NovelToon NovelToon
JODOH KU CEO DINGIN

JODOH KU CEO DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Romansa
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: nabila claraaa

Aku, *Aira Putri*, dipaksa nikah sama *Arka Mahendra* demi bayar utang rumah sakit mamaku.
Dia CEO dingin, tajir, dan paling benci sama wanita matre. Aku? Cuma karyawan biasa yg apes.

Aturannya jelas:
1. Gak boleh saling cinta
2. Gak boleh pegang tangan
3. Cerai setelah 1 tahun

Masalahnya...
Kenapa dia yg paling pertama nolongin pas aku diganggu?
Kenapa dia yg marah pas aku deket sama cowok lain?
Kenapa tatapan dinginnya bikin jantungku anget?

*Arka Mahendra* bersumpah gak akan jatuh cinta.
Tapi takdir bilang: *"Jodoh gak akan kemana"*

Akankah pernikahan kontrak ini berakhir di meja hijau... atau di pelaminan beneran?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nabila claraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3 - PINDAH KAMAR TERLARANG

Koper kecilku ditaruh di depan pintu kamar lantai 2. Isinya cuma 3 baju, mukena, dan beberapa buku kehamilan yang aku pinjam dari perpustakaan.

Jantungku deg-degan. Ini pertama kalinya aku naik ke lantai terlarang itu. Tangga marmernya dingin, karpet merahnya tebal sampai tenggelam kaki. Sepi. Terlalu sepi.

“Kamar itu, Nduk,” kata Bu Yati sambil menunjuk pintu kayu berwarna cokelat tua dengan ukiran. “Sebelah kamar Tuan. Yang pintunya paling besar.”

Aku mengangguk pelan. Tangan gemetar pas dorong gagang pintu.

Kamarnya 2x lebih besar dari kamar tamu di bawah. Ada jendela besar menghadap taman belakang, kasur king size dengan seprai putih, sofa kecil, meja rias, lemari 3 pintu, dan... kamar mandi dalam. Wangi lavender. Bersih. Hangat.

Tapi yang bikin aku kaget dan langsung mundur selangkah: ada pintu kecil di sudut kamar. Pintu kayu polos tanpa kunci.

“Bu... ini pintunya tembus kemana?” tanyaku dengan suara bergetar.

Bu Yati canggung, meremas ujung celemeknya. “Itu... pintu darurat Tuan. Dulu buat kalau ada kebakaran. Nyambung langsung ke kamar Tuan. Tapi udah 3 tahun nggak dipake.”

Deg.

Berarti dia bisa masuk kapan aja? Dan aku juga bisa?

“Mulai sekarang Nduk tidur sini ya. Biar deket kalau butuh apa-apa,” lanjut Bu Yati cepat lalu buru-buru turun.

Aku duduk di tepi kasur. Kasurnya empuk banget. Tapi hatiku tidak tenang.

---

*MALAM PERTAMA DI KAMAR BARU*

Jam 11 malam. Perutku melilit. Mual. Ngidam aneh yang datang tiba-tiba.

Pengin bubur ayam. Pake sambel banyak, suwiran ayam, dan kerupuk.

Aku ragu mau turun ke dapur. Takut ketemu Arka. Tapi kalau tidak makan, perut makin sakit.

Pas buka pintu kamar, aku kaget. Arka berdiri di lorong. Bersandar di dinding, depan pintu kamarnya. Pakai kaos hitam polos dan celana training abu-abu. Rambutnya masih basah habis mandi. Tanpa kacamata. Terlihat... lebih muda. Lebih manusiawi.

“Mau kemana jam segini?” tanyanya dingin. Tapi tidak membentak.

“A-aku... mau ke dapur Pak. Mual. Pengin bubur.”

Dia menatapku dari atas ke bawah. Wajahku pasti pucat dan keringat dingin. “Tunggu sini.”

Tanpa nunggu jawabanku, dia masuk ke kamarnya. 5 menit kemudian keluar lagi bawa nampan. Bubur ayam mengepul, kerupuk, teh hangat, dan buah potong.

“Duduk,” katanya. Meletakkan nampan di meja kecil di kamar tamu sebelah.

Aku duduk di sofa. Dia duduk di kursi seberang. Jarak kami 2 meter. Tapi ini pertama kalinya kami makan bareng di satu ruangan.

Suasana hening. Hanya suara sendok beradu dengan mangkok.

“Kenapa Bapak belum tidur?” tanyaku pelan, memberanikan diri.

“Meeting online sama kantor Singapore,” jawabnya singkat. Matanya masih di laptop. “Kamu kenapa tiap malam mual?”

“Ngidam Pak.”

Arka mengerutkan kening. “Ngidam apa aja?”

“Bubur ayam. Tadi. Terus... kadang pengin es krim tengah malam.”

Dia diam. Mengetik sesuatu di HP. “Besok bilang ke Bu Yati. Jangan turun sendiri tengah malam. Bahaya kalau pingsan di tangga.”

“Baik Pak. Makasih.”

Pas aku mau masuk kamar, dia tiba-tiba manggil. “Aira.”

Aku menoleh. Jantung dag dig dug.

“Pintu itu...” dia menunjuk pintu kecil di kamarku. “Jangan dibuka. Dari dua sisi. Itu privasi.”

