NovelToon NovelToon
Sistem Pekerja Super

Sistem Pekerja Super

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Bulu-Halus

Adrian Wijaya hanya ingin mendapatkan uang tambahan sebelum kuliah dimulai. Namun sebuah sistem misterius tiba-tiba memberinya akses ke berbagai pekerjaan dengan bayaran luar biasa.

Setiap pekerjaan memberinya uang, kemampuan, dan pengalaman baru.

Dari pekerjaan biasa hingga tugas berbahaya di berbagai penjuru dunia, Adrian perlahan menyadari bahwa sistem ini bukan sekadar alat untuk mencari uang.

Ini adalah awal dari kehidupan yang jauh lebih besar dari yang pernah dia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bulu-Halus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31 — GELOMBANG KEDUA

Belum sempat Adrian menikmati suasana kemenangan, suara langkah kaki dari bawah menara kembali terdengar.

Kali ini jauh lebih banyak.

Bukan lagi empat atau lima orang.

Suara gesekan sepatu dengan tangga besi terdengar dari beberapa arah sekaligus.

Klang... klang... klang...

Adrian berdiri di tengah platform sambil memandangi kegelapan di bawah.

Senyumnya perlahan menghilang.

Bukan karena takut.

Dia hanya mulai merasa terganggu.

“Serius?”

Adrian menghela napas.

“Belum selesai satu kelompok, yang lain sudah datang.”

Di dekat kakinya, Night Scorpion masih tergeletak dalam kondisi tidak mampu melawan.

Adrian meliriknya.

“Teman-temanmu memang rajin.”

Night Scorpion tidak menjawab.

Tatapannya justru dipenuhi ketidakpercayaan.

Dia baru saja menyaksikan sendiri kemampuan Adrian.

Namun sekarang, bukannya kabur, pemuda itu malah berdiri santai menunggu kedatangan kelompok berikutnya.

Seolah-olah puluhan pembunuh yang sedang mengepung menara bukan ancaman.

Melainkan antrean pelanggan.

Night Scorpion akhirnya mengerti.

Orang di hadapannya benar-benar tidak normal.

Sementara itu, Adrian kembali mengeluarkan ponselnya.

Layar game masih menyala.

Pertandingan belum berakhir.

“Masih aman.”

Dia mengangguk puas.

“Dua garis.”

Adrian kemudian memasukkan kembali ponselnya ke saku.

“Sekarang baru bisa fokus.”

Suara langkah semakin dekat.

Lalu sebuah bayangan melompat dari tangga ke platform.

Brak!

Seorang pria berbaju hitam mendarat tanpa suara berarti.

Di tangannya terdapat pisau pendek dengan bilah gelap.

Adrian menatapnya.

Pria itu menatap Adrian.

Keduanya diam selama beberapa detik.

Kemudian pria tersebut bergerak.

Cepat.

Pisau langsung menyambar ke arah leher Adrian.

Adrian memiringkan tubuh.

Bilah itu hanya menggores udara.

Penyerang belum sempat menarik tangannya ketika Adrian menangkap pergelangan tangannya.

“Ketemu.”

Adrian memutar tubuh.

Dengan satu gerakan sederhana, keseimbangan lawan dihancurkan.

Brak!

Tubuh pria itu dibanting ke lantai.

Belum selesai.

Dua bayangan lain muncul dari belakang.

Satu membawa pisau.

Satu lagi membawa tongkat pendek.

Keduanya menyerang bersamaan.

Adrian mundur setengah langkah.

Pisau melewati depan wajahnya.

Tongkat menyapu dari samping.

Adrian menunduk.

Serangan itu saling bertabrakan.

Tak!

“Terima kasih.”

Adrian meraih lengan salah satu dari mereka.

Kemudian menariknya ke arah lawannya.

Buk!

Kepala mereka bertabrakan.

Keduanya langsung sempoyongan.

Adrian melangkah melewati mereka.

“Jangan berdiri di depan.”

Dari belakang, tiga orang lainnya sudah datang.

Kali ini mereka tidak menyerang sembarangan.

Mereka membentuk posisi segitiga.

Satu orang di depan.

Dua lainnya bergerak dari sisi.

Adrian memperhatikan formasi tersebut.

“Oh.”

Dia tersenyum tipis.

“Lumayan.”

Ketiganya bergerak bersamaan.

Adrian justru maju.

Dia tidak memberi mereka kesempatan untuk menutup jarak.

Tubuhnya melesat ke arah orang paling depan.

Satu tangan menangkap pergelangan lawan.

