NovelToon NovelToon
This Is Our Love

This Is Our Love

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Misteri / Perjodohan / Tamat
Popularitas:661k
Nilai: 5
Nama Author: Nila Wati

Kontrak kerja telah berakhir. Bella memutuskan pulang ke Indonesia setelah bertahun-tahun di luar negeri. Meninggalkan perusahaan tempatnya bekerja, juga keluarga angkat dan sahabatnya.

Harapan bisa hidup bahagia dengan nenek dan adiknya pupus kala bendera merah berkibar di depan rumah kampung halaman.

Kesedihan mendalam, ditambah beberapa fakta lagi. Tapi Bella tidak bisa terus bersedih. Ia harus mencari kerja demi menyambung hidup.

lah bagaimana ceritanya? Baru pulang sebentar langsung sibuk mencari kerja? Padahal ia adalah mantan GM perusahaan ternama dengan gaji fantastis dan hidup dalam kesederhanaan?

"Aku mencintaimu dengan tulus. Asalkan kau bahagia, aku juga bahagia. Tidak masalah kita tidak bisa bersatu, asalkan kita tetap bersama." ~ Louis.

"Maaf ... aku bukannya tidak ingin kembali. Maaf ... aku harus membunuh cinta ini." ~ Bella.

"Kau hanya alat yang diberikan Papa untuk membawaku ke puncak. Kau memang isteriku, tapi kau bukan hati dan cintaku!"~ Ken.

"Maaf jika aku egois. Aku hanya ingin kau dan aku bahagia. Bella adalah wanita yang cocok untukmu, terimalah dia dengan tulus. Kelak jika aku tiada, kau tidak akan terpuruk dan aku tidak akan merasa bersalah di sana. Tapi aku mohon, jangan lupakan aku dan semua tentang kita." ~ Cia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nila Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sekali lagi

"Mas, bagaimana kelanjutan tentang perjodohan yang dibuat untuk Ken? Apa wanita itu sudah setuju?"tanya seorang wanita seraya meletakkan secangkir kopi di atas meja kerja.

"Mas masih mengumpulkan semua tentangnya, Sayang. Anak itu, keras kepala kalau kita nggak megang kelemahannya, mustahil bisa menundukkannya," jawab suaminya yang tak lain adalah Pak Surya. Wanita di sebelahnya adalah istri Pak Surya, bernama Rahayu. 

"Lantas kapan, Mas?"

"Tunggulah sebentar, Sayang. Mas yakin dia pasti punya kelemahan," ujar Pak Surya seraya menggenggam jemari Rahayu. 

"Kondisi Cia semakin menurun, aku cemas dia nggak akan mampu bertahan lama. Aku nggak mau nantinya Ken terpuruk gara-gara kehilangan Cia," ucap Rahayu. Pak Surya menarik Rahayu agar duduk di pangkuannya.

"Mas paham betul kecemasanmu, Sayang. Makanya itu Papa memilih Nona Nabilla sebagai menantu kita. Dia punya watak dan pendirian yang tegas. Sepertinya sulit untuk jatuh cinta dan Nona Nabilla adalah pilihan yang bagus untuk Ken. Keras kepalanya hampir sama dengan Ken. Mas yakin, jika mereka berhasil dinikahkan, cepat atau lambat pernikahan perjodohan itu akan berubah menjadi rumah tangga penuh cinta," papar Surya. Rahayu yang mengalungkan tangan pada leher Surya, bukannya lega malah menunjukkan wajah ragu.

"Tapi … bagaimana jika Ken yang menolak? Papa tahu sendirikan betapa Ken mencintai Rahayu. Ken  juga nggak terobsesi menjadi pewaris Mahendra Group. Aku cemas, jika dipaksa, ia akan memilih keluar dari rumah," ucap Rahayu mengatakan keraguannya. Surya tersenyum, mengusap lembut rambut Rahayu.

"Maka dari itu gunakan Cia sebagai alat," ucap Surya.

"Maksud Mas …."

"Mas serahkan tugas ini padamu, Sayang. Kamu kan sangat dekat dengan Cia. Kamu urus Ken sedangkan Mas urus calon menantu kita," ucap Surya tegas. Rahayu ingin membantah tapi dengan cepat Surya membungkamnya dengan ciuman.

*

*

*

Sama seperti minggu yang lalu, Bella hanya melihat Dylan dari balik pintu. Sebenarnya ia ingin menemui dan berbicara langsung dengan Dylan, akan tetapi hatinya masih belum siap. Bayangan kejadian masa lalu selalu membayangi Bella saat melihat wajah Dylan. Hanya bayangan, sebuah siluet samar yang membuat kepala Bella berdenyut nyeri. Sering Bella bertanya-tanya, apakah ia ini lupa ingatan atau ingatan itu yang sudah lama dan terkubur rapat di dalam memori? 

Pak Andre pun hanya bisa menggeleng pelan melihat Bella yang memegang dadanya melihat Dylan yang tertidur di ranjang. 

