NovelToon NovelToon
DIPAKSA MENIKAHI CEO DUDA

DIPAKSA MENIKAHI CEO DUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / BTS
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: MHKaylid_

Di sebuah hotel mewah, Alyssa dipaksa menunggu "pembelinya".

"Aku sudah bayar mahal! Mana gadisnya?"

bentak pria bertubuh tambun sambil membanting gelas.

Mariska tersenyum licik.

"Tenang saja, Tuan. Dia memang keras kepala, tapi malam ini dia pasti jadi milik Anda."

"Aku tidak mau! Lepaskan aku!" teriak Alyssa sambil berusaha melepaskan diri.

"Diam!" hardik Mariska sembari menampar pipi Alyssa. "Kalau bukan karena aku membesarkanmu, kau sudah mati kelaparan! Sekarang giliranmu membalas budi."

Air mata Alyssa jatuh, tetapi keberaniannya tidak ikut runtuh.

Saat para pria lengah, ia mendorong salah seorang dari mereka hingga terjatuh, lalu berlari sekuat tenaga menyusuri lorong hotel.

"Kejar dia!" teriak pria hidung belang itu murka.

"Jangan sampai gadis itu lolos!"

Suara langkah kaki bergema di sepanjang koridor.

Dengan napas memburu, Alyssa membuka pintu sebuah kamar yang tidak terkunci dan segera menguncinya dari dalam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MHKaylid_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11

Pagi itu...

Langit di atas Mansion Laurent tampak cerah setelah hujan semalaman.

Embun masih menempel di dedaunan taman.

Udara yang sejuk perlahan masuk melalui celah jendela kamar tamu.

Namun, ketenangan pagi itu sama sekali tidak mampu menenangkan hati Alyssa.

Tangannya masih menggenggam amplop tua yang baru saja diberikan Adrian.

Kertasnya sudah menguning.

Sudut-sudutnya mulai rapuh dimakan usia.

Tulisan di bagian depan masih terlihat meski tintanya mulai memudar.

"Untuk putriku... jika suatu hari takdir mempertemukan surat ini denganmu."

Alyssa menelan ludah.

Jari-jarinya gemetar.

Ia menoleh kepada Adrian yang masih berdiri beberapa langkah darinya.

"Apa... Tuan Lucas sudah membaca isi surat ini?"

Adrian menggeleng.

"Tidak."

"Beliau memerintahkan kami untuk tidak membukanya."

"Itu adalah hak Anda."

Jawaban itu membuat Alyssa semakin terdiam.

Lucas memiliki kesempatan mengetahui isi surat itu lebih dulu.

Namun, ia memilih menghormati privasinya.

Entah mengapa...

Sikap itu kembali membuat hatinya menghangat.

Dengan napas yang masih bergetar, ia membuka perlahan segel amplop yang sudah rapuh.

Kertas di dalamnya dilipat sangat rapi.

Saat dibuka...

Terlihat tulisan tangan seorang perempuan.

Tulisan itu indah.

Halus.

Seolah setiap huruf ditulis dengan penuh kasih sayang.

Air mata Alyssa mulai menetes bahkan sebelum ia selesai membaca kalimat pertama.

Putriku tersayang...

Jika surat ini sampai kepadamu, berarti aku gagal menemanimu tumbuh dewasa.

Maafkan Ibu.

Mungkin saat ini kau membenciku.

Mungkin kau mengira aku telah membuangmu.

Tetapi percayalah...

Tidak ada satu hari pun aku rela berpisah darimu.

Alyssa menutup mulutnya.

Tangisnya pecah.

Dadanya terasa sesak.

Ia memaksa dirinya melanjutkan membaca.

Aku tidak bisa menjelaskan semuanya di surat ini.

Karena jika surat ini jatuh ke tangan orang yang salah...

Nyawamu akan berada dalam bahaya.

Yang bisa kukatakan hanyalah...

Jangan pernah mempercayai semua orang yang mengaku ingin melindungimu.

Bahkan seseorang yang kau anggap keluarga sekalipun.

Alyssa membeku.

Keluarga...

Apakah yang dimaksud Patrick?

Atau orang lain?

Matanya kembali menyusuri setiap baris.

Jika suatu hari kau mengetahui siapa dirimu sebenarnya...

Jangan membalas kebencian dengan kebencian.

Karena itu hanya akan menghancurkan hidupmu seperti yang terjadi padaku.

Air mata terus menetes tanpa henti.

Tulisan itu semakin sulit dibaca karena basah oleh tangisnya.

Di bagian paling bawah...

Hanya ada satu kalimat.

Aku selalu mencintaimu.

Ibumu, Elena.

"Elena..."

