Lin Tian lahir dengan seluruh meridian tertutup rapat. Di mata dunia kultivasi, ia tak lebih dari sampah—mustahil menyerap qi, mustahil berdiri sejajar dengan siapa pun. Namun di balik tubuh "cacat" itu, tersimpan sebuah segel kuno yang justru menjadi alasan keluarganya dibantai hingga tak bersisa.
Ketika seorang pengembara tua bernama Mo Cang membuka segel tersebut, Lin Tian akhirnya mengenal qi untuk pertama kali. Sayang, kebahagiaannya hanya bertahan sebentar. Musuh lama sang guru datang, dan Mo Cang tewas di hadapannya.
Kehilangan keluarga. Kehilangan harga diri. Kini kehilangan satu-satunya orang yang menganggapnya anak.
Dari abu tragedi itu, bangkitlah seorang kultivator yang tak kenal ampun. Ia tidak membunuh demi kesenangan—tapi siapa pun yang menghalangi jalannya, tak akan pernah melihat matahari esok hari.
Istana Langit Hitam telah memilih mangsa yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 - Kota Naga Langit dan Topeng Porselin
Perjalanan menuju Ibu Kota Kekaisaran memakan waktu tujuh hari tujuh malam. Lin Tian tidak menggunakan kereta kuda atau hewan spiritual. Ia melintasi pegunungan dan hutan dengan kecepatan yang tidak masuk akal untuk seorang kultivator di ranah Pengumpulan Qi. Setiap langkahnya meninggalkan jejak samar di tanah, didorong oleh kekuatan fisik naga purba yang mengalir di nadinya.
Di hari kedelapan, garis langit akhirnya menampakkan siluet yang membuat hati siapa pun terpaku.
Kota Naga Langit. Jantung Kekaisaran.
Tembok kota setinggi seratus meter dibangun dari batu granit putih yang disepuh emas di bagian puncaknya, memantulkan cahaya matahari hingga menyilaukan mata. Gerbang utamanya berbentuk kepala naga raksasa yang menganga, dengan gigi-gigi besi setajam pedang yang siap menghancurkan siapa pun yang berani melanggar hukum kekaisaran.
Di atas tembok, ratusan meriam qi dan formasi pertahanan tingkat tinggi berkilau samar, siap memusnahkan bahkan kultivator ranah Inti Emas yang berani menyerang kota ini. Ini bukan sekadar kota; ini adalah benteng yang dibangun untuk menantang dewa.
Lin Tian berdiri di atas bukit berjarak satu mil dari gerbang, mengamati arus manusia yang masuk dan keluar. Berbeda dengan Kota Qilin Hitam yang penuh dengan pembunuh dan preman, orang-orang di sini berpakaian rapi dan berjalan dengan tertib. Para pedagang, bangsawan, dan kultivator dari berbagai sekte berbaur di bawah pengawasan ketat Pasukan Naga Besi—tentara elit kekaisaran yang mengenakan zirah perak bermotif sisik naga.
Namun, di balik kemegahan dan ketertiban itu, Lin Tian bisa mencium bau busuk yang sangat ia kenal. Bau kemunafikan.
Di pos pemeriksaan gerbang, ia melihat seorang pejabat kekaisaran dengan jubah sutra diam-diam menerima kantong batu roh dari seorang pedagang gelap, membiarkan kereta berisi barang selundupan masuk tanpa pemeriksaan. Di sudut lain, seorang gadis muda yang tampak seperti budak ditarik paksa ke dalam kereta mewah milik seorang bangsawan, sementara penjaga kota memalingkan wajah seolah tidak melihat apa-apa.
Hukum di sini tidak ditegakkan untuk keadilan, melainkan untuk melindungi mereka yang memiliki kuasa dan kekayaan.
Lin Tian menyadari bahwa ia tidak bisa masuk dengan wajah aslinya. Poster buronan dari Sekte Pedang Perak mungkin sudah tersebar ke pos-pos pemeriksaan utama, dan desas-desus tentang "Iblis Jubah Abu-abu" dari Kota Qilin Hitam pasti telah sampai ke telinga para intelijen kekaisaran.
Ia membuka cincin spasial milik Zhao Yan, mencari sesuatu yang berguna. Di dalam kotak kayu cendana yang tersembunyi di sudut terdalam, ia menemukan sebuah topeng tipis terbuat dari kulit ular iblis tingkat tinggi. Topeng ini bukan sekadar penutup wajah, melainkan artefak penyamaran yang bisa mengubah struktur tulang wajah dan memutarbalikkan aura spiritual pemakainya.
Lin Tian menempelkan topeng itu ke wajahnya. Kulit ular itu langsung menyatu dengan pori-porinya, terasa dingin dan hidup. Dengan mengendalikan qi-nya, ia mengubah struktur tulang pipinya menjadi lebih lembut, membulatkan rahangnya, dan menyamarkan aura hitam keemasannya menjadi aura pedang ortodoks yang umum dimiliki oleh murid sekte besar.
