Kebahagiaan yang belum lengkap akan membuat hidup terlihat hampa. Rasa cinta yang tumbuh akan membuat kehampaan ini sirna tak tersisa.
Salva yang awalnya merasa begitu hancur karena gagal dalam kisah percintaan, siapa sangka datang seorang dokter cinta untuk mengobati goresan luka dihatinya.
Akankah mereka bahagia dalam jalinan asmara dalam ikatan halal itu?
Mampukah Arya menutupi goresan luka dihati Salva?
IKUTI KISAH MEREKA!
Kisah ini sambung dari cerita, Goresan hati yang terluka. Sebelum membaca kisah ini lebih baik saudara semua baca dulu GHYT.
Terimakasih, dan jangan lupa follow me
Ig:@ara putri 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ara putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kisah yang berbeda
Halo semuanya
Kemarin ada yang tanya visual Salva dan mas dokter kan? nah kali ini aku memberikan gambaran yang menurutku cocok 😊🤗
kalau gak setuju kalian boleh dengan imajinasi sendiri aja🤗 yang penting jangan lupa tinggalkan jejak 😁😅
...Salva...
...Mas Arya...
*****
Salva duduk dengan cemberut dimeja makan, wanita itu merenggut kesal semenjak suaminya pulang bekerja. Bagaimana tidak dari tadi ia sudah begitu menginginkan makan mie instan, tapi apa yang dilakukan suaminya sekarang?
Pria itu sudah merubah mie yang seharusnya bisa langsung disantap, tapi sekarang sudah berubah seperti mie ayam, hanya kurang ayamnya saja diganti dengan telurnya. Tetap saja Arya memilih untuk mementingkan kesehatan dari pada keinginan istrinya.
"Kenapa masih cemberut?" tanya Arya sambil menyodorkan mie instan atau mie ayam sekarang.
"Ini sudah bukan lagi mie instan mas," gerutu Salva kesal. Meskipun begitu ia tetap saja mengambil lalu menyantap makanan yang sudah berubah nama itu.
"Apa bedanya ... Sama-sama mie kan?"
"Ya beda lah, mas. Kalau mie instan yang udah ada bumbunya disiapkan, tapi ini ... Semua sudah mas rubah dengan bumbu alami," Sungut Salva, meskipun begitu tak hayal ia tetap menyantap mie itu dengan nikmat.
Arya hanya terkekeh mendengar gerutu istrinya. ini memang sudah ia pikirkan saat bekerja tadi, bagaimana cara istrinya bisa makan mie tanpa bahan-bahan yang dipenuhi pengawet itu, bahkan mie nya saja ia cuci beberapa kali.
"Udah, gak usah banyak protes. Aku gak mau kamu sama anak kita sakit nanti!" ucapan Arya sudah tidak ingin dibantah lagi, jadi Salva hanya mengangguk saja.
"Demi kebaikan aku juga ... Benar-benar suami idaman." Batin Salva bersorak senang.
Arya benar-benar selalu membuat Salva terpana setiap hari karena perhatiannya, katakan pria itu tidak begitu romantis dalam tindakannya, tapi cara ia membuktikan cintanya sungguh indah tidak seperti pria kebanyakan diluar sana yang hanya bisa mengumbar kata cinta tanpa tindakan.
"Makan yang benar, jangan melamun nanti mie nya salah masuk lagi." Salva hanya mengangguk patuh.
Saat sudah selesai, Arya dengan sigab mengambil piring Salva yang sudah kosong.
"Ehh, mau kemana, mas?" cegah Salva. "Biar aku saja, itu kan piring aku yang siap makan." Salva langsung meraih Pring, tapi langsung dicegah Arya.
"Gak boleh ... Kamu jangan banyak gerak, istirahat aja."
"Apaan, cuma cuci piring juga, kan gak berat-berat." bantah Salva. Tapi memang dasar Arya, tetap saja tidak setuju.
"Tunggu saja disini ... Oh ya, apa yang Nana katakan kemarin? Sampai-sampai tega datang sepagi itu," tanya Arya penasaran, apa yang membuat adik iparnya datang pagi-pagi.
"Gak ada. Biasalah, urusan wanita." Arya berdecak mendengar jawaban dari istrinya.
"Gak baik loh, rahasia-rahasia sama suami." Salva mendelik mendengar ucapan suaminya.
"Mana ada seperti itu ... Ini kan rahasia, gak boleh bilang sama orang lain," kilah Salva yang tidak mau bercerita.
Arya langsung melotot galak. Salva berpikir apa ia baru saja mengucapkan sesuatu yang salah? Kenapa tiba-tiba suaminya marah?
"Aduh ... Kenapa tiba-tiba mas Arya marah?" batin Salva bingung.
"Maksud kamu apa? bilang mas orang lain!"
ehh bukan gitu maksudnya, kenapa mas Arya sensi sekali?
"Ihh bukan gitu maksudnya ... maksud Salva gak boleh dibilang selain kami berdua," tolak Salva lagi.
