"Surya Pratama hanyalah seorang dokter magang miskin di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Diputusin pacarnya di depan umum, dihina oleh si kaya Kevin Hartono — hidupnya hancur.
Tapi di saat paling rendah, sebuah **Sistem Dokter Ilahi Super** terbangun dalam pikirannya.
Setiap nyawa yang ia selamatkan mengisi **Botol Pahala**. Setiap botol yang penuh membuka kemampuan baru: **Tangan Emas** yang membuat tangannya tak pernah gemetar, **Mata Tembus** yang melihat menembus tubuh manusia, **Mimpi Ilahi** yang membaca ingatan terakhir orang mati.
Level demi level, Surya naik — dari dokter magang yang diremehkan semua orang menjadi Kepala IGD termuda dalam sejarah rumah sakit."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Bab 8 — Jebakan Transplantasi
Pak Hendra menganggap kesimpulan itu cukup serius untuk dibahas di balik pintu tertutup. Proposal transplantasi mencantumkan Surya sebagai operator utama di bawah supervisi, sementara dua lembar tanggung jawab risiko harus ditandatangani Pak Hendra dan Pak Bambang.
Jika operasi berhasil, dr. Gunawan dapat mengaku memberi kesempatan kepada dokter berbakat.
Jika gagal, tiga orang di kubu lawannya jatuh sekaligus.
"Kita bisa menolak," kata Pak Hendra.
Surya membaca data donor dan penerima. "Kalau menolak, pasien kehilangan jadwal transplantasi. Donornya sudah tersedia."
"Jangan jadi pahlawan setiap kali orang lain mengarahkan pisau ke lehermu."
"Saya tidak sedang menyelamatkan Gunawan. Saya menyelamatkan pasien."
Pak Hendra mengusap wajah. "Kalimat seperti itu yang membuat Bapak sulit memarahi kamu."
Sebelum rapat risiko dimulai, IGD memanggil Surya untuk seorang pekerja berusia empat puluhan yang mengalami nyeri perut hebat dan muntah. Pasien sudah diperiksa dr. Bowo dari Kardiologi karena memiliki riwayat gangguan irama jantung.
"Gastritis berat," kata dr. Bowo. "EKG aman. Beri obat lambung dan observasi."
Surya berjongkok di samping pasien. Perutnya tidak sekaku yang diharapkan untuk rasa sakit sehebat itu. Nadi tidak teratur. Kulit dingin. Nyeri datang tiba-tiba setelah bekerja.
"Pak, ada darah saat buang air?"
"Sedikit... tadi pagi."
Surya berdiri. "Ini mungkin iskemia mesenterika akut. Ususnya kekurangan aliran darah."
dr. Bowo mencibir. "Hanya dari tanya jawab? CT saja belum ada."
"Nyeri tidak sebanding dengan temuan perut, ada aritmia, dan ada darah pada tinja. Kita butuh CT angiografi sekarang."
"Saya yang lebih dulu menangani pasien ini."
"Kalau begitu Bapak juga yang akan menjelaskan kepada keluarga saat ususnya nekrosis karena kita memberi antasida."
Pak Hendra datang dan memerintahkan pemeriksaan dilakukan. CT angiografi menunjukkan sumbatan pembuluh mesenterika. Sebagian usus sudah iskemik, tetapi belum seluruhnya mati.
Operasi cepat menyelamatkan jaringan yang masih hidup.
Dua hari kemudian, keluarga pasien datang membawa plakat ucapan terima kasih. dr. Bowo berdiri paling depan saat humas mengambil foto, seolah diagnosis itu miliknya.
Putra pasien mengerutkan kening. "Dokter yang menemukan penyakit Ayah bernama Surya. Saya tidak mengenal orang ini."
Seorang perawat memutar rekaman konsultasi dari sistem dokumentasi IGD. Suara dr. Bowo yang menyebut gastritis terdengar jelas, disusul peringatan Surya tentang usus nekrosis.
Wajah dr. Bowo berubah merah.
Dia menemukan Surya satu jam kemudian di ruang jaga.
"Bang Surya," katanya pelan.
Surya mengangkat kepala. "Bapak lebih tua dari saya. Jangan panggil Bang."
"Ilmu tidak kenal umur. Soal tadi... kita anggap salah paham?"
"Selama Bapak berhenti mengambil nama orang lain dan mulai mendengar pasien, saya tidak punya waktu mengejar Bapak."
dr. Bowo mengangguk cepat. Sejak hari itu, dokter yang tadinya paling suka meremehkan Surya justru selalu muncul membawa kopi dan memanggilnya Bang Surya.
Rapat transplantasi berlangsung sore harinya.
dr. Gunawan menampilkan angka kematian, kondisi penerima, dan waktu iskemia donor. "Saya hanya memberi kesempatan yang diminta semua orang. Bukankah Dokter Surya disebut mampu melakukan operasi tingkat dunia?"
Pak Bambang menatapnya. "Anda yakin rekomendasi ini dibuat demi pasien?"
"Tentu, Pak Direktur."
