Ribuan tahun sebelum dunia belum mengenal sekte atau Aliran Putih. Era ini adalah Zaman Kekacauan Primordial, di mana dunia dikuasai oleh ras "Keturunan Dewa" tiran yang memperbudak manusia biasa.
Ye Cangtian, seorang budak rendahan yang terlahir dengan meridian cacat bawaan, secara tidak sengaja menemukan inti meteorit purba di tambang kematian. Alih-alih tunduk pada nasib, ia mematahkan aturan langit. Ia menciptakan sistem kultivasi dari nol untuk umat manusia, memimpin pemberontakan terbesar dalam sejarah, dan berperang untuk menyatukan benua.
Namun, perjalanannya tidak berujung pada kebahagiaan abadi. Ia harus menghadapi pengkhianatan sahabatnya sendiri yang kelak melahirkan kutukan "Bayangan Gerhana", serta menciptakan sebuah makam rahasia dan pusaka "Mahkota Kehampaan" sebagai jaminan bagi generasi ribuan tahun di masa depan. Ini adalah kisah tentang bagaimana manusia pertama menjadi Dewa, dan dewa itu mati demi manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 : Harga Sebuah Kemenangan
Lalat pemakan bangkai membentuk awan hitam pekat di atas Danau Cermin.
Long Zhan, sang Pendekar Tombak yang tak pernah gentar di medan perang, kini menjatuhkan tombaknya ke tanah. Lutut raksasanya bergetar. Memuntahkan seluruh isi perutnya ke atas bebatuan yang menghitam.
Di depannya, terbentang pemandangan lebih mengerikan dari perang mana pun.
Basis depan Klan Dewa yang baru dibangun itu sudah berubah jadi kuburan massal. Tidak ada bekas pertempuran, tidak ada pedang beradu atau zirah hancur.
Ribuan prajurit elit lapis emas klan dewa tergeletak mati dengan mulut berbusa hitam dan mata melotot ngeri, urat-urat mereka menonjol seolah meledak dari dalam.
Tapi bukan mayat para dewa itu yang membuat Long Zhan muntah.
Di area galian tambang, tumpukan mayat seratus kali lipat lebih banyak. Pria, wanita, orang tua, anak-anak fana berkerah budak bergelimpangan saling berpelukan atau mencengkeram leher mereka sendiri.
Tubuh mereka membiru akibat racun saraf yang menyiksa berjam-jam sebelum akhirnya mencabut nyawa mereka.
"Sialan..." kutuk Long Zhan parau, menatap air danau yang kini jadi lumpur beracun ungu pekat. "Xing Yun... bajingan keparat itu benar-benar melakukannya."
Para prajurit Divisi Kedua yang menyertai Long Zhan hanya bisa menutup hidung, menahan tangis dan mual. Mereka diperintahkan datang untuk "mengamankan" sisa persediaan senjata.
Ratusan mil jauhnya, di dalam gubuk medis khusus di Kota Fajar.
Mata Ye Cangtian perlahan terbuka. Pandangannya kabur beberapa detik sebelum akhirnya fokus pada langit-langit jerami di atasnya. Ia mencoba menggerakkan tubuh. Pusaran Emas di Dantiannya berputar stabil, menandakan esensi Qi-nya sudah pulih.
Tapi saat ia mencoba mengangkat lengan kanannya, ia tidak merasakan apa-apa. Lengan itu terbungkus perban tebal yang direndam cairan obat, terasa berat dan mati rasa seperti sebatang kayu mati yang ditempelkan ke bahunya.
"Jangan digerakkan dulu, Cangtian."
Suara lembut tapi serak menyapanya. Su Ling'er duduk di kursi kayu di samping ranjang, menumbuk dedaunan di mangkuk batu. Kantung matanya hitam, dan tatapannya kosong.
"Ling'er..." Cangtian memaksakan diri duduk memakai tangan kiri. "Berapa lama aku tertidur?"
"Tiga puluh dua hari," jawab Ling'er tanpa menatapnya.
Cangtian mengerutkan kening. Satu bulan adalah waktu yang sangat lama dalam perang. "Bagaimana kondisi garis depan? Jenderal Bintang..."
"Menjauh. Mereka mundur dari sektor utara dan timur." Ling'er memotong pelan. Air mata tiba-tiba menetes dari dagunya, jatuh ke mangkuk tumbukannya. "Kita 'menang', Cangtian. Pasukan Pembelah Langit berhasil mengusir mereka tanpa kehilangan satu pun prajurit."
Cangtian terdiam. Instingnya sebagai Master Bela Diri berteriak ada sesuatu yang sangat aneh. Mengusir Jenderal Bintang tanpa korban jiwa adalah sebuah kemustahilan.
"Bagaimana caranya?" Suaranya berubah dingin.
Sebelum Ling'er sempat menjawab, pintu gubuk medis terdorong terbuka. Xing Yun masuk dengan langkah tenang seperti biasa. Jubah abu-abunya rapi, membawa setumpuk gulungan laporan.
"Syukurlah kau sudah sadar, Cangtian." Xing Yun tersenyum tipis, meletakkan gulungan itu di meja. "Tepat pada waktunya. Jenderal Bintang berelemen Api yang mencoba membangun basis di Danau Cermin sudah lari ketakutan ke perbatasan barat. Basis mereka hancur total."
"Lima belas ribu nyawa," bisik Ling'er tiba-tiba, isak tangisnya tak tertahan lagi. Ia menutupi wajah dengan kedua tangannya. "Dia meracuni sumber air mereka... lima belas ribu budak fana... mati kejang-kejang meminum racun dari tanganku..."