"Kamu mau jadi istri durhaka?" tanya Arya yang sudah berubah galak, yang tentunya membuat nyali Salva menciut hanya mendengar kata durhaka.
"Iya, iya ... Salva akan ceritakan," gerutu Salva. Dengan berat hati ia menyetujui.
Arya langsung menyambar tubuh Salva kedalam pelukannya, "Lebih baik ceritanya dikamar aja, biar lebih enak."
"Loh ... piringnya?"
"Udah siap mas cuci saat ngobrol tadi," ucap Arya sambil menggendong tubuh Salva kekamar.
Salva mengerjab bingung, padahal tadi ia tidak melihat suaminya mencuci piring, atau jangan-jangan ia yang terlalu asik membantah sang suami, sampai lupa?
Arya menurunkan Salva ditempat tidur dengan hati-hati agar tidak menyakiti istrinya dan anaknya juga.
"Jadi ... Ceritakan?"
"Apanya yang perlu diceritakan? Nana hanya bilang mau memberi Adam kesempatan untuk mendekatinya." Jelas Salva seperti terpaksa. Arya berpikir seperti melupakan sesuatu.
"Adam siapa?"
Salva memutar bola matanya jengah, "Salva kan sudah bilang, mas gak akan paham soal wanita."
"Siapa bilang? Buktinya mas sangat paham dengan kamu." Salva langsung mencubit pinggang Arya gemes dengan jawaban suaminya.
"Itu kan beda, mas." Salva berpikir sebentar. "Adam itu sahabat Kaivan, mantan suamiku."
Arya langsung mengingat pria yang dikatakan Salva. Ia ingat waktu mereka mencari keberadaan Salva, pria itu ikut membantu mereka, walaupun tidak lama.
"Apa adikmu mencintainya?" Salva menggeleng cepat.
"Dia tidak mencintai Adam, hanya saja ia merasa kasian melihat Adam yang selalu ia acuhkan. Karena itu aku mengusulkan untuk memberikan Adam kesempatan, dan Nana setuju." Salva menjelaskan semua pada Arya.
"Aku rasa kamu salah, sayang." Salva menatap Arya bingung. "Seharusnya kamu tidak menyarankan itu ... Jika Nana tidak mencintainya percuma jikapun ia mencoba, perasaan tidak semudah itu akan hadir."
"Tapi ... Bukankah orang bilang, cinta akan datang karena terbiasa. Seperti kisah kita berdua," ucap Salva tidak setuju dengan pernyataan suaminya.
Arya memeluk Salva, "Kisah kita tidak sama dengan mereka ... Jika cinta hadir begitu mudah, maka Allah tidak akan menyiapkan jodoh seseorang. Kamu lihat diluar sana, seorang pembantu selalu bersama majikannya, bukan berarti mereka bisa saling mencintai." Arya mengusap lembut rambut hitam Salva.
"Jika kamu menyarankan itu, kamu sudah membuat Nana terjebak dalam perasaan tak menentu. Dalam cinta tidak ada kata kasihan, ia hanya akan mendekati dosa tanpa mendapat apa-apa, jika mereka jodoh Allah yang akan menunjukkan jalannya. Sekuat apapun ia berusaha jika Allah tidak berkehendak, kita bisa apa? Yang ada kamu malah menyuruh adikmu menjaga jodoh orang," ucap Arya sambil terkekeh kecil diakhirnya.
Salva ikut terkekeh, "Tapi bagaimana dengan kisah kita? Bukankah cinta kita berdua karena terbiasa?" tanya Salva lagi.
Arya langsung menggeleng tidak setuju, karena nyatanya tidak seperti itu.
"Siapa bilang ... Dari awal mas sudah mulai menyukaimu," ucap Arya malu-malu. "Kamu ingat pertama kali bertemu, itu saat kamu mengantarkan keponakan ku yang hilang, disana aku sudah mulai terpesona tapi aku memilih tidak peduli."
"Benarkah? Tapi kenapa saat itu mas sangat galak?" tanya Salva polos.
Arya berdecak kesal, "Itu namanya pencitraan, sayang."
Salva merasa takjub dengan pengakuan Arya, jadi Arya sudah mulai tertarik dengan pandangan pertama. Oh ternyata kisah cinta mereka tidak sesederhana itu untuk dilupakan.
"Dan apa kamu ingat waktu kamu terluka? mas langsung membawamu kerumah sakit." Salva langsung mengangguk semangat mendengar pengakuan Arya.
"Saat itu mas sangat kwatir melihat kamu terluka, dari situ lah Mas mulai menyadari, ternyata mas Sudah mulai terpikat dengan pesona istriku ini. I love you, sayang."
Salva benar-benar terharu, ia langsung membalas pelukan Arya dengan erat. "I love you too," balas salva. Satu tetes air mata jatuh dipimpinnya, ia benar-benar terbaru. Ternyata cinta sudah datang disaat pertama kali mereka bertemu, ternyata jalan Allah menunjukkan jodohnya sangat lah indah.
*****
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak.
Salam cinta dari Ara putri 😘❤️💖💓