Bima selalu dianggap sebagai pemuda idiot desa yang hanya bisa tersenyum saat dihina dan dilempari batu oleh warga, padahal di balik kepolosannya ia adalah pewaris tunggal ilmu pengobatan tingkat dewa dari seorang pertapa sakti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Pusat perbelanjaan elit di jantung ibukota akhir pekan ini dipenuhi oleh kalangan kelas atas. Lampu-lampu kristal gantung yang mewah memantulkan cahaya gemerlap ke lantai marmer yang mengkilap.
Clara berjalan dengan riang, menarik tangan Bima melewati deretan butik barang bermerek. Gadis itu menjadi pusat perhatian banyak pasang mata. Selain karena statusnya sebagai pewaris tunggal keluarga Herman, kecantikannya yang kini mekar sempurna setelah racunnya hilang benar-benar memukau siapa saja yang melihatnya.
Namun, perhatian orang-orang juga tertuju pada pria yang ditarik oleh Clara. Bima mengenakan kaus polos seharga puluhan ribu dan celana bahan yang sudah agak pudar. Perbedaan visual keduanya terlihat seperti seorang putri kerajaan yang sedang berjalan bersama warga biasa.
"Kita masuk ke sini!" seru Clara sambil menarik Bima ke dalam sebuah butik pakaian pria papan atas dari Italia.
"Clara, saya tidak butuh pakaian baru. Baju-baju yang dibelikan Pak Herman kemarin sudah sangat cukup," tolak Bima halus.
"Tidak bisa! Kamu sekarang adalah pelindung utamaku, kau harus memiliki wibawa di mata publik. Apalagi sebentar lagi Papa akan menggelar pesta besar," bantah Clara sambil mendorong Bima ke ruang ganti. Ia melemparkan beberapa pasang kemeja, celana chinos, dan sebuah jas kasual berwarna biru dongker. "Pakai semua itu dan jangan keluar sebelum kau mencobanya!"
Bima hanya bisa menghela nafas pasrah menghadapi tingkat keras kepala Clara yang baru ini.
Sepuluh menit berlalu. Pintu ruang ganti perlahan terbuka.
Clara yang sedang duduk bersilang kaki membaca majalah fashion mendongakkan kepalanya. Detik berikutnya, nafas gadis itu tertahan di tenggorokan. Matanya membulat sempurna, dan rona merah tebal langsung menjalar hingga ke telinganya.
Pemuda udik dari desa itu kini telah lenyap tak bersisa. Bima berdiri di hadapannya dengan balutan kemeja hitam yang sangat pas membalut tubuh atletisnya yang terbentuk dari latihan bela diri bertahun-tahun. Jas kasual biru dongker itu memberikan kesan elegan, sementara postur tubuhnya yang tegap dan tatapan matanya yang tajam memancarkan aura dominasi yang sangat maskulin. Rambutnya yang sedikit panjang dibiarkan tertata natural.
Ia tampak bukan seperti seorang pengawal, melainkan seorang pangeran atau CEO muda yang sedang menyamar.
"Bagaimana? Apakah ukurannya tidak terlalu sempit?" tanya Bima sambil merapikan lengan jasnya.
"S-sempurna..." gumam Clara tanpa sadar. Gadis itu buru-buru berdiri dan memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan senyum lebarnya yang salah tingkah. "Kita ambil yang ini! Dan lima pasang pakaian lainnya yang sudah aku pilihkan tadi!"
Saat Clara sedang mengurus pembayaran di meja kasir, sebuah suara bariton yang terkesan angkuh terdengar dari arah pintu masuk butik.
"Clara? Wah, sebuah kebetulan yang indah bisa bertemu bidadari keluarga Herman di sini."
Seorang pemuda berpakaian mencolok dengan jam tangan emas berlian mendekat. Ia adalah Rico, putra dari salah satu pemegang saham minoritas di perusahaan Pak Herman.
"Oh, hai Rico," sapa Clara dengan nada dingin dan malas.
Mata Rico kemudian beralih menatap Bima dari atas ke bawah dengan pandangan meremehkan. "Kudengar kau baru saja sembuh dari penyakit parah, Clara. Tapi kenapa kau malah berjalan-jalan dengan pengawal baru yang wajahnya sama sekali tidak kukenal ini? Pakaiannya boleh juga, tapi dari gerak-geriknya, dia pasti dari kelas bawah."
Rico melangkah maju, berniat menyentuh bahu Clara. "Bagaimana kalau kau kencan denganku saja hari ini? Biar pesuruh ini yang membawakan barang belanjaan kita."
Sebelum tangan Rico berhasil menyentuh Clara, sebuah tangan sekokoh baja mencengkeram pergelangan tangannya.
Grep.
"Jauhkan tanganmu jika kau masih ingin menggunakannya untuk makan besok pagi," ucap Bima dengan nada yang sangat datar, namun memancarkan aura dingin yang membekukan darah.
Rico berusaha menarik tangannya dengan marah, namun cengkeraman Bima terasa seperti catok besi raksasa yang perlahan meremukkan tulangnya.
"A-akh! Lepaskan! Beraninya kau..."
Bima tidak menjawab. Ia hanya sedikit mengalirkan hawa murni tenaga dalamnya, memfokuskan sebuah tekanan aura ke arah Rico. Tiba-tiba saja, Rico merasa seolah-olah ada seekor harimau buas besar yang sedang menatap lurus ke dalam jiwanya, bersiap mencabik-cabiknya.
Wajah Rico seketika menjadi pucat pasi. Lututnya bergetar hebat. Bima melepaskan cengkeramannya, dan Rico langsung terhuyung mundur hingga menabrak rak pajangan, sebelum akhirnya berlari keluar dari butik dengan keringat dingin bercucuran tanpa menoleh ke belakang lagi.
Clara tertawa kecil melihat kejadian itu. "Kau sedikit kejam, Bima. Tapi jujur saja, itu sangat keren."
"Tugas saya menyingkirkan lalat yang mengganggu Anda," jawab Bima santai.
Namun, senyum di wajah Bima hanya bertahan selama dua detik. Intuisi bela dirinya yang sangat tajam mendadak menangkap sebuah sinyal bahaya ekstrem. Bulu kuduknya berdiri.
Hawa membunuh. Sangat pekat. Dan jumlahnya tidak hanya satu.
Bima melirik tajam ke luar kaca butik. Di keramaian pengunjung, ia melihat tiga orang pria berjaket kulit hitam dengan topi ditarik rendah. Mereka berdiri di titik-titik strategis yang memblokir akses ke eskalator dan pintu keluar. Di lantai dua, tepat di atas posisi mereka, Bima juga melihat kilatan logam dari balik jaket seseorang yang bersandar di pagar kaca.
"Mereka menemukan kita lebih cepat dari dugaanku," gumam Bima, suaranya kini berubah sangat serius dan waspada.
"Siapa? Rico membawa teman-temannya?" tanya Clara kebingungan.
"Bukan. Ini Organisasi Serigala Malam. Mereka mengirim pasukan yang jauh lebih terlatih dari pembunuh sebelumnya," Bima meraih pergelangan tangan Clara dengan erat. "Clara, dengarkan aku baik-baik. Jangan lepaskan tanganku, dan jangan berteriak apa pun yang terjadi."
Tepat saat Bima menyelesaikan kalimatnya, lampu-lampu utama di seluruh lantai dasar pusat perbelanjaan itu mendadak mati secara serentak.
Trang! Prang!
Suara pecahan kaca terdengar nyaring diikuti oleh jeritan histeris dari para pengunjung yang panik akibat kegelapan yang tiba-tiba. Di tengah kekacauan dan orang-orang yang berlarian tak tentu arah, Bima bisa merasakan empat niat membunuh melesat menembus keramaian, mengarah lurus ke jantung Clara.
"Tetap di belakangku!" perintah Bima. Ia merogoh saku jas barunya, di mana puluhan jarum peraknya sudah berdenting pelan, siap untuk mencicipi darah malam ini.