NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali Sebagai Istri CEO Yang Terlupakan

Terlahir Kembali Sebagai Istri CEO Yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mengubah Takdir
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: RAYAS

Bagaimana bisa seorang agen rahasia berdarah dingin yang ditakuti dunia mafia mati mengenaskan di rumahnya sendiri... hanya karena tersedak air putih?

Takdir bercanda saat jiwanya terlempar ke tubuh seorang gadis kaya yang terkenal pendiam, lambat, dan selalu ditindas. Lebih parah lagi, gadis itu terikat pernikahan dingin dengan seorang CEO kejam yang diam-diam memimpin sindikat mafia paling berpengaruh.seorang CEO kejam yang diam-diam memimpin sindikat mafia paling berpeSang CEO berdarah dingin dibuat pusing setengah mati melihat istrinya yang dulu pemalu kini berubah menjadi wanita impulsif yang dengan santainya melumpuhkan puluhan penjahat, walau uniknya masih sering tersandung kaki sendiri saat berjalan.

Di tengah kecamuk perang antar-mafia, intrik bisnis triliunan rupiah, dan tingkah konyol yang tak terduga, mampukah sang Raja Mafia menundukkan jiwa liar di tubuh istrinya, atau justru dialah yang akan berlutut di hadapan sang istri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26

Cahaya matahari pagi menyusup masuk melalui celah gorden kamar utama Mansion Vane. Suasana yang biasanya tegang dan dipenuhi suara sirine kini berganti menjadi ketenangan yang luar biasa. Tidak ada lagi ancaman dari Lukas, Julian, Elena, atau siapa pun yang mencoba merusak hidup mereka.

Aura terbangun lebih dulu. Ia menggeliat pelan, menikmati sensasi kasur empuk yang sudah lama tidak ia nikmati tanpa rasa waswas. Di sampingnya, Adrian masih tertidur pulas. Wajah pria yang biasanya selalu tampak dingin dan menakutkan itu kini terlihat sangat tenang, hampir seperti orang yang tidak pernah memegang senjata seumur hidupnya.

Aura tersenyum tipis. Ia menatap wajah suaminya itu beberapa saat sebelum akhirnya memutuskan untuk bangun. Kali ini, ia berjalan sangat hati-hati, mematikan naluri tempurnya yang biasanya selalu tegang, dan berniat membuat kopi hangat untuk mereka berdua.

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Baru saja Aura selesai menyeduh dua cangkir kopi di dapur bawah, Adrian sudah turun dengan setelan kemeja santai. Langkah kakinya yang tenang langsung menuju ke arah Aura.

"Kamu bangun cepat sekali, Istriku," kata Adrian sambil melingkarkan tangannya di pinggang Aura dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu wanita itu.

"Aku cuma mau menikmati pagi tanpa ada kabar serangan musuh," jawab Aura santai sambil menyerahkan satu cangkir kopi hitam ke tangan Adrian. "Dan tampaknya hari ini memang benar-benar sepi."

"Jangan terlalu senang dulu," gurau Adrian, mengusap pelan kepala Aura. "Dunia bisnis tidak pernah benar-benar sepi. Tapi setidaknya, sekarang tidak ada lagi yang berani macam-macam denganmu."

Mereka berdua menikmati kopi di balkon yang menghadap langsung ke taman belakang mansion. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, pembicaraan mereka bukan tentang rencana penyerangan, saham yang anjlok, atau strategi menjatuhkan lawan. Mereka hanya berbincang tentang hal-hal kecil—tentang rasa kopi yang agak kepahitan, tentang rencana liburan pendek yang sempat tertunda, dan tentang bagaimana indahnya pemandangan pagi itu.

Sekitar pukul sembilan pagi, mereka tiba di kantor pusat Vane Group. Suasana di lobi utama sangat berbeda dari biasanya. Jika sebelumnya para karyawan menatap Aura dengan pandangan ragu atau sekadar hormat karena statusnya sebagai istri CEO, kini tatapan mereka dipenuhi rasa kagum dan hormat yang tulus.

Berita tentang keberhasilan Aura merapikan kekacauan di Pelabuhan Barat dan membongkar kecurangan internal cabang Eropa sudah tersebar luas di kalangan staf tingkat atas. Aura bukan lagi sekadar 'Nyonya Vane', tapi sudah menjadi sosok pemimpin yang disegani di perusahaan itu.

Begitu pintu lift pribadi terbuka di lantai teratas, sekretaris utama Adrian langsung menyambut mereka dengan tumpukan berkas di tangan.

"Selamat pagi Tuan Vane, Nyonya Aura," sapa sekretaris itu dengan sopan. "Ada beberapa dokumen penting yang butuh tanda tangan Anda berdua. Selain itu..." sekretaris itu agak ragu sejenak, "...ada tamu yang menunggu di ruang rapat VIP sejak setengah jam yang lalu."

