NovelToon NovelToon
Mata Dewa: Dari Batu ke Tahta

Mata Dewa: Dari Batu ke Tahta

Status: tamat
Genre:Balas dendam. / Perubahan Hidup / Kaya Raya / Tamat
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fajar

"Bayu Prasetyo kehilangan segalanya dalam satu hari.

Dipecat dari kantor karena posisinya diberikan kepada anak bos. Diputus pertunangan karena ""belum mapan."" Dan keris pusaka titipan sahabatnya tertipu terjual Rp 2 juta — padahal nilainya miliaran.

Di titik terendah hidupnya, Bayu Prasetyo menerima Mata Dewa dari kakek misterius — mata yang menembus batu, membaca nilai, dan membongkar kepalsuan. Dari judi batu ke meja lelang, dari pemuda miskin Pacitan ke puncak daftar orang terkaya — sampai ia menatap musuh terakhirnya: sindikat pemalsu pusaka yang dilindungi nama paling dihormati di Indonesia."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Bab 026: Lelang Amal dan Sertifikat Palsu

Lampu kristal di ballroom hotel itu terlalu terang.

Di bawah cahaya seperti itu, senyum orang kaya terlihat lebih halus, jam tangan lebih mahal, dan kartu nama lebih berat daripada kertas biasa. Bayu Prasetyo berdiri di sisi Intan Wibowo, mengenakan jas hitam sederhana yang baru ia beli tiga hari lalu.

"Jangan tegang," bisik Intan.

"Saya tidak tegang."

Intan melirik jari Bayu yang merapikan kancing manset untuk ketiga kalinya.

"Itu namanya bukti fisik."

Bayu menurunkan tangan.

Malam itu adalah lelang amal untuk tiga panti asuhan di Surabaya. Sebagian tamu datang karena benar-benar ingin menyumbang. Sebagian lagi datang karena nama mereka perlu terlihat di meja yang benar. Di panggung kecil, logo Balai Lelang Mahkota berdiri di belakang mimbar, mengilap seperti mahkota sungguhan.

Pak Hartono Wibowo duduk di meja utama. Ia hanya mengangguk ketika Bayu menyalaminya.

"Malam seperti ini tidak memberi siapa pun kemenangan," ujar lelaki tua itu pelan. "Orang yang berniat baik hanya bisa mencegah orang lain kalah."

Bayu belum menjawab ketika palu lelang pertama diketuk.

Barang kecil lewat satu per satu. Jam saku kolonial. Set perhiasan berlian. Lukisan pemandangan karya pelukis lokal senior. Semua berjalan rapi. Darmoko, manajer Mahkota cabang Surabaya, berdiri dekat panggung dengan senyum tipis. Tubuhnya tinggi, rambutnya licin, dan cara ia menunduk kepada para tamu seperti orang yang sudah lama menjual kepercayaan dalam bentuk katalog.

"Lot utama malam ini," kata juru lelang, "arca perunggu periode Majapahit, dengan sertifikat lengkap dan riwayat koleksi pribadi. Harga pembuka, tiga miliar rupiah."

Ruangan menjadi lebih sunyi.

Kain beludru merah dibuka.

Sebuah arca perunggu berdiri di atas alas hitam. Bentuknya indah. Wajahnya tenang, lipatan kainnya halus, dan permukaan hijaunya tampak tua. Di layar besar, foto sertifikat tampil bergantian: hasil uji permukaan, surat asal-usul, tanda tangan kurator.

Beberapa tamu langsung condong ke depan.

Mata kiri Bayu menghangat.

Ia tidak bernapas selama dua detik.

Di balik lapisan hijau itu, struktur logam terbuka jelas. Dinding perunggu terlalu seragam dan jalur pendinginannya melingkar halus, tanda pengecoran modern. Di dasar kaki, pori-pori kecil tersusun terlalu rapi untuk menjadi luka usia berabad-abad. Karat hijau tampak dipasang untuk memaksakan kesan tua.

Pada bagian dalam punggung, Bayu mengenali pola mikro berupa tanda bengkel.

Jenis goresan penyeimbang yang muncul pada beberapa sampel palsu di database mereka.

Bayu memalingkan wajah dari panggung.

"Bayu?" Intan menangkap perubahan itu.

"Lot utama bermasalah."

Satu kalimat itu membuat mata Intan langsung tajam.

"Seberapa bermasalah?"

"Modern. Dibuat tua. Polanya mirip dengan sampel Bengkel."

Intan tidak bertanya bagaimana Bayu tahu. Ia hanya menoleh ke meja utama.

"Kalau kamu bicara di tengah lelang, malam amal ini hancur."

"Kalau saya diam, barang itu masuk koleksi orang dengan sertifikat palsu dan nama panti asuhan dipakai sebagai jalan masuk."

Palu hampir naik.

"Tiga miliar dua ratus juta."

Seorang pengusaha dari Jakarta mengangkat paddle.

"Tiga miliar lima ratus."

Bayu berdiri.

Namun ia tidak langsung menuju panggung. Ia mendekati panitia utama, seorang perempuan setengah baya bernama Bu Ratna, ketua yayasan malam itu. Intan berjalan di sampingnya. Budi tidak hadir, tetapi Bayu sudah mengirim pesan pendek: `Butuh jalur bukti. Segera.`

"Bu Ratna," ucap Bayu pelan, "tolong hentikan sementara lot ini. Saya punya alasan profesional untuk menduga arca itu tidak sesuai katalog."

Wajah Bu Ratna memucat.

"Mas Bayu, ini acara amal. Kalau salah bicara..."

"Saya tidak minta Ibu percaya saya. Saya minta Ibu mencatat bahwa saya menyampaikan keberatan sebelum palu jatuh. Panggil pihak Mahkota. Panggil saksi. Kita bicarakan di ruang samping."

Intan menambahkan dengan suara lebih dingin, "Wibowo akan berdiri bersama panitia, asal prosedurnya bersih."

Lima menit kemudian, mereka berada di ruang kecil di belakang ballroom.

Darmoko masuk terakhir.

"Ada apa ini?" Senyumnya masih ada. "Lot sedang panas. Menunda seperti ini tidak baik untuk suasana."

Bayu menggeser katalog ke depannya.

"Saya meminta lot ditahan untuk pemeriksaan ulang."

"Anda kurator resmi Mahkota?"

"Bukan."

"Punya sertifikasi khusus untuk arca Majapahit?"

"Tidak."

Darmoko mencondongkan badan.

"Kalau begitu, Mas Bayu, jangan merusak aturan rumah orang. Anak muda kadang terlalu cepat percaya pada tepuk tangan pasar."

Udara di sekitar Bayu mendadak terasa dingin ketika Firasat Bahaya menyala.

Ia menatap mata Darmoko. Senyum lelaki itu tidak berubah, tetapi keyakinan keras di belakangnya datang dari perlindungan orang besar. Keaslian barang tidak ada hubungannya dengan rasa percaya diri itu.

"Aturan rumah tidak boleh mengalahkan kebenaran barang," kata Bayu.

Darmoko tertawa pendek.

"Kebenaran barang? Sertifikat lengkap. Riwayat koleksi lengkap. Mahkota tidak bekerja seperti lapak jalanan."

"Kalau begitu, tidak ada masalah jika diperiksa oleh pihak ketiga."

Senyum Darmoko menipis.

"Lot ini milik consignor pribadi. Ada klausul privasi."

"Ada klausul tanggung jawab publik juga," sahut suara tua dari pintu.

Pak Wiryo masuk dengan tongkat hitam di tangan.

Beberapa orang langsung memberi jalan. Di dunia barang antik Jawa Timur, nama Pak Wiryo belum tentu paling keras, tetapi paling sulit dibeli.

Bu Ratna seperti menemukan pegangan. "Pak Wiryo, mohon bantu kami."

Mereka kembali ke ballroom dengan penjelasan singkat. Juru lelang mengumumkan jeda teknis. Bisik-bisik merambat di antara meja.

