Huo Li hidup sebagai murid pelayan kasta terendah di Sekte Pedang Mendalam. Diperlakukan bak sampah, dan hampir mati, ia kehilangan seluruh harapan hingga diselamatkan oleh seorang pria misterius.
Pria itu memberinya sebuah teknik kultivasi terlarang dan sebuah artefak yang mampu mengubah seluruh harta dunia menjadi sumber kekuatan. Sebagai gantinya, Huo Li menerima satu syarat yang mustahil: meruntuhkan langit.
Dengan dendam yang membara namun hati yang tetap terkendali, ia bersumpah akan bangkit dari dasar dunia kultivasi, membalaskan dendamnya dan meruntuhkan langit.
Bagaimanakah kisah Huo Li? Saksikan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 15 — Panen yang Luar Biasa
Zhao Feng memusatkan seluruh energi spiritual Tahap Akhir-nya. Tubuhnya melesat maju berputar seperti gasing, mata pedangnya menciptakan lusinan bayangan tebasan yang membentuk badai bilah hijau. Ini adalah teknik andalan murid dalam, jauh lebih mematikan dan memiliki jangkauan area yang luas.
Hutan di sekitar mereka tercabik-cabik oleh angin pedang tersebut.
Menghadapi badai mematikan itu, langkah Huo Li terhenti. Matanya menyipit, menghitung lintasan serangan. 'Senjata spiritual yang bagus. Sayangnya, penggunanya hanyalah sampah yang bergantung pada energi spiritual, bukan pemahaman teknik seni beladiri.'
Jika ia menggunakan Langkah Pemutus Nadi, jangkauan badai itu terlalu luas untuk dihindari sepenuhnya. Ia harus menghancurkannya dari pusat.
Huo Li menarik napas dalam-dalam. Sisa setengah Energi Surgawi di dalam dantian emasnya bergemuruh hebat, mengalir deras ke seluruh meridian di lengan kanannya, lalu masuk ke bilah pedang biasa yang ia pegang. Ia memanipulasi warna auranya agar terlihat seperti energi spiritual padat, menyamarkan kemurnian emasnya.
"Tebasan Bayangan Berat: Penyatuan!" gumam Huo Li. Ia memodifikasi jurus kasar dari Tetua Gubang dengan pemahaman insting tempurnya sendiri.
Huo Li tidak menghindar. Ia justru menerjang masuk ke dalam jangkauan badai pedang Zhao Feng dan mengayunkan pedangnya dengan kekuatan penuh.
BOOOOM!
Dua kekuatan berbenturan. Suara ledakan energi memekakkan telinga meruntuhkan beberapa pohon di sekitar mereka.
KRAK!
Pedang biasa di tangan Huo Li hancur berkeping-keping menjadi serpihan debu karena tidak mampu menahan tekanan benturan dari Senjata Spiritual milik Zhao Feng dan hantaman Energi Surgawi secara bersamaan.
Melihat senjata Huo Li hancur, Zhao Feng tertawa liar di tengah badai serangannya. "Hahaha! Senjatamu hancur! Matilah—"
Namun, tawanya tercekik.
Dari balik debu serpihan pedang yang hancur, sebuah tangan pucat yang diselimuti distorsi udara melesat menembus pertahanan badai pedangnya yang kacau akibat benturan tadi.
Mata Huo Li menatap lurus ke arah mata Zhao Feng, dingin dan tanpa ampun.
"Tiran Penghancur Lautan!"
BAMMMM!
Tinju kanan Huo Li yang menyimpan konsentrasi murni Energi Surgawi menghantam tepat di ulu hati Zhao Feng.
KRAAAK!
Suara retakan tulang rusuk yang patah terdengar sangat keras. Energi Surgawi Huo Li tidak meledak di luar, melainkan merangsek masuk ke dalam tubuh Zhao Feng, mengobrak-abrik organ dalam dan lautan energi spiritual pemuda itu hingga porak-poranda.
"Buhuuuk!"
Zhao Feng memuntahkan darah hitam bercampur serpihan organ, tubuhnya terlempar ke udara layaknya layang-layang putus, dan menabrak sebatang pohon hingga pohon itu patah menjadi dua.
Tubuhnya merosot ke tanah. Ia kejang-kejang, matanya melotot menatap Huo Li dengan ketidakpercayaan absolut. Pedang spiritual berharga miliknya terlempar jauh di atas tanah.
Huo Li berjalan mendekat dengan langkah santai.
"T-Tunggu... uhuk... jangan bunuh aku..." Zhao Feng merintih memohon, darah terus mengalir dari sudut bibirnya. Kesombongannya hancur berkeping-keping. "Aku... aku adalah keponakan Tetua Zhao... jika kau membunuhku... sekte akan memburumu..."
Huo Li berhenti tepat di depan Zhao Feng. Ia menunduk menatap pemuda malang itu.
"Saudara Senior Zhao. Kau sendiri yang bilang ingin memberiku uang suap agar aku bisa bernapas lebih lama di hutan ini, bukan?" Huo Li tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat jiwa Zhao Feng membeku.
Huo Li mengambil sebatang ranting tajam dari tanah yang patah akibat pertarungan tadi.
"Di hutan ini, mayat tidak bisa mengadu kepada paman mereka."
JLEB!
Tanpa ragu sedikit pun, Huo Li menancapkan ranting tajam itu tepat ke tenggorokan Zhao Feng. Tubuh pemuda itu mengejang sesaat sebelum akhirnya benar-benar diam, mati.
Huo Li berdiri. Menghela napas panjang untuk menetralkan sirkulasi energinya yang kini nyaris kosong. Tubuhnya terasa sedikit pegal, tapi ada kepuasan yang luar biasa di dalam dadanya.
Ia baru saja membantai tiga kultivator yang ranahnya secara teori berada di atasnya, tanpa mengalami luka sedikit pun. Inilah keistimewaan kultivasi Jalur Dewa Surgawi!
Tanpa membuang waktu. Bau darah yang sangat pekat dari mayat tiga manusia dan enam babi hutan ini pasti akan menarik binatang buas peringkat lebih tinggi. Ia harus segera pergi.
Huo Li berjongkok dan menggeledah mayat Zhao Feng serta dua pengikutnya.
Ia memanen tiga Kantong Spasial. Setelah membukanya sekilas, mata Huo Li berbinar. Di dalam kantong Zhao Feng, terdapat lebih dari seratus Kristal Spiritual Peringkat 1, tiga botol Pil Esensi Penyembuh, dan beberapa gulungan teknik tingkat 1. Dua pengikutnya juga menyumbang puluhan kristal spiritual.
Tidak lupa, Huo Li memungut pedang spiritual berwarna hijau milik Zhao Feng.
'Senjata Spiritual tingkat 2... Aku tidak bisa menggunakannya di depan umum karena orang pasti akan mengenalinya sebagai milik Zhao Feng. Tapi...'
Huo Li mengeluarkan Kantong Keberuntungan dari balik jubahnya. Sambil menyeringai, ia memasukkan ketiga kantong spasial tersebut, beserta pedang spiritual hijau milik Zhao Feng, langsung ke dalam Kantong Keberuntungan.
Wunggg...
Kantong emas itu bersinar terang sesaat. Saat Huo Li melongok ke dalam, semua barang itu telah musnah, dikonversi menjadi tumpukan Kristal Surgawi yang bersinar murni! Senjata spiritual dan botol pil rupanya memberikan rasio pertukaran yang jauh lebih besar daripada kristal spiritual biasa.
"Panen yang luar biasa," gumamnya puas.