Surya menutup berkas. "Saya ambil kasusnya. Semua langkah dicatat. Semua keputusan intraoperatif direkam. Dan Pak Gunawan tetap berada di ruang observasi sampai selesai."
Senyum dr. Gunawan menegang. "Tidak masalah."
Operasi dimulai pukul tujuh malam.
Pak Bambang berdiri di ruang observasi bersama dr. Gunawan. Di dalam OK, Pak Hendra mengawasi, dr. Mahmud menjadi asisten, dan Surya memimpin meja.
Hati yang sakit diangkat. Pembuluh besar disiapkan. Organ donor datang dengan sisa waktu iskemia yang sempit.
Surya bekerja tanpa satu gerak pun berlebihan.
Vena hepatika.
Vena porta.
Arteri hepatika.
Saluran empedu.
Tangan Emas 100 persen membuat jahitan vaskular rapat dan seragam. Ketika klem dibuka, warna organ donor berubah perlahan dari pucat menjadi merah sehat.
"Perfusi masuk," kata dokter anestesi. "Tekanan stabil."
dr. Gunawan mendekat ke kaca observasi.
Dia menunggu perdarahan.
Tidak ada.
Dia menunggu kebocoran sambungan.
Tidak ada.
Dua jam dua puluh menit setelah sayatan pertama, Surya menyelesaikan penutupan.
"Operasi selesai."
Di ruang observasi, Pak Bambang menoleh kepada dr. Gunawan. "Anda yang merekomendasikannya. Seharusnya Anda senang."
dr. Gunawan menatap organ yang berfungsi sempurna di monitor.
"Dia ini manusia atau dewa?"
Pak Bambang mendengar, tetapi memilih tersenyum tanpa menjawab.
Saat keluarga pasien mengucapkan terima kasih, Botol Pahala di pandangan Surya dipenuhi cahaya sampai bentuknya retak dan berubah.
『Syarat peningkatan terpenuhi.』
『Sistem Dokter Ilahi Super meningkat ke Level 2.』
Botol yang baru tampak lebih besar dan memiliki dua lingkaran cahaya pada lehernya.
『Kapsul Memori ×1 diperoleh. Efek aktif: delapan jam ingatan sempurna; materi yang dipelajari tersimpan permanen.』
『Dua kuota pemilihan keahlian operasi tersedia.』
『Peringatan: tindakan jahat akan mengurangi pertumbuhan sistem dan dapat merusak fungsi kognitif Inang.』
Surya mengangkat alis. "Hadiah dan ancaman dalam satu paket. Efisien."
『Inang yang baik tidak perlu takut.』
Malam itu belum berakhir.
Pak Bambang menerima panggilan tentang kecelakaan di depan sebuah sekolah. Seorang pengemudi menabrak pagar saat acara alumni; satu korban mengalami cedera dada berat. IGD mengirim Surya, Rizki, dan Bayu sebagai tim awal.
"Tiga pendekar kita bisa terkenal malam ini atau dipermalukan bersama," kata Pak Bambang sebelum mereka berangkat. "Bawa pasien pulang hidup-hidup."
Di grup alumni, Maya baru saja mengunggah foto dari rumah sakit keluarganya dan menulis bahwa dia mulai menangani operasi besar. Pesannya tenggelam ketika siaran langsung dari gerbang sekolah muncul.
Seorang pria terjepit di dekat mobil, tekanan darahnya jatuh. Dada kiri tidak mengembang dan suara napas hampir hilang. Setelah dekompresi darurat, kondisinya tetap memburuk. Darah terus memenuhi rongga dada.
"Ambulans terlambat delapan menit," kata Bayu setelah memeriksa lokasi kendaraan.
"Kita buka di sini," jawab Surya.
Rizki sudah menarik kotak trauma. Kali ini tidak ada pisau dapur. Ada set emergensi, antiseptik, klem, dan tiga orang yang bergerak sebagai satu tim.
Bayu mengendalikan jalan napas. Rizki menyiapkan akses dan transfusi pra-rumah-sakit. Surya membuka toraks, menemukan robekan pembuluh interkostal, lalu menjepitnya.
Detak jantung pasien menguat sebelum ambulans tiba.
Ratusan alumni dan siswa berdiri di balik garis pengaman. Ponsel mereka merekam tim IGD yang tetap tenang di tengah darah dan pecahan kaca.
Maya melihat siaran itu dari layar ponselnya. Postingan tentang operasinya sendiri mendadak terasa kecil.
Keesokan hari, media rumah sakit mengunggah foto Surya, Rizki, dan Bayu berjalan keluar dari IGD setelah pasien dinyatakan stabil.
Judulnya sederhana:
TIGA PENDEKAR RSUD DR. SOETOMO.
Julukan itu menyebar ke seluruh Surabaya.
Pak Hendra melempar surat rotasi baru ke meja mereka. "Jangan sombong. Minggu depan IGD menerima dokter baru. Nilai akademiknya lebih tinggi daripada kalian bertiga."
Surya membaca nama di bagian atas.
dr. Anindya Kusuma.