Semua orang menyebut Aelora anak kutukan. Ia dibuang, diburu, dan dibiarkan mati di hutan iblis. Tapi nasib berkata lain: Raja Iblis sendiri memungutnya dan menjadikannya putri kecil Nocthara. Kini Aelora harus menyembunyikan dua rahasia: ia pernah hidup di masa depan yang hancur, dan ia adalah anak malaikat yang dicari oleh Surga. Demi menyelamatkan ayah angkatnya dan mencegah perang tiga dunia, Aelora kecil harus mengubah takdir sebelum orang-orang yang ia cintai mati untuk kedua kalinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Laporan Rahasia Tabib
Aelora terbangun karena suara pena menggores kulit.
Krek. Krek. Krek.
Bunyinya tidak keras, tetapi terus berulang di dalam ruangan yang terlalu sunyi. Ia membuka mata perlahan dan melihat langit-langit batu berwarna kelabu. Rune ungu mengalir di sepanjang dinding, membentuk lingkaran perlindungan yang belum pernah dilihatnya.
Bau akar malam, logam, dan kain terbakar memenuhi udara.
Ia bukan berada di kamar cadangan.
Bukan pula di ruang penyembuhan biasa.
Aelora mencoba menggerakkan tubuh.
Rasa sakit langsung menjalar dari punggung kanan menuju bahu. Rasanya seperti kulitnya ditarik dari dalam. Ia menggigit bibir agar tidak mengerang.
“Jangan bergerak.”
Suara Eirna terdengar dari sisi ruangan.
Tabib itu duduk di belakang meja kecil, menulis pada selembar kulit hitam. Rambutnya tidak lagi tersusun rapi. Beberapa helai menempel pada pipi. Ada lingkaran gelap di bawah matanya dan noda tinta pada tiga jarinya.
Aelora menoleh pelan.
“Aku di mana?”
“Ruang pengamatan kerajaan.”
“Apakah itu nama lain untuk ruang terkunci?”
“Tidak.”
Aelora memandang pintu.
Tidak ada pegangan di sisi dalam.
Eirna mengikuti arah pandangannya, lalu menghela napas.
“Baik. Sedikit mirip.”
Aelora mencoba duduk. Selimut bergeser dari bahunya, memperlihatkan kain pembalut yang melingkari dada dan punggung.
Sesuatu bergerak di bawah perban.
Kecil sekali.
Seperti ujung bulu yang tersentuh angin.
Napas Aelora tertahan.
“Sayapku.”
Eirna segera berdiri. “Jangan disentuh.”
“Masih ada?”
“Sebagian.”
“Sebagian itu berapa?”
Eirna mendekati ranjang. Ia membuka pengikat kain pada bahu dengan hati-hati, lalu mengangkat sedikit pembalut di sisi kanan.
Aelora memutar kepala sejauh yang mampu.
Sebuah sayap kecil tumbuh dari tulang belikatnya.
Panjangnya tidak lebih dari lengan bawah Aelora. Bulu-bulunya putih bercahaya, tetapi beberapa ujung berubah keperakan. Sayap itu hampir transparan, rapuh seperti lapisan es tipis di atas genangan air.
Punggung kirinya kosong.
Di bawah kulit hanya terlihat garis hitam samar yang membentuk pola menyerupai tulang sayap.
Aelora menatapnya cukup lama.
“Kenapa cuma satu?”
“Itulah yang sedang saya cari tahu.”
“Apakah satu lagi akan tumbuh?”
“Mungkin.”
“Mungkin?”
“Tubuhmu terus melakukan hal-hal yang tidak pernah dicatat tabib mana pun.”
Aelora melihat meja tempat Eirna menulis.
“Apa yang kaucatat?”
“Perkembangan kondisimu.”
“Boleh kulihat?”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena belum selesai.”
“Itu alasan orang dewasa saat menyembunyikan sesuatu.”
Eirna menatapnya beberapa detik. “Kau terlalu lama berada di dekat Raja.”
Aelora hampir tersenyum.
Lalu ingatan terakhirnya kembali.
Boneka bergaun putih.
Pembunuh tanpa wajah.
Pisau kristal yang diarahkan ke jantungnya.
Ryn terlempar ke dinding.
Nira jatuh ke lantai.
Aelora segera menegakkan tubuh, lalu meringis karena sayapnya tertarik.
“Ryn dan Nira bagaimana?”
“Nira mengalami memar pada bahu dan punggung. Ryn mengalami retak pada dua tulang rusuk.”
Wajah Aelora memucat.
“Apakah mereka akan sembuh?”
“Ya.”
“Di mana mereka?”
“Dilarang masuk.”
“Kenapa?”
