NovelToon NovelToon
Takhta, Cinta, Dan Rahasia

Takhta, Cinta, Dan Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:408
Nilai: 5
Nama Author: Velin Agustiningtias

Raffi adalah anak di luar nikah dari Mahesa Pratama, Presiden Direktur Pratama Group Hotel, hasil hubungannya dengan Maya Indira. Meski lahir tanpa status yang diakui keluarga, Raffi mewarisi kecerdasan, bakat kepemimpinan, dan naluri bisnis yang membuat Mahesa diam-diam berniat menjadikannya penerus kerajaan bisnisnya.

Namun, keputusan itu memicu amarah istri sah Mahesa. Demi memastikan putra kandungnya, Julian, menjadi satu-satunya pewaris Pratama Group Hotel, ia menyusun berbagai rencana licik untuk menyingkirkan Raffi. Berbagai fitnah, pengkhianatan, hingga perebutan hak waris membuat Raffi kehilangan segalanya dan dipaksa memulai hidup dari nol.

Dengan tekad yang tak pernah padam, Raffi membangun kembali kariernya dari bawah. Ia berjuang membuktikan bahwa kesuksesan bukan ditentukan oleh status kelahiran, melainkan kerja keras, kemampuan, dan keteguhan hati. Langkah demi langkah, ia bangkit untuk merebut kembali tempat yang seharusnya menjadi miliknya dan cintanya dengan dewi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

pertanda yang terlupakan

Mata Naura berbinar saat mendengar kalimat pertama dari sang cenayang. Jantungnya berdegup lebih cepat. Selama bertahun-tahun ia mendambakan seorang anak laki-laki sebagai penerus keluarga. Harapan yang hampir padam itu seolah kembali menyala. Bibirnya perlahan tersenyum, membayangkan masa depan yang selama ini ia impikan.

Namun senyum itu membeku ketika cenayang tersebut kembali membuka mata dan menatapnya dengan tatapan tajam, seolah mampu melihat seluruh rahasia yang selama ini ia kubur rapat. "Aku juga melihat kebohongan yang kau sembunyikan. Hubungan terlarang dengan seseorang yang sangat dekat denganmu... asisten pribadimu."

Tubuh Naura langsung menegang. Wajahnya memucat dalam sekejap. Napasnya terasa tercekat, sementara jemarinya gemetar tanpa mampu ia kendalikan. Rahasia yang selama ini ia yakini tak mungkin diketahui siapa pun ternyata begitu mudah dibaca oleh orang asing di hadapannya. Ia ingin menyangkal, tetapi tatapan cenayang itu membuat seluruh keberaniannya runtuh.

Belum sempat Naura memulihkan dirinya, ucapan berikutnya menghantam jauh lebih keras. "Benar, kau akan segera memiliki seorang anak laki-laki. Tetapi... anak itu bukan darah daging suamimu."

Seakan dunia berhenti berputar. Mata Naura membelalak lebar, bibirnya terbuka tanpa mampu mengeluarkan suara. Kebahagiaan yang baru saja memenuhi dadanya berubah menjadi ketakutan yang mencekik. Jika ramalan itu benar, berarti semua kebohongan yang selama ini ia bangun akan runtuh satu per satu.

Naura menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan kegelisahan yang mulai menguasai dirinya. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Di dalam hatinya berkecamuk dua perasaan yang saling bertentangan. Ia bahagia karena akhirnya akan memiliki anak laki-laki, tetapi di saat yang sama ia dihantui kenyataan bahwa kehadiran anak itu justru bisa menjadi bukti paling nyata atas pengkhianatan yang telah ia lakukan. Ketakutan akan hari ketika semua rahasia terbongkar kini terasa jauh lebih besar daripada kebahagiaan yang baru saja ia rasakan.

Mentari pagi baru saja menyinari halaman rumah megah keluarga Pratama. Sejak fajar, suasana kediaman itu sudah jauh dari kata sepi. Beberapa mobil operasional hotel keluar masuk membawa perlengkapan dekorasi, rangkaian bunga, meja prasmanan, hingga peralatan tata boga. Para karyawan hotel datang lebih awal agar seluruh persiapan acara dapat selesai sebelum para tamu berdatangan.