Arca itu diturunkan ke meja pemeriksaan sementara. Pak Wiryo memakai sarung tangan dan bekerja dalam diam, memeriksa dasar, punggung, serta lekukan jari sebelum meminta lampu sorot kecil. Bayu berdiri dua langkah di belakang tanpa menyentuh barang itu.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Pak Wiryo meletakkan kaca pembesar.

Wajahnya kelabu.

"Saya tidak akan menyebut barang ini palsu tanpa uji laboratorium," katanya ke mikrofon. "Tetapi sebagai pemeriksaan awal, ada beberapa indikasi serius bahwa arca ini tidak sesuai klaim periode Majapahit. Saya menyarankan lot ini ditarik."

Ruangan meledak.

"Apa?"

"Sertifikatnya bagaimana?"

"Ini Mahkota, lho."

Darmoko maju setengah langkah. "Pak Wiryo, dengan segala hormat, ini bisa merugikan consignor dan panitia."

Pak Hartono meletakkan cangkirnya.

Suara kecil itu anehnya membuat meja utama diam.

"Yang merugikan panitia adalah menjual keraguan sebagai kepastian."

Tidak keras.

Tapi cukup.

Bu Ratna mengambil mikrofon dengan tangan gemetar. "Atas nama panitia, lot utama kami tarik untuk pemeriksaan independen. Kami mohon maaf kepada para tamu."

Kamera ponsel terangkat di banyak meja.

Bayu tahu bagian terburuk baru dimulai. Amal yang kehilangan lot utama bisa berubah menjadi bahan ejekan. Nama panti asuhan bisa terseret. Semua orang bisa lupa bahwa korban pertama adalah anak-anak yang menunggu dana.

Ia meminta mikrofon.

Intan menatapnya. "Kamu yakin?"

"Kalau kita merusak pintu palsu, kita harus buka pintu yang benar."

Bayu berdiri di depan panggung.

"Saya Bayu Prasetyo dari CV Prasetyo. Saya yang mengajukan keberatan awal. Kalau nanti uji laboratorium membuktikan saya salah, saya akan meminta maaf secara terbuka. Malam ini kita hanya perlu memastikan benda itu layak dilelang."

Ia berhenti.

"Malam ini tentang anak-anak yang seharusnya menerima bantuan."

Ruangan diam.

"Karena lot utama ditarik, saya menyumbang dua miliar rupiah atas nama CV Prasetyo dan Cahaya Timur Jewelry."

Angka itu jatuh seperti palu.

Di meja tamu, orang-orang saling melihat.

Pak Hartono tersenyum sangat tipis. Lalu ia berdiri.

"Keluarga Wibowo menambah lima miliar rupiah."

Kali ini suara tepuk tangan tidak langsung pecah.

Ia menumpuk dulu.

Seperti ombak yang ragu, lalu menghantam.

Bu Ratna menutup mulutnya. Beberapa pengurus yayasan menangis pelan. Para tamu yang semula menunggu skandal tiba-tiba merasa harus ikut menjaga wajah malam itu. Dalam dua puluh menit, tambahan donasi dari meja lain masuk satu per satu.

Lot palsu gagal menjadi mahkota.

Malam amal justru naik derajat.

Di sudut dekat pintu keluar, seorang perempuan berambut pendek menurunkan ponselnya. Ia tidak ikut bertepuk tangan. Ia hanya membuka daftar tamu digital, mencari satu nama, lalu menggambar lingkaran kecil di sekitarnya.

Bayu Prasetyo.

Darmoko melihat tepuk tangan itu dengan wajah beku.

Saat acara selesai, ia masuk ke mobil hitam tanpa menunggu sopir membukakan pintu. Di balik kaca gelap, senyumnya hilang.

Ia menelepon seseorang.

"Pak, ada masalah kecil di Surabaya."

Di ujung sana, tidak ada suara.

Darmoko menelan ludah.

"Ada anak muda... matanya terlalu tajam."

Dua detik berlalu.

Lalu sebuah suara laki-laki menjawab pelan.

"Amati."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!