NovelToon NovelToon
Ramuan Ajaib: Bangkitnya Bumi

Ramuan Ajaib: Bangkitnya Bumi

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Diusir dari desa karena fitnah kemiskinan, Bumi terdampar di kerasnya ibu kota sebagai kuli panggul pasar yang kerap. Satu-satunya alasan ia bertahan hidup adalah Alya, gadis sederhana yang tulus merawat luka-lukanya.

Nasib Bumi berubah total setelah ia di beri ramuan ajaib oleh kakek misterius yang membuat perubahan pada tubuh dan otaknya. Terbangun dengan kecerdasan mutlak sekelas superkomputer, Bumi bertransformasi menjadi The Ghost Trader—raja saham baru yang ditakuti di dunia bisnis. Ia bahkan berhasil menyelamatkan perusahaan milik Kirei, seorang CEO wanita dingin yang akhirnya jatuh hati pada harga diri Bumi.

Namun, berdiri di puncak takhta berarti mengundang badai. Adrian, konglomerat kejam sekaligus rival asmaranya, siap menghancurkan Bumi lewat sabotase berdarah. Di tengah perang bisnis yang mematikan, hati Bumi juga terkoyak dalam dilema pelik antara ketulusan Alya dari masa lalunya, atau pengorbanan Kirei yang mempertaruhkan nyawa demi masa depannya.

Mampukah mantan ku

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14. Hidup Harus Terus Berlanjut

Sinar matahari pagi yang menerobos celah ventilasi kamar kos petak itu terasa sangat menyengat di kelopak mata Bumi. Namun, jangankan untuk berdiri, menggerakkan ujung jarinya saja rasanya seluruh sendi tubuhnya seperti terlepas. Efek pukulan dan hantaman balok kayu dari gerombolan Garong kemarin sore baru benar-benar terasa dampaknya pagi ini. Seluruh badannya kaku, nyeri, dan kepalanya terasa berdenyut-denyut sangat hebat.

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan pintu triplek kamarnya terdengar beberapa kali, memecah kesunyian ruangan sempit itu.

"Mas Bumi? Mas Bumi udah bangun belum? Ini saya, Alya," seru sebuah suara lembut dari luar pintu.

Bumi menghela napas berat, mencoba mengumpulkan sisa-sisa tenaganya untuk bersuara. "I-iya, Mbak Alya... sebentar. Pintu gak dikunci kok, masuk aja."

Cklek.

Pintu terbuka, dan Alya melangkah masuk ke dalam kamar kos petak yang sempit itu. Tangan kanan gadis itu membawa sebuah rantang susun berisi makanan hangat, sementara tangan kirinya memegang sebuah kantong plastik kecil berisi beberapa jenis obat-obatan dari apotek. Wajah Alya tampak sangat cemas, matanya langsung tertuju pada Bumi yang masih terbaring lemas di atas kasur busa tipis pemberiannya itu.

"Ya ampun, Mas Bumi... wajah kamu kok malah tambah bengkak begini sih pagi ini? Biru-birunya makin kelihatan jelas," ucap Alya langsung berjongkok di samping kasur Bumi, meletakkan rantang dan obat yang dibawanya ke lantai semen.

Bumi mencoba duduk bersandar pada dinding triplek yang dingin. "Eh, Mbak Alya repot-repot banget sampai datang ke kosan saya pagi-pagi begini. Gak apa-apa kok, Mbak, cuma agak kaku aja badannya dibawa tidur semalam."

"Gak apa-apa gimana! Saya kepikiran terus tahu dari semalam gara-gara kejadian preman itu," sahut Alya judes tapi matanya memancarkan rasa khawatir yang mendalam. Gadis itu tiba-tiba mengulurkan tangannya, menempelkan telapak tangannya yang halus ke dahi Bumi. "Loh! Mas Bumi, dahi kamu panas banget ini! Badan kamu demam tinggi tahu!"

Bumi agak kaget saat tangan Alya menyentuh kulitnya, ia langsung merasa kikuk. "Ah, masa sih, Mbak? Paling cuma sumeng dikit karena kecapekan aja."