Tangan lainnya menghantam bagian bawah lengannya.

Krak!

Lawan langsung kehilangan kekuatan pada tangannya.

Adrian memutar tubuh.

Menggunakan tubuh pria tersebut sebagai penghalang.

Dua penyerang dari belakang terpaksa menghentikan gerakannya.

Adrian mendorong tubuh lawan pertama ke arah mereka.

Ketiganya bertabrakan.

Brak!

“Formasinya bagus.”

Adrian berdiri di samping mereka.

“Tapi terlalu gampang dibaca.”

Salah satu pembunuh bangkit dengan susah payah.

Dia baru hendak mengangkat pisau ketika Adrian sudah berada di depannya.

Satu pukulan menghantam perut.

Buk!

Tubuh pria itu terlipat.

Adrian meraih bahunya dan menjatuhkannya.

Yang lain mencoba menyerang dari belakang.

Adrian berbalik.

Sikutnya menghantam rahang lawan.

Duk!

Pria itu terpental.

Dalam waktu kurang dari satu menit, beberapa anggota gelombang kedua sudah tumbang.

Namun jumlah mereka terus bertambah.

Adrian mendongak.

Puluhan bayangan mulai memenuhi platform.

“Banyak juga.”

Dia mengusap tengkuk.

“Kalau begini, aku benar-benar nggak sempat main.”

---

Beberapa ratus meter dari menara air, seseorang sedang mengamati pertempuran melalui teropong penglihatan malam.

Pria itu mengenakan pakaian hitam tanpa tanda pengenal.

Di sampingnya terdapat beberapa anggota lain.

Dia adalah pemimpin gelombang kedua.

Julukannya Night Fang.

Berbeda dari Night Scorpion yang mengandalkan pertarungan langsung, Night Fang terkenal karena kemampuan mengendalikan kelompok pembunuh dalam jumlah besar.

Dia telah melihat bagaimana pasukan pertama dihancurkan.

Namun ekspresinya tetap tenang.

“Jangan terburu-buru.”

Night Fang menurunkan teropong.

“Jangan biarkan dia menguasai ritme.”

Salah satu anak buahnya bertanya,

“Pemimpin, apakah kita menggunakan senjata api?”

“Tidak.”

Night Fang menggeleng.

“Target sudah menunjukkan kemampuan membaca serangan jarak jauh.”

Dia menatap menara.

“Kalau kita memberinya kesempatan menggunakan senjatanya, jumlah korban akan semakin banyak.”

“Lalu?”

“Dekati dia.”

Night Fang menunjuk platform.

“Gunakan jumlah.”

“Buat dia tidak punya ruang untuk bergerak.”

“Begitu dia kehilangan keseimbangan, habisi.”

Perintah segera diteruskan.

Puluhan orang bergerak.

Tidak ada teriakan.

Tidak ada suara tembakan.

Mereka semua menggunakan senjata jarak dekat.

Pisau.

Belati.

Tongkat pendek.

Beberapa bahkan menggunakan kawat baja tipis.

Mereka naik melalui jalur yang berbeda.

Tujuannya satu.

Mengepung Adrian.

---

Di dalam kendaraan komando, Sienna melihat layar yang mulai dipenuhi titik bergerak.

“Jumlahnya bertambah lagi.”

Teknisi memperbesar gambar.

“Lebih dari tiga puluh orang.”

Sienna mengerutkan kening.

“Kelompok kedua?”

“Ya.”

“Jenis persenjataan?”

Teknisi memeriksa data panas.

“Hampir tidak ada senjata api.”

Sienna langsung memahami maksudnya.

“Mereka ingin pertarungan jarak dekat.”

Teknisi mengangguk.

“Sepertinya begitu.”

Sienna mengatupkan rahang.

“Bodoh.”

“Bu?”

“Bukan mereka yang bodoh.”

Sienna menatap titik yang mewakili Adrian.

“Orang yang mengira pertarungan jarak dekat akan membuat Adrian lebih mudah dibunuh.”

Dia masih mengingat kejadian sebelumnya.

Lima pembunuh profesional.

Hanya beberapa menit.

Dan semuanya tumbang.

Namun jumlah tiga puluh orang tetap membuatnya khawatir.

“Hubungi Adrian.”

Teknisi mencoba.

Krrrzzzt...

Tidak ada jawaban.

“Gangguan masih terlalu kuat.”

Sienna mengepalkan tangan.

“Terus coba.”

---

Di atas menara, Adrian baru saja menjatuhkan seorang penyerang terakhir dari tangga.

