Di tengah gemerlap kehidupan SMA favorit di kota, dua dunia yang bertolak belakang terpaksa bersinggungan karena sebuah keterlambatan di pagi yang terik.
Alya Saraswati adalah representasi dari perjuangan dan ketenangan. Parasnya yang cantik alami berpadu dengan sifatnya yang pendiam, dingin, dan sangat cerdas. Bagi Alya, SMA bukanlah tempat untuk memadukan tren atau mencari popularitas, melainkan medan pertempuran untuk mengubah takdir ekonomi keluarganya. Berada di kelas sosial bawah, tujuan hidupnya sangat tegas: belajar sekuat tenaga, lulus dengan nilai sempurna, lalu bekerja demi membawa keluarganya keluar dari garis kemiskinan.
Keseharian Alya yang tenang disemarakkan oleh dua sahabat karibnya Adel dan jesica dua gadis dari keluarga kelas menengah yang berisik, hiperaktif, ekstrovert, dan tidak bisa diam sebentar pun. Meski kontras, kedua sahabatnya inilah yang selalu menjadi pelindung dan hiburan di tengah beban hidup Alya.
Di sisi lain garis takdir, ada Devan Narendra. Tampan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jihan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Devan masih terpaku di posisinya. Pandangannya terpaku pada sosok Alya yang makin menjauh menyusuri lorong kantin, hingga gaun seragam dan helai rambut hitam gadis itu menghilang di balik kerumunan murid. Ada tatapan tak biasa yang berpijar di mata Devan sebuah binar penuh rasa ingin tahu yang belum pernah terpancar dari sepasang matanya selama ini.
"Woi! Bos! Melamun aja lo!"
Tepukan keras Raka di bahu kanan Devan memecah lamunannya seketika. Bima dan Reno ikut maju, melingkari Devan dengan cengiran jahil yang mengembang lebar di wajah mereka.
"Yuk ah, ke kantin! Cacing di perut gue udah pada demo ini!" seru Bima seraya menunjuk perutnya sendiri. Namun, alih-alih melangkah, ia malah memicingkan mata, menatap Devan dari ujung rambut sampai ujung sepatu. "Tapi tunggu dulu... kok mata lo kagak kedip-kedip dari tadi, Dev? Ngeliatin apaan lo? Pintu kantin apa... cewek pintar yang baru lewat?"
Reno langsung menyenggol lengan Raka sambil tertawa renyah. "Gak salah lagi! Fix, kiamat makin dekat, Bros! Seorang Devan Narendra es batu bernyawa yang kagak pernah ngelirik cewek bisa-bisanya berdiri kayak patung cuma gara-gara ngeliatin Alya jalan!"
"Sumpah, Dev, muka lo tadi ajaib banget!" Raka menimpal heboh, memperagakan ekspresi Devan dengan gaya yang sangat dilebih-lebihkan. "Gue kenal lo dari zaman SMP, kagak pernah sekalipun gue liat lo bela cewek sampai bikin Clara nangis bombay kayak gitu. Biasanya mah lo cuek bebek, mau cewek berantem sampai cakar-cakaran juga lo lewati!"
Ejekan bertubi-tubi dari ketiga sahabatnya itu membuat suasana di koridor kian riuh. Bagi gengnya, reaksi Devan terhadap Alya adalah sebuah fenomena langka yang berpotensi menjadi sejarah baru di SMA Nusa Bangsa.
Bagaimana tidak? Devan Narendra adalah definisi sempurna dari paket komplit seorang remaja laki-laki. Parasnya yang tampan dengan rahang tegas, postur tubuh tinggi atletis, serta statusnya sebagai putra tunggal konglomerat pemilik Narendra Corp, membuatnya berada di puncak hierarki popularitas. Ribuan cewek di sekolah bahkan dari sekolah lain bersedia melakukan apa saja hanya demi mendapatkan seulas senyum dari Devan.
Namun, di balik citra *bad boy* dan garis wajahnya yang terkesan dingin, Devan memiliki prinsip yang sangat kokoh. Ia bukan tipe laki-laki yang memanfaatkan ketampanan atau kekayaannya untuk bermain-main dengan perasaan wanita. Devan belum pernah berpacaran sama sekali. Baginya, komitmen bukan mainan, dan ia selalu merasa bahwa gadis-gadis yang mendekatinya selama ini hanya mengincar nama besar keluarganya atau sekadar gengsi semata. Fenomena cewek-cewek yang mendadak salah tingkah atau mendadak manis saat berada di dekatnya justru membuat Devan merasa muak.