Di antara mereka, Maya melangkah pelan sambil mengedarkan pandangannya ke setiap sudut rumah. Bangunan bergaya modern yang menjulang megah, taman yang tertata rapi dengan air mancur di tengahnya, serta deretan mobil mewah yang terparkir membuatnya tak mampu menyembunyikan kekaguman. Selama bekerja di hotel, ia memang sering melayani tamu dari kalangan berada, tetapi baru kali ini ia melihat secara langsung kemewahan sebuah rumah yang begitu luar biasa.

"Rumah ini benar-benar seperti istana," gumam Maya lirih. Ia segera menggelengkan kepala, mengingatkan dirinya untuk tetap fokus bekerja. Kekaguman tidak boleh mengganggu tanggung jawab yang telah dipercayakan kepadanya.

Tak lama kemudian, Ratih keluar menyambut rombongan karyawan dengan senyum hangat. Penampilannya anggun dan berwibawa, tetapi sikapnya tetap ramah kepada setiap orang yang datang.

"Selamat pagi. Terima kasih sudah datang lebih awal," ucap Ratih dengan sopan. "Silakan langsung mempersiapkan semuanya. Jika ada kebutuhan atau kendala, jangan ragu menyampaikannya kepada saya."

"Baik, Bu Ratih," jawab para karyawan hampir bersamaan.

Setelah mendapat arahan, seluruh karyawan segera berpencar sesuai tugas masing-masing. Sebagian mulai menata meja dan kursi, sebagian lagi memasang dekorasi, sementara tim dapur sibuk menyiapkan hidangan. Maya ikut membantu menata perlengkapan dengan penuh ketelitian. Meski ini hanyalah sebuah pekerjaan, ia ingin memberikan hasil terbaik agar acara keluarga Pratama berlangsung sempurna tanpa kekurangan sedikit pun.

Sebelum waktu menunjukkan siang, halaman luas kediaman keluarga Pratama telah berubah menjadi tempat penyelenggaraan acara yang begitu mewah. Para karyawan hotel bekerja dengan cekatan, masing-masing memahami tugasnya tanpa perlu banyak instruksi. Mereka bergerak saling membantu, memastikan setiap sudut terlihat sempurna.

Meja-meja bundar berlapis taplak putih gading ditata dengan jarak yang serasi. Di atasnya, vas bunga segar berpadu dengan lilin hias dan peralatan makan berkilau, menciptakan kesan elegan. Kursi-kursi berbalut kain satin disusun rapi menghadap panggung utama yang dihiasi rangkaian bunga putih dan lampu gantung kristal.

Di sisi lain, deretan meja prasmanan mulai dipenuhi hidangan kelas atas yang disiapkan dengan teliti. Aneka steak premium, salmon panggang, udang dan lobster, sup krim hangat, beragam pasta, sushi, dim sum, hingga aneka salad segar tersusun menggugah selera. Tak ketinggalan berbagai pilihan dessert, mulai dari kue-kue mini, macarons berwarna pastel, mousse cokelat, puding, buah-buahan segar, hingga minuman jus dan mocktail yang disajikan dalam gelas-gelas kristal.

Maya ikut memastikan setiap hidangan tersusun simetris dan mudah dijangkau para tamu. Ia merapikan lipatan serbet, mengilapkan kembali peralatan makan yang masih tampak kurang berkilau, lalu memeriksa satu per satu meja agar tidak ada yang terlewat. Kerapian menjadi prioritas utama, karena sedikit saja kesalahan dapat mengurangi kesan mewah acara tersebut.

Tak lama kemudian, seluruh halaman rumah tampak berubah bak lokasi pesta eksklusif di hotel berbintang lima. Dekorasi yang anggun, aroma masakan yang menggoda, serta pelayanan yang tertata rapi membuat suasana terlihat begitu berkelas. Ratih mengamati hasil kerja para karyawan dengan senyum puas, mengangguk pelan karena semua persiapan telah selesai tepat waktu dan sesuai dengan harapannya.

Setelah memastikan seluruh persiapan acara berjalan sesuai rencana, Ratih melangkah menuju ruang keluarga. Di sana telah tergantung beberapa gaun dan setelan jas mewah yang sengaja ia siapkan untuk anggota keluarga yang akan menghadiri acara malam itu. Ia memeriksa satu per satu, memastikan tidak ada yang kurang sebelum para tamu mulai berdatangan.