Nama itu terdengar asing.

Namun entah mengapa...

Saat mengucapkannya, Alyssa merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan.

Seolah nama itu telah lama hidup di dalam ingatannya.

Ia memejamkan mata.

Sekilas...

Bayangan seorang wanita berambut panjang muncul dalam pikirannya.

Seorang wanita yang sedang bernyanyi pelan sambil menggendong bayi.

Namun bayangan itu menghilang secepat datangnya.

"Aku..."

"Aku pernah mengingatnya..."

bisiknya lirih.

Adrian yang sedari tadi menjaga jarak hanya bisa memandang dengan iba.

Ia tidak bertanya.

Ia tahu...

Ada rasa kehilangan yang tidak bisa diobati hanya dengan kata-kata.

Di ruang kerja...

Lucas sedang menerima laporan dari kepala divisi intelijen keluarga Laurent.

Di layar monitor terpampang beberapa foto.

Foto Patrick.

Foto perusahaan miliknya.

Foto beberapa pria bersenjata.

"Pergerakan mereka meningkat sejak tadi malam."

lapor salah satu anggota tim.

"Mereka menyebar ke berbagai wilayah."

"Kami juga mendeteksi beberapa kendaraan asing yang beberapa kali melintas di sekitar mansion."

Lucas menyilangkan kedua tangannya.

"Berapa kendaraan?"

"Empat."

"Nomor polisi berbeda."

"Tetapi pengemudinya orang yang sama."

Lucas mengangguk pelan.

"Mereka sedang memastikan Alyssa berada di sini."

Adrian yang baru masuk langsung berkata,

"Tuan."

"Laporan terbaru."

"Alyssa sudah membaca surat itu."

Lucas tidak bertanya isi surat tersebut.

Ia hanya bertanya,

"Bagaimana kondisinya?"

"Menangis."

"Namun lebih tenang."

Lucas mengembuskan napas pelan.

"Itu sudah cukup."

Tak lama kemudian...

Telepon di atas meja berdering.

Nomor yang muncul tidak dikenal.

Lucas mengangkatnya.

"Halo."

Suara berat terdengar dari seberang.

"Aku Patrick."

Ruangan langsung berubah hening.

Tatapan Adrian mengeras.

Lucas tetap tenang.

"Ada perlu?"

Patrick tersenyum kecil di balik telepon.

"Kau membawa seseorang yang bukan urusanmu."

Lucas menjawab singkat.

"Dia datang ke sini karena membutuhkan pertolongan."

Patrick terkekeh.

"Pertolongan?"

"Atau kau mulai tertarik padanya?"

Adrian mengepalkan tangan.

Namun Lucas tetap datar.

"Apa tujuanmu menelepon?"

Patrick menjawab tanpa basa-basi.

"Kembalikan Alyssa."

Lucas langsung menjawab,

"Tidak."

Patrick terdiam beberapa detik.

Lalu tertawa pelan.

"Baik."

"Kalau begitu..."

"Jangan salahkan aku atas apa yang akan terjadi."

Klik.

Telepon terputus.

Adrian segera berkata,

"Haruskah saya meningkatkan pengamanan?"

Lucas berdiri.

"Bukan hanya meningkatkan."

"Mulai hari ini..."

"Tidak seorang pun masuk ke mansion tanpa pemeriksaan penuh."

"Termasuk tamu bisnis."

"Siapkan kendaraan antipeluru."

"Dan..."

Ia menatap layar monitor.

"Hubungi kepolisian secara tidak resmi."

"Aku ingin mereka siaga tanpa menarik perhatian media."

"Baik, Tuan."

Sementara itu...

Di sebuah gudang tua.

Patrick duduk di kursi besi.

Beberapa anak buahnya berdiri mengelilingi meja.

Salah seorang berkata,

"Tuan."

"Penjagaan Mansion Laurent terlalu ketat."

Patrick tersenyum tipis.

"Kalau pintu depan tidak bisa dibuka..."

"Masuklah dari dalam."

Semua orang saling berpandangan.

Patrick kemudian mengeluarkan sebuah foto.

Foto itu memperlihatkan salah satu pelayan Mansion Laurent.

"Namanya Riko."

"Sudah bekerja di sana lima tahun."

"Dia punya ibu yang sedang dirawat di rumah sakit."

Patrick meletakkan selembar cek bernilai sangat besar.

"Orang seperti itu..."

"Paling mudah memilih antara kesetiaan..."

"Atau keluarga."

Salah satu anak buah mengangguk mengerti.

"Kami akan menghubunginya."

Patrick tersenyum puas.

"Tidak."

"Aku sendiri yang akan berbicara."

Menjelang siang...