Adrian menyipitkan matanya. "Tamu? Siapa yang berani membuat janji tanpa persetujuan sekretaris utama?"

"Beliau bukan musuh, Tuan," jawab sekretaris cepat-cepat karena takut melihat raut wajah bosnya yang mulai dingin. "Beliau adalah Pak Haryo, mantan direktur operasional yang dulu dipaksa pensiun oleh kubu Lukas. Beliau datang membawa laporan penting terkait aset-aset Vane Group yang selama ini tersembunyi."

Aura melirik Adrian. "Pak Haryo? Orang tua yang dulu diposisikan sebagai kambing hitam dalam kasus audit lima tahun lalu?"

"Ya," jawab Adrian. "Dia salah satu orang kepercayaan ayahku sebelum kubu Eropa mulai ikut campur."

Aura mengangguk paham. "Kalau begitu, ayo kita temui dia. Aku penasaran dengan apa yang dibawanya."

Di dalam ruang rapat VIP, seorang pria paruh baya berambut ubanan sedang duduk tegap. Begitu melihat Adrian dan Aura masuk, pria tua itu langsung berdiri dan membungkuk dalam-dalam dengan rasa hormat yang amat sangat.

"Tuan Muda Adrian... Nona Aura... Akhirnya saya bisa bertemu dengan Anda berdua secara langsung," ujar Pak Haryo dengan suara yang agak bergetar karena haru.

"Duduklah, Pak Haryo," kata Adrian lembut sambil mengisyaratkan pria tua itu untuk kembali duduk. Adrian dan Aura mengambil tempat duduk di seberang meja.

Pak Haryo mengusap matanya sebentar sebelum membuka sebuah map kulit berwarna cokelat tua yang sudah agak kusam. Ia menggeser map itu ke tengah meja, tepat ke arah Aura dan Adrian.

"Selama bertahun-tahun saya bersembunyi dari kejaran orang-orang Lukas," terang Pak Haryo dengan tenang dan jelas. "Saya menyimpan satu berkas rahasia yang sengaja dititipkan oleh almarhum ayah Anda, Tuan Adrian. Berkas ini berisi hak kepemilikan atas Konsorsium Logistik Nusantara—sebuah jaringan jalur perdagangan darat dan laut yang mencakup hampir seluruh wilayah selatan."

Aura membuka map tersebut dan membaca dokumen di dalamnya secara teliti. Matanya membaca deretan angka, pasal hukum, dan daftar aset dengan sangat cepat. Bicaranya yang cepat langsung keluar begitu ia paham isi dokumen itu.

"Ini luar biasa," kata Aura secepat biasanya, matanya berbinar. "Lukas dan grup Eropa selama ini cuma fokus merebut Pelabuhan Barat karena mereka pikir itu pusatnya. Padahal jalur utamanya ada di Konsorsium Nusantara ini! Ini ibaratnya mereka sibuk berebut kunci pintu rumah, padahal kita yang memegang seluruh kunci gerbang utamanya!"

Pak Haryo tersenyum bangga mendengar penjelasan Aura yang begitu tajam dan cepat dipahami. "Nyonya Aura benar-benar persis seperti yang diceritakan di berita. Analisis Anda sangat cepat dan tepat."

Adrian menatap Aura dengan bangga, lalu beralih menatap Pak Haryo. "Kenapa Pak Haryo baru menyerahkan dokumen ini sekarang?"

"Karena dulu saya tidak yakin Anda cukup kuat untuk melawan kubu Eropa sendirian, Tuan Muda," jawab Pak Haryo jujur. "Tapi setelah melihat bagaimana Anda dan Nyonya Aura bekerja sama menumbangkan Lukas dan menguasai kembali Pelabuhan Barat tanpa celah... saya tahu dokumen ini sudah berada di tangan pemilik yang tepat."

Adrian mengambil dokumen itu, lalu menyerahkan pena khusus kepada Aura. "Tanda tangani di bagian pengawas utama, Aura. Mulai hari ini, kamu yang memegang kendali penuh atas konsorsium ini."

Aura sempat tertegun. Ia menatap Adrian dengan heran. "Kamu serius menyerahkan seluruh jalur logistik selatan ini padaku? Ini bernilai triliunan, Adrian."

"Aku sangat serius," jawab Adrian mantap tanpa ragu sedikit pun. "Seperti yang kubilang kemarin, kamu adalah mitramu yang sejajar. Lagipula, tidak ada orang lain di perusahaan ini yang bicaranya dan pikirannya secepat kamu dalam mengurus aset sebesar ini."

Aura tertawa kecil. Rasa gengsinya perlahan luluh oleh rasa percaya yang begitu besar dari suaminya. Tanpa ragu lagi, ia menggoreskan tanda tangannya dengan sangat rapi di atas kertas dokumen tersebut.

"Baiklah, Tuan CEO," ujar Aura sambil menutup map itu dengan mantap. "Aset ini aman di tanganku. Kita lihat saja berapa banyak keuntungan yang bisa kuberikan untuk Vane Group dalam waktu tiga bulan ke depan."

Pak Haryo tersenyum lega. Ketenangan di wajah pria tua itu memperlihatkan bahwa masa-masa penuh ketakutan akibat ancaman musuh akhirnya benar-benar telah usai.

Malam harinya, setelah menyelesaikan seluruh urusan berkas di kantor, Adrian dan Aura memutuskan untuk tidak langsung pulang ke mansion. Mereka berjalan-jalan santai di area taman atap gedung Vane Group yang menyajikan pemandangan indah seluruh lampu-lampu kota dari ketinggian.

Angin malam bertiup sepoi-sepoi, membawa kesegaran di tengah tenang malam. Aura menyandarkan kedua tangannya di pagar pembatas kaca, menatap pemandangan kota yang membendung di bawah sana.

Adrian melangkah mendekat, berdiri tepat di samping Aura lalu merangkul bahu istrinya dengan hangat.

"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Adrian lembut.

"Aku cuma berfikir..." kata Aura pelan, suaranya terdengar sangat tenang, "...dulu aku pikir hidupku cuma bakal diisi dengan pertarungan, tugas-tugas taktis, dan kepura-puraan. Tapi sekarang, berjalan di sampingmu, membangun bisnis ini bareng kamu... rasanya sangat berbeda."

Adrian menatap wajah samping Aura yang terkena pantulan cahaya lampu kota. Ia tersenyum hangat, lalu memutar tubuh Aura agar menghadapnya.

"Hidup kita memang penuh dengan pertarungan, Aura," kata Adrian sambil memegang kedua tangan istrinya erat-erat. "Tapi mulai sekarang, kita tidak perlu bertarung sendirian lagi. Apapun masalah yang datang di masa depan, kita bakal selesaikan bersama."

Aura menatap mata gelap Adrian yang jujur dan penuh kasih sayang. Senyum manis terukir di wajahnya. Kali ini tidak ada lagi bantahan cepat, tidak ada lagi kata-kata gengsi, dan tidak ada lagi kecerobohan konyol. Aura berdiri dengan tenang, menikmati momen indah itu sepenuhnya.

"Iya, Adrian," balas Aura lembut. "Bersamamu... aku siap menghadapi apapun."

Adrian menunduk dan mencium bibir Aura dengan penuh kehangatan di bawah langit malam kota yang indah. Sebuah penanda bahwa masa lalu yang penuh ancaman telah berganti menjadi masa depan yang cerah dan penuh keyakinan untuk mereka berdua.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

TBC ❤️🥰😘

1
Osie
eh cuma 1 baby ya..kirain twins/Smile/
Osie
kalau udah sesu ngidam..dahlah pasti lebay banget atau emang org ngidam ada yg gitu..jujur aja aku dl pas hamil gak ada sesi ngidamnya🤣🤣lempeng aja sp lahiran
Osie
twins twins ya ya thoorr
Osie
🤣🤣🤣🤣🤣bener" dah aura...eh lucas ente salah cari lawan🤣🤣🤣🤣
Osie
kapan seriusnya sih..sifat ceroboh aura itu lho bikin hilang fokus🤭🤭
Miu Miu 🍄🐰
next thor semangat trs up nya y
Anita Rahayu
banyak thor upnya seru ceritamu 👍👍👍👍👍👌👌👌👌👌👌👌👌👌👌👌
Miu Miu 🍄🐰
bagus ceritanya seru
Miu Miu 🍄🐰
so sweet 😍
Osie
dah lah aura walaupun sang ceo ingin tau siapa kamu tetap jgn bilang kalau kamu jiwa dari sosok vanya sang agen rahasia yg top...
Osie
laaahh cepat lii ketauannya..gak asyik ach🤭
Osie
ya ampun thooorrr bisa gak ya sifat ceroboh aura dihilangkan 🤣🤣🤣🤣🤣dah serius baca eh ujungnya ngakak
Rina Yuli: ohhh jangan donk itu emang humor nya🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Osie
aura dilawan..jiwa agen elit lho dlm raga nya...ya mana lawaaaann
Osie
iyuuhh roman romannya cikal bakal bucin n penisirin mulai melanda sang ceo nih🤣🤣moga aura bisa lepas dr vane. jgn cepat luluh
Osie
aku mampir..aku suka cerita transmigrasi dgn sosok MC nya wanita tangguh n gak menye menye..dan moga ini cerita sp end🙏🙏🙏
Miu Miu 🍄🐰
aku suka up Sampai ending y thor 😍
partini
lanjut Thor 👍
partini
Nemu cerita gini wanita Badas 👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!