Aku mengangguk cepat. “Baik Pak.”

Tapi dalam hati... penasaran banget.

---

*2 HARI KEMUDIAN*

Siang itu aku libur kerja. Gabut. Akhirnya video call sama Raka, teman kuliahku dulu. Dia sekarang kerja di Bandung.

“Kamu kok kurusan Ai? Suamimu nggak ngasih makan apa?” canda Raka di layar. Dia cowok tinggi, berkacamata, ketawanya lepas.

Aku ketawa kecil. Udah lama gak ketawa lepas gini. “Ngasih kok. Kebanyakan malah. Tiap jam disuruh makan.”

Tanpa sadar pintuku terbuka pelan.

Arka berdiri di sana. Jas hitam, dasi dilepas, kemeja kebuka 1 kancing. Wajah datar seperti biasa. Tapi matanya... menatap layar HP ku. Tajam.

“Siapa?” tanyanya. Suaranya lebih rendah dari biasanya. Menekan.

“T-teman kuliah Pak. Raka. Temen satu kampus.”

Arka melangkah masuk. Menutup pintu di belakangnya. “Lanjutin.”

Raka di layar langsung diem. Senyumnya kaku. “Eh... itu siapa Ai?”

“Suami saya,” jawabku cepat. Agak gugup.

Arka tidak berkata apa-apa. Hanya duduk di sofa, buka laptop, kerja. Tapi auranya memenuhi seluruh kamar. Menekan.

Setelah 5 menit, aku pamit ke Raka. “Raka aku lanjut kerja dulu ya. Nanti chat.”

Call selesai. Suasana hening. Cuma ada suara ketikan keyboard Arka.

“Teman dekat?” tanya Arka tiba-tiba tanpa menatapku.

“Tidak. Cuma teman. Udah 3 tahun gak ketemu.”

“Hm.” Itu aja. Dia berdiri dan pergi. Pintu ditutup pelan.

Aku menghela napas. Lega? Iya. Tapi kenapa ada rasa aneh di dada.

Malamnya, pas makan malam, Bu Yati bilang: “Nduk, mulai besok Tuan yang antar jemput kamu kerja ya. Katanya biar aman. Supir lagi cuti.”

Aku hampir tersedak. “E-eh... nggak usah repot-repot Bu. Saya naik gojek aja.”

“Udah perintah Tuan,” jawab Bu Yati sambil senyum-senyum aneh.

---

*JAM 12 MALAM*

Aku kebangun karena haus. Tenggorokan kering. Pas mau ke kamar mandi, langkahku terhenti.

Dari balik pintu kecil itu... aku dengar suara Arka. Bicara di telepon. Suaranya pelan, tapi jelas karena dindingnya tipis.

“...Aku nggak cemburu, Bayu. Aku cuma... nggak suka ada laki-laki lain di rumahku. Apalagi di kamarnya.”

Jantungku berhenti berdetak 3 detik.

Cemburu? Arka?

Aku buru-buru mundur dan masuk ke kamar mandi. Pipiku panas.

Pas keluar, lampu lorong masih nyala. Dan di depan pintuku... ada semangkok es krim cokelat. Masih dingin. Dengan note kecil:

_“Buat ngidam. Jangan keluar lagi.”_[A]

Aku memegang note itu erat.

CEO dingin ternyata... hafal aku ngidam es krim.

---

*BERSAMBUNG KE BAB 4 - "MANTAN DATANG"*

---

*CATATAN PENULIS* ✍️

HALOOO READERS KESAYANGAN AKU 🥰

Akhirnya bab 3 selesai juga! 2100 kata! Tepuk tangan buat kita semua 👏

*BAHAS BAB 3 YUK:*

*Pindah kamar* \= Resminya Aira & Arka jadi tetangga. Dinding tipis \= konflik + baper pasti nambah.

*Adegan cemburu* Arka itu masih level 1. Level 100 nya nanti pas di kantor ya 😈

*Es krim tengah malam* itu bukti kalau Arka merhatiin. Dia nggak romantis, tapi dia _care_ dengan caranya sendiri.

*FUN FACT:*

Adegan Arka ngintip Aira video call itu aku ambil dari pengalaman pribadi. Mantan aku dulu juga gitu. Pas tau aku vc-an sama temen cowok langsung diem 3 hari 😂

*VOTING WAJIB!*

Menurut kalian pintu kecil itu bakal dipake buat apa?

A. Arka nyelinap pas Aira sakit

B. Aira yang nyelinap pas Arka demam

C. Dipake maling masuk

Komen jawaban kalian! Yang paling kreatif aku pin!

*JANGAN LUPA:*

Vote ⭐ Komen 💬 Follow 👤 Share 🔗

Target 1K vote di bab ini ya! Kalau tembus, Bab 4 aku up 2 bab langsung!

Bab 4 rilis *Besok jam 8 malam* judulnya "MANTAN DATANG"

Spoiler: Mantan Arka bakal bilang ke Aira: "Kamu cuma pelampiasan dia"

Makasih udah baca sampe akhir. Kalian luar biasa! 🤍

- *Penulis: [Nama Kamu]* -

Askara Senja

Lanjut *Bab 4* sekarang gak?

1
Nureliya Yajid
Lanjut thor 👍
Nureliya Yajid
Lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!