Di taman belakang mansion.

Dokter keluarga mengizinkan Alyssa berjalan sebentar menggunakan tongkat penyangga.

Pergelangan kakinya masih terkilir.

Namun kondisinya mulai membaik.

Ia berjalan perlahan ditemani seorang pengawal wanita.

Pandangan Alyssa terus tertuju pada bunga-bunga yang bermekaran.

Sudah lama ia tidak merasakan ketenangan seperti ini.

Tak jauh dari sana...

Lucas sedang berbicara dengan seorang klien melalui panggilan video.

Tanpa sengaja...

Tatapan mereka bertemu.

Alyssa langsung menundukkan kepala.

Masih teringat semua perkataan Lucas semalam.

Setelah panggilan selesai...

Lucas menghampirinya.

Pengawal wanita segera mundur memberi ruang.

Suasana sempat canggung.

Alyssa menggenggam tongkatnya.

"Maaf..."

ucapnya pelan.

Lucas menatapnya.

"Kau sudah mengatakannya semalam."

"Tapi aku sungguh menyesal."

Lucas menghela napas.

"Aku tahu."

Hanya dua kata.

Namun sudah cukup membuat Alyssa merasa sedikit lega.

Lucas lalu bertanya,

"Bagaimana isi surat itu?"

Alyssa terdiam cukup lama.

"Aku mengetahui nama ibuku."

"Elena."

Lucas mengangguk.

"Itu petunjuk yang bagus."

"Tapi surat itu juga mengatakan agar aku tidak mudah percaya kepada siapa pun."

Lucas tersenyum tipis.

"Itu nasihat yang benar."

"Termasuk jangan langsung percaya kepadaku."

Alyssa terkejut.

Lucas melanjutkan,

"Kepercayaan harus dibangun."

"Bukan diminta."

Ucapan itu membuat Alyssa perlahan mengangkat kepalanya.

Ia mulai memahami seperti apa Lucas sebenarnya.

Pria itu tidak pernah memaksa.

Tidak pernah meminta dipercaya.

Ia hanya terus membuktikannya melalui tindakan.

Belum sempat mereka berbicara lebih jauh...

Seorang pengawal berlari tergesa-gesa.

"Tuan Lucas!"

"Ada apa?"

"Kami menangkap seseorang yang mencoba menerobos pagar belakang."

Lucas langsung berubah waspada.

"Siapa?"

"Seorang pria."

"Dia membawa kamera dengan lensa jarak jauh."

"Di dalam tasnya ditemukan beberapa foto Nona Alyssa."

Wajah Alyssa langsung memucat.

Lucas menoleh kepadanya.

"Kembali ke dalam."

"Tapi..."

"Itu perintah."

Nada suara Lucas tegas, tetapi tidak membentak.

Alyssa akhirnya mengangguk.

Ia segera dibawa masuk oleh pengawal wanita.

Sementara Lucas berjalan menuju pos keamanan.

Di ruang interogasi sederhana...

Seorang pria berusia sekitar tiga puluh lima tahun duduk dengan tangan terikat.

Begitu melihat Lucas masuk...

Ia hanya tersenyum.

"Kau bukan wartawan."

ucap Lucas datar.

Pria itu tertawa kecil.

"Tentu bukan."

"Siapa yang mengirimmu?"

Pria itu diam.

Lucas mengangguk pelan kepada Adrian.

Beberapa detik kemudian...

Adrian meletakkan beberapa foto di atas meja.

Foto ibu pria itu.

Foto adik perempuannya.

Foto rumahnya.

Tanpa ancaman, Adrian berkata tenang,

"Kami tahu siapa keluargamu. Kami juga tahu mereka tidak terlibat. Jangan paksa kami membuat mereka ikut terseret."

Wajah pria itu langsung berubah.

Ia sadar jaringan informasi keluarga Laurent jauh lebih luas daripada yang dibayangkannya.

Setelah beberapa saat menunduk, ia akhirnya berkata lirih,

"...Patrick."

Lucas sudah menduganya.

"Tujuanmu?"

"Mengambil gambar aktivitas di mansion."

"Kalau memungkinkan..."

Ia menelan ludah.

"...menculik Alyssa."

Ruangan mendadak sunyi.

Lucas menatap pria itu tanpa ekspresi.

Namun sorot matanya berubah sangat dingin.

Ia kini tahu satu hal.

Patrick tidak lagi sekadar mencari Alyssa.

Pria itu mulai berani menyentuh wilayah keluarga Laurent.

Dan bagi Lucas...

"Bagi lucas kalian adalah pembaca yang sangat ditunggu komentar dan ratingnya.. Makasihhh" MHKaylid_

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!