Udara di ruangan itu membeku seketika.
Cangtian menatap Ling'er, lalu perlahan mengalihkan pandangan ke Xing Yun.
Pusaran Emas di Dantiannya bereaksi terhadap gejolak emosinya. Aura hijau-emas meledak keluar tak terkendali, membuat dinding batu gubuk retak. Suhu ruangan anjlok drastis.
"Katakan padaku dia berbohong, Xing Yun," desis Cangtian, suaranya menggetarkan botol-botol kaca di ruangan hingga pecah.
Xing Yun tidak mundur selangkah pun. Ia membalas tatapan membunuh itu dengan ketenangan.
"Dua ribu prajurit elit klan dewa tewas. Empat perwira tingkat menengah hancur meridiannya. Satu Jenderal Bintang terpaksa mundur." Xing Yun merinci laporannya. "Semua itu dicapai dengan mengorbankan budak-budak tawanan perang. Ini kemenangan taktis paling efisien dalam sejarah..."
Wussh!
Cangtian bergerak lebih cepat dari kedipan mata. Tangan kirinya mencengkeram kerah jubah Xing Yun, mengangkatnya dari lantai, membantingnya ke dinding batu hingga retak.
"Aku sudah berjanji untuk membebaskan mereka!" raung Cangtian, amarahnya akhirnya meledak. Qi keemasan meliuk-liuk liar di sekitar lengannya.
"Kita memulai pemberontakan ini untuk menyelamatkan umat manusia dari Perbudakan! Bukan untuk membantai mereka seperti hama di ladang!"
Meski lehernya tercekik dan kakinya tak menyentuh lantai, Xing Yun tidak meronta. Ia menatap lurus ke mata emas Cangtian.
"Kau ingin jadi pahlawan bersinar yang menyelamatkan semua orang, Cangtian?" Suara Xing Yun serak, tapi penuh keyakinan. "Bagus. Tapi pahlawan tidak bisa memenangkan perang melawan dewa. Kalau aku tidak meracuni danau itu, kau akan memaksakan diri memimpin Divisi Pertama menyerbu basis itu."
Ia menunjuk dengan dagunya ke lengan kanan Cangtian yang dibungkus perban.
"Dan dengan kondisi lengan cacatmu itu, kau akan mati, Cangtian. Kau akan dibantai Jenderal Api itu." Xing Yun akhirnya meninggikan suara, membalas amarah sang Kaisar. "Dan kalau kau mati, lima puluh ribu orang di kota ini, Akademi Fajar, semua mimpi tentang kebebasan ini, semuanya pasti akan musnah dalam semalam!"
"Maka biarkan aku bertarung dan mati di medan perang!" raung Cangtian.
"Tidak!" balas Xing Yun keras. "Nyawamu lebih berharga dari seratus ribu nyawa budak. Kau pondasi dunia ini, Cangtian. Kalau kau tidak mau mengotori tanganmu dengan darah orang-orang tak bersalah demi bertahan hidup, biarkan aku yang melakukannya. Aku akan melakukan dosa apa pun, apa pun, agar kau tetap hidup untuk menduduki singgasana itu!"
Cangtian terpaku. Cengkeramannya di kerah Xing Yun perlahan mengendur.
Ia melihat kedalaman mata Xing Yun dan menemukan sesuatu yang lebih menakutkan dari pengkhianatan, kesetiaan yang buta, fanatik dan telah bermutasi jadi monster murni yang mengerikan.
Cangtian menjatuhkan Xing Yun ke lantai. Ahli taktik itu terbatuk pelan sambil merapikan jubahnya.
"Sebuah singgasana yang dibangun di atas lautan mayat tak berdosa..." Cangtian berbalik membelakanginya, suaranya kini sangat lelah dan dingin. "...bukan singgasana yang ingin kududuki, Xing Yun."
Xing Yun terdiam, menundukkan kepalanya dalam bayangan.
"Mulai detik ini, kau dicopot dari posisi Komandan Pengganti," titah Cangtian mutlak. "Kau hanya memegang Divisi Bayangan untuk pengumpulan intelijen. Kau dilarang keras memberi perintah operasi atau mengerahkan pasukan tanpa persetujuan langsung dariku atau Long Zhan. Keluar."
Xing Yun tidak membantah. Ia membungkuk dengan hormat. "Sesuai perintahmu, Kaisar."
Saat Xing Yun berbalik dan berjalan keluar dari gubuk medis, garis bibirnya menegang. Ia tidak menyesal sedikit pun. Di matanya, "cahaya" Cangtian adalah kelemahan fatal dalam perang ini. Dan Xing Yun bersumpah, kalau Cangtian tidak mau bertindak kejam, maka ia yang akan membunuh siapa pun yang menghalangi jalan kaisarnya, dari balik bayang-bayang.
Di dalam ruangan, Cangtian menatap lengan kanannya yang mati rasa.
Perasaan tak berdaya merayapi hatinya. Xing Yun benar tentang satu hal, kalau Cangtian cukup kuat, kalau lengannya tidak hancur, ia bisa saja menaklukkan basis itu tanpa perlu meracuni siapa pun. Kelemahannya sendiri yang memaksa sahabatnya berubah jadi monster.
Cangtian mengepalkan tangan kirinya erat-erat.
Ia harus segera menembus batas. Ia harus mendaki puncak Master Bela Diri secepat mungkin, tidak peduli apa bayaran fisiknya, sebelum sisa kemanusiaan di dalam Pasukan Pembelah Langit benar-benar membusuk.