"Sumeng apaan, ini mah panas banget! Bentar, saya ambilkan obat turun panas dulu. Nih, untung tadi sebelum ke sini saya mampir ke apotek depan dulu buat beli obat sama salep memar," kata Alya sibuk membongkar kantong plastik obatnya. Ia mengambil satu strip tablet parasetamol. "Sekarang Mas Bumi sarapan dulu ya, ini bubur ayam buatan ibu saya tadi subuh. Habis makan langsung minum obat turun panas ini."

Bumi menatap rantang makanan dan obat-obatan di depannya dengan pandangan mata yang berkaca-kaca. Hatinya terharu bukan main. Di kota yang asing dan kejam ini, ketulusan Alya yang merawatnya tanpa pamrih terasa seperti embun di tengah padang pasir.

"Mbak Alya... saya bener-bener berterima kasih sama kebaikan Mbak. Padahal kita baru kenal kemarin, tapi Mbak sama Ibu udah luar biasa tulusnya nolongin saya yang cuma kuli miskin terlantar begini," ucap Bumi dengan suara yang agak parau.

Alya menghentikan kegiatannya membuka rantang, lalu menatap Bumi dengan senyuman tipis. "Mas Bumi, jangan ngomong begitu lagi deh. Kita kan sesama manusia emang udah kewajiban buat saling tolong-menolong. Udah, gak usah banyak mikir yang aneh-aneh. Sekarang yang penting Mas Bumi makan dulu buburnya, terus minum obat, terus pagi ini pokoknya Mas Bumi dilarang keras buat kerja dulu! Istirahat total di kamar sampai demamnya turun!"

Bumi menerima mangkok bubur ayam yang disodorkan Alya, namun dahinya langsung berkerut mendengar larangan dari gadis itu. Ia menyuap buburnya perlahan, mencoba merasakan kehangatan makanan itu di tenggorokannya yang kering. Setelah buburnya habis setengah porsi, Bumi meletakkan mangkok itu kembali ke lantai dan meminum obat turun panas yang diberikan Alya.

"Mbak Alya... makasih banyak obatnya. Tapi, soal larangan kerja pagi ini... maaf banget, saya gak bisa nurut, Mbak," kata Bumi pelan namun ada nada ketegasan yang mutlak di suaranya.

Alya langsung melotot kesal. "Loh! Kok keras kepala banget sih, Mas Bumi? Badan lagi demam tinggi, jalan aja pasti lemes, muka babak belur begitu, masa mau dipaksain panggul karung puluhan kilo di pasar? Mau nyari penyakit kamu ya?"

Bumi menghela napas panjang, menatap telapak tangannya sendiri yang mulai kapalan. "Mbak Alya... coba Mbak lihat posisi saya sekarang. Semalam uang saya dirampas total sama Garong. Detik ini juga, saya sama sekali gak punya uang sepeser pun di kantong celana saya. Kalau pagi ini saya cuma berdiam diri di kamar kos ini tidur-tiduran, besok saya mau makan pakai apa, Mbak? Mau bayar makan di warung Mbak pakai apa? Saya gak mungkin terus-terusan jadi benalu dan minta makan gratis dari Mbak Alya sama Ibu."

Alya terdiam mendengar kalimat Bumi. Kalimat jujur yang keluar dari mulut pemuda itu seperti pukulan telak yang membuatnya tidak bisa berkutik.

"Tapi kan, Mas... kondisi badan kamu..." suara Alya melunak, ada rasa tidak tega yang amat sangat di wajahnya.

"Saya tahu Mbak Alya khawatir, dan saya sangat menghargai itu. Tapi bagi orang kayak saya, hidup harus terus berlanjut, Mbak. Gak ada waktu buat manja atau meratapi nasib. Kalau gua gak gerak hari ini, gua kelaparan esok hari. Logikanya sesederhana itu di kota ini," tutur Bumi santai, mencoba memberikan realitas yang ia hadapi.