Tubuh pria itu berguling turun beberapa anak tangga.

Brak... brak... brak...

Adrian menatap ke bawah.

“Kalau jatuh sampai bawah, jangan salahkan aku.”

Dia kemudian mendengar suara dari belakang.

Sret!

Sebuah pisau melintas di dekat pinggangnya.

Adrian berputar.

Seorang pembunuh sudah berada tepat di belakangnya.

Namun sebelum pria itu sempat menarik pisaunya kembali—

Adrian memegang lengannya.

Dia menarik tubuh lawan mendekat.

Kemudian menghantamkan lutut ke perut.

Buk!

Pria itu terangkat sedikit.

Adrian menyambar kerahnya dan melemparkannya ke samping.

Tubuhnya menghantam dua orang yang baru naik.

Brak!

Tiga orang langsung jatuh.

Adrian menghela napas.

“Bisa antre nggak?”

Tidak ada jawaban.

Sebaliknya, empat orang langsung menyerang.

Adrian bergerak.

Tubuhnya berputar di antara mereka.

Satu serangan ditangkis.

Satu pukulan dihindari.

Satu tangan ditarik.

Satu kaki disapu.

Gerakannya semakin cepat.

Tidak ada gerakan yang terbuang.

Setiap langkah memiliki tujuan.

Setiap serangan diarahkan pada titik yang membuat lawan kehilangan kemampuan bertarung.

Buk!

Satu orang jatuh.

Brak!

Orang kedua menghantam lantai.

Duk!

Orang ketiga terlempar ke pagar.

Orang keempat baru hendak menyerang ketika Adrian sudah berada di sampingnya.

“Sudah.”

Buk!

Pria itu langsung tumbang.

Adrian berdiri di tengah kerumunan.

Napasnya bahkan belum terengah-engah.

Dia melihat puluhan orang yang masih berada di bawah.

“Masih banyak?”

Salah satu pembunuh yang berada di tangga menatapnya dengan ngeri.

“Monster...”

Adrian mengangkat alis.

“Lagi?”

“Bagaimana mungkin...”

Pria itu mundur.

“Kalian bahkan belum menyentuhku.”

Adrian menghela napas.

“Kalau takut, jangan naik.”

Pria itu justru mengangkat pisaunya.

Dia berteriak dan menyerang.

Adrian menghilang dari hadapannya.

Bukan benar-benar menghilang.

Hanya bergerak terlalu cepat.

Dalam sekejap, Adrian sudah berada di belakangnya.

Tangannya menepuk bahu pria itu.

“Di sini.”

Pria tersebut berbalik.

Terlambat.

Satu pukulan.

Buk!

Tubuhnya terlempar.

Adrian langsung bergerak menuju tiga orang berikutnya.

Pertarungan berubah menjadi kekacauan.

---

Night Fang mulai kehilangan ketenangannya.

Dia menurunkan teropong dengan perlahan.

“Berapa orang?”

“Dua belas sudah tumbang.”

“Dua belas?”

“Ya.”

Night Fang menatap menara.

“Dalam berapa menit?”

“Kurang dari dua.”

Wajah Night Fang berubah.

“Tidak mungkin.”

Dia kembali melihat melalui teropong.

Adrian berdiri di tengah platform.

Di sekelilingnya terdapat orang-orang yang sudah tidak mampu bertarung.

Namun pemuda itu masih terlihat santai.

Seolah-olah baru selesai pemanasan.

Night Fang akhirnya memahami sesuatu.

Informasi yang mereka terima benar-benar bermasalah.

Target bukan sekadar orang yang memiliki kemampuan bertarung.

Dia adalah seseorang yang berada di level berbeda.

“Semua orang mundur.”

Salah satu anak buahnya terkejut.

“Pemimpin?”

“Mundur!”

Night Fang langsung mengubah perintah.

Namun sudah terlambat.

Adrian telah melihatnya.

Tatapan Adrian bergerak ke arah posisi Night Fang.

Meski terpisah ratusan meter dan gelap, matanya seperti mampu menembus malam.

Night Fang merasakan hawa dingin menjalar di punggung.

“Dia melihat ke sini?”

Adrian tersenyum.

“Ketemu.”

Dia melompat dari platform.

Night Fang membelalakkan mata.

“Mustahil!”

Adrian tidak benar-benar jatuh.

Dia menggunakan rangka besi menara sebagai pijakan.

Satu langkah.

Satu lompatan.

Kemudian tubuhnya meluncur turun.