"Aku sudah siap. Rawat dia dengan baik. Aku harus mempersiapkan hatiku lagi untuk bertemu dan berbicara dengannya!"ucap Bella, berbalik dan melangkah pergi. "Baiklah. Jaga dirimu dengan baik. Dan sampai kapan kau siap? Waktu terus berjalan, Bella. Sudah delapan tahun, apakah hutang itu belum juga lunas?"

Bella menghentikan langkahnya, tangannya terkepal erat, matanya terpejam dengan dada yang sedikit naik turun."Sebelum dia ku kirim kemari, dia sangat membenci keluarga kami termasuk 

diriku. Aku tak tahu, apakah kebencian itu sudah sirna atau tetap membara? Aku belum siap untuk menghadapi kebencian itu. Aku mohon, jangan paksa aku," jawab Bella tanpa berbalik.

"Lantas kapan? Jujur saya, Dylan itu lebih membutuhkan interaksi dengan orang terdekatnya ketimbang kami pada perawat."

"Akan aku pertimbangan lagi," sahut Bella tanpa berbalik dan kembali melanjutkan langkahnya dan hilang di pertigaan lorong. 

Bella menghela nafas pelan, hatinya semakin merasa bersalah. Biarlah. Izinkan aku lari dari kenyataan lebih lama lagi. Maaf Dylan, aku harus membuatmu menderita lebih lama lagi.

***

Bella mengeryitkan dahinya heran melihat sebuah sedan hitam yang dikelilingi oleh beberapa pria berseragam hitam lengkap dengan kaca mata hitam di parkiran rumah sakit. Yang lebih heran dan membuatnya was-was adalah dua orang yang menjaga mobil itu bergerak seperti hendak menghampiri dirinya. Bella mencoba tenang dan berbaik sangka, ia tetap melangkah menuju motornya.

"Permisi, Nona Nabilla. Atasan saya ingin bertemu dengan Anda!"ucap tegas salah seorang dari mereka, merentangkan tangan menghalangi jalan Bella.

"Maaf saya tidak mengenal siapa kalian dan atasan kalian! Saya harus pergi!"jawab Bella dingin. Firasatnya mengatakan bahwa ini adalah ulah Pak Surya. Hanya dengan Mahendra Group lah ia mempunyai masalah. Sementara itu, untuk yang lain, sama sekali tidak ada yang Bella singgung. Jika itupun suami Anjani, tidak mungkin seheboh dan seketat ini. 

"Silakan ikut dengan kami, Nona! Jangan paksa kami menyeret paksa Anda! Mohon kerja sama Anda!"ucapnya lagi tegas.

"Heh? Berani sekali kalian mengancam di tempat umum?!"

"Kami hanya menjalankan perintah, mohon kerja sama Anda, Nona!"jawabnya tegas, tersirat rasa takut di sana. Bella mendengus sebal, "Pak Surya mengapa Anda menganggu saya lagi?!"seru Bella kesal.

Kaca mobil terbuka, Surya menoleh dengan tersenyum lebar. "Karena saya telah memilih Anda, Nona. Masuklah, kita berbicara si mobil!"sahutnya santai.

"Huh!" Dengan menghentakkan kaki 

 dan sorot mata kesal, Bella melangkah masuk ke dalam mobil.

"Jalan, Jo!"ucap Pak Surya.

"Tunggu! Motor saya bagaimana?!"seru Bella.

"Biar bodyguard saya yang membawanya." Bella mendengus, membuka kaca mobil dan menyerahkan kunci motornya pada pengawal. "Jangan sampai lecet!"ketus Bella.

"Tenang saja. Jika hancur pun akan saya belikan yang baru," ujar Surya.

"Hehehe, tidak perlu, Pak!"sahut Bella ketus. Surya tersenyum simpul, temperamental yang berbakat!

"Jadi, apa yang ingin Anda bicarakan dengan saya? Saya sudah menolak apapun penawaran Anda yang berhubungan dengan menikah sebagai syaratnya! Terlebih dengan Anda yang sudah beranak tua, beristri, dan beranak tiga!"ucap Bella frontal. Surya sedikit tersinggung, biarpun tua begini, tapi ia masihlah tampan dan bertubuh atletis. Dan dia bukan seseorang yang suka selingkuh. Pak Jo yang mendengar hal itu tersenyum tipis, Nona ini sangat berani dan blak-blakan. Cocok untuk menjadi pendamping Tuan Muda Ken. Hanya saja, jika sudah menjadi menantu keluarga Mahendra, ia harus lebih membatasi diri, batin Pak Jo.

"Nona Nabilla apakah Anda tidak membaca pesan dan email yang saya kirim?"tanya Surya seraya mengusap kasar wajahnya. 

"Tidak!"sahut Bella acuh. Semua email dan pesan yang dikirim dari Mahendra Group selalu ia hapus tanpa dibaca, itupun sebelum ia memblokir apapun yang berhubungan dengan Mahendra Group. 