Saat ia bercermin di permukaan danau terdekat, sosok yang menatapnya bukanlah Lin Tian sang pembantai, melainkan seorang pemuda sarjana berusia dua puluhan dengan wajah biasa-biasa saja dan tatapan yang tenang. Identitas yang sempurna untuk berbaur di tengah lautan manusia di Ibu Kota.
Ia mengganti jubah abu-abunya dengan setelan pakaian biru tua milik seorang murid sekte kelana yang ia temukan di cincin Zhao Yan, lalu melangkah menuju Gerbang Naga.
"Identitas dan tujuan," ucap seorang kapten Pasukan Naga Besi dengan nada bosan, tidak repot-repot menatap Lin Tian.
"Li Fan, murid kelana dari Sekte Awan Biru di Provinsi Selatan," jawab Lin Tian dengan suara yang ia ubah menjadi lebih halus dan sopan. "Saya datang untuk mengikuti Turnamen Pedang Kekaisaran bulan depan dan mencari peluang untuk mengabdi pada sekte besar di Ibu Kota."
Kapten itu akhirnya mendongak, menatap Lin Tian sekilas. Aura Pengumpulan Qi tingkat delapan yang dipancarkan Lin Tian (yang sengaja ia turunkan dari tingkat sembilan puncak) cukup bagus untuk seorang pemuda, namun tidak cukup mencolok untuk memicu kecurigaan.
"Sekte Awan Biru? Sekte kecil yang tidak pernah kudengar," gumam kapten itu sambil mencoret sesuatu di buku catatannya. "Biaya masuk sepuluh batu roh tingkat rendah. Jangan buat onar di dalam kota, atau Pasukan Naga Besi akan memenggal kepalamu tanpa pengadilan."
Lin Tian menyerahkan batu roh dan melangkah masuk ke dalam gerbang naga yang menganga.
Begitu kakinya menginjak jalanan batu bata di dalam kota, hiruk-pikuk Ibu Kota langsung menelannya. Jalanan lebar dipenuhi oleh kereta kuda mewah, pedagang yang menawarkan pil dan artefak, serta para kultivator yang terbang rendah menggunakan pedang terbang di atas atap-atap gedung.
Namun, perhatian Lin Tian tidak tertuju pada kemewahan itu. Indra spiritualnya menyapu kota, mencari aura darah yang samar namun familiar. Aura yang sama dengan yang ia rasakan dari Zhao Yan dan Sumur Darah Yin.
Ia berjalan tanpa arah yang jelas, membiarkan kakinya membawanya ke distrik yang lebih tua dan sepi, jauh dari pusat perdagangan yang ramai. Di sini, gedung-gedung kayu bergaya kuno berdiri berdekatan, dan udara dipenuhi oleh wangi dupa yang berat.
Di ujung jalan, berdiri sebuah bangunan megah dengan atap berlapis genteng merah dan pilar-pilar naga emas. Di depannya terdapat sebuah plang kayu besar bertuliskan: Kedai Teh Naga Bersembunyi.
Berdasarkan buku catatan Zhao Yan, tempat ini adalah salah satu titik kontak terselubung Istana Langit Hitam di Ibu Kota. Kedai teh ini di permukaan melayani para bangsawan dan sarjana, namun di ruang bawah tanahnya, informasi dan darah diperdagangkan.
Lin Tian mendorong pintu kedai dan melangkah masuk. Suara erhu yang melankolis dan wangi teh melati langsung menyambutnya. Para pelayan bergerak lincah melayani tamu, sementara di sudut-sudut ruangan, para pejabat dan kultivator berbisik-bisik dengan wajah serius.
Seorang pelayan muda mendekat, membungkuk sopan. "Tuan ingin memesan apa? Kami memiliki teh Oolong Kaisar yang baru datang dari selatan."
Lin Tian menatap pelayan itu, lalu mengeluarkan sebuah koin tembaga hitam dari sakunya—koin yang ia temukan di dalam cincin Zhao Yan bersama dengan buku catatan. Koin itu memiliki ukiran gerhana di satu sisi dan tengkorak di sisi lainnya.
Mata pelayan itu menyipit, senyum ramahnya lenyap seketika, digantikan oleh tatapan tajam yang penuh perhitungan. "Tuan mencari teh jenis apa?"
"Teh yang berwarna merah," jawab Lin Tian pelan, menggunakan kode yang tertulis di buku catatan. "Dan aku ingin bertemu dengan pengurus gudang bawah tanah."
Pelayan itu mengangguk kaku, lalu memberi isyarat pada Lin Tian untuk mengikutinya ke lorong belakang kedai, menuju pintu kayu yang dijaga oleh dua pria bertubuh kekar yang memancarkan aura Pondasi Awal.
Lin Tian tersenyum tipis di balik topeng porselennya. Ia akhirnya berada di sarang musuh. Dan kali ini, ia tidak akan berhenti membunuh sampai akar Istana Langit Hitam dicabut dari bumi ini.