Reuni kelas yang seharusnya menjadi malam penuh tawa berubah menjadi titik balik kehidupan.
Di hadapan murid-muridnya, Mo Yuan mengungkapkan rahasia yang terdengar mustahil—ia berasal dari dunia kultivasi dan akan segera kembali ke sana. Tak seorang pun mempercayainya, hingga semuanya benar-benar terjadi.
Dalam sekejap, Qin Shang dan seluruh teman sekelasnya terlempar ke dunia yang dipenuhi para kultivator, iblis, dan berbagai bahaya yang belum pernah mereka bayangkan.
Di dunia tempat kekuatan menentukan segalanya, mereka harus memulai kehidupan baru dan menapaki jalan kultivasi dari titik nol. Namun, semakin jauh melangkah, semakin banyak rahasia yang tersembunyi di balik perpindahan mereka ke dunia ini.
Akankah Qin Shang mampu mengubah takdirnya, atau justru tenggelam di tengah kerasnya persaingan menuju keabadian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TEMOLLA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Qin Shang sangat gembira. Ia segera menyembulkan kepala serangga bertanduk yang bentuknya menyerupai semut itu melalui celah pada cangkang telur yang telah retak.
Begitu kepalanya berhasil keluar, Qin Shang langsung merasakan udara di sekitarnya begitu ringan dan jernih, seolah dipenuhi kekuatan ajaib. Baru sekali menarik napas, ia merasa jiwanya seakan melayang.
"Di mana ini? Udaranya benar-benar aneh!"
Qin Shang mengamati keadaan di sekelilingnya.
Sebenarnya, bahkan sebelum memecahkan cangkang telur, ia sudah sempat melihat samar-samar tempat ini. Di hadapannya terbentang hutan lebat.
Pepohonan kuno menjulang tinggi seakan menembus langit, sementara beragam burung dan binatang bebas berkeliaran di dalamnya.
Hanya saja, sebelumnya pemandangan itu belum terlihat sejelas sekarang. Ia juga belum pernah menghirup udara dengan aroma seistimewa ini.
Udara yang aneh ini sedikit mengingatkannya pada sensasi setelah meminum Sup Peningkat Darah.
Namun, perbedaannya bagaikan langit dan bumi. Energi dalam Sup Peningkat Darah terasa ganas dan menghentak, sedangkan energi yang memenuhi udara di sini begitu murni, tenang, dan mengalir tanpa henti.
"Aku harus menghirupnya lagi. Udara ini luar biasa!"
Qin Shang kembali menarik napas dalam-dalam beberapa kali.
Boom!
Tiba-tiba, ia merasakan tubuh serangganya mengalami perubahan.
Tubuh mungil itu seolah mencapai batas tertentu. Rasa sakit yang luar biasa menyapu seluruh tubuhnya, seakan ada seseorang yang sedang menguliti dirinya hidup-hidup.
"Sakit sekali! Celaka! Jangan-jangan udara ini beracun dan aku keracunan?"
Qin Shang hanya bisa meratap dalam hati. Ia benar-benar tak menyangka nasibnya bisa seburuk ini.
Saat itu, ia tak kuasa membayangkan, jika tubuh serangganya mati, apakah tubuh aslinya juga akan ikut menerima dampaknya?
Semakin dipikirkan, semakin besar kemungkinan itu memang terjadi.
Bisa saja, jika tubuh serangganya terbunuh, tubuh aslinya akan tertidur selamanya, atau bahkan langsung mati di dalam mimpi.
Ketika Qin Shang mulai diliputi keputusasaan, tiba-tiba muncul kekuatan baru dari dalam tubuhnya. Begitu kekuatan itu bangkit, lapisan kulit terluarnya mulai terlepas sedikit demi sedikit dari daging di bawahnya.
"Ini... jangan-jangan... aku sedang berevolusi dan berganti kulit?"
Qin Shang seolah menyadari sesuatu. Matanya langsung berbinar.
"Luar biasa! Tubuh seranggaku benar-benar sedang berevolusi!"
Namun, Qin Shang sama sekali tidak menyadari bahwa tubuh aslinya yang tengah terbaring di tepi lapangan latihan bela diri juga mengalami perubahan.
Seluruh tubuhnya memerah. Darah di dalam pembuluhnya mengalir dengan kecepatan yang mencengangkan, sementara keringat membasahi sekujur tubuhnya.
Sayangnya, semua orang saat itu tengah sibuk berlatih Jurus Kuda-Kuda Giok Yang sebagai upaya terakhir mereka. Tak seorang pun menyadari keanehan yang terjadi pada Qin Shang.
Di lapangan latihan, Lin Yan melirik waktu, lalu mengalihkan pandangannya kepada Lin Kai yang masih bertahan dalam posisi kuda-kuda.
'Aku akan menunggu setengah jam lagi. Kalau sampai saat itu dia masih belum berhasil, berarti memang nasib bocah ini tidak berpihak kepadanya.'
Di Gunung Tianyuan berlaku aturan yang sangat ketat.
Murid baru yang berhasil menyelesaikan Peningkatan Darah dalam waktu tiga puluh hari akan memperoleh perlakuan yang sama sekali berbeda dibandingkan mereka yang baru berhasil setelah melewati batas waktu tersebut.
Ibarat seseorang yang lolos ujian masuk perguruan tinggi dan diterima di universitas bergengsi. Memang, setelah menjadi mahasiswa masih ada kesempatan menempuh jalur pindahan atau mengikuti seleksi lain untuk masuk ke universitas yang lebih baik. Namun, status dan perlakuan yang diterima tentu tidak akan sama dengan mereka yang sejak awal berhasil lolos.
Sekitar dua puluh menit berlalu.
Seperti biasanya, pada jam seperti ini Lin Yan seharusnya sudah mengumumkan waktu istirahat. Namun hari itu, latihan sengaja diperpanjang.
Tepat saat itu, seorang wanita paruh baya berjubah hijau berjalan masuk dari gerbang desa di luar lapangan latihan.
"Instruktur Lin, hari ini adalah batas waktu satu bulan bagi banyak murid. Kenapa sampai sekarang kau belum datang kepadaku untuk melakukan serah terima?"
Bahkan sebelum tiba di hadapan Lin Yan, wanita itu sudah lebih dulu melontarkan pertanyaan.
Melihat kedatangannya, Lin Yan segera bangkit berdiri dan meminta maaf.
"Diaken Lan, lihatlah aku. Tanpa sadar aku sampai lupa waktu. Maafkan aku, sungguh maaf."
Setelah itu, Lin Yan segera berseru kepada seluruh murid di lapangan latihan.
"Berhenti semua! Ikuti aku ke Divisi Urusan Umum untuk pembagian tugas!"
Di antara murid Kelas 11, ada yang tampak kecewa, sementara yang lain justru mengembuskan napas lega.
Zu Rou langsung menangis tersedu-sedu sambil memeluk adiknya, Zu Yue.
Zhen De pun tampak murung.
Ia berhasil memperoleh jatah tambahan berkat kedekatannya dengan ketua kelas, Gu Yang. Awalnya ia yakin bisa menembus Alam Peningkatan Darah, tetapi pada akhirnya usahanya tetap kandas di saat-saat terakhir.
"Semua gara-gara Lu Chen dan Qin Shang, dua bajingan itu! Mereka menghabiskan dua mangkuk Sup Peningkat Darah!"
Zhen De menatap Lu Chen yang masih berlatih tanpa henti, lalu mengalihkan pandangannya kepada Qin Shang yang sedang terbaring beristirahat di kejauhan. Hatinya dipenuhi kebencian.
Tepat pada saat itu, dari sisi lain lapangan, Lin Kai tiba-tiba mengeluarkan pekikan panjang.
Semua orang spontan menoleh.
Mereka melihat seluruh tubuh Lin Kai memerah. Ternyata, ia juga telah berhasil memasuki Alam Peningkatan Darah.
"Apa?! Dia... dia juga berhasil mencapai Alam Peningkatan Darah?"
Zhen De benar-benar tak percaya.
Lin Kai bahkan tidak meminum satu mangkuk tambahan pun.
Sebaliknya, ia justru memberikan sebagian jatahnya kepada Zhen De.
Namun sekarang, malah Lin Kai yang berhasil menembus batas.
Zhen De begitu kesal hingga rasanya ingin memuntahkan darah.
Murid-murid lainnya pun tak kalah terkejut.
Melihat Lin Kai, Diaken Lan tersenyum tipis sambil melirik Lin Yan.
"Konon kelompok murid ini berasal dari kampung halaman Tuan Mo, sama sepertimu, Instruktur Lin. Sepertinya memang karena itulah kau begitu memerhatikan mereka."
Lin Yan hanya membalas dengan senyum canggung.
Diaken Lan terdiam sejenak sebelum bertanya dengan suara pelan,
"Aku dengar dulu Tuan Mo pernah membawa sekelompok orang naik ke puncak gunung untuk memeriksa Akar Spiritual mereka. Apakah mereka yang dimaksud?"
Lin Yan mengangguk.
"Benar."
"Benar-benar sekelompok orang yang beruntung. Kami yang sudah mengumpulkan poin kontribusi selama bertahun-tahun saja belum mampu mengumpulkan cukup banyak untuk memeriksa Akar Spiritual. Sementara mereka semua sudah mendapat kesempatan itu."
Nada suara Diaken Lan dipenuhi rasa iri.
"Sudahlah, cepat berangkat. Kalau terus membuang waktu, aku juga bisa ikut dihukum."
Diaken Lan kembali mendesak.
Seluruh murid Kelas 11 segera berkumpul.
Saat mereka mulai berbaris, Lu Chen melihat Qin Shang masih terbaring di tanah. Ia segera berlari menghampiri, lalu mengangkat Qin Shang ke pundaknya.
Begitu menyentuh tubuhnya, Lu Chen langsung menyadari ada yang tidak beres.
Seluruh tubuh Qin Shang basah oleh keringat, sementara suhu tubuhnya terasa sangat panas.
"Panas sekali! Ada apa dengan Qin Shang? Jangan-jangan dia demam tinggi?"
Lu Chen buru-buru mengecek napas Qin Shang di depan hidungnya.
Ternyata, napasnya sudah sangat lemah.
Lu Chen langsung terkejut. Ia segera berlari ke depan sambil berteriak,
"Kakak Senior Lin Yan! Cepat periksa Qin Shang! Keadaannya sudah sangat parah! Dia hampir mati!"
Mendengar teriakan itu, seluruh murid Kelas 11 langsung gempar.