"Bukan lo yang mutusin buat nolak gue. Gue sendiri yang mutusin apa yang bakal gue lakuin ke lo!"
Arshaka Rumi Wiraguna adalah Presiden BEM yang arogan dan urakan. Bagi Lyana, bendahara BEM yang kaku, Rumi adalah definisi "salah gaul" yang harus dihindari. Namun, takdir memaksa mereka terus bergesekan.
Saat demonstrasi besar membakar kampus, Rumi mempertaruhkan nyawa demi melindungi Lyana. Sejak hari itu, tembok formalitas "Mas" dan "Mbak" pun retak. Apalagi saat KKN memaksa mereka tinggal satu atap di pelosok desa. Tanpa birokrasi kampus, sisi posesif Rumi muncul. Lyana yang awalnya hanya ingin fokus pada beasiswa, perlahan terseret dalam obsesi sang Presiden BEM.
Di antara politik kampus dan ego yang tinggi, mampukah Lyana bertahan? Atau justru ia akan tunduk pada aturan main Arshaka Rumi Wiraguna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Debu Lapangan dan Tanda Tangan
Matahari jam dua siang memanggang pelataran aspal gedung rektorat Universitas Pembangunan Surakarta. Hawa panas memantul dari permukaan tanah, membuat pandangan di sekitar area itu tampak sedikit bergelombang.
Di tengah terik itu, Lyana berdiri sambil menjadikan papan jalan clipboard sebagai payung dadakan. Sesekali ia mengibaskan tangan di depan wajah, mencoba mengusir debu yang terbang tertiup angin dari truk bak terbuka di hadapannya. Anehnya, meski peluh mulai bermunculan di pelipisnya, penampilan gadis itu tetap terlihat rapi. Kemeja putih berlengan tiga perempat yang ia kenakan tidak tampak kusut, dan helaian rambutnya yang diikat tinggi tetap membingkai wajah ovalnya dengan sempurna.
Dito, yang berdiri di sebelahnya, sudah nyaris menyerupai es krim yang meleleh. Kemeja pemuda itu basah oleh keringat, dan ia terus-menerus mengipasi lehernya dengan proposal lecek.
"Mbak, ini besinya udah diturunin semua. Tanda tangan surat jalannya di sini, ya," ujar seorang pria paruh baya bertopi lusuh—mandor dari pihak vendor penyewaan panggung. Ia menyodorkan selembar kertas kuning tindasan nota.
Lyana tidak langsung mengambil pena. Matanya yang jeli menyapu tumpukan besi-besi rigging yang baru saja dibongkar dari truk. Ia melangkah maju, menghiraukan debu yang menempel di ujung sepatunya.
"Sebentar, Pak," suara Lyana menghentikan gerakan sang mandor. "Ini panggung ukuran berapa yang diturunkan?"
"Delapan kali enam meter, Mbak. Sesuai muatan standar truk kita."
Lyana mengetukkan ujung bolpoinnya ke papan dada. "Di Rencana Anggaran Belanja dan surat kontrak yang saya kirim dua minggu lalu, kami pesan ukuran sepuluh kali delapan meter, Pak. Kalau yang dipasang ukuran delapan kali enam, drum set dari band bintang tamunya nggak bakal muat."
Mandor itu menggaruk bagian belakang lehernya, raut wajahnya mulai berubah sedikit defensif. "Wah, kalau sepuluh kali delapan, besinya beda lagi, Mbak. Lagian pelataran rektorat ini kan nggak terlalu luas, dipasang delapan kali enam aja udah kelihatan gede kok. Sama aja lah, Mbak. Udah telanjur turun ini barangnya."
"Nggak sama, Pak," balas Lyana datar. "Selisih harga sewa dua ukuran itu hampir tiga juta rupiah. Kalau Bapak mau tetap pasang yang ini, saya akan revisi nilai kontraknya dan potong sisa pelunasan sebesar tiga juta."
Sang mandor mendengus pelan, mulai merasa terganggu karena diatur-atur oleh seorang mahasiswi. "Nggak bisa main potong gitu dong, Mbak. Saya ini cuma jalanin perintah bos. Kalau Mbak nggak mau tanda tangan, ya panggungnya nggak saya rakit."
Dito menyenggol lengan Lyana, berbisik panik. "Lyan, acaranya lusa lho. Kalau mereka nggak mau ngerakit panggungnya sekarang, besok kita kelabakan cari ganti."
Lyana tidak menoleh pada Dito. Ia menatap lurus ke mata mandor tersebut. Tidak ada keraguan di sana. Sebelum ia sempat membalas ancaman itu, sebuah botol air mineral dingin tiba-tiba menempel di pipi kanannya.
Lyana berjengit kaget, refleks menoleh ke samping.
Rumi berdiri di sana, menyodorkan sebotol air mineral yang masih berembun. Laki-laki itu mengenakan kaus oblong hitam yang lengannya sedikit digulung, menampilkan jam tangan G-Shock kesayangannya. Entah dari mana datangnya, sepertinya ia baru saja selesai menghadiri kelas siangnya.
"Panas banget. Minum dulu," ujar Rumi santai.
Lyana menerima botol itu. "Makasih. Mas dari mana?"
"Dari kantin, lihat kalian pada kepanasan di sini," Rumi mengalihkan pandangannya ke arah tumpukan besi panggung, lalu menatap sang mandor. Nada suaranya berubah, dari santai menjadi terukur. "Ada masalah apa, Pak? Kok dari jauh kelihatannya alot bener obrolannya?"
Mandor itu membetulkan letak topinya, mengira Rumi akan lebih mudah diajak kompromi. "Ini lho, Mas. Mbaknya ini kaku banget. Barang udah turun, ukuran beda dikit aja dipermasalahkan sampai mau motong bayaran."
Rumi melirik Lyana, seolah meminta konfirmasi.
"Dia bawa ukuran delapan kali enam. Di kontrak kita pesannya sepuluh kali delapan," jelas Lyana singkat.
Rumi mengangguk-angguk pelan. Ia berjalan mendekati tumpukan besi itu, menendang salah satu batangnya pelan dengan ujung sepatunya, lalu menoleh kembali pada sang mandor.
"Pak," Rumi tersenyum, tapi senyum itu sama sekali tidak sampai ke matanya. "Bapak tahu nama CV tempat Bapak kerja ini siapa yang pegang?"
Mandor itu mengerutkan kening. "Ya Pak Haris toh, Mas."
"Betul. Pak Haris." Rumi merogoh ponsel dari saku celananya, membuka layar, lalu menggulir daftar kontak. "Pak Haris itu kemarin yang jabat tangan sama saya waktu deal-dealan harga. Saya yang transfer DP-nya langsung ke rekening pribadi beliau. Beliau garansi sendiri ke saya kalau panggung sepuluh kali delapan bakal berdiri hari ini jam tiga sore."
Rumi mengangkat ponselnya, membiarkan layar itu menyala di depan wajah sang mandor.
"Jadi, saya telepon Pak Haris sekarang buat komplain barangnya nggak sesuai spesifikasi, atau Bapak mau panggil satu truk lagi ke gudang buat ambil sisa besi yang kurang tanpa kami harus nambah biaya?"
Mandor itu terdiam. Gertakan Rumi terlalu akurat. Ia melirik Lyana, lalu menatap Rumi bergantian. Menyadari bahwa ia tidak sedang berhadapan dengan panitia kampus amatiran yang bisa digertak balik, pundak pria itu akhirnya turun.
"Ya... ya udah. Saya kontak anak buah saya di gudang buat anter kekurangannya. Tapi agak sorean dikit ya, Mas, nunggu jalanan nggak macet," jawabnya akhirnya, nada suaranya jauh lebih lunak.
"Boleh. Asal sebelum magrib udah beres dirakit," balas Rumi tenang. Ia menoleh ke arah Lyana. "Gimana, Bu Bendahara? Deal?"
Lyana menghela napas pelan, mengangguk. "Selama ukurannya sesuai dan nggak ada tagihