NovelToon NovelToon
Misteri Kematian Bapak

Misteri Kematian Bapak

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Tumbal
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: AnnaYoung

​Kematian Pak Broto yang mendadak meninggalkan duka sekaligus keanehan yang tak masuk akal bagi anak-anaknya. Dari jasad yang beratnya tidak wajar, bau tanah basah bercampur kemenyan saat dimandikan, hingga tanah liang lahat yang mendadak amblas.

​Bu Retno, sang ibu, melimpahkan dukanya dengan mengurung diri selama berbulan-bulan di kamarnya, dan menutup total Warung Nasi Broto—usaha kuliner keluarga di pinggir jalan raya Madiun-Ngawi yang selama ini menghidupi mereka. Atas desakan dan perjuangan keras Galang, anak ketiga yang paling berbakti, Bu Retno akhirnya mau kembali bangkit.

​Namun, kebangkitan Bu Retno membawa teror baru. Hanya dua bulan kemudian, Bu Retno memperkenalkan seorang pria misterius yang dingin sebagai calon suami barunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 - Pak Sapta

​TOK ... TOK ... TOK.

​Tiga ketukan itu bergema pelan namun menusuk, merayapi dinding-dinding kayu rumah keluarga Broto yang hening. Bayu yang tertidur lelap di atas tikar menggeliat kaget, matanya terkedip-kedip linglung dalam remang ruang tengah.

​"Si-siapa jam segini ...?" gumam Bayu serak sambil berusaha duduk.

​"Biar Ibu yang buka," potong Bu Retno datar.

​Wanita itu melangkah melewatinya dengan gerakan anggun yang kaku, seolah-olah sudah menunggu ketukan itu seumur hidupnya. Tanpa ragu sedikit pun, tangannya yang kurus menggeser kait besi pintu depan.

​Kriiiieeek ....

​Pintu berderit terbuka lebar, membiarkan hawa malam Madiun yang menggigit merangsek masuk membawa aroma tajam tanah basah dan asap tembakau mahal.

​Di ambang pintu, berdiri seorang pria paruh baya berusia 50-an awal. Tubuhnya tegap berbalut kemeja batik sutra gelap bermotif garuda yang terawat sempurna. Rambut klimisnya disisir rapi ke belakang, berselang-seling warna perak dan hitam.

Namun, yang membuat dadanya Galang seketika terenyak adalah tatapan matanya—sepasang mata tajam berbingkai kacamata emas yang memancarkan ketenangan dingin yang amat berkuasa, seolah ia memegang kendali atas segalanya di ruangan itu.

​Di tangan kirinya, pria itu menggenggam sebuah tongkat kayu berukir kepala naga dengan mata batu akik merah darah. Sedang di tangan kanannya, ia menjinjing sebuah kotak kayu jati berukuran sedang yang diikat rapat menggunakan kain linen hitam tua.

​"Sugeng dalu, Bu Retno ...." Suara pria itu terdengar dalam, dan bergema halus, bagaikan beludru yang menyembunyikan sembilu.

​Bu Retno menundukkan kepalanya dalam-dalam, memperlebar senyum kaku yang sejak pagi mengukir wajahnya.

"Sugeng dalu, Pak Sapta ... Wilujeng rawuh. Silakan masuk. Kami sudah menunggu."

​Pak Sapta. Sapta ... yang berarti "tujuh". Nama itu bergetar asing di telinga Galang. Pria ini melangkah melewati ambang pintu dengan gerakan mantap. Sepatu kulit hitamnya berdecit pelan di atas lantai semen.

Saat sosok itu berjalan melewatinya, Galang menghirup bau yang janggal—perpaduan antara minyak wangi kayu cendana kelas atas, aroma tembakau gurih, dan bau amis samar yang tertahan sangat dalam di balik bajunya.

​Bayu berdiri terpaku, mengusap tengkuknya yang mendadak meremang.

"Bu ... ini siapa?"

​Pak Sapta menghentikan langkahnya, berbalik perlahan menghadap Bayu dan Galang. Kacamata berbingkai emasnya memantulkan pendar samar lampu minyak tanah di ruang tengah.

​"Panggil saja saya Pak Sapta," kata pria itu seraya tersenyum tipis. Senyumnya rapi, penuh wibawa, namun di mata Galang, senyum itu terasa sama palsunya dengan senyuman ibunya. "Saya kerabat jauh almarhum Bapak kalian dari Blitar. Teman lama dalam ... bisnis warung."

​"Kerabat?" Bayu mengernyit bingung. "Rasanya Bapak nggak pernah cerita kalau kita punya kerabat dari Blitar."

​"Bapakmu tidak banyak bicara kalau menyangkut hal-hal besar, Bayu," sela Bu Retno cepat dengan nada yang tidak menerima bantahan. "Pak Sapta ini yang dulu membantu Bapakmu saat pertama kali mendirikan Warung Nasi Broto."

​Galang maju satu langkah, menatap lurus ke dalam bola mata Pak Sapta.

"Kalau Pak Sapta teman lama Bapak ... kenapa baru datang sekarang? Kenapa tidak melayat saat Bapak meninggal enam bulan lalu?"

​Suasana di ruang tengah mendadak membeku. Bayu melirik Galang dengan mata melotot, memperingatkan adiknya agar tidak bersikap tak sopan pada tamu.

Namun, Pak Sapta tampaknya tidak tersinggung sama sekali. Pria itu justru terkekeh pelan—sebuah tawa berwibawa yang terasa menusuk hingga ke sumsum tulang.

​"Anak yang kritis ...." Pak Sapta menatap Galang, matanya menyempit meneliti wajah pemuda itu dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Tatapannya menetap beberapa detik lebih lama di genggaman tangan kanan Galang yang tersembunyi di dalam saku celana—tempat sisa kain linen tua yang hangus itu disimpan.

​"Pertanyaan yang bagus, Galang," lanjut Pak Sapta pelan. "Ada urusan-urusan yang harus saya selesaikan di luar kota. Perjalanan perjanjian ... tidak bisa diputus secepat itu. Tapi yang terpenting, saya ada di sini sekarang. Untuk memastikan warisan bapakmu tidak habis dimakan waktu."

​Pak Sapta melangkah menuju meja kayu di tengah ruangan, lalu meletakkan kotak kayu jati bernuansa hitam itu tepat di poros meja dengan ketukan mantap.

​Asap tipis tak berbau menguar samar dari celah-celah kotak kayu tersebut, menyebar di udara ruang tengah secara tak kasat mata, membuat nyala api pada lampu minyak tanah mendadak meredup ganjil.

​"Apa itu, Pak?" tanya Bayu penasaran, langkah kakinya tertarik mendekati meja.

​"Ini adalah penguat ...," jawab Pak Sapta lembut, mengelus permukaan kotak jati itu dengan jemarinya yang mengenakan dua cincin batu akik besar. "Di dalamnya ada bahan-bahan pelengkap bumbu legendaris warung kalian. Modal awal, sekaligus tanda kemitraan kita yang baru."

​Pak Sapta melepas ikatan kain linen hitam yang membungkus kotak tersebut. Saat penutup kotak jati itu diangkat sedikit, aroma resep lama yang teramat familiar mendadak memenuhi ruangan—bau gurih kuah rawon yang pekat, harum ketumbar dan serai yang menggugah selera.

Bau yang persis sama dengan masakan Pak Broto saat warung mereka mencapai puncak kejayaannya bertahun-tahun lalu.

​Bayu menelan ludahnya, matanya berbinar seketika.

"Ini ... ini kan bau resep Bapak ...."

​Namun, hidung Galang menangkap sesuatu yang lain. Di balik lapisan wangi bumbu rawon yang kuat itu, ada aroma sangit yang sama dengan aroma saat ibunya membakar dupa dan kain linen putih kusam malam itu—bau daging bayi terbakar dan embun malam kuburan.