Itulah mengapa, tingkah Devan hari ini yang terang-terangan memasang badan untuk Alya seorang gadis yang bahkan tidak pernah meliriknya membuat Raka, Bima, dan Reno keheranan setengah mati.
"Jangan-jangan..." Bima mengetuk-ngetuk dagunya, memasang raut muka bak detektif kenamaan. "Bos kita yang satu ini udah mulai jatuh hati? Wah, gawat! Mitos kalau Devan Narendra gak punya hati akhirnya terpatahkan oleh anak IPA satu!"
"Gila sih, kalau sampai beneran," Reno menggeleng-gelengkan kepala dengan raut tak percaya. "Seorang Devan yang ditolak ratusan cewek modelan Clara, malah nyangkut sama Alya si cewek cuek yang bajunya udah pudar? Tapi jujur ya, Alya emang cantik banget sih walau polos gitu. Beda aura aja."
"Gua juga kagak nyangka," tambah Raka sambil merangkul leher Devan gemas. "Gimana rasanya, Dev? Rasanya ada manis-manisnya gitu gak pas dibela tapi malah dikacangin? Kasihan banget temen gue, udah sok pahlawan tapi cuma dibalas 'Terima kasih' dengan nada dingin bak es sarang burung, haha!"
Devan mendengus pelan. Ia menepis tangan Raka dari bahunya dengan gerakan santai, lalu mendelik tajam ke arah ketiga sahabatnya yang masih tertawa terpingkal-pingkal.
"Bacot lo semua," cetus Devan singkat, suaranya berat dan tenang, berusaha menutupi sedikit rasa canggung yang mendadak menyergap dadanya.
"Elah, jangan ngeles dong, Bos!" goda Bima tak mau kalah. "Pengakuan dulu! Lo beneran tertarik kan sama si Alya?"
Devan menghembuskan napas panjang, melipat kedua tangannya di dada sembari menatap teman-temannya satu per satu dengan raut wajah datar yang biasa ia tunjukkan.
"Gua cuma gak suka ngeliat Clara bertindak seenaknya bawa-bawa nama gua," jawab Devan beralasan, suaranya terdengar sangat meyakinkan. "Lo tahu sendiri kan gimana jadahnya si Clara kalau dibiarin? Bikin telinga gua panas dari pagi. Lagian, cewek itu emang kelewat batas. Orang lagi jalan santai malah diadang cuma gara-gara urusan sepele."
Raka menyipitkan matanya, tidak percaya begitu saja pada alibi sang ketua. "Ah, masa cuma gara-gara itu? Biasanya kalau Clara ngelabrak cewek lain, lo cuma jalan melewati mereka sambil masang muka malas, gak pernah ikut campur."
"Beda urusan," potong Devan cepat. "Ini di depan mata gua langsung. Gua gak mau nama gua dipakai buat ajang penindasan di sekolah ini. Udah, gak usah ngarang cerita yang enggak-enggak."
"Beneran nih? Gak ada rasa penasaran sedikit pun sama Alya?" tanya Reno memancing, menaik-naikkan alisnya. "Secara, dia tadi bener-bener gak kemakan pesona lo sama sekali, lho. Padahal lo udah keren banget pas melintir omongannya Clara."
Devan melangkah maju, menepuk dada Bima dan Raka bergantian agar mereka memberi jalan untuknya melangkah ke arah kantin. "Gua kagak ada pikiran ke sana. Gua cuma gak suka orang arogan. Puas lo pada?"
"Halah! Omongan cowok gengsi biasanya gitu di awal!" teriak Bima dari belakang ketika Devan sudah melangkah duluan. "Nanti kalau makin penasaran, jangan lupa traktir kita bakso seminggu penuh ya, Dev!"
Devan hanya melambaikan tangan kanannya di udara tanpa membalikkan badan, mengabaikan sorakan gelak tawa ketiga teman dekatnya yang mulai menyusul langkahnya dari belakang.
Namun, di balik penolakan tegas yang baru saja ia lontarkan kepada teman-temannya, Devan tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Dalam hati kecilnya, Devan tahu ada sesuatu yang bergeser. Respon dingin Alya, tatapan matanya yang sangat lurus tanpa kepalsuan, serta fakta bahwa gadis itu sama sekali tidak membutuhkan pertolongannya tadi, meninggalkan kesan yang teramat dalam.
Sambil melangkah menelusuri koridor menuju kantin, Devan menyunggingkan senyum tipis yang tak terlihat oleh siapa pun. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ada seorang gadis yang berhasil memicu rasa penasarannya hingga sejauh ini dan Devan tahu, ini baru awal dari segalanya.