"Tiga tahun Surya Prasetyo hidup sebagai menantu yang diinjak-injak. Dicaci maki mertua, dihina saudara ipar, dijadikan budak dapur oleh istrinya sendiri.
Sampai malam itu—malam ulang tahun pernikahan ketiga—dia mendengar semuanya.
Istrinya selingkuh. Istrinya mengincar asuransi jiwa lima miliar. Istrinya sudah menjadwalkan dia sebagai donor ginjal paksa. Dan istrinya... sudah merencanakan kematiannya.
*""Genggam erat-erat tanganku, Pak. Karena ini terakhir kalinya.""*
Dari seorang laki-laki yang tidur di pinggir sungai, Surya bangkit. Lulus ujian advokat. Menghancurkan perusahaan mantan istri. Membangun kerajaan bisnis. Membuat semua orang yang pernah menginjak-injaknya... berlutut.
Tapi balas dendam hanyalah permulaan. Di balik semua ini, ada kekuatan yang jauh lebih besar yang mengawasi setiap langkahnya—dan rahasia terbesarnya tersembunyi di orang yang paling dia percaya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelukis Mimpi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Bab 3: Tangan yang Mencengkeram
Itu senyum pemburu yang baru memilih mangsa pertama.
Senyum itu hilang sebelum Nadia sempat melihatnya.
Surya mematikan keran, menyusun piring basah di rak, lalu mengeringkan tangan dengan lap dapur. Dari ruang tamu, suara Nadia masih terdengar. Ia sedang menelepon seseorang, nadanya dibuat lirih, seolah perempuan paling malang di dunia.
"Iya, Papa belum stabil. Aku stres banget," katanya. "Surya? Dia pulang. Biasa, bikin masalah terus."
Surya menunduk. Namun, telinganya menangkap setiap kata.
Ketika Nadia menutup telepon, ia masuk ke dapur dengan wajah kesal. "Nanti siang ikut aku ke RS Medistra."
Surya mengangkat kepala sedikit. "Papa?"
"Kondisinya memburuk." Nadia menyilangkan tangan. "Dokter mau bicara soal donor keluarga. Kamu diam saja di sana. Jangan bikin malu."
Donor keluarga.
Kalimat itu seperti pintu yang memang sudah ia tunggu.
Surya mengusap sisa air di jarinya, lalu berkata pelan, "Kalau memang aku cocok, aku mau bantu."
Nadia terdiam.
Untuk pertama kalinya sejak pagi, wajahnya kehilangan kesal. Matanya melebar, lalu kilatan gembira muncul terlalu cepat untuk disembunyikan.
"Kamu serius?"
Surya menatap lantai. "Papa tetap orang tua kamu. Aku... aku cuma ingin rumah ini tenang lagi."
Nadia mendekat. Tangannya yang biasanya hanya menunjuk dan memerintah, kali ini menyentuh lengan Surya.
Sentuhan itu membuat perut Surya mual.
"Akhirnya kamu bisa berpikir benar," katanya, suaranya mendadak lembut. "Aku tahu kamu nggak sepenuhnya nggak berguna."
Surya hampir tertawa.
Tidak sepenuhnya tidak berguna.
Itulah harga kemanusiaannya di mata Nadia: satu ginjal.
Ia menunduk lebih dalam. "Aku perlu bawa KTP?"
"Bawa. Kartu BPJS juga kalau ada. Semua dokumen nanti aku urus."
Tentu saja.
Semua dokumen sudah ia urus sejak lama.
Satu jam kemudian, mereka berada di dalam mobil menuju RS Medistra. Nadia menyetir sendiri. Parfumnya memenuhi kabin, terlalu manis, membuat Surya kembali teringat gelas wine di meja makan.
Nadia beberapa kali meliriknya.
"Kamu jangan berubah pikiran," katanya.
"Aku tidak akan lari."
"Bagus. Papa selama ini memang keras sama kamu. Namun, itu karena dia ingin kamu jadi laki-laki yang berguna."
Surya menatap jalan lewat kaca depan. Di lampu merah, ia melihat bayangannya sendiri di kaca. Wajah pucat. Mata cekung. Pipi masih menyisakan panas tamparan Dewi.
Laki-laki yang berguna.
Kalimat itu dulu mungkin akan membuatnya merasa bersalah.
Sekarang, kalimat itu hanya menambah daftar utang yang harus dibayar keluarga Kusuma.
RS Medistra siang itu ramai. Bau antiseptik, kopi dari kafe lantai dasar, dan kecemasan keluarga pasien bercampur di udara. Nadia berjalan cepat menuju lift, tidak menunggu Surya. Ia hanya menoleh sekali.
"Cepat."
Surya mengikuti.
Di lantai perawatan, beberapa kerabat keluarga Kusuma sudah berkumpul di depan kamar VIP. Ada dua tante dengan tas branded, seorang om berperut besar, dan sepupu Nadia yang sedang memainkan handphone. Begitu Surya datang, percakapan mereka berhenti.
Lalu senyum mengejek muncul satu per satu.
Sebelum masuk kamar, Nadia berhenti di meja perawat untuk menanyakan jadwal pemeriksaan lanjutan. Perawat itu meminta KTP dan data keluarga. Nadia langsung menyerahkan map kecil dari tasnya, rapi, lengkap, seperti orang yang sudah menyiapkan semuanya jauh sebelum hari ini.
"Calon donor?" tanya perawat.
Nadia menunjuk Surya dengan dagu. "Suami saya."