​Galang merasakan jantungnya berdegup kencang. Kotak kayu itu bukanlah berisi rempah biasa. Itu adalah Sajen Utama yang baru.

​"Saya tahu kalian sedang kesulitan," kata Pak Sapta seraya merogoh saku dalam kemeja batiknya. Ia mengeluarkan seikat tebal uang kertas rupiah pecahan seratus ribuan yang masih mulus bercap pita bank, lalu meletakkannya di samping kotak kayu. "Ini uang modal awal 15 juta rupiah. Cukup untuk belanja bahan masakan terbaik, memperbaiki perlengkapan warung, dan melunasi hutang-hutang kecil kalian di pasar."

​Bayu membelalakkan mata melihat tumpukan uang merah yang berkilau di bawah temaram lampu.

"Lima ... lima belas juta?! Beneran ini, Pak?"

​"Untuk anak-anak teman lama saya, apa yang tidak?" Pak Sapta menepuk bahu Bayu penuh kehangatan yang dibuat-buat. "Besok pagi, kalian sudah bisa belanja. Buka kembali pintu warung itu. Biarkan aroma masakan keluarga Broto kembali menyapa desa ini."

​Bu Retno menyatukan kedua telapak tangannya di dada, matanya menatap uang itu tanpa sedikit pun keterkejutan, seolah pembayaran itu sudah disepakati dalam transaksi ghaib yang tak tertulis.

"Matur nuwun sanget, Pak Sapta ... kebaikan Sampeyan tidak akan kami lupakan."

​"Ini bukan sekadar kebaikan, Bu Retno," sahut Pak Sapta, suaranya mendadak melunak penuh arti, dan matanya bertaut erat dengan mata Bu Retno. "Ini adalah tanggung jawab saya untuk menjaga garis keturunan ini tetap berjalan sebagaimana mestinya."

​Garis keturunan. Kata itu sekali lagi bergema dingin di telinga Galang.

​Pak Sapta lalu berbalik menuju pintu keluar. Sebelum melangkah pergi, ia menghentikan langkahnya tepat di sisi Galang. Pria tua itu memiringkan kepalanya sedikit, berbisik sangat pelan di telinga Galang hingga hanya pemuda itu yang sanggup mendengarnya.

​"Jangan mencoba melawan arus sungai yang sudah digali oleh ayahmu, Anak Muda," bisik Pak Sapta dengan napas beraroma tembakau dan melati layu. "Kamu mungkin berdiri di tepi sungai karena darahmu berbeda ... tapi saudara-saudaramu ada di tengah arus. Salah melangkah, kamu sendiri yang melempar mereka ke pusaran."

​Galang merinding hebat. Darahnya terasa membeku dari kepala hingga ujung kaki. Pak Sapta tahu! Pria ini tahu persis bahwa Galang adalah anak angkat—dan ia menggunakan nyawa adik-adiknya sebagai sandera tak kasat mata.

​Tanpa menunggu balasan dari Galang, Pak Sapta tertawa kecil, menepuk pelan pundak Galang dua kali, lalu melangkah keluar menerobos kegelapan malam Madiun.

​Suara pintu mobil mewahnya terdengar ditutup, lalu deru mesinnya menjauh menyusuri jalanan desa yang sepi, meninggalkan rumah keluarga Broto dalam cengkeraman keheningan yang jauh lebih pekat dan mematikan.

​Di ruang tengah, Bayu mengusap-usap uang kertas di atas meja dengan wajah penuh gembira. Sememtara Bu Retno berdiri mematung di samping kotak kayu jati yang sedikit terbuka, senyum kaku di wajahnya terukir kian dalam.

​Galang berdiri gemetar di dalam remang-remang, menyadari bahwa malam itu, iblis yang sesungguhnya telah resmi melangkah masuk ke dalam rumah mereka—membawa bingkisan modal yang terbayar oleh takdir dan nyawa.

1
kinoy
dah ah g MW komen..SKT hati baca y..bnr2 kesetanan si Retno ..abisin aj keturunan kau..nanggung. jgn ada sisa..
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Tersisa Rian dan ....... Gilang !
mereka menunggu giliran meninggal untuk diambil nyawanya oleh penagih pesugihan pakk Broto
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Sekarang kamu tahu bahwa pakk Sapta itu hanyalah fiktif alias jelmaan iblisss sang penagih tumbal garis keturunan.
Terus sekarang kamu tergesa gesa pulang ke Madiun tanpa tahu bagaimana caranya menghentikan pesugihan ini, ya sama aja bohong.
kamu tetap tidak bisa menyelamatkan nyawa Mia.
kamu datang ke Madiun hanya akan melihat nyawa Mia , sedangkan nyawa Rian dan Gilang pun masih menunggu giliran
kinoy
etdah..deg deg an..apa Mia KD tumbal ketiga kah
kinoy
iiiihhhh..tmbh seru baca y..gemes aq
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
eehhh ... authornya ngajak ke Ngawi 😄
aku belum pernah kesana , Thor ....
paling lewaT aja lalu naik kereta mau ke Surabaya
kinoy
ayo Galang slmtkan sisa adikmu..KLO MW JD tumbal si Retno aj
kinoy
nunggu smua anak broto JD tumbal x y..kasian ATH..noh ada ustadz g BS bantuin gt..geram AQ ma si sapta
kinoy
ya ALLAH kasian km Tiwi..JD tumbal..sapa donk yg BS nolongin Galang ni teh
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Jadi korban selanjutnya .... Mia.
setelah itu Rian .... terus Gilang.
5 garis keturunan.
ditambah janin anak sulung dan pakk Broto sendiri menjadi 7.

Benarkah Galang akan menyaksikan kembali kematian 3 tumbal yang tersisa?
apakah Galang benar benar tidak bisa menyelamatkan sisanya??
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
katanya udah kaya , warung banjir dengan pelanggan , lah ko lampu kamarr Pertiwi masih pakai bohlam kuning 5 Watt 🤔
kinoy
otak si Galang krng muter..dah tau BKN SKT medis..BW ke ustad ke..lah ni mlh dibw kermh LG .nunggu mati JD tumbal..si Sapta omongan y krng ajar bgt y..fisik Tiwi kering duit tmbh numpuk ..bnr2 gila
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Jawaban profesional seorang dokter .... ya begini.

Meski dokternya tahu bahwa ini bukan penyakit biasa, seorang dokter tidak akan menyarankan berobat ke kyai .
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Lahhh ... bukannya kamu udah tahu sendiri, Galang ....
kalau penyakit adikmu ini berhubungan dengan hal ghaib .

Jadi kacamata dokter tidak akan mendeteksi adanya penyakit di tubuh Pertiwi
kinoy
ALLAHU RABBI..KK otor tolongin Pertiwi ngapa..si Retno ay yg JD tumbal deh..kasian anak2nya..gemes AQ baca y
kinoy
kasian Pertiwi..si Retno ih bnr2 bikin gedek..Galang kyknya mst berstrategi ngadepin si sapta
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Jarak eksekusi Bayu ke Pertiwi 7 hari.

Dan Galang ... menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri ketika Bayu dan sekarang Pertiwi meninggal karena sudah waktunya ditumbalkan.
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Ohhh .... ternyata potongan kain linen yang dipegang Galang ada semua nama calon tumbalnya ......
kinoy
dasar setan..si Sapta ktnya dtng bt mencegah spy gd tumbal LG eh mlh dia yg ngatur 1 per satu anak broto komit..si b Retno jg sama aj
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Tumbal selanjutnya ..... Pertiwi

dan

Galang sudah mengetahui tumbal garis keturunan ini , dan dia hanya bisa menyaksikan 1 per 1 tumbal diambil nyawanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!