Suatu malam, entah kenapa, muncul semacam notifikasi aneh di kepala Doni — seperti pesan sistem di game, tapi ini nyata. Sistem ini memberinya satu informasi akurat setiap minggu: bisa berupa saham yang akan melejit, barang langka yang harganya bakal meroket, atau peluang bisnis kecil yang menguntungkan. Masalahnya, modal Doni nyaris nol. Jadi cerita ini bukan tentang tiba-tiba kaya, tapi soal gimana Doni pelan-pelan memutar informasi terbatas jadi modal, sambil tetap kuliah, kerja part-time, ngurusin teman-teman kos yang berisik, dan menghindari kecurigaan orang-orang di sekitarnya kenapa dia tiba-tiba "beruntung" terus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejar Legalitas
Kantor notaris kecil di pinggir kota itu penuh map-map kuning menumpuk di rak kayu tua. Doni duduk di kursi plastik, keringetan, sambil megang berkas yang baru aja dia fotokopi tiga rangkap.
"Jadi buat koperasi ini, syaratnya minimal dua puluh orang anggota," kata Pak Yono, notaris yang direkomendasikan Pak Hardianto. "Udah ada?"
"Udah, Pak. Ada dua puluh tiga nama, lengkap KTP sama tanda tangan."
"Bagus. Terus modal awal?" tanya pak Yono
"Ini, Pak." Doni nyodorin amplop tipis. "Tiga juta, hasil patungan warga sama saya."
Pak Yono ngitung sebentar, manggut-manggut. "Oke, cukup. Prosesnya biasanya dua minggu, tapi..."
"Tapi apa, Pak?"
"Tapi kalau kamu buru-buru, bisa dipercepat jadi seminggu. Ada biaya tambahan."
Doni menghela napas. "Berapa, Pak?"
"Lima ratus ribu." ucap pak Yono
"Oke, saya bayar. Saya butuh cepet, Pak, ada tender penting."
Pak Yono mengangkat alis. "Tender apa sampai segitu buru-burunya?"
"Tender pasok gula aren, Pak. Perusahaan besar."
"Wah, hebat juga anak muda sekarang. Ya udah, saya usahain seminggu."
Keluar dari kantor notaris, Doni langsung telepon bapaknya.
"Pak, legalitas lagi diurus, seminggu kelar."
"Alhamdulillah. Tapi, Nak, ada masalah di sini." ucap bapaknya di sebrang telepon
"Masalah apa, Pak?"
"Beberapa warga ragu-ragu ikut koperasi. Katanya takut malah tekor kayak kejadian koperasi simpan pinjam dulu yang bangkrut."
Doni memijat pelipis. "Siapa aja yang ragu, Pak?"
"Ada lima keluarga. Termasuk Bu Sri, yang produksi gula aren-nya paling banyak."
"Bu Sri harus ikut, Pak. Kalau dia keluar, kuota buat tender bisa kurang."
"Bapak udah coba bujuk, tapi dia tetep takut."
Doni mikir sebentar. "Saya telepon dia langsung deh, Pak. Minta nomornya."
Telepon nyambung setelah tiga kali dering.
"Halo, Bu Sri? Ini Doni, anaknya Pak Slamet."
"Oh, Doni yang bikin koperasi itu? Ada apa, Nak?"
"Saya denger Ibu ragu ikut koperasi. Boleh saya tau kenapa?"
"Nak, Ibu takut kayak dulu. Ibu ikut koperasi simpan pinjam, eh bubar, uang Ibu ilang setengahnya."
"Ini beda, Bu. Koperasi ini legal, ada notarisnya, ada dosen ekonomi yang dampingin juga. Ibu nggak setor uang, Ibu cuma setor hasil gula aren, dibayar langsung tiap kali setor."
"Beneran nggak ada resiko rugi, Nak?"
"Resiko selalu ada, Bu, tapi kalau Ibu nggak ikut, Ibu tetep jual ke tengkulak dengan harga lebih murah kayak sekarang. Kalau ikut koperasi, minimal harganya lebih adil."
Hening sebentar di seberang telepon.
"Ya udah, Ibu ikut. Tapi kalau macem-macem, Ibu keluar duluan ya."
"Siap, Bu. Makasih kepercayaannya."
Doni menutup telepon, menghela napas lega. Satu masalah selesai, meski dia tau bakal ada masalah-masalah kecil lain yang nunggu di depan.
Seminggu kemudian, legalitas koperasi resmi kelar. Doni buru-buru nemuin Pak Hardianto sambil bawa map biru berisi akta notaris.
"Udah kelar, Pak. Koperasi Tani Makmur Sejahtera, resmi berbadan hukum."
Pak Hardianto ngecek dokumen itu teliti, sesekali manggut-manggut. "Bagus. Sekarang tinggal urus proposal tender. Kamu udah tau caranya?"
"Belum, Pak. Makanya saya ke sini."
"Duduk. Saya jelasin."
Doni duduk, siapin buku catatan.
"Pertama, kamu perlu profil koperasi lengkap jumlah anggota, kapasitas produksi, legalitas. Kedua, harga penawaran yang kompetitif tapi tetap masuk akal buat petani. Ketiga, ini yang paling penting, kamu harus buktiin koperasi bisa penuhi kuota produksi secara konsisten enam bulan ke depan, bukan cuma sekali kirim doang." jelas pak Hardianto
"Kapasitas produksi kita gimana, Pak? Saya belum ngitung pasti."
"Makanya, minggu ini kamu harus turun langsung, data ulang berapa banyak yang bisa diproduksi tiap bulan dari dua puluh tiga anggota koperasi."
"Siap, Pak. Saya pulang kampung lagi akhir minggu ini."
"Bagus. Satu lagi, Don."
"Iya, Pak?"
"Kalau kamu menang tender ini, ini bakal jadi bahan skripsi yang kuat banget. Tapi kalau kalah, jangan patah semangat. Namanya juga usaha, nggak semua langsung berhasil."
"Siap, Pak. Saya coba maksimal."
Doni keluar dari ruangan itu dengan perasaan campur aduk optimis tapi juga was-was, sadar tender ini bukan cuma soal untung pribadi lagi, tapi taruhan kepercayaan dua puluh tiga keluarga yang udah nitip harapan ke tangannya.