Perawat memandang Surya sebentar, lalu berkata dengan nada hati-hati, "Nanti tetap harus ada konseling dan persetujuan langsung dari Bapak. Donor organ tidak bisa hanya berdasarkan keputusan keluarga."
"Iya, Mbak, saya tahu," jawab Nadia cepat. Senyumnya tipis. "Tapi dia sudah setuju. Dia memang tinggal bersama keluarga kami. Selama ini kami yang urus dia. Jadi dia pasti mengerti kewajibannya."
Kewajiban.
Surya mendengar kata itu jatuh di lantai rumah sakit seperti koin kotor.
Perawat itu tampak ingin mengatakan sesuatu. Namun, seorang kerabat Nadia sudah mendekat dan menyelipkan komentar dengan suara cukup keras.
"Kalau bukan keluarga Kusuma, dia mungkin masih numpang hidup entah di mana. Masa untuk menyelamatkan mertua sendiri saja harus banyak mikir?"
Beberapa orang tertawa kecil.
Surya tetap diam.
Diamnya membuat Nadia makin yakin ia menang.
"Oh, ini suaminya Nadia?" kata salah satu tante, pura-pura lupa. "Yang di rumah ngurusin dapur itu?"
Sepupu Nadia tertawa. "Kirain pembantu baru, Tante."
Nadia tidak membela.
Ia malah berkata, "Sudah, jangan ribut. Dia mau bantu Papa."
Kalimat itu membuat semua mata menilai tubuh Surya dari kepala sampai kaki. Bukan seperti melihat keluarga. Seperti melihat barang cadangan.
Om berperut besar menepuk bahu Surya cukup keras. "Nah, akhirnya ada gunanya juga kamu tinggal di rumah Kusuma tiga tahun. Kalau Pak Kusuma selamat, kamu harus bersyukur. Hidupmu jadi ada manfaat."
Surya mengangkat wajah.
Untuk sesaat, om itu berhenti bicara.
Tatapan Surya terlalu tenang.
Lalu Surya menunduk lagi. "Saya hanya melakukan kewajiban."
"Dengar itu?" Tante yang pertama tertawa kecil. "Menantu memang harus tahu diri."
Nadia tampak puas. Ia membuka pintu kamar.
Pak Kusuma terbaring di ranjang dengan wajah pucat kekuningan. Selang infus menempel di tangan. Monitor di samping ranjang berbunyi teratur. Namun, setiap bunyinya terdengar seperti hitungan mundur.
Begitu melihat Surya, mata pria tua itu bergerak.
"Kamu," suaranya serak. "Ke sini."
Surya mendekat.
Pak Kusuma mengangkat tangan kurusnya, lalu mencengkeram pergelangan Surya dengan kekuatan mengejutkan.
"Tiga tahun kamu makan gratis di rumah kami," katanya, napasnya berat. "Sekarang baru bisa berguna."
Nadia berdiri di sisi ranjang, matanya berkaca-kaca dibuat-buat. Para kerabat berkumpul di pintu, menonton.
Surya merasakan kuku Pak Kusuma menekan kulitnya.
Genggaman itu bukan permintaan tolong.
Itu perintah.
Dulu, Surya mungkin akan gemetar. Ia mungkin akan mengangguk, merasa bersalah, merasa harus membayar setiap nasi yang ia makan di rumah itu.
Sekarang ia hanya melihat tangan itu.
Tangan yang selama tiga tahun menunjuk wajahnya.
Tangan yang pernah melempar sendok ke lantai dan menyuruhnya mengambilnya.
Tangan yang kini mencengkeramnya seperti orang tenggelam mencengkeram batang kayu.
"Saya akan bantu, Pak," kata Surya.
Nadia menarik napas lega. Beberapa kerabat langsung berbisik, memuji Nadia karena "berhasil membujuk suaminya". Tidak ada yang bertanya apakah Surya takut. Tidak ada yang bertanya apakah ia ingin hidup utuh.
Pak Kusuma menatapnya tajam. "Jangan coba-coba mundur."
Surya membungkuk sedikit, wajahnya dekat dengan ranjang. Dari luar, ia tampak seperti menantu patuh yang akhirnya sadar diri.
Di dalam dadanya, sesuatu menjadi dingin dan bersih.
Genggam erat-erat, Pak.
Karena ini terakhir kalinya.
Seorang dokter muda masuk bersama perawat, membawa beberapa formulir pemeriksaan. Nadia langsung menyambut mereka dengan senyum yang terlalu siap.
"Dok, suami saya bersedia. Apa bisa langsung proses?"
Dokter itu menatap Surya. "Bapak Surya, kami tetap perlu menjelaskan risiko medis dan memastikan persetujuan Bapak tanpa paksaan."
Surya hampir menghormati dokter itu karena satu kalimat tersebut.
Nadia cepat menyela, "Dia sudah setuju, Dok. Dari rumah dia sendiri yang bilang mau."
"Tetap harus ada penjelasan," kata dokter itu, profesional.
Surya mengangguk. "Saya mengerti, Dok."
Nadia menggigit bibir. Namun, tidak berani membantah di depan dokter. Ia membuka tas tangannya, mengeluarkan map putih yang sudah Surya lihat semalam.
Map itu diletakkan di meja kecil samping ranjang.
Pak Kusuma masih mencengkeram pergelangan Surya.
Nadia membuka halaman pertama.
Di sana, nama Surya Prasetyo sudah diketik rapi sebagai calon donor.
Di samping kertas itu, ia meletakkan sebuah pulpen hitam.