Arjuna Baskoro adalah ketua Geng Petir yang tampan, kaya, dan berpengaruh di SMA Cendekia. Ia dikenal sebagai pemuda yang suka bersenang-senang dan menganggap hubungan dengan wanita hanya sebatas hiburan semata. Semua berubah saat ia bertemu Laila Arsyila-siswi berprestasi, sederhana, mandiri, dan harus bekerja paruh waktu untuk membantu kehidupan keluarganya.
Awalnya Arjuna hanya iseng mengganggu Laila, karena gadis itu satu-satunya yang tidak terpesona dan selalu berani melawannya. Namun rasa penasaran itu perlahan berubah menjadi cinta yang tulus untuk pertama kalinya. Sementara Laila yang awalnya kesal dan menolak, mulai melihat sisi baik Arjuna di balik sikap nakalnya.
Dengan latar belakang kehidupan yang sangat berbeda, keduanya harus menghadapi berbagai rintangan mulai dari kecemburuan orang lain, pandangan lingkungan, hingga tantangan untuk saling memahami. Mampukah cinta mereka menyatukan dua dunia yang terasa begitu jauh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. playboy insaf?
Di pinggiran kota, berdiri sebuah bangunan rumah dua lantai yang luas dan kokoh, dikelilingi tembok tinggi serta halaman yang cukup lapang. Itulah markas resmi Geng Petir dibeli sendiri oleh Arjuna dari hasil tabungannya . Ia sengaja mendirikan tempat ini agar geng yang dipimpinnya memiliki tempat yang layak, bukan sekadar tempat sembunyi atau berkumpul sembarangan. Rencananya, tempat ini akan tetap menjadi milik Geng Petir selamanya, diwariskan ke ketua-ketua berikutnya sampai ia memutuskan untuk pensiun nanti.
Di dalamnya, banyak anggota yang memilih tinggal menetap di sini. Sebagian dari mereka adalah orang-orang yang dulunya hidup terlantar, bahkan ada yang mantan preman jalanan yang hidupnya tidak menentu. Sejak diterima menjadi bagian Geng Petir, hidup mereka berubah total tidak lagi kelaparan, punya tempat berteduh, dan penghidupan yang lebih teratur. Semua itu berkat Arjuna.
Tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya, Arjuna diam-diam merintis usaha bengkel kendaraan. Ia membuka lapangan pekerjaan bagi rekan-rekannya di geng, sehingga mereka bisa mencari nafkah secara halal dan terhormat. Karena itulah, kesetiaan mereka kepada Arjuna tidak main-main. Mereka siap melindungi dan mendukungnya apa pun yang terjadi, bahkan saat nanti kepemimpinan berganti, rasa hormat itu tidak akan pernah luntur. Arjuna sendiri belum sadar bahwa kebaikan dan tanggung jawabnya ini kelak akan menjadi anugerah terbesar yang melindungi dirinya di saat sulit.
Di lantai dua, tepatnya di ruangan khusus untuk anggota inti, suasana terasa santai dan tenang.
Perlu diketahui, struktur pimpinan inti Geng Petir terdiri dari:
✅ Ketua Geng: Arjuna Baskoro – memegang kendali penuh dan menjadi pengambil keputusan utama
✅ Wakil Ketua: Gibran – membantu mengatur jalannya geng dan menggantikan ketua jika berhalangan
✅ Panglima Tempur: Bowo – bertubuh besar dan kuat, menjadi pelindung serta kekuatan terbesar setelah ketua
✅ Ahli Teknologi & Hacker: Rian – menguasai sistem informasi, melacak lokasi, serta mengamankan segala urusan daring geng
Saat ini, Bowo sedang duduk bersila sambil memetik senar gitar dengan cukup lihai, sementara Rian berdiri di sampingnya, menyanyikan lagu “Cinta Monyet” dengan suara yang ternyata merdu dan enak didengar. Suara mereka bergema lembut mengisi ruangan, melepaskan penat setelah seharian beraktivitas.
Sementara itu, di balkon yang menghadap ke halaman belakang, Arjuna berdiri menyandarkan tubuhnya pada pagar besi. Di tangannya tergenggam sebatang rokok yang asapnya perlahan naik membelah udara malam. Ia menghisapnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan sambil memandang langit yang gelap berbintang.
Di sampingnya, Gibran duduk santai sambil memegang hpnya, asyik memainkan game. Tanpa berpikir panjang, ia tiba-tiba melontarkan pertanyaan yang langsung menusuk pikiran Arjuna.
“Jun… jujur aja deh, lo suka ya sama Laila?” tanyanya santai tapi penuh rasa ingin tahu. “ rasanya beda aja...cara lo ngedeketin dia dibanding cewek-cewek lain sebelumnya. Apa jangan-jangan lo udah mulai tobat jadi playboy terus jatuh cinta beneran kali ini?”
Arjuna tertegun sesaat. Jemarinya sedikit mengencang pada batang rokok itu. Ia menghembuskan asapnya sekali lagi berusaha menyembunyikan gejolak di dadanya, lalu menoleh dengan ekspresi biasa saja dan senyum tengil khasnya.
“Beda gimana? Rasanya sama saja kayak biasanya,” jawabnya berusaha terdengar santai. “Mungkin lo yang terlalu banyak berkhayal. Kali ini gue cuma merasa dia lebih menarik buat dijadikan sasaran iseng, itu aja. Nggak lebih, nggak kurang.”
Bohong. Jauh di dalam hatinya, ia tahu jawabannya sendiri salah. Setiap kali mendengar atau menyebut nama Laila saja, jantungnya sudah berdebar lebih cepat dari biasanya sesuatu yang belum pernah ia rasakan selama ini.
Gibran hanya mengangkat kedua bahunya, tidak memaksa untuk bertanya lebih lanjut. “Terserah lo lah. Kalau menurut lo cuma iseng, ya sudahlah. Tapi hati-hati, Jun… kadang apa yang kita anggap cuma mainan, bisa berubah jadi sesuatu yang paling kita sayang tanpa kita sadari.”
Ia kembali menunduk fokus pada permainannya, membiarkan Arjuna tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Arjuna kembali memandang ke kejauhan. Kata-kata Gibran terus terngiang di telinganya. Ia menggeleng pelan seolah ingin mengusir pikiran itu. Mana mungkin gue suka sama cewek jutek, galak, dan suka gigit itu? Pasti cuma penasaran biasa aja, batinnya berusaha meyakinkan diri sendiri.
Namun kenapa, wajah Laila terus terbayang di kepalanya tatapan dinginnya, mulutnya yang tajam, bahkan rasa nyeri dari gigitannya pagi tadi pun justru terasa mengesankan dan tidak ingin ia lupakan begitu saja.
Tanpa sadar, sudut bibir Arjuna terangkat membentuk senyum yang lebih lembut dari biasanya. Malam itu, ia baru menyadari satu hal. permainannya dengan Laila Arsyila perlahan mulai berubah arah, entah ke mana dan sampai kapan.