NovelToon NovelToon
Wanita Sang Raja Iblis

Wanita Sang Raja Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Iblis
Popularitas:732
Nilai: 5
Nama Author: Jee44

Di mata tiga alam, kaum Dewa adalah simbol kesucian dan Iblis adalah perlambang petaka. Namun, kebenaran tertutup oleh kabut keserakahan. Demi mencapai keabadian mutlak, Dewa Tinggi Ling Cang berniat mengorbankan Dewi Shen Liya—pemilik Wadah Ilahi dengan energi suci termurni. Menolak menjadi tumbal, Shen Liya melarikan diri ke dunia fana dalam kondisi terluka parah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee44, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15. Permohonan Terakhir di Sisi Ranjang

Sinar matahari pagi menembus celah-celah jendela pondok bambu, menjatuhkan berkas cahaya keemasan di atas wajah Shen Liya. Ketika sang Dewi membuka sepasang matanya, ia tidak langsung mendengar deru napasnya yang berat atau rasa nyeri yang biasanya mencekik dadanya setiap fajar menyingsing.

Shen Liya mengerutkan keningnya, perlahan bangkit duduk di atas ranjang. Ia mengulurkan kedua tangannya, menatap telapak tangannya yang kini tidak lagi gemetar. Aliran energi di dalam meridian tubuhnya terasa sangat hangat dan lancar, seolah-olah seluruh sulur hitam racun Jue Qing San yang selama delapan tahun ini menyiksanya telah membeku diam.

Mengapa tubuhku terasa seringan ini? batin Shen Liya terkesiap.

Ia menyentuh dadanya, menarik napas dalam-dalam. Tidak ada sesak. Tidak ada batuk darah. Namun, bukannya merasa lega, hati sang Dewi justru seketika dilingkupi oleh ketakutan yang teramat sangat. Di dalam dunia kultivasi tinggi, ada sebuah fenomena mengerikan yang dikenal sebagai Kembalinya Cahaya Senja—sebuah kondisi di mana tubuh seseorang yang sekarat tiba-tiba menjadi sangat bugar dan sehat selama beberapa hari, tepat sebelum lilin jiwanya padam sepenuhnya untuk selamanya.

Shen Liya menggigit bibir bawahnya, air mata kebingungan dan kepasrahan mulai menggenang di sudut mata indahnya. Ia yakin, kesegaran misterius ini adalah pertanda bahwa umurnya di dunia fana benar-benar sudah berada di hitungan hari. Waktunya telah habis.

Pintu kamar diketuk dua kali dengan ketukan pelan yang konstan sebelum terbuka.

Gu Jue melangkah masuk membawa sebuah nampan kayu berisi semangkuk bubur hangat dan secangkir teh herbal. Wajah tampannya tetap tertekuk dingin, dan jubah rami abu-abunya tampak rapi. Sepasang mata sehitam tintanya menyapu wajah Shen Liya, langsung menyadari rona merah sehat di pipi istrinya—hasil dari kerja kerasnya mengalirkan energi kegelapan semalaman.

"Kau sudah bangun. Makanlah selagi hangat," ujar Gu Jue datar, meletakkan nampan tersebut di atas meja kecil di samping ranjang.

Shen Liya tidak menyentuh makanan itu. Ia hanya menatap lekat-lekat wajah Gu Jue dengan pandangan yang sarat akan kesedihan yang teramat mendalam. Kepasrahan akan ajal yang kian mendekat membuatnya membuang semua rasa canggung yang selama ini membentengi interaksi mereka.

"Ah Jue..." panggil Shen Liya, suaranya terdengar lembut namun bergetar halus.

Gu Jue menghentikan gerakannya yang hendak berbalik. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, menatap sang Dewi dengan alis yang sedikit bertaut. "Ada apa? Apa obat semalam membuat lidahmu pahit?"

"Kemarilah... duduk di dekatku sesaat. Ada hal penting yang harus kusampaikan padamu," permohonan Shen Liya terdengar begitu rapuh, membuat Gu Jue diam-diam merayapi rasa cemas. Pria itu menurut, menarik kursi kayu dekat ranjang lalu duduk di sisi tempat tidur, menatap lurus ke dalam manik mata wanita di depannya.

Shen Liya mengulurkan tangannya yang kini terasa hangat, perlahan menyentuh pergelangan tangan kokoh Gu Jue. Kontak fisik itu membuat Gu Jue tertegun sejenak, merasakan detak nadi Shen Liya yang sangat stabil namun dialiri oleh rasa keputusasaan yang besar.

"Ah Jue, aku tahu kau mengira aku adalah wanita asing yang penuh misteri dan merepotkan," ujar Shen Liya memulai, sebutir air mata akhirnya luruh membasahi pipinya. "Delapan tahun lalu aku datang membawa petaka, dan sekarang aku kembali dalam kondisi cacat. Tubuhku pagi ini terasa sangat sehat... dan karena itulah, aku tahu waktuku sudah habis. Ini adalah fenomena akhir sebelum jiwaku kembali ke tanah."

Mendengar frasa "waktuku sudah habis", Gu Jue mengepalkan tangan kirinya di balik jubah rami. Di dalam batinnya, Mo Jue sang Raja Iblis ingin sekali berteriak membongkar kebenaran bahwa wanita ini sehat murni karena ia telah menyerahkan separuh energi iblisnya semalaman, bukan karena ajal yang mendekat. Namun, ia harus menahan diri demi jalannya sandiwara ini.

"Kau terlalu banyak berpikir, Liya. Minum saja buburmu," potong Gu Jue dingin, mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Dengarkan aku dulu, Ah Jue! Ini mungkin permohonan terakhirku di sisi ranjang ini!" tangis Shen Liya akhirnya pecah, cengkeraman tangannya di pergelangan tangan Gu Jue semakin mengencang. "Aku tidak takut mati. Sejak aku melarikan diri dari tempat asalku, aku sudah siap menghadapi kehancuran sukmaku. Namun... yang membuat jiwaku tidak akan pernah tenang di alam sana adalah Yu'er."

Shen Liya menoleh sekilas ke arah luar jendela, di mana lamat-lamat terdengar suara kapak kecil Gu Yu yang sedang memotong ranting bambu di halaman depan.

"Yu'er anak yang sangat pintar, namun takdirnya terlalu berat," lanjut Shen Liya, kembali menatap mata hitam Gu Jue dengan pandangan memohon yang teramat sangat. Ia tetap menyimpan rahasia bahwa Gu Yu adalah anak kandung Gu Jue, takut pria fana itu akan ketakutan memikul beban anak dengan energi campuran dewa-iblis.

"Dia memikul beban spiritual yang sangat aneh di dalam tubuhnya sejak lahir. Aku memohon padamu, Ah Jue... setelah aku memejamkan mata nanti, berjanjilah bahwa kau akan menjadi ayahnya. Jaga dia, didik dia menjadi pria yang kuat, dan kuatkan hatinya agar dia tidak tersesat oleh kebencian dunia fana ini."

Shen Liya merosot dari posisi duduknya, bersiap untuk berlutut di atas lantai batu di depan kaki Gu Jue demi mengemis masa depan putranya.

Sebelum lutut sang Dewi menyentuh lantai, sepasang lengan kekar Gu Jue dengan sangat cepat dan bertenaga menangkap bahunya, menahan berat tubuhnya dan memaksanya kembali bersandar di atas tumpukan bantal jerami yang hangat.

Wajah Gu Jue berada sangat dekat dengan wajah Shen Liya. Sepasang mata sehitam malam milik sang Raja Iblis berkilat begitu pekat, memancarkan emosi membara yang selama sewindu ini ia pendam dalam-dalam di istana kegelapannya. Hatinya tersayat hebat melihat wanita yang dicintainya menangis mengemis hal yang sebenarnya adalah kewajiban mutlaknya sebagai seorang ayah kandung.

"Sudah kubilang semalam, aku menyanggupi permohonanmu, Liya," ujar Gu Jue, suaranya terdengar lebih berat, dalam, dan sarat akan otoritas absolut yang membuat Shen Liya terdiam seketika. "Gu Yu akan menjadi anakku. Aku akan melindunginya dengan seluruh nyawaku, dan tidak akan ada satu pun makhluk di tiga alam yang bisa menyentuh sehelai rambutnya selama aku masih berdiri di pondok ini."

Gu Jue mengulurkan ibu jarinya, dengan sangat lembut menyeka sisa air mata yang membasahi pipi mulus Shen Liya—sebuah gestur keintiman sadar pertama yang ia tunjukkan setelah delapan tahun lamanya terpisah.

"Dan untuk kematianmu..." Gu Jue menyipitkan matanya, kilatan ungu pekat sempat melintas sesaat di manik matanya sebelum kembali menjadi hitam. "Selama aku, Ah Jue, berada di samping ranjang ini, aku tidak akan mengizinkan malaikat maut mana pun mengambil jiwamu. Kau akan tetap hidup untuk melihat bagaimana anak itu tumbuh besar di bawah didikanku."

Shen Liya terpaku, menatap wajah tegas Gu Jue dengan jantung yang berpacu liar. Hawa dingin yang menenangkan yang mengalir dari jemari pria fana ini kembali meredam seluruh ketakutan di dalam jiwanya, memberikan rasa aman absolut yang anehnya terasa jauh lebih kokoh daripada seluruh benteng pertahanan Istana Surgawi yang pernah ia tempati dulu.

Pintu kamar tiba-tiba terbuka sedikit. Gu Yu kecil berdiri di ambang pintu dengan kapak kecil tersampir di pinggangnya. Sepasang mata sehitam tintanya menatap tajam ke arah tangan Gu Jue yang masih berada di pipi ibunya. Ada kecurigaan dan kekakuan khas anak kecil, namun batinnya yang cerdas bisa merasakan bahwa ketegangan emosional di antara kedua orang dewasa ini baru saja mencair.

Gu Jue menarik kembali tangannya dengan tenang, berdiri dari sisi ranjang lalu mengambil mangkuk bubur hangat untuk diserahkan ke tangan Shen Liya.

"Makanlah. Setelah ini, aku dan anakmu harus pergi ke lereng gunung untuk mencari pasokan akar obat yang baru," kata Gu Jue datar, kembali memasang topeng acuh tak acuh manusianya sebelum berjalan melewati Gu Yu kecil menuju arah keluar pondok.

Gu Yu kecil melangkah mendekati ranjang, menggandeng tangan ibunya yang kini tidak lagi menangis. "Ibu, pria itu... dia tidak menyakitimu, kan?"

Shen Liya menggelengkan kepalanya perlahan, memeluk tubuh kecil putranya dengan seulas senyuman tulus yang akhirnya mekar sempurna di wajah cantiknya. "Tidak, Yu'er. Ayahmu... dia adalah pria yang sangat bisa diandalkan."

Di luar pondok kayu, di bawah siraman matahari pagi Gunung Han, Gu Jue berdiri memandang ke arah langit atas dengan tatapan penuh permusuhan yang dingin. Sandiwara sebagai ayah angkat telah dikunci dengan sebuah janji sakral di sisi ranjang, dan Mo Jue bersumpah akan merobek siapa pun—termasuk Dewa Tinggi Ling Cang—jika mereka berani mencoba mewujudkan firasat kematian wanitanya di atas tanah pengasingannya.

1
Aisyah Suyuti
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!