Arga Pratama adalah suami yang selama ini dikenal dingin, pekerja keras, dan mencintai istrinya sepenuh hati. Demi memenuhi semua keinginan sang istri, Nabila, ia rela bekerja siang malam hingga menjadi pengusaha sukses.
Namun, di balik kesibukannya, Nabila justru menjalin hubungan terlarang dengan Reza, sahabat terbaik Arga sendiri.
Pengkhianatan itu terbongkar pada hari ulang tahun pernikahan mereka.
Alih-alih langsung menceraikan, Arga memilih diam.
Ia mulai menyusun pembalasan yang begitu rapi, membuat semua orang yang telah mengkhianatinya kehilangan kehormatan, harta, dan kepercayaan satu per satu.
Tetapi di tengah balas dendam itu, muncul seorang wanita sederhana bernama Aisyah yang perlahan mengubah hati Arga.
Akankah Arga tetap menjadi suami yang kejam, atau memilih memaafkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mabuok Hape, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan di Cermin Kamar Utama
Sinar matahari pagi menusuk masuk melalui sela-sela tirai gorden kamar utama, memantul tepat di cermin rias berukir emas milik Nabila.
Arga berdiri mematung di depan cermin itu, merapikan simpul dasinya. Di balik pantulan kaca tebal tersebut, ia melihat Nabila baru saja terbangun.
Rambut istrinya yang berantakan, bahunya yang terbuka, serta senyum tipis yang mengembang di bibirnya ketika menyadari keberadaan Arga—semuanya tampak begitu akrab, namun terasa begitu asing.
"Mas Arga... kok sudah rapi jam segini?" suara Nabila sengau, penuh sisa kantuk. Ia menyibak selimut dan berjalan mendekati Arga dari belakang. Lengannya merangkul pinggang Arga, menyandarkan dagunya di bahu tegap sang suami.
Melalui cermin, Arga menatap mata Nabila yang bersandar di bahunya. Di cermin itu, mereka tampak seperti pasangan ideal yang saling mencintai. Namun Arga tahu, bayangan di cermin hanyalah ilusi. Di cermin yang sama, beberapa hari lalu, Nabila berdiri bersama Reza ketika Arga sedang mempertaruhkan nyawa dan reputasinya di luar sana.
"Hari ini ada rapat pemegang saham, Nabila," jawab Arga halus. Tangannya mengusap jemari Nabila yang melingkar di perutnya. Mengusapnya perlahan, seolah penuh kasih sayang, padahal otaknya sedang menghitung berapa hari lagi jemari itu akan kehilangan seluruh perhiasan mewahnya.
Nabila mendongak, tersenyum manja. "Mas... semalam Reza telepon aku pas Mas lagi di ruang kerja."
Arga tidak terkejut, tapi alisnya sengaja diangkat sedikit, berpura-pura penasaran. "Oh ya? Ada apa? Kenapa tidak telepon ke ponsel Mas?"
"Katanya enggak enak mau ganggu Mas yang lagi sibuk," ujar Nabila tanpa rasa canggung sedikit pun. Logika kebohongannya mengalir begitu lancar dari bibirnya. "Dia cuma mau pastiin kalau kita suka sama hadiah ulang tahun pernikahan dari dia. Terus... dia juga bilang makasih banget karena Mas sudah cairkan dana 50 miliar itu. Dia janji bakal ajak kita liburan ke Bali pakai keuntungan pertamanya."
Arga menatap bayangan Nabila di cermin dengan intensitas yang membuat Nabila sempat mengerutkan dahi bingung.
"Bali?" Arga tersenyum tipis—sebuah senyuman yang terlihat hangat di mata Nabila, tetapi membeku di dalam pantulan kaca. "Tentu. Reza memang sahabat yang luar biasa perhatian. Dia selalu memikirkan cara untuk membahagiakan keluarga kita."
"Iya kan, Mas? Aku senang banget Mas punya sahabat setia seperti Reza," sahut Nabila polos, atau mungkin terlalu percaya diri bahwa sandiwaranya tak akan pernah tercium.
Arga membalikkan badannya, kini menghadap Nabila secara langsung. Ia memegang kedua bahu istrinya, menatap lurus ke dalam matanya. Di dalam benak Arga, ada pertarungan emosi yang dahsyat. Rasa perih akibat pengkhianatan itu masih ada, namun telah tertutupi oleh rasa dingin yang dominan. Ia memandang Nabila bukan lagi sebagai belahan jiwanya, melainkan sebagai aset berbahaya yang harus segera dinetralkan.
"Nabila," panggil Arga lembut, mengusap pipi istrinya dengan ibu jari. "Gelang pemberian Mas kemarin... kamu suka, kan?"
"Suka banget, Mas! Bagus banget!"
"Baguslah. Karena Mas ingin kamu menikmati semua yang ada di rumah ini, Nabila. Nikmati setiap detik kemewahan ini selagi kamu bisa."
Nabila tertawa kecil, sedikit bingung dengan kalimat terakhir Arga. "Kok 'selagi bisa', Mas? Mas Arga kan makin kaya, masa aku enggak bisa nikmatin lagi?"
"Maksud Mas... roda kehidupan kan berputar," bisik Arga tepat di telinga Nabila, memberikan kehangatan palsu yang membuat bulu kuduk Nabila agak meremang. "Kita tidak pernah tahu kapan kesenangan ini akan diambil kembali, bukan?"
Nabila menganggap ucapan itu hanya sebagai kerendahan hati Arga yang biasa. Ia tertawa pelan dan memeluk dada Arga. "Mas Arga suka aneh-aneh kalau bicara. Ya sudah, Mas sarapan dulu, ya? Aku siapkan kopi."
"Tidak usah," jawab Arga seraya melepaskan pelukan itu secara halus namun tegas. "Mas harus ke kantor sekarang. Ada berkas penting yang harus Mas serahkan ke tim audit."
Arga mengambil jasnya di atas tempat tidur, melangkah keluar dari kamar utama tanpa menoleh lagi. Nabila tetap berdiri di depan cermin, mengagumi gelang emas putih di pergelangan tangannya.
Ia tidak tahu, bahwa di balik bayangan cermin kamar utama yang megah itu, langkah kaki Arga yang menjauh adalah awal dari kehancuran dunia indah yang selama ini ia nikmati atas penderitaan suaminya.
laju dikit Thor biar gereget bacanya ini slowly Banggt