NovelToon NovelToon
ADIKKU SELINGKUHAN SUAMIKU

ADIKKU SELINGKUHAN SUAMIKU

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Pengkhianatan / Tamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Bagi Lina, pengorbanan adalah bahasa cinta. Ia rela menelan ego, mengubur ambisi, dan menjadi istri sempurna demi Raka, pria yang ia cintai sejak kuliah. Namun, retakan mulai muncul ketika Raka sering pulang larut dengan alasan pekerjaan, sementara Lina sibuk mengurus rumah tangga mereka yang terasa semakin hampa.

Puncaknya terjadi pada malam ulang tahun pernikahan mereka yang ke-5. Bukan hadiah mewah yang Lina temukan di meja makan, melainkan notifikasi dari ponsel Raka yang tertinggal. Pesan itu bukan dari rekan kerja, melainkan dari "Sayang"—yang ternyata adalah Dinda, adik kandung Lina sendiri. Gadis manis yang selalu Lina lindungi, yang sering menginap di rumah mereka karena "masalah di kosannya", dan yang selalu memeluk Lina erat sambil berbisik, "Kakak adalah segalanya bagiku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENGACARA

Bab 6: Pengacara, Kopi Pahit, dan Teori Relativitas Rasa Sakit

Di sebuah Cafe Lina Sudah duduk bertiga Di hadapannya ada Arka, dan di samping Arka seorang pria berkacamata tebal dengan tumpukan dokumen setinggi menara Pisa.

Pria itu bernama Pak Hendra. Dia terlihat seperti orang yang belum tidur sejak tahun 2010. Matanya berkantung hitam, rambutnya acak-acakan, dan dia terus-menerus mengunyah permen karet mint dengan agresif.

"Jadi," kata Pak Hendra tanpa basa-basi, membuka folder pertamanya. "Istri dikhianati suami dengan adik kandung sendiri. Klasik sekali, Saya sudah menangani tiga kasus serupa bulan ini. Satu di antaranya bahkan melibatkan sepupu jauh dan kucing peliharaan. Tapi kita fokus pada kasus Anda dulu, Bu Lina."

Lina menatap Pak Hendra bingung. "Kucing peliharaan?"

"Jangan ber tanya," potong Arka cepat. "Itu cerita panjang yang melibatkan laser pointer dan warisan sengketa. Fokus Lin. Pak Hendra adalah pengacara perceraian terbaik di kota ini. Dan juga yang paling mahal. Jadi, pastikan kamu menangis dengan dramatis agar dia merasa kasihan dan mungkin bisa ngasi kamu diskon."

Pak Hendra mendengus. "Saya nggak kasih diskon karena air mata. Saya kasih diskon kalau kliennya bisa membuktikan bahwa suaminya lebih bodoh daripada rata-rata manusia. Dan dari deskripsi Anda, Bu Lina, suami Anda sepertinya memenuhi kriteria itu."

Lina tersenyum tipis. "Dia menyimpan kontak selingkuhannya dengan nama 'Bang Juki' dan yang satunya 'Suami Orang'. Apakah itu cukup bukti kebodohan?"

Pak Hendra mencatat sesuatu di buku catatannya. "Cukup. Itu menunjukkan tingkat kecerdasan emosional setara dengan batu bata. Oke, mari kita bicara aset. Rumah, mobil, tabungan, dan... eh, apa lagi? Oh ya, harga diri."

"Harga diri nggak bisa dibagi dua, Pak," kata Lina.

"Bisa," kata Pak Hendra serius. "Tapi biasanya harganya nol rupiah karena sudah hancur berkeping-keping. Jadi, kita fokus pada barang-barang fisik saja. Rumah itu atas nama siapa?"

"Atas nama bersama," jawab Lina.

"Mobil?"

"Atas nama Raka."

"Tabungan?"

"Atas nama saya, karena Raka bilang dia 'alergi' melihat angka di rekening bank."

Pak Hendra mengangkat alis. "Suami Anda alergi matematika? Menarik. Ini bisa jadi poin tambahan di pengadilan. Kita bisa bilang dia tidak kompeten secara finansial. Hakim suka argumen seperti itu. Terlihat cerdas dan sedikit merendahkan."

Arka tertawa. "Pak Hendra memang licin. Tapi efektif."

Lina menghela napas. "Saya cuma ingin keluar dari pernikahan ini secepat mungkin. Tanpa drama. Tanpa harus bertemu Dinda lagi. Dan tanpa harus mendengarkan Raka meminta maaf sambil bersikap seperti korban."

"Permintaan yang wajar," kata Pak Hendra. "Tapi ingat, Bu Lina. Dalam perceraian, tidak ada yang namanya 'tanpa drama'. Drama itu seperti bumbu penyedap. Kalau kurang, rasanya hambar. Kalau kebanyakan, bikin muntah. Tugas saya adalah memastikan dramanya pas di lidah hakim."

Tiba-tiba, ponsel Lina bergetar. menampilkan Nama Raka Lagi.

Lina menatap layar itu dengan jijik. "Dia nge-chat lagi."

"Baca," perintah Arka. "Jangan dibalas. Biarkan dia gelisah. Gelisah itu bagus buat pencernaan. Membuat usus bekerja lebih keras."

Lina mengangguk lalu membuka chat itu.