"Huh kau terlalu impulsif, Nona! Kau pergi sebelum mendengar apa yang saya katakan secara lengkap. Saya mulai ragu dengan caramu bisa menjadi GM," sindir Surya yang membuat Bella mengepalkan tangan eratnya. Tatapan Bella penuh amarah, menatap Surya seakan hendak menelannya hidup-hidup. "Anda hanya ingin menyampaikan kritikan ini, Pak? Jika hanya itu, lebih baik saya turun dan jangan ganggu saya lagi!"ucap Bella dingin. 

"Sikap Anda yang beginilah yang membuat saya melayangkan kritik padamu, Nona Nabilla!"tegas Surya.

"Inilah saya! Dan satu hal, penampilan terkadang tidak menunjukkan kemampuan! Sikap manusia itu beragam, semua memiliki ciri khas yang membuatnya mempunyai nilai lebih. Jujur saja, jika saya tidak suka, maka saya akan menyampaikannya. Saya tidak bisa bermain dengan mimik wajah terlalu lama, jadi saya harap Anda langsung to the point jika tidak, saya tidak akan segan lagi!"ucap Bella, tegas dilengkapi dengan senyum tipis yang mengisyaratkan sebuah ancaman.

"Baiklah-baiklah." Surya lantas menyodorkan sebuah map pada Bella. Bella menatap itu sejenak kemudian mengambil dan membukanya. Bella terkesiap kala membuka lembaran pertama. Di sana tertera dengan jelas tentang adiknya juga tentang Dylan. 

"Adikmu butuh biaya pengobatan yang sangat besar, ditambah dengan kondisinya yang hamil dan tersangkut masalah besar. Biaya kemoterapi itu tidak murah, terlebih bagi pasien yang sedang hamil. Selain itu, anak keluarga Buana itu juga harus menerima perawatan yang entah sampai kapan. Apakah jika kau seorang pengangguran, mampu membayar semua itu? Aku akui kau pasti punya tabungan yang cukup banyak, hanya saja sudah berkurang banyak. Sampai kapan tabunganmu itu akan sanggup membiayai semuanya?"

Bella jika menjawab, membuka lebaran kedua. Tertera dengan jelas arus keluar kas yang sangat banyak di rekeningnya. Di lembaran ketiga tertera bukti pembayarannya atas Dylan di rumah sakit jiwa Bahagia. 

"Dan yang terpenting adalah …." Bella membuka lembaran terakhir. Matanya membulat melihat apa yang tertera di sana. Bella menatap Surya penuh selidik. "Apa maksud Anda?"

"Anda pasti sudah paham. Bagaimana keputusan Anda setelah melihat semua ini?" Surya tersenyum lebar. Ia puas dengan keras keras sekretaris Frans yang berhasil membuat Bella dilema.

"Lantas dengan siapa aku akan menikah?"tanya Bella lirik.

"Putra ketigaku, Mahesa Ken Mahendra!"jawab Surya dengan senyum penuh kemenangan karena agaknya Bella sudah mulai luluh.

1
Puspa Ayundari
kk thor....kok byk typo yaa.....dr bab bab sebelumnya jg 🙏🏻🙏🏻
Salsabilla Salsa
dangke artix terima kasih
Lestari Setiasih
bagus ceritanya
Esi Ana
🥰
Zuraida Zuraida
pasti Nesya hamil
Arshafi Ray
bpbbphg
Fitri cute
manteppp jiwaaaa
anne yolanda tarigan
seru kali baca nya kk
Aumy Re
halo ka....
salam kenal
aku mampir baca ya
salam di batas cakrawala
bunda syifa
haaahhh... dn akhirnya ending...

d tunggu selalu karya terbaru nya Thor, aq kasih vote sama buket bunga 💐🥀🥀
bunda syifa
lama banget ngulang ka', eh Dateng" malah ending 😭😭
Eka Arti
overal ceritanya bagus, cuma kadang nama pemerannya kebolak balik, jadi agak membingungkan.
But tetep semangat dalam berkarya, dan "kesayangan presdir" nisa dilanjutkan lagi...
bunda syifa
untuk Brian selogan "KB dua anak cukup" gc berlaku y, karena cukup satu anak aja🤭🤭
Sul Lasih
happy ending ya Thor 😍
Risfa
mangatt berkarya ka, sukses ya 🤗🤗🤗
Nilaaa🍒
Surabaya Kakak😆
bunda syifa
ini kuliah nya d Bandung apa Surabaya Thor, ko' ganti"
Nilaaa🍒: Surabaya Kakak
Ada typo😅🥰
total 1 replies
Mazzahir 9
terharu sama ending nya thor
💠 Coco 💠
senengnya bisa baca lg Bella-Ken
Ayi Ummi PutriAnnisa
akhirnya.... next Thor 😘😍😘😍😘
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!