Saat hendak kembali ke halaman, pandangannya tertuju pada sebuah name tag yang terjatuh di dekat lorong. Ratih memungutnya dengan refleks. Nama yang tertera adalah Maya, salah satu karyawan hotel yang sejak pagi membantu mempersiapkan acara.

Tanpa sengaja, matanya membaca data singkat yang tercetak di balik name tag tersebut. Ketika melihat tanggal lahir Maya yang bertepatan dengan Kamis Kliwon, langkah Ratih seketika terhenti. Ada sesuatu yang mengusik ingatannya. Wajahnya berubah sedikit serius, seolah sedang berusaha mengingat sebuah peristiwa atau ucapan dari masa lalu yang selama ini tersimpan di sudut benaknya.

"Kenapa aku merasa... pernah mendengar tentang tanggal itu?" gumam Ratih lirih. Ia terus menatap name tag tersebut dengan tatapan penuh tanda tanya, mencoba menyusun kembali kepingan-kepingan ingatan yang samar.

Di saat yang sama, Maya terlihat mondar-mandir di sekitar halaman dengan wajah cemas. Tangannya meraba saku seragam dan celemeknya berulang kali.

"Astaga... name tag-ku ke mana?" bisiknya panik. Ia khawatir kehilangan kartu identitas itu karena merupakan perlengkapan kerja yang wajib dikenakan selama bertugas.

Saat pandangannya berkeliling, Maya melihat Ratih sedang memegang name tag miliknya. Ia segera menghampiri dengan langkah sopan.

"Permisi, Bu Ratih," ucap Maya sambil sedikit menundukkan kepala. "Maaf mengganggu. Sepertinya itu name tag saya yang tadi tidak sengaja terjatuh. Boleh saya memintanya kembali?"

Ratih tersadar dari lamunannya. Ia mengalihkan pandangan kepada Maya, lalu tersenyum tipis seolah menutupi rasa penasarannya.

"Oh... ini milikmu?" tanyanya lembut.

"Iya, Bu. Maaf karena saya kurang hati-hati."

Ratih mengangguk pelan, lalu menyerahkan name tag itu ke tangan Maya.

"Pegang baik-baik. Jangan sampai terjatuh lagi."

"Terima kasih banyak, Bu," jawab Maya tulus. Setelah kembali mengenakan name tag di dadanya, ia segera kembali bekerja, sementara Ratih masih memandangi punggung gadis itu yang semakin menjauh. Entah mengapa, tanggal lahir yang baru saja ia lihat terus berputar di benaknya, seolah menjadi petunjuk menuju sebuah rahasia yang belum ia pahami.

Menjelang sore, kediaman keluarga Pratama mulai dipenuhi tamu-tamu penting. Mobil-mobil mewah bergantian memasuki halaman, sementara para petugas keamanan sigap membuka gerbang dan mengarahkan kendaraan menuju area parkir yang telah disiapkan. Satu per satu para pengusaha, investor, rekan bisnis, hingga tokoh masyarakat turun dengan penampilan terbaik mereka.

Di teras utama, keluarga besar Pratama berdiri menyambut setiap tamu dengan senyum hangat. Tuan Pratama dan Ratih menjadi tuan rumah yang ramah, didampingi anggota keluarga lainnya. Percakapan demi percakapan mengalir membahas perkembangan Grand Hotel Pratama, rencana ekspansi bisnis, serta berbagai peluang kerja sama yang menjanjikan. Tawa dan denting gelas sesekali terdengar, menciptakan suasana pesta kalangan elite yang penuh kemewahan.

Lampu-lampu kristal yang menghiasi halaman memancarkan cahaya keemasan, berpadu dengan alunan musik orkestra yang mengiringi malam. Para tamu menikmati hidangan premium yang tersaji rapi di meja prasmanan, sementara para pelayan bergerak sigap memastikan tidak ada satu pun kebutuhan tamu yang terlewat.

Di balik kemewahan itu, para karyawan hotel terus bekerja tanpa mengenal lelah. Maya bersama rekan-rekannya mondar-mandir mengantarkan minuman, mengganti piring yang telah digunakan, merapikan meja, hingga memastikan setiap sudut acara tetap bersih dan nyaman. Meski kaki mereka mulai pegal dan tubuh terasa letih, tak seorang pun mengeluh. Mereka tetap memberikan pelayanan terbaik hingga tamu terakhir meninggalkan kediaman keluarga Pratama.

Waktu telah menunjukkan larut malam ketika pesta akhirnya berakhir. Dekorasi mulai dibongkar, peralatan makan dikumpulkan, dan sisa hidangan dibereskan. Setelah seluruh pekerjaan selesai, wajah-wajah lelah para karyawan terlihat jelas, namun terselip rasa lega karena acara berlangsung sukses tanpa kendala berarti.

Melihat kondisi mereka, Ratih menghampiri koordinator tim hotel.

"Sudah terlalu malam. Tidak aman jika kalian langsung pulang dalam keadaan kelelahan," ujarnya dengan penuh perhatian. "Silakan beristirahat dulu di paviliun belakang. Besok pagi setelah sarapan, kalian bisa kembali."

Ucapan itu disambut rasa syukur oleh para karyawan. Mereka kemudian berjalan menuju sebuah paviliun yang masih berada di dalam area kediaman keluarga Pratama. Bangunannya sederhana namun tetap nyaman, lengkap dengan beberapa kamar dan ruang istirahat.

Begitu memasuki paviliun, sebagian langsung merebahkan tubuh di sofa, sementara yang lain memilih beristirahat di kamar yang telah disediakan. Maya mengembuskan napas panjang sambil meregangkan bahunya yang terasa kaku. Hari itu benar-benar menguras tenaga.

Tak butuh waktu lama, suasana paviliun berubah hening. Setelah seharian bekerja tanpa henti, para karyawan satu per satu terlelap dalam tidur yang nyenyak, memulihkan tenaga sebelum kembali menjalani aktivitas mereka keesokan pagi.

Malam semakin larut. Setelah memastikan seluruh tamu telah pulang dan para karyawan beristirahat, Ratih akhirnya masuk ke kamar. Tubuhnya terasa lelah setelah seharian menjadi tuan rumah, hingga tak butuh waktu lama baginya untuk terlelap.

Dalam tidurnya, Ratih kembali melihat bayangan peristiwa tiga tahun silam.

Saat itu, ia dan suaminya pernah menemui seorang tetua yang dikenal masyarakat sebagai orang bijak. Mereka datang dengan satu harapan, ingin mengetahui masa depan Mahesa yang saat itu akan segera menikah.

Ratih melihat kembali ruangan sederhana yang diterangi lampu minyak. Tetua itu memejamkan mata beberapa saat sebelum membuka pembicaraan.

"Mahesa akan memiliki kehidupan yang berkecukupan. Namun jalan rumah tangganya tidak akan semudah yang dibayangkan."

Ratih dalam mimpinya mendengarkan dengan saksama.

"Jika ia menikah dengan perempuan yang sekarang menjadi pilihannya, keturunannya akan diuji. Keinginan memiliki seorang anak laki-laki akan menjadi penantian yang panjang."

Ratih yang berada dalam mimpi itu tampak gelisah.

"Apakah tidak ada jalan lain?" tanyanya kala itu.

Tetua tersebut kembali memejamkan mata sejenak sebelum menjawab dengan suara pelan.

"Ada satu kecocokan yang kulihat. Mahesa memiliki kecocokan yang kuat dengan perempuan yang lahir pada Kamis Kliwon. Jika takdir mempertemukan mereka sebagai pasangan, peluang memperoleh anak laki-laki akan lebih besar."

Ratih mengingat dirinya yang langsung menggeleng pelan.

"Bukankah jodoh sudah ditentukan? Kami tidak mungkin memilih seseorang hanya karena ramalan."

Tetua itu tersenyum tipis.

"Benar. Ramalan bukan penentu takdir. Manusia tetap memiliki pilihan, dan Tuhanlah yang menentukan segala hasilnya. Apa yang kulihat hanyalah kemungkinan, bukan kepastian."

Mimpi itu berakhir tepat ketika Ratih teringat name tag Maya yang sempat ia pegang beberapa jam sebelumnya.

Ratih terbangun dengan napas sedikit memburu. Ia duduk di tepi ranjang sambil memegang dadanya.

"Itu hanya mimpi... atau mungkin hanya ingatan lama," gumamnya pelan.

Meski berusaha mengabaikannya, bayangan tentang ucapan tetua itu terus menghantui pikirannya. Entah mengapa, sejak melihat name tag Maya, kenangan yang selama bertahun-tahun terlupakan itu kembali muncul dengan begitu jelas, membuat Ratih diliputi rasa penasaran yang sulit dijelaskan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!