Raka: Lin, tolong balas. Aku nggak bisa tidur. Dinda sudah pulang ke kosannya, tapi aku merasa kosong. Rumah terasa sepi. Aku sadar kesalahan aku. Aku janji nggak akan ulangin. Please, Lin. Kita bisa mulai dari awal.

Lina menunjukkan pesan itu ke Pak Hendra. "Apa pendapat Anda, Pak? 'Mulai dari awal'? Setelah dia menghancurkan fondasinya?"

Pak Hendra membaca pesan itu, lalu tertawa renyah. Tawanya terdengar seperti suara mesin kopi yang rusak. "Ini Sangat lucu. 'Mulai dari awal'? Dia pikir pernikahan itu seperti video game? Mati satu nyawa, bisa respawn lagi? Tidak, Bu Lina. Pernikahan itu seperti gelas kaca. Sekali pecah, kalau disambung lagi, tetap ada retakannya. Dan retakan itu tajam. Bisa melukai tangan kalau dipegang sembarangan."

Arka mengangguk setuju. "Benar. Lagipula, kalau dia benar-benar menyesal, dia nggak akan kirim chat. Dia akan kirim surat pernyataan di atas materai, atau setidaknya mengirim bunga mawar hitam sebagai tanda duka cita atas kematian hubungannya."

Lina mengetik balasan singkat. Hanya satu kata.

Lina: No.

Lalu dia memblokir nomor Raka.

"Selesai," kata Lina lega. "Sekarang, apa langkah selanjutnya?"

Pak Hendra menutup foldernya. "Langkah selanjutnya: siapkan mental. Raka pasti akan mencoba pendekatan lain. Mungkin lewat ibu mertua. Mungkin lewat teman-teman kantor. Mungkin bahkan lewat Dinda yang akan berpura-pura sakit parah untuk memancing simpati Anda. Jangan termakan. Tetap dingin. Tetap tegas. Dan yang paling penting: tetap gaya."

"Gaya?" tanya Lina.

"Iya, gaya," kata Pak Hendra sambil berdiri. "Orang-orang lebih menghormati wanita yang hancur dengan elegan daripada wanita yang hancur dengan berantakan. Pakai baju bagus. Jalan dengan tegak. Dan jangan pernah menangis di depan mereka. Menangislah di kamar mandi, atau di pangkuan teman Anda yang aneh ini." Dia menunjuk Arka.

Arka protes. "Hei! Saya bukan bantal tangis! Saya adalah mentor spiritual versi murah!"

Lina tertawa. Untuk pertama kalinya, dia merasa punya tim. Tim yang aneh, sarkastik, dan sedikit gila. Tapi tim yang solid.

"Terima kasih, Pak Hendra," kata Lina sambil menjabat tangan pengacara itu.

"Sama-sama. Tagihan saya akan dikirim via email. Jangan pingsan saat membacanya," canda Pak Hendra sebelum berjalan keluar kafe dengan langkah cepat, seolah-olah dikejar hantu tagihan listrik.

Hening sejenak. Lina dan Arka duduk berdua lagi.

"Dia lucu," kata Lina.

"Dia mahal," koreksi Arka. "Tapi worth it. Sekarang, giliran saya. Apa rencana kamu setelah ini? Mau pindah rumah? Mau traveling? Atau mau belajar cara melempar pisau?"

Lina memikirkan itu. "Saya pikir... saya mau mulai hidup untuk diri sendiri. Selama ini, saya hanya menjadi 'istri Raka' atau 'kakak Dinda'. Saya lupa siapa Lina sebenarnya."

Arka tersenyum. "Lina yang mana? Lina yang suka makan es krim jam tiga pagi? Atau Lina yang jago membuat pancake berbentuk huruf hinaan?"

"Keduanya," jawab Lina. "Dan mungkin ada Lina lain yang belum saya temukan. Lina yang berani. Lina yang nggak takut sendirian."

Arka mengangguk. "Bagus. Karena sendirian itu nggak menakutkan. Menakutkan itu kalau kamu bareng orang yang salah. Seperti bareng Raka. Atau bareng Dinda. Atau bareng instruktur yoga yang kabur."

Lina tertawa. "Kamu masih trauma sama istrimu ya?"

"Sedikit," akui Arka. "Tapi sekarang saya sadar. Dia pergi bukan karena saya kurang fleksibel. Tapi karena dia menemukan seseorang yang lebih... lentur secara moral."

Mereka berdua tertawa hingga rasanya melepaskan beban.

Di luar jendela, hujan mulai turun lagi. Tapi kali ini, Lina tidak merasa sedih. Dia merasa segar. Seperti tanah kering yang akhirnya mendapat siraman air.

"Yuk, pulang," kata Arka. "Saya antar. Tapi inget, saya nggak bayar parkir. Kamu yang bayar."

"Dasar pelit," celetuk Lina sambil berdiri.

"Terserah. Yang penting saya setia. Berbeda sama mantanmu," goda Arka.

Lina menggelengkan kepala, tapi senyumnya tak kunjung hilang. Perjalanan masih panjang. Masih banyak rintangan. Masih banyak air mata yang mungkin akan tumpah. Tapi setidaknya, sekarang dia nggak berjalan sendirian.

Dan itu, bagi Lina, adalah kemenangan terbesar hari ini.

1
Allea
kok bisa dapet harta selama baca novel anak haram nasabnya ( bener ga) ikut ibu jd ga berhak atas warisan ( kata cerita2 novel ya bukan kata saya)😄
Nuna_Pena: bikin berbeda dari yang lain🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!