Para pembunuh di bawah bahkan tidak sempat memahami apa yang terjadi.

Adrian mendarat di antara mereka.

Brak!

Debu dan pasir beterbangan.

Beberapa orang mundur.

Adrian mengangkat kepala.

Night Fang berdiri di kejauhan.

“Kau pemimpinnya?”

Night Fang tidak menjawab.

Dia justru memberi isyarat.

Semua anggota yang tersisa bergerak bersamaan.

Adrian menghela napas.

“Ya sudah.”

Dia mengepalkan tangan.

“Kalau begitu sekalian.”

Puluhan orang menyerang.

Adrian menerobos mereka.

Pertarungan kembali pecah.

Namun kali ini Adrian tidak lagi bertahan di platform.

Dia bergerak bebas di antara bangunan tua.

Setiap kali seseorang mencoba mengepungnya, dia justru menerobos titik terlemah.

Satu orang dijatuhkan.

Dua orang ditumbangkan.

Tiga lainnya kehilangan senjata.

Dalam beberapa menit, jumlah mereka berkurang drastis.

Night Fang akhirnya mundur.

Dia sadar.

Kalau terus dilanjutkan, seluruh kelompoknya akan habis.

Namun sebelum dia sempat pergi—

Adrian sudah berdiri di depannya.

“Lari ke mana?”

Night Fang membeku.

Adrian memandangnya dengan santai.

“Belum selesai.”

Night Fang mengeluarkan pisau terakhir.

“Jangan mendekat.”

Adrian melirik pisau itu.

“Kau masih mau coba?”

Night Fang menerjang.

Adrian menghindar.

Kemudian menangkap pergelangan tangan Night Fang.

Satu gerakan.

Tubuh Night Fang langsung jatuh berlutut.

Pisau terlepas.

Adrian menatapnya.

“Sudah kubilang.”

“Aku cuma mau main.”

Night Fang terengah-engah.

“Kau... sebenarnya siapa?”

Adrian tersenyum.

“Adrian.”

Kemudian—

DING!

Suara sistem kembali terdengar.

【Tahap kedua selesai.】

Adrian langsung melepaskan Night Fang.

Matanya tertuju pada panel sistem.

【Hadiah tahap kedua berhasil diperoleh.】

【Rp25.000.000.000 telah ditambahkan ke saldo sistem.】

Adrian terdiam.

Kemudian senyumnya muncul perlahan.

“Dua puluh lima miliar?”

Dia menatap panel.

“Naik lagi?”

【Benar.】

Adrian tertawa kecil.

“Kalau begini terus...”

Dia melihat puluhan orang yang berserakan di sekitar kota tua.

“Boleh juga kalau kalian datang lebih banyak.”

Night Fang menatapnya dengan wajah pucat.

“Kau gila.”

Adrian mengangkat bahu.

“Bukan aku yang bikin aturan.”

Dia memasukkan kedua tangannya ke saku.

“Lagipula kalian sendiri yang datang.”

Adrian kemudian mengingat sesuatu.

“Eh.”

Dia buru-buru berbalik.

“Ponselku!”

Dia langsung berlari kembali menuju menara air.

Night Fang menatap punggung Adrian dengan ekspresi kosong.

Di tengah situasi seperti ini...

yang dipikirkan orang itu ternyata tetap ponselnya.

Beberapa detik kemudian, suara Adrian terdengar dari kejauhan.

“Untung masih dua garis!”

Night Fang menutup mata.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia benar-benar tidak tahu harus berkata apa.

Sementara di atas menara air, ponsel Adrian masih menyala.

Pertandingan gamenya belum selesai.

Dan malam itu...

dua kelompok pembunuh sudah tumbang.

Namun sistem belum mengatakan bahwa kontrak berantai tersebut berakhir.

Adrian menatap layar sistem.

Sebuah bar baru perlahan muncul.

【Tahap berikutnya sedang dipersiapkan.】

Adrian tersenyum.

“Masih ada?”

Matanya langsung berbinar.

“Kalau begitu...”

Dia mengambil ponselnya.

“Jangan lama-lama.”

“Aku masih punya pertandingan yang harus dimenangkan.”

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

📖 Catatan Author

Terima kasih sudah sampai di Bab 32!

Menurut kalian, Adrian bakal menghadapi masalah sebesar apa lagi setelah ini? 😆

Jangan lupa terus ikuti ceritanya, karena kekacauan di Darsen baru saja dimulai!

Selamat membaca dan sampai jumpa di bab berikutnya! ❤️

1
Aisyah Suyuti
seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!