NovelToon NovelToon
Top 1%

Top 1%

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:550
Nilai: 5
Nama Author: Reyanza Rayyan Fahlevy

Nexus Academy bukan sekolah biasa. Hanya 1% siswa terbaik yang berhasil diterima setiap tahun. Dari lebih dari 120.000 pendaftar, hanya 600 siswa yang lolos melewati serangkaian tes yang hampir mustahil: tes logika ekstrem, simulasi kepemimpinan, wawancara psikologi, ujian ketahanan mental, hingga permainan strategi yang membuat ribuan peserta menyerah sebelum mencapai gerbang sekolah.
Mereka yang diterima disebut sebagai Elite One.
Namun tidak semua yang masuk mampu bertahan.
Setiap semester, siswa dengan nilai, etika, atau mental terburuk akan dikeluarkan tanpa kesempatan kedua. Di sekolah ini, tidak ada teman yang benar-benar bisa dipercaya. Tidak ada kemenangan tanpa pengorbanan dan tidak semua siswa jenius adalah orang baik. Sebuah rahasia yang membuat beberapa alumni menghilang tanpa jejak

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: Infinity Library

Perpustakaan Infinity bukan sekadar perpustakaan; itu adalah labirin pengetahuan yang menyesatkan. Terletak di lantai paling bawah sayap barat, ruangan ini memiliki ketinggian yang melampaui logika arsitektur Nexus Academy. Rak-rak kayu tua menjulang puluhan meter, membentuk lorong-lorong sempit yang disinari lampu pijar gantung yang berayun pelan, seolah gedung ini sedang bernapas.

"Kita tidak boleh terlalu lama di sini," bisik Nabila, matanya menatap cemas ke arah rak-rak yang tampak tidak berujung. "Kalian tahu aturan tak tertulisnya. Semakin dalam kita masuk, semakin sulit sistem melacak koordinat kita."

Celine, yang biasanya tenang, tampak sedikit gentar namun tetap melangkah maju. Ia menyusuri deretan buku-buku fisik yang sudah langka koleksi dari era sebelum digitalisasi total. "Buku-buku ini tidak memiliki pelacak," gumamnya, jari-jarinya menelusuri sampul kulit yang sudah retak. "Ini adalah satu-satunya tempat di akademi ini di mana kita bisa bersembunyi dari sensor."

Keisya memimpin di depan, matanya tajam memindai label pada setiap rak. Tujuannya spesifik: Arsip Sejarah Pendirian Nexus (17–31). Itu adalah rentang waktu yang sama dengan angka yang tertera di pintu ruang bawah tanah yang pernah dibuka oleh Atharva.

Setelah memutar di balik rak bertanda Kronik Pendidikan Abad ke-21, Keisya berhenti di depan satu buku besar berdebu dengan sampul hitam kusam. Ia menarik buku itu keluar, menyebabkan debu berterbangan di udara yang dingin.

"Ini dia," bisik Keisya.

Ia membuka buku itu di atas meja baca kuno. Halaman-halamannya menguning, menampilkan sketsa arsitektur awal akademi dan daftar nama para pionir. Namun, begitu Keisya membalik halaman ke bagian Daftar Kelulusan Angkatan 17–31, ia tertegun.

Jantungnya seolah berhenti berdetak.

"Keisya? Ada apa?" Celine mendekat, mengintip ke arah buku itu.

Halaman-halaman itu tidak hanya kosong. Lembaran kertasnya telah disobek secara kasar, menyisakan pinggiran kertas yang bergerigi. Tidak ada satu pun nama siswa dari angkatan tersebut yang tersisa. Seolah-olah, selama empat belas tahun, Nexus Academy tidak pernah meluluskan satu orang pun.

"Mereka menghapusnya," suara Keisya bergetar. "Bukan hanya dari database digital. Mereka benar-benar memusnahkan bukti fisik keberadaan angkatan itu."

Nabila menutup mulutnya, matanya membelalak ketakutan. "Jika mereka menghapus seluruh angkatan, berarti... tidak ada seorang pun yang selamat untuk menceritakan apa yang terjadi di sana."

Tiba-tiba, suara langkah kaki yang berat terdengar dari arah pintu masuk perpustakaan. Bukan langkah kaki siswa yang biasanya diseret, melainkan derap sepatu bot militer yang mantap dan teratur. Langkah itu berhenti di ujung lorong tempat mereka berada.

"Siapa di sana?" suara Keisya memecah keheningan, meski ia tahu tidak ada yang akan menjawab dengan jujur.

"Pencarian pengetahuan adalah hak bagi mereka yang memiliki akses," sebuah suara pria yang dalam menggema dari balik rak buku. Itu bukan suara siswa. Itu adalah suara instruktur.

Lampu gantung di atas mereka mendadak berkedip dengan ritme yang cepat, lalu mati satu per satu, menelan mereka ke dalam kegelapan total.

"Kalian sedang membaca bab yang sudah ditutup, murid-murid," suara itu semakin mendekat, namun tidak ada sosok yang terlihat di balik bayang-bayang rak.

"Lari!" bisik Keisya.

Tanpa memikirkan risiko, mereka bertiga memutar arah, berlari melewati labirin rak-rak raksasa. Namun, perpustakaan itu seolah berubah bentuk; lorong yang tadinya lurus kini berbelok ke arah yang tidak mereka kenali.

