda sirup!"
Terdengar bisik-bisik dari beberapa ibu lain. Ada yang memandang Kania dengan iba, namun tak sedikit pula yang menatapnya dengan tatapan meremehkan karena termakan ucapan Tuti.
Kania hanya bisa menelan ludah Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, menahan isak tangis yang mendesak keluar dari tenggorokannya.
Sakit. Sungguh luar biasa sakit rasanya dihina dan dipermalukan sebegitu rupa tanpa bisa melawan.
"Kania sungguh minta maaf," cicit Kania dengan suara parau dan bergetar menahan tangis. "Biar Kania bereskan semuanya sekarang juga."
"Ya memang harus kamu yang bereskan! Masa tamu yang kusuruh?!" sembur Tuti ketus.
"Cepat pel lantainya sampai bersih mengkilap! Buang semua serpihan kaca itu. Kalau sampai masih lengket, kamu tidak usah makan malam ini! Dasar pembawa sial!"
Kania mengangguk pelan. Dengan langkah tertatih, ia melepaskan pegangan Rina dan menunduk hormat kepada wanita itu sebagai tanda terima kasih.
Diiringi tatapan iba seluruh tamu, Kania menyeret kakinya yang berdenyut ngilu menuju dapur untuk mengambil alat pel.
****
Sambil menahan perih di telapak tangannya yang tergores, Kania berjongkok mengepel tumpahan sirup lengket itu. Dari atas sofa, mata-mata tajam terus mengawasinya, diiringi bisik-bisik yang sengaja dikeraskan.
"Sebenarnya dia itu cantik lho, Jeng," bisik Sisca seraya mengamati wajah Kania dari samping. "Kulitnya bersih, raut wajahnya juga manis. Tapi kok sayang banget ya, nasibnya malah berakhir jadi pembantu?"
"Ah, cantik dari mananya? Percuma punya wajah manis kalau cacat, jalannya pincang, dan ceroboh begitu!" cibir seorang ibu berlipstik tebal yang duduk tepat di sebelah Tuti. Ia menatap Kania dengan tatapan merendahkan saat ujung alat pel itu melewati dekat kakinya.
Ibu itu lalu menoleh pada Tuti.
"Lagian waktu Firman menikah dulu kan kita nggak diundang, Jeng. Jadi kita nggak tahu selera menantunya Jeng Tuti itu seperti apa. Tapi yang jelas, istri Firman pasti jauh lebih berkelas, kaya raya, dan sempurna dari babu pincang ini, kan?"
Tuti tertawa gugup, mengiyakan dengan cepat.
"Oh, tentu saja! Menantuku itu—"
Ceklek!
Suara pintu utama yang terbuka tiba-tiba memutus ucapan Tuti. Sosok Firman melangkah masuk dengan kemeja kantor yang lengannya digulung sebatas siku.
"Assalamualaikum. Ada apa ini ramai-ramai?" sapa Firman dengan dahi berkerut bingung.
Jantung Tuti serasa copot. Wajahnya yang tadi angkuh seketika pucat pasi.
"Mampus! Kenapa Firman pulang cepat sekali?!" jerit Tuti dalam hati, benar-benar kelabakan.
Pandangan Firman menyapu ruangan, lalu gerakannya terhenti. Jantungnya berdesir hebat saat matanya menangkap sosok Kania. Istri tercintanya itu tengah berjongkok di lantai dengan baju basah, memegang alat pel sambil menunduk menyembunyikan air mata.
"Kania? Kamu kenapa di bawah sana?"
Belum sempat Firman melangkah menghampiri istrinya, Tuti beranjak dari sofa. Ia berlari menghadang putranya, lalu mencengkeram erat lengan Firman.
"E–eh, Firman! Anak Ibu sayang, kok tumben sudah pulang jam segini?!" seru Tuti berusaha mati-matian menutupi pandangan Firman dari Kania.
Tuti menarik paksa lengan putranya.
"Ayo, Nak, mending kamu langsung masuk kamar saja! Kamu pasti capek banget, kan? Biar Mama yang urus kekacauan di sini. Ayo masuk ke dalam sekarang!" ajaknya.
TPI dia bilang adik satu satunya
dari awal fillingku itu menggunakan firman pasti ingin merebut sesuatu dari sang Abang
hemm
kamu pasti bisa bangkit kembali😭😭
kamu gak tau KLO mawar ingin menjadikan firman sebagai budak catur
yg harus kerja rodi
siap siap lembur stiap hari dan istri barumu akan menghabiskan uang perusahaan
dan Bu Tuti akan kehilangan jatah bulananmu
ahay
Nah betul nih si 🌹 berduri adiknya si kulkas. Eng ing eng...