Sejak ibunya menikah lagi, Aria terpaksa tinggal serumah dengan kakak tirinya, Lucien Ashford, pria yang nyaris sempurna di mata semua orang. Tampan, sopan, dan selalu hadir saat Aria membutuhkan bantuan.
Awalnya, Aria mengira Lucien hanya menjalankan perannya sebagai seorang kakak.
Sampai ia menyadari satu hal.
Lucien selalu tahu ke mana ia pergi.
Selalu muncul di waktu yang tepat.
Dan perlahan, semua orang yang mencoba mendekatinya mulai menghilang dari hidupnya.
Saat Aria berusaha mencari jawaban, ia justru menemukan rahasia yang jauh lebih mengerikan.
Lucien ternyata telah mengenalnya jauh sebelum mereka menjadi keluarga.
Kini Aria harus memilih, tetap tinggal di rumah yang perlahan berubah menjadi sangkar, atau melarikan diri dari seseorang yang tidak pernah berniat melepaskannya.
"Di rumah ini, tidak ada yang lebih berbahaya daripada seseorang yang mengaku ingin melindungimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatimah Azzahra Al-aini Sarabiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Matahari pagi menembus kaca tebal kamar lantai tiga, membiaskan sinar keemasan yang terasa dingin bagi Clara. Semalaman ia tidak bisa memejamkan mata. Setiap kali matanya terpejam, wajah dingin Kenzo dan nama Julian terus berputar di kepalanya seperti mimpi buruk yang tak usai.
Tepat pukul enam tiga puluh, suara kait pintu besi berputar dari luar. Pintu terbuka, memperlihatkan Kenzo yang sudah tampil rapi dengan kemeja putih bersetelan jas hitam tanpa celak. Di tangannya, pria itu membawa nampan berisi sarapan dan secangkir teh hangat.
"Makan,"
ujar Kenzo singkat seraya meletakkan nampan di atas meja kecil dekat jendela.
Clara yang duduk bersandar di kepala tempat tidur tidak bergeming. Ia menatap Kenzo dengan pandangan penuh kebencian.
"Aku tidak lapar."
Kenzo berjalan mendekat, menyandarkan kedua tangannya di pinggiran kasur, menunduk hingga jarak wajah mereka hanya tersisa beberapa sentimeter.
"Aku tidak menerima penolakan, Clara. Kau butuh energi karena hari ini kau harus menghadiri kelas pagi. Atau kau mau aku menyuapimu secara paksa?"
Ancaman halus itu sudah cukup membuat Clara mengepalkan tangan dan melangkah menuju meja.
Ia memakan roti bakar itu tanpa rasa, hanya agar Kenzo segera menyingkir dari pandangannya.
Tiga puluh menit kemudian, mereka sudah berada di dalam sedan hitam milik Kenzo. Perjalanan menuju kampus diwarnai keheningan yang mencekik. Clara sengaja memalingkan wajah ke luar jendela, memperhatikan deretan pohon dan bangunan yang melaju cepat, membayangkan betapa bahagianya orang-orang di luar sana yang memiliki kebebasan.
"Aku akan menjemputmu jam dua siang tepat," kata Kenzo saat mobil berhenti di depan gerbang utama universitas.
Pria itu menekan tombol central lock, mencegah Clara langsung keluar.
Clara menoleh cepat.
"Jadwalku selesai jam empat hari ini! Aku ada diskusi kelompok di perpustakaan!"
"Jadwal kelompokmu sudah kutanyakan pada dosen pembimbingmu tadi malam, dan dia mengonfirmasi kelasmu selesai jam dua,"
potong Kenzo dingin. Mata tajamnya menatap Clara tanpa kompromi.
"Jangan pernah coba-coba berbohong lagi, Clara. Jika jam dua lewat lima menit kau belum ada di dalam mobil ini, aku sendiri yang akan berjalan masuk ke perpustakaan untuk menyeretmu keluar."
Clara menahan napas, merasa ruang geraknya kian terhimpit.
"Buka kuncinya,"
bisiknya parau.
Kenzo meraih dagu Clara, menahannya sebentar untuk menatap matanya.
"Ingat peringatanku semalam. Jauhi pria bernama Julian itu."
Begitu kunci pintu terbuka, Clara langsung keluar tanpa menoleh lagi. Ia melangkah cepat menyeberangi pelataran kampus yang ramai, berusaha membuang rasa sesak yang bergemuruh di dadanya.
Tujuan utama Clara pagi itu bukanlah ruang kuliah, melainkan area taman belakang perpustakaan yang sepi, tempat yang disepakati antara dirinya dan Julian untuk membahas berkas beasiswa pertukaran pelajar ke Jerman.
Julian adalah mahasiswa tingkat akhir jurusan Hubungan Internasional. Pria itu ramah, cerdas, dan yang terpenting, Julian adalah satu-satunya orang yang memandang Clara sebagai individu biasa, bukan sebagai adik dari Kenzo sang pengusaha muda ternama.
Begitu melihat sosok Julian yang duduk di bangku taman dengan laptop terbuka, jantung Clara berdegup kencang, campuran antara lega dan panik luar biasa.
"Julian!"
panggil Clara setengah berbisik seraya menghampirinya.
Julian menoleh, tersenyum hangat, namun raut wajahnya tampak agak lelah dan pucat.
"Clara? Kau sudah datang? Aku baru saja memeriksa kembali dokumen persyaratanmu..."
"Julian, kita tidak punya banyak waktu,"
potong Clara cepat seraya duduk di sampingnya, matanya terus bergulir waspada memperhatikan sekitar, takut ada orang suruhan Kenzo yang mengawasi.