Alya menundukkan kepalanya, meremas ujung kaosnya sendiri. Ia sadar betul ucapan Bumi ada benarnya. Uang sangat dibutuhkan pemuda itu untuk sekadar bertahan hidup dari hari ke hari di lingkungan pasar yang keras ini. Di sisi lain, Alya sendiri berpikir secara realistis bahwa dirinya tidak mungkin bisa terus-terusan mengawasi dan menolong Bumi setiap jam.

"Iya juga sih... maaf ya, Mas Bumi," bisik Alya pelan. "Saya sendiri... Sekarang harus buru-buru balik ke warung buat bantuin ibu yang lagi kewalahan. Terus jam sebelas nanti saya juga ada jadwal kuliah sampai sore di kampus. Jadi saya gak bakal bisa mantau kondisi kamu lagi siang nanti."

Bumi tersenyum hangat, mencoba menenangkan kegundahan hati gadis baik itu. "Nah, makanya itu, Mbak. Mbak Alya fokus aja sama kuliah dan bantu Ibu. Urusan saya, biar saya yang selesaikan sendiri. Saya ini dasarnya anak kuat kok, dari desa udah biasa diginiin. Obat dari Mbak ini pasti manjur banget, sebentar lagi juga demamnya turun."

Alya akhirnya menghela napas pasrah, tahu kalau watak Bumi tidak akan bisa digoyahkan lagi. "Ya sudah kalau emang itu keputusan Mas Bumi. Tapi janji ya, kalau badannya udah bener-bener gak kuat di tengah jalan, langsung berhenti kerjanya. Jangan dipaksain sampai pingsan."

"Iya, Mbak Alya, saya janji. Terima kasih banyak ya buat semuanya," ucap Bumi tulus.

"Sama-sama. Rantang sama sisa obatnya saya tinggal di sini ya. Saya pamit dulu mau bantu-bantu ibu dulu," kata Alya berdiri, merapikan tas kecilnya lalu melangkah keluar kamar.

"Hati-hati di jalan, Mbak."

Begitu pintu kosan kembali tertutup dan langkah kaki Alya perlahan menjauh dari lorong, Bumi segera bergerak. Efek parasetamol yang baru ia minum belum sepenuhnya bekerja, namun ia menolak untuk berbaring lagi. Dengan mengerang pelan menahan linu di kaki kiri dan perutnya, Bumi memaksakan diri untuk berganti pakaian kerja dengan kaos oblong lusuh setelan kuli andalannya.

Ia mengunci pintu kamar kos petaknya, lalu berjalan dengan langkah yang agak tertatih-tatih namun pasti menuju ke arah blok barat pasar induk. Pikirannya hanya satu, ia harus menemui Kang Bendot pagi ini untuk mendapatkan slot kerja panggul sawi atau kubis.

Sesampainya di area bongkar muat blok barat, suasana sudah sangat ramai. Truk-truk pembawa sayur dari arah Jawa Barat baru saja berdatangan. Di dekat salah satu ban truk engkel, Kang Bendot sedang sibuk mengikat tali tambatan keranjang bersama kuli-kuli lainnya.

"Kang Bendot! Pagi, Kang!" sapa Bumi setengah berteriak menembus bisingnya suasana pasar.

Kang Bendot menoleh ke arah sumber suara. Namun, begitu matanya menangkap sosok Bumi, wajah kuli senior itu langsung berubah drastis. Ia meletakkan talinya dan bergegas menghampiri Bumi dengan langkah seribu.

"Astaga, Bumi! Muka lu kenapa hancur lebam begini, Tong?! Mata lu sampai bengkak sebelah gitu! Kemarin sore lu sehat-sehat aja pas gua tinggal pulang!" seru Kang Bendot terkejut bukan main, memegang kedua pundak Bumi untuk memeriksa kondisinya.

Bumi meringis kecil saat pundaknya tersentuh. "Aduh, santai, Kang. Ini... kemarin sore pas jalan pulang ke kosan, saya kena sial. Dicegat sama preman pasar di lorong sepi dekat gudang tua."

"Apa?! Preman? Siapa yang berani malak lu di daerah sini?" tanya Kang Bendot dengan wajah yang mendadak memerah karena amarah.

"Itu... katanya namanya Garong, Kang. Yang kepalanya botak tengah ada tato ularnya," jawab Bumi jujur.

Mendengar nama 'Garong', raut wajah amarah Kang Bendot mendadak langsung surut, berganti dengan ekspresi cemas dan takut yang sangat ketara. Tangannya yang tadinya memegang pundak Bumi perlahan turun. Ia menengok ke kanan dan ke kiri secara refleks, memastikan tidak ada orang lain yang memperhatikan pembicaraan mereka.

"Waduh... si Garong? Preman paling ganas di seluruh pasar induk ini?" bisik Kang Bendot dengan nada suara yang langsung merendah, dipenuhi ketakutan. "Lu... lu dilawan gak kemarin, Bum?"

"Saya lawan sebisanya, Kang. Saya pukul anak buahnya sampai jatuh. Tapi si Garong bawa balok kayu, dihantam ke kaki saya sampai saya jatuh, terus dikeroyok bertiga. Akhirnya uang upah saya dari kemarin malam sampai sore... diambil semua tanpa sisa sepeser pun, Kang," cerita Bumi, menahan rasa sesak di dadanya.

Kang Bendot hanya bisa menghela napas panjang, menepuk-nepuk pundak Bumi dengan pandangan iba yang mendalam. "Aduh, Bum... lu bener-bener nekat ya pakai acara ngelawan segala. Gua bukannya gak mau bantu lu atau marah ya, tapi kalau udah berurusan sama kelompoknya si Garong, kita orang kecil gak bisa berbuat apa-apa, Tong. Ribet urusannya. Mereka itu dilindungi sama orang-orang atas pasar. Kalau kita macam-macam, besok kita gak bakal bisa cari makan lagi di pasar ini, atau yang lebih parah nyawa kita bisa melayang."

Bumi mengangguk paham, ia sudah menduga reaksi Kang Bendot dari awal karena pedagang semalam pun tidak ada yang berani menolong. "Iya, Kang, saya paham kok. Saya gak berniat memperpanjang masalah itu lagi. Uang yang hilang ya sudah ikhlasin aja."

Kang Bendot menatap tubuh Bumi yang agak gemetar, wajahnya penuh memar, dan berdirinya pun agak condong ke kanan menahan linu di kaki kirinya.

"Terus sekarang dengan kondisi badan lu yang remuk begini, lu ngapain malah datang ke pasar pagi-pagi, Bum? Harusnya lu istirahat di kosan!" kata Kang Bendot heran melihat kegigihan anak muda di depannya.

Bumi memaksakan sebuah senyuman tipis, matanya menatap lurus ke bak truk sawi yang sedang mengantre. "Saya sama sekali gak punya uang buat makan besok, Kang. Jadi, mau bagaimanapun kondisi badan saya hari ini, hidup harus terus berlanjut. Saya harus tetap kerja pagi ini. Apa masih ada slot kosong buat saya ikut tim Akang panggul sawi hari ini?"

Kang Bendot terdiam lama, menatap keteguhan iman dan mental baja pemuda desa di depannya ini. Rasa kagum sekaligus iba bergejolak di dadanya.

"Lu bener-bener keras kepala yang luar biasa, Bum," ucap Kang Bendot sambil menggelengkan kepalanya dengan senyuman salut. "Ya sudah, kebetulan truk nomor tiga itu kuli panggulnya kurang satu karena ada yang sakit. Lu masuk tim sana aja. Tapi ingat, kalau badan lu udah gak kuat, jangan dipaksain ya!"

"Siap, Kang Bendot! Terima kasih banyak atas kesempatannya!" jawab Bumi penuh semangat.

Meskipun rasa nyeri di kakinya dan demam di kepalanya masih terasa berdenyut, Bumi langsung menggulung lengan kaos oblongnya. Ia berjalan mendekati bak truk engkel, bersiap memanggul keranjang sawi pertamanya hari itu. Langkah hidupnya di ibu kota mungkin baru saja dihantam badai besar oleh kekejaman preman, namun bagi seorang Bumi, menyerah bukanlah sebuah pilihan selama nadinya masih berdenyut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!