“Karena Nira mencoba menyelundupkan tiga jenis makanan, dua pisau dapur, dan seekor kadal pemanas.”
Aelora berkedip.
“Untuk apa kadal pemanas?”
“Katanya kakimu selalu dingin.”
“Memang.”
“Itu tidak membuat rencananya lebih baik.”
Aelora memandang kursi di dekat ranjang. Piko terbaring di sana dengan telinga yang kembali dijahit. Di bawah kursi, Milo tidur dalam keranjang kecil. Separuh ekornya masih terlihat seperti asap.
“Kael?”
Eirna kembali diam.
“Ayah di mana?”
“Memeriksa semua mainan, pakaian, hadiah, peti, dan barang yang pernah masuk ke istana.”
“Sendirian?”
“Dengan setengah pasukan kerajaan.”
Aelora membayangkan Kael berdiri di tengah gudang penuh boneka sambil memeriksa satu per satu.
Gambaran itu hampir lucu.
Hampir.
“Apakah dia marah?”
Eirna menatapnya datar.
“Seorang pembunuh menyusup ke ruang anak, melukai dua anak lain, dan hampir menusukkan pisau ke jantungmu.”
“Jadi marah.”
“Sayap barat ditutup. Tiga belas pelayan diperiksa. Semua pengiriman ke istana dihentikan. Empat kepala pengawal dicopot sementara.”
“Sangat marah.”
“Bayangan di lorong bahkan menyerang siapa pun yang membawa benda berbentuk kelinci.”
Aelora melirik Piko. “Dia aman?”
“Sudah diperiksa enam kali.”
“Kasihan.”
“Boneka itu menggigit salah satu pemeriksa.”
Aelora menatap Piko. Jahitan mulutnya tampak tertutup biasa.
“Bagus.”
Eirna memasang kembali perban pada punggungnya. Gerakannya lembut, tetapi wajahnya tetap tegang.
“Apa yang terjadi kepada pembunuh itu?” tanya Aelora.
“Lenyap.”
“Aku membunuhnya.”
“Tubuhnya sudah lebih dulu diubah menjadi kutukan.”
“Tapi aku menghancurkannya.”
“Kau menghancurkan sihir yang mengendalikan tubuh tersebut.”
“Apa bedanya?”
Eirna mengikat simpul terakhir.
“Perbedaannya adalah kau menghentikan senjata, bukan membunuh manusia yang masih memiliki kehendak.”
Aelora menunduk.
Dalam masa depan yang lama, ia pernah membunuh.
Tidak banyak.
Namun cukup untuk memahami bahwa penjelasan orang lain tidak selalu membuat tangan terasa lebih bersih.
“Aku marah,” katanya.
“Saya tahu.”
“Dia bilang aku kesalahan.”
“Itu kalimat yang ditanamkan di dalam kutukannya.”
“Bagaimana kalau dia benar?”
Tangan Eirna berhenti.
Aelora menatap jemarinya sendiri.
“Semua orang mengatakan darahku terlalu tua. Sihirku tidak seharusnya ada. Kontrak Kael tidak bisa mengikatku. Sekarang sayapku tumbuh satu saja.”
Ia menyentuh simbol matahari dan bulan di pergelangan.
“Bagaimana kalau aku memang kesalahan?”
Eirna menarik kursi dan duduk di dekat ranjang.
“Kesalahan adalah keputusan yang bisa diperbaiki.”
“Lalu aku?”
“Kau seorang anak.”
“Itu bukan jawaban.”
“Itu jawaban yang paling penting.”
Eirna memandang sayap kecil di punggungnya.
“Darahmu mungkin tidak biasa. Kekuatanmu belum dipahami. Namun tidak satu pun dari hal itu menentukan apakah kau layak hidup.”
Aelora tidak langsung menjawab.
Ia ingin memercayainya. Namun selama tujuh tahun, terlalu banyak orang dewasa yang berkata hidupnya membawa bahaya. Bahkan ketika mereka tersenyum, mata mereka menghitung apa yang bisa diambil dari tubuhnya.
Eirna berdiri.
“Sekarang berbaring.”
“Aku bosan berbaring.”
“Sayapmu dapat robek jika dipaksa bergerak.”
“Sayap yang bahkan tidak kuminta.”
“Tubuh jarang meminta izin sebelum tumbuh.”
Aelora bersandar kembali. Satu bulu kecil menyentuh kain, membuat punggungnya geli dan sakit bersamaan.
Pena di atas meja masih basah oleh tinta.
“Apa yang sebenarnya kautulis?”
Eirna memandang lembaran kulit hitam itu.
Kali ini ia tidak langsung menolak.
“Sesuatu yang tidak boleh dibaca Dewan Bulan.”
“Kenapa?”
“Karena kalau kesimpulan saya benar, mereka tidak hanya akan takut kepadamu.”
“Apa yang akan mereka lakukan?”
“Mencoba memisahkan kekuatanmu.”
Jari Aelora menjadi dingin.
Eirna mengambil laporan dari meja. Rune kecil di tepinya membuat tulisan tidak terlihat dari kejauhan. Ia duduk kembali dan menunjukkan halaman pertama.
Ada gambar dua lingkaran.
Satu putih.
Satu hitam.
Keduanya bertumpuk di tengah.
“Ada dua jenis sihir utama dalam tubuhmu,” kata Eirna. “Aether dan Umbra.”
“Aku sudah tahu.”
“Selama ini kami mengira keduanya berada dalam satu inti yang sama.”
“Apa bedanya?”
“Pada kebanyakan darah campuran, dua kekuatan akan menyatu sebagian. Salah satu menjadi dominan, sedangkan lainnya melemah.”
“Pada tubuhku?”
Eirna membalik halaman.
Gambar berikutnya menunjukkan dua lingkaran yang terpisah. Keduanya bergerak mengelilingi satu sama lain, seperti dua binatang yang mencoba menggigit ekor lawan.
“Kekuatanmu tidak berdamai.”
“Mereka bertarung?”
“Lebih buruk.”
“Apa yang lebih buruk daripada bertarung?”
“Mereka saling memakan.”
Aelora menatap gambar itu.
Eirna menunjuk beberapa catatan.
“Saat kau memakai Aether untuk menyembuhkan Ryn dan Daren, Umbra dalam tubuhmu melemah. Ketika kontrak bayangan Kael mencoba memperkuat Umbra, Aether menyerangnya. Saat kau menghancurkan boneka terkutuk, keduanya aktif bersamaan.”
“Solumbra.”
“Mungkin.”
“Kau tidak yakin?”
“Solumbra seharusnya berupa keseimbangan. Yang terjadi dalam tubuhmu lebih mirip dua badai yang kebetulan berputar ke arah yang sama.”
Aelora melihat sayap putih kecil di punggungnya.
“Jadi ini berasal dari Aether?”
“Ya.”
“Lalu sisi kiri?”
Eirna memandang garis hitam yang membentuk tulang sayap di bawah kulit.
“Umbra sedang membentuk jawabannya sendiri.”
“Aku akan punya sayap hitam?”
“Saya tidak tahu.”
“Apakah itu buruk?”
“Saya juga tidak tahu.”
“Kau sering mengatakan tidak tahu.”
“Karena terlalu banyak orang berpura-pura tahu, lalu menyakiti orang lain berdasarkan keyakinan mereka.”
Aelora tidak dapat membantah.
Eirna menurunkan laporan.
“Masalah terbesarnya bukan warna atau jumlah sayap.”
“Lalu apa?”
“Tubuhmu masih tubuh anak tujuh tahun.”
Aelora menunggu.
“Kalau Aether dan Umbra terus berkembang secepat ini, tubuhmu tidak akan mampu menampung keduanya.”
Ruangan terasa lebih dingin.
“Berapa lama?”
“Saya belum bisa memastikan.”
“Berapa lama, Eirna?”
Tabib itu menatap matanya.
“Bisa berminggu-minggu.”
Aelora berhenti bernapas.
“Bisa berbulan-bulan,” lanjut Eirna cepat. “Mungkin lebih lama jika perkembangan sihir dapat diperlambat. Kita belum memiliki cukup data.”
“Tapi bukan bertahun-tahun.”
Eirna tidak menjawab.
Aelora menarik selimut sampai ke dada.
Ia kembali ke masa lalu untuk mengubah takdir.
Untuk menyelamatkan Kael.
Nira.
Ryn.
Daren.
Semua orang yang mati dalam masa depan lama.
Namun bagaimana kalau tubuhnya sendiri tidak bertahan sampai perang itu datang?
“Apakah Kael tahu?”
“Belum.”
“Kenapa?”
“Laporan ini baru selesai.”
“Jangan beri tahu dia.”
Eirna menatapnya tajam. “Aelora.”
“Dia akan mengurungku lebih ketat.”
“Dia harus tahu.”
“Dia akan menghentikan perjalanan ke Katedral Fajar.”
“Perjalanan itu memang belum aman.”
“Embun Luminara mungkin ada di sana.”
“Altar darah juga ada di sana.”
“Tapi obat itu bisa menghentikan ini.”
“Mungkin.”
“Aku tidak punya pilihan lain.”
Eirna menggulung laporan.
“Justru karena itulah Kael harus tahu.”
Aelora meraih lengannya.
“Jangan bilang aku hanya punya waktu beberapa bulan.”
“Saya tidak mengatakan itu.”
“Tapi kau memikirkannya.”
Eirna melihat jari kecil yang menggenggam kain lengannya.
“Seorang tabib tidak boleh menyembunyikan kondisi pasien dari walinya.”
“Aku bukan cuma pasien.”
“Dan Kael bukan hanya walimu.”
“Dia ayahku.” Suara Aelora mengecil. “Itu sebabnya aku tidak mau dia takut.”
Eirna duduk kembali.
“Ketakutan tidak hilang hanya karena kebenaran disembunyikan.”
“Kadang bisa ditunda.”
“Itu terdengar seperti cara berpikir Kael.”
Aelora menunduk.
Mungkin memang begitu.
Ia membenci saat orang dewasa menahan kebenaran darinya. Namun sekarang ia ingin melakukan hal yang sama agar Kael tidak terluka.
Itu tidak adil.
Namun rasa takut jarang peduli pada keadilan.
Ketukan terdengar dari pintu.
Eirna segera menyelipkan laporan ke balik jubahnya.
“Siapa?”
“Pengawal kerajaan,” jawab suara dari luar. “Yang Mulia meminta laporan kondisi Putri.”
Aelora menegang.
Eirna tidak langsung membuka pintu.
“Kata sandi?”
“Bulan merah tidak tenggelam.”
Eirna menyentuh rune.
Pintu terbuka sedikit.
Seorang pengawal berzirah hitam berdiri di lorong. Helmnya menutup hampir seluruh wajah. Hanya bagian mata yang terlihat dalam bayangan.
“Kael di mana?” tanya Aelora.
Pengawal itu menunduk.
“Yang Mulia masih berada di gudang timur, Putri Kecil.”
“Apakah semua boneka sudah ditangkap?”
Pengawal itu diam sesaat.
“Sebagian besar.”
Aelora mengerutkan dahi.
Jawaban itu aneh.
Boneka bukan tahanan yang bisa ditangkap. Kael mungkin akan mengatakan dimusnahkan, diamankan, atau diperiksa.
Eirna mengambil kertas pendek dari meja.
“Berikan ini kepada Raja. Hanya catatan suhu dan kondisi luar.”
Pengawal menerima kertas tersebut.
Matanya bergerak ke jubah Eirna.
Ke tempat laporan rahasia disembunyikan.
Gerakannya sangat cepat.
Nyaris tidak terlihat.
Namun Aelora melihatnya.
Tanda Solumbra pada pergelangan tangannya mulai hangat.
“Eirna,” panggilnya.
Tabib itu menoleh.
Pada saat yang sama, lampu rune padam.
Ruangan menjadi gelap.
Terdengar benturan keras.
Eirna berteriak.
Kain robek.
Aelora mencoba turun dari ranjang, tetapi rasa sakit dari sayap membuat pandangannya memutih.
Cahaya menyala kembali beberapa detik kemudian.
Pintu terbuka lebar.
Eirna terbaring di lantai.
Pengawal itu sudah menghilang.
“Eirna!”
Aelora turun meski punggungnya terasa seperti disayat. Ia berlutut di samping tabib.
Eirna masih sadar. Darah mengalir dari pelipisnya. Tangannya meraba bagian dalam jubah.
Kosong.
“Laporannya,” bisiknya.
Aelora menoleh ke lorong.
Jejak cahaya sangat tipis tertinggal di lantai. Bentuknya menyerupai bulu-bulu emas kecil yang menghilang satu per satu.
Bukan cahaya rune Nocthara.
Penyusup itu bukan pengawal kerajaan.
Mungkin bahkan bukan iblis.
Sayap putih kecil di punggung Aelora membuka dengan sendirinya. Setiap bulunya bergetar mengarah ke ujung lorong.
“Dia dari Elyrion.”
Eirna berusaha berdiri.
“Laporan itu memuat seluruh kelemahan tubuhmu.”
Jejak terakhir menghilang.
Dari kejauhan terdengar pintu menara dibuka, disusul kepakan sayap.
Aelora bangkit dengan susah payah dan mencapai lorong.
Di ujungnya terdapat jendela sempit yang terbuka.
Sosok berjubah hitam melompat dari menara.
Sesaat sebelum menghilang ke dalam kabut Nocthara, dua sayap putih terbuka dari balik jubahnya.
Di tangannya, laporan Eirna menyala keemasan.
Lalu sosok itu lenyap di balik awan.
Jauh di atas Nocthara, sesuatu yang sangat besar membuka mata.
Langit bergetar.
Dan untuk pertama kalinya sejak Gerbang Tiga Dunia ditutup, pandangan Elyrion jatuh tepat ke Istana Bulan Merah.