"Apakah berkas beasiswaku sudah terkirim ke pihak kedutaan?"
Julian mengerutkan dahi, bingung melihat kepanikan Clara.
"Sudah, kemarin sore aku sendiri yang mengunggahnya ke portal resmi. Semua surat rekomendasi dan nilai akademismu sempurna, Clara. Kalau tidak ada kendala, surat penerimaan resmimu akan keluar minggu depan."
Mendengar hal itu, ada percikan harapan yang membakar dada Clara. Minggu depan. Hanya tinggal tujuh hari lagi. Jika surat penerimaan itu keluar, ia bisa menggunakan visa pelajar untuk terbang ke Frankfurt dan keluar dari negara ini sebelum orang tuanya dan Kenzo menyadarinya.
"Tapi, Clara..."
Julian ragu-ragu sejenak, menatap Clara dengan pandangan khawatir.
"Ada sesuatu yang aneh terjadi semalam."
Darah Clara mendadak berdesir dingin. "
Apa yang terjadi?"
"Nomor tidak dikenal meneleponku jam satu malam. Orang itu tidak bicara, tapi aku bisa mendengar suara ketukan pena yang sangat teratur di seberang telepon. Dan pagi ini..."
Julian merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebuah amplop cokelat polos tanpa nama penerima.
"Seseorang menyelipkan ini di bawah pintu kamar apartemenku."
Dengan tangan gemetar, Clara mengambil amplop itu dan membukanya. Di dalamnya hanya ada satu lembar kertas foto hasil cetakan.
Foto itu memperlihatkan Julian yang sedang berjalan sendirian menuju apartemennya pada malam hari, diambil dari jarak jauh dari balik kegelapan, yang membuat Clara hampir jantungan adalah tulisan tangan menggunakan tinta merah di bagian bawah foto tersebut.
Jarak antara hidup dan matimu hanya sejauh langkah kaki gadis itu dariku.
"Julian"
suara Clara tercekat, air mata mulai menggenangi pelupuk matanya. Ia mengenali tulisan tangan itu. Itu adalah tulisan tangan Kenzo.
"Kau harus menjauh dariku sekarang juga."
"Tunggu, Clara, sebenarnya apa yang terjadi?" Julian mencoba meraih tangan Clara, menuntut penjelasan.
"Siapa yang menerorku? Apakah ini ada hubungannya dengan masalah keluargamu yang pernah kau ceritakan?"
"Jangan tanyakan apa-apa lagi!"
jerit Clara pelan dengan nada memohon.
"Jangan hubungi aku, jangan bicara padaku di kampus, dan jangan pernah temui aku lagi! Orang ini berbahaya, Julian. Dia bisa menghancurkan hidupmu dalam semalam!"
Julian menatap Clara dengan tatapan tidak percaya sekaligus prihatin.
"Aku tidak bisa membiarkanmu menghadapi ini sendirian, Clara. Kalau kau berada dalam bahaya, kita bisa lapor polisi..."
"Polisi tidak akan bisa membantuku!"
potong Clara frustrasi. Kenzo memiliki koneksi, uang, dan pengaruh yang cukup untuk membungkam siapa saja.
"Tolong, Julian, kalau kau mau selamat, lupakan aku dan fokus saja pada kelulusanmu."
Clara berdiri secara mendadak, mengusap air matanya kasar, lalu berlari meninggalkan Julian yang berdiri terpaku di taman perpustakaan.
Sisa hari itu dihabiskan Clara dalam kondisi pikiran yang kacau balau. Ia tidak bisa berkonsentrasi di kelas. Bayangan foto ancaman itu terus membayangi pikirannya. Kenzo tidak sekadar menggertak. Pria itu benar-benar mengawasi setiap pergerakan Julian.
Pukul satu lima puluh lima siang, Clara sudah berdiri di dekat gerbang kampus dengan tubuh gemetar. Tepat pukul dua, sedan hitam Kenzo berhenti persis di depannya.
Clara membuka pintu dan duduk di kursi penumpang. Begitu pintu tertutup, aroma parfum Kenzo yang pekat langsung memenuhi paru-parunya, menghadirkan rasa sesak yang familiar.
Kenzo tidak langsung menjalankan mobilnya. Pria itu menyandarkan siku di kemudi, menoleh ke arah Clara dengan tatapan yang sangat tenang, tenang yang mengerikan.
"Bagaimana kuliahmu hari ini?"
tanya Kenzo, suaranya terdengar ramah namun dingin.
"Biasa saja,"
jawab Clara datar, menatap lurus ke depan tanpa berani menatap mata pria itu.
Kenzo tersenyum tipis. Tangannya terangkat, mengusap lembut tengkuk Clara, membuat gadis itu merinding seketika.
"Bagus kalau begitu,"
bisik Kenzo.
"Aku senang kau anak yang penurut. Karena jika kau melanggar kata-kataku lagi..."
Kenzo sengaja menggantung kalimatnya, merogoh saku jasnya, lalu meletakkan sebuah benda di atas pangkuan Clara.
Mata Clara membelalak sempurna saat melihat benda tersebut.
Itu adalah flashdisk hitam milik Julian, flashdisk yang berisi seluruh draf skripsi dan dokumen penting pendaftaran beasiswa mereka, yang seharusnya selalu tergantung di kunci rumah Julian.
"Pria itu baru saja mengalami kecelakaan kecil di parkiran kampus sepuluh menit yang lalu,"
bisik Kenzo tepat di telinga Clara, suaranya sangat halus seperti dongeng pengantar tidur.
"Beruntung dia hanya patah tulang tangan untuk saat ini."