Di tengah pelarian itu, Keisya sempat menyambar selembar kertas kecil yang terjatuh dari robekan buku tadi sebuah potongan foto yang luput dari pemusnahan. Foto itu menampilkan sekelompok siswa yang berdiri di depan gedung utama lama, namun wajah mereka semua ditutup oleh coretan tinta hitam yang sangat tebal, kecuali satu orang di tengah yang wajahnya masih terlihat samar.

Itu adalah wajah Alvaro.

Saat mereka sampai di jalan buntu di balik rak biografi, Keisya menyadari satu hal yang mengerikan: buku yang ia pegang tadi bukanlah sekadar arsip sejarah. Itu adalah daftar korban, dan mereka baru saja menunjuk diri mereka sendiri sebagai target berikutnya untuk dihapus dari catatan sejarah Nexus Academy.

...****************...

Napas mereka memburu, memecah kesunyian yang menekan di antara deretan rak buku yang menjulang. Keisya memegangi potongan foto itu erat-erat di dalam sakunya, sementara Celine dan Nabila saling bertukar pandang dengan wajah yang sepucat kertas. Suara derap sepatu bot itu masih terdengar, perlahan dan konstan, semakin mendekat seolah-olah sang pengejar tidak perlu berlari karena ia tahu persis ke mana mereka akan terjebak.

"Jalan keluar di sebelah sana," bisik Celine, menunjuk ke arah celah kecil di antara rak yang mengarah ke bagian belakang perpustakaan, di mana tumpukan jurnal-jurnal lama menutupi sebuah pintu servis yang tersembunyi.

"Tunggu," Keisya menahan lengan mereka. Ia merasakan ada sesuatu yang janggal. "Jika dia ingin menangkap kita, dia bisa saja mengunci seluruh ruangan ini secara otomatis melalui sistem keamanan. Tapi dia tidak melakukannya. Dia membiarkan kita berlari. Dia sedang menggiring kita."

Keisya benar. Setiap kali mereka berbelok, lorong rak buku seolah mengarahkan mereka ke satu titik spesifik: tepat ke area tempat buku arsip itu berada tadi.

"Kita harus memutus pelacakannya," kata Nabila dengan nada mendesak. Ia teringat pelajaran teknis dasar mereka; lencana biometrik mereka adalah suar bagi sistem. Nabila dengan cepat merogoh kantongnya, mengeluarkan alat pembuka segel elektronik kecil, dan menempelkannya ke lencana mereka satu per satu untuk menonaktifkan sinyal.

Begitu sinyal diputus, suara derap sepatu bot di kejauhan itu terhenti seketika. Hening kembali merajai, namun kali ini terasa lebih mencekam.

"Dia kehilangan jejak kita," bisik Nabila.

Mereka bergerak perlahan, mengendap-endap di balik bayang-bayang rak tinggi. Saat mereka hampir mencapai pintu servis yang dimaksud Celine, Keisya berhenti. Ia menoleh ke belakang, ke arah lorong gelap tempat sang pengejar tadi berdiri. Ia tidak melihat sosok manusia, melainkan sepasang mata sensor merah yang berpendar redup di antara kegelapan rak buku.

Itu bukan instruktur. Itu adalah unit pengintai model lama yang sudah dimodifikasi secara ilegal sebuah mesin yang tidak terdaftar dalam protokol keamanan standar sekolah.

"Itu bukan manusia," bisik Keisya, menyadari kengerian yang sebenarnya. "Nexus tidak mengirim orang untuk menangkap kita. Mereka menggunakan mesin yang beroperasi di luar kendali sistem resmi."

Tanpa membuang waktu, mereka bertiga mendobrak pintu servis tersebut. Di balik pintu itu bukan sebuah lorong biasa, melainkan lubang penurunan yang mengarah langsung ke bawah tanah. Tanpa pilihan lain, mereka merosot turun melalui seluncuran logam yang dingin dan gelap.

Saat tubuh mereka mendarat di atas lantai beton di bawah sana, mereka tidak lagi berada di perpustakaan. Mereka berada di sebuah ruang luas yang penuh dengan pipa-pipa uap berukuran raksasa dan kabut industri. Di depan mereka, sebuah papan penunjuk karat bertuliskan: SEKTOR 9-G — AREA RESTRICTED.

Keisya menarik napas dalam-dalam, menatap sekeliling yang remang-remang. Ternyata, potongan foto di sakunya bukanlah satu-satunya bukti. Di depan mereka, berbaris ribuan kapsul tidur yang sudah berdebu, masing-masing dengan nama yang tertempel di permukaannya nama-nama siswa yang seharusnya sudah lulus bertahun-tahun lalu.

"Mereka tidak dihapus dari sejarah," gumam Celine, suaranya gemetar saat ia mendekati salah satu kapsul tersebut. "Mereka disimpan di sini."

Keisya memejamkan mata sejenak, menyadari bahwa mereka telah menemukan rahasia paling gelap yang disembunyikan oleh akademi: Nexus Academy tidak pernah melepaskan siswanya kembali ke dunia luar. Mereka hanya memindahkan mereka dari ruang kelas ke dalam penyimpanan dingin ini, menjadi bahan eksperimen abadi untuk algoritma yang terus lapar akan data.

Dan sekarang, mereka tahu terlalu banyak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!