NovelToon NovelToon
Cintai Aku

Cintai Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Orang Disabilitas
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: elaretaa

Di balik senyum ceria Nadia, tersimpan ketangguhan luar biasa. Meski ia tidak bisa bicara dan berasal dari keluarga sederhana, kecerdasannya membawa Nadia meraih beasiswa di universitas swasta ternama.

Namun, dunianya yang begitu sempurna seketika runtuh saat kedua orang tuanya tewas dalam kecelakaan tragis. ​Demi masa depannya, Nadia membalut lukanya dengan senyuman. Sayangnya, badai kembali datang seolah tidak membiarkan Nadia hidup dengan tenang, hingga ia bertemu dengan seorang pria yang membantunya dari kejamnya dunia.

Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang terjadi pada Nadia? Siapakah pria yang membantu Nadia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19

Bibi Ratih melipat tangannya di dada, melemparkan pandangan meremehkan ke arah rumah kecil milik orang tua Nadia sebelum kembali menatap Nadia yang berdiri lemas di ambang pintu.

​"Kamu tidak usah banyak tanya, Nadia! Saya ke sini untuk menyelesaikan urusan yang belum rampung," ujar Bibi Ratih dengan nada tinggi, ia memiringkan tubuhnya dan menunjuk pria paruh baya bersetelan rapi di sampingnya.

"Ini Pak Bambang, pengacara yang sudah saya sewa untuk mengurus balik nama sertifikat rumah dan tanah ini atas nama saya," lanjut Bibi Ratih.

​Nadia membelalakkan matanya. Jantungnya berdegup kencang, menggantikan rasa lelah yang tadinya mendominasi tubuhnya. Dengan jemari bergetar hebat karena emosi yang membuncah, ia dengan cepat mengetik di papan tulis kecilnya.

​[Rumah ini milik Ayah dan Ibu! Bibi tidak berhak mengambil rumah ini!]

​Bibi Ratih merebut papan tulis itu dan membaca pesannya, lalu tertawa meledak penuh ejekan. "Milik orang tuamu? Jangan lupa, Nadia, almarhum ayahmu dulu pernah meminjam uang ratusan juta ke saya! Kalau kamu nggak mau rumah ini saya ambil, ya kamu bayar utang itu sekarang? Lagipula, kamu itu cuma gadis bisu, miskin dan nggak punya pekerjaan layak. Memangnya kamu bisa mempertahankan rumah ini?" tanya Bibi Ratih.

​Pak Bambang menyodorkan beberapa lembar kertas dari dalam map cokelatnya, "Mbak Nadia, secara hukum, dokumen klaim utang piutang dan draf pengalihan aset ini sudah kami siapkan. Jika Mbak tidak bisa melunasi utang almarhum Orang Tua Mbak dalam kurun waktu satu bulan, maka rumah ini akan disita," ucapnya.

​Air mata Nadia meluncur deras membasahi pipinya yang pucat, rumah sederhana ini adalah satu-satunya kenangan fisik yang menyatukan kenangan hangat Ayah Herman dan Ibu Sintia.

​Nadia menggelengkan kepalanya kuat-kuat, merampas kembali papan tulisnya lalu mengetik dengan tegas.

[Tapi, Ayah tidak pernah bilang dia punya utang. Nadia yakin, Ayah nggak mungkin punya utang]

"Hey Nadia! Orang tua kamu pasti sembunyiin semuanya dari kamu, mereka itu punya utang sama saya," ucap Bibi Ratih.

[Apa Bibi punya bukti kalau Ayah sama pinjam uang ke Bibi?]

"Loh, kamu minta bukti? Yaudah kita bongkar makam orang tua kamu dan tanya sendiri ke dia, kamy pikir Bibi bohong ya! Mereka pinjam uang pas nggak ada kanu, Nadia! Bibi nggak mau tahu, pokoknya kamu harus bayar utang mereka, kalau nggak awas aja ya, Bibi bongkar makam orang tua kamu," ancam Bibi Ratih.

​[Saya akan cari cara bayar utang itu, tapi Bibi tidak boleh mengusir saya dan mengambil rumah ini secara sepihak, apalagi sampai membongkar makam Ayah sama Ibu!]

​"Cari cara?" Bibi Ratih melangkah maju dan mendorong bahu Nadia hingga gadis itu terhuyung mundur ke dinding pintu.

"Paling-paling kamu menjual diri di luar sana! Saya tahu kamu tiap malam keluar rumah dan baru pulang pagi-pagi begini, jangan kira saya tidak tahu kamu kerja kotor!" lanjutnya.

​Hinaan itu menghantam dada Nadia tepat di bekas luka semalam dari ucapan Tamara. Namun Nadia memejamkan mata erat-erat, menahan rasa sakitnya, lalu kembali menatap Bibi Ratih dengan sorot mata yang penuh determinasi. Nadia tidak membalas tuduhan kejam itu, ia hanya memberikan anggukan mantap tanda menerima tantangan waktu satu bulan tersebut.

​"Bagus kalau kamu paham! Satu nulan sekarang! Kalau uangnya tidak ada, Pak Bambang dan orang-orang saya sendiri yang akan mengangkut barang-barangmu ke jalanan!" ucap Bibi Ratih.

​Setelah Bibi Ratih dan pengacaranya melangkah pergi meninggalkan halaman rumah, lutut Nadia serasa kehilangan tulang. Ia luruh terduduk di atas lantai kayu yang berdebu, menutupi wajahnya dengan kedua tangan dan menangis tanpa suara dalam keheningan yang menyayat hati.

...###...

Sementara itu, waktu bergulir cepat menuju akhir pekan. Suasana sore di kediaman keluarga Mahendra tampak begitu tenang, namun ketegangan tersembunyi berhembus di ruang kerja utama lantai satu.

​Papa Mahendra duduk di balik meja kerja mahoni mewahnya, memandangi berkas-berkas lamaran investasi dan sebuah map dokumen tua bersampul cokelat. Ketika pintu ruang kerja diketuk dua kali, sosok Aksa melangkah masuk. Pria itu baru saja memimpin rapat darurat di kantor pusat dan masih mengenakan kemeja abu-abu gelap dengan lengan yang dilipat rapi hingga siku.

​"Ada apa, Pa? Aksa baru saja sampai dan Mama bilang Papa minta Aksa langsung ke ruang kerja," ujar Aksa singkat, memotong jarak dan berdiri di depan meja papanya.

​Papa Mahendra menghela napas panjang, mengindikasikan bahwa pembicaraan kali ini amat krusial. Ia menyandarkan punggungnya lalu menatap putra tunggalnya dengan sorot mata serius namun dipenuhi keharuan masa lalu.

​"Duduklah dulu, Aksa," perintah Papa Mahendra tenang.

​Aksa menurut. Ia menarik kursi kayu berukir di hadapan papanya lalu duduk bersedekap dada, menunggu kelanjutan kalimat pria paruh baya tersebut.

​"Soal rencana perjodohan yang Papa katakan beberapa hari lalu," buka Papa Mahendra dengan suara mantap.

"Papa sudah mencari tahu tentang teman lama Papa itu. Tapi, ternyata...,"

​Aksa menaikkan satu alisnya, ekspresi wajahnya tetap dingin tak tersentuh. "Tapi, apa?" tanyanya.

​Papa Mahendra mengangguk perlahan, tangannya terulur mengelus map cokelat di atas meja. "Teman lama Papa... sahabat yang dulu pernah menyelamatkan bisnis keluarga kita di masa sulit, beserta istrinya... baru saja meninggal dunia dalam kecelakaan beberapa bulan lalu. Putri tunggal mereka sekarang hidup sendirian sebagai yatim piatu,"

​Aksa terdiam sejenak. Ada denyut ketertarikan tipis di matanya, namun pragmatisme dalam dirinya tetap mendominasi. Bagi Aksa, sebuah pernikahan yang didasari janji masa lalu orang tua bukanlah masalah besar, selama calon istrinya tidak mencampuri urusan bisnisnya dan tidak bertindak manipulatif seperti wanita-wanita kaya yang sering mendekatinya.

​"Jadi perempuan itu sekarang sendirian?" tanya Aksa, suaranya tetap datar.

"Jika ini adalah bentuk tanggung jawab dan balas budi Papa atas jasa almarhum orang tuanya di masa lalu, Aksa tidak keberatan. Lakukan saja seperti yang Papa mau, terserah Papa," lanjut Aksa.

​Papa Mahendra tersenyum tipis, merasa lega karena putra tunggalnya yang keras kepala itu tidak mengajukan perlawanan seperti biasanya. Namun, raut wajah Papa Mahendra mendadak berubah agak ragu. Ia berdehem pelan sebelum menyambung kalimatnya.

​"Ada satu hal lagi yang harus kamu ketahui sebelum kita menemuinya, Aksa," ucap Papa Mahendra.

​Aksa menatap papanya datar. "Apa lagi, Pa? Dia menuntut harta gono-gini? Atau dia minta mahar yang tidak masuk akal?" tanyanya.

​"Bukan," sela Papa Mahendra cepat, ia menatap lurus mata Aksa.

"Anak dari sahabat Papa itu... Dia... tidak bisa berbicara," ucap Papa Mahendra.

​Deg!

Kalimat singkat itu menghantam kesadaran Aksa bagaikan petir di siang bolong, raut wajah dingin dan acuh tak acuh yang sejak tadi terpasang di wajah Aksa seketika hancur total. Matanya membelalak kaget, napasnya tertahan di tenggorokan.

.

.

.

Bersambung.....

1
Raisha
kluarga dari pihak Nadia apa gak di kabari & undang ya Thor,kok gak di ceritain? bibinya apa kabar, jadi mo jual rumahnya Nadia? serasa dia ahli warisnya aja,main jual rumah ayahnya Nadia sembarangan, dah kena karmanya lom bik?
Aidil Kenzie Zie
lumayan katanya tapi sampai ludes🤭🤭🤭
Aidil Kenzie Zie
ada yang masih kangen nich 🤭🤭🤭
Aidil Kenzie Zie
ah akhirnya Aksa mau juga 🥰🥰🥰
erviana erastus
rajin pulang kerumah aksa eh 🤭
falea sezi
lanjut
falea sezi
anak kuliahan klo ada hutang minta bukti. hutang klo asal ngomong gk ada hitam di atas putih itu sama aj nipu😒
falea sezi
moga aja nadia
erviana erastus
ih aksa 🤣 tuh kan terpesona kamu sama nadia makax jgn sok² nolak gtu 🤭 demi apa coba tetiba mau tidur dirumah 🤣
Raisha
moduuuuuuss...kamu dah gak bisa tahan pengin dekat² Nadia kan meski otakmu menolak tp hatimu berkata lain😂😂...untungnya papamu tau & ngerti apa yg kamu inginkan,makanya kamu gak boleh tinggal di rumahnya lagi...sabar Aksa, tunggulah sampai waktunya tiba
Naufal Affiq
buat emosi bacanya
Naufal Affiq
lanjut kak
Naufal Affiq
lanjut kak,seru ceritanya
erviana erastus
kalo jodoh nggak kemana kan aksa🤣
Rizky Manik
Aksa, kau yg ngajak Nadia nikah ya awas aja kalo kau gkbisa cintai Nadia, bakal kukutuk kau jadi batu😏🤣
Raisha
kalimatnya typo lg Thor🙏🤭....bukan "...teman anak Papa..." harusnya "...anak teman Papa..." krn yg othor tulis itu artinya temannya anak Papa pdhal Nadia kan anak temannya Papa,gitu kan maksudnya? Maaf kalo salah 🙏😃
elaretaa: Siap Kak, nanti author revisi lagi ya🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Sartini 02
bagus ceritanya dan selalu ditunggu
elaretaa: Terima kasih atas dukungannya Kak🥰🥰🥰🥰❤️
total 1 replies
Raisha
sampai di bab ini,masih banyak typo Thor 🙏...seperti kalimat "....dg balapan kemeja hitam yg tergulung....", artinya kata "balapan" itu apa?🤔,aku kurang faham. Maaf ya Thor 🙏😃
Raisha: sama² Thor.... terimakasih untuk ceritanya ini, semangat nulisnya ya Thor 🙏😍😂
total 2 replies
Evi Rachmawati
wadidaw aska... uangku banyak....
Aidil Kenzie Zie
E e e Aksa dijodohkan sama perempuan bisu nggak mau ini malah jadi pahlawan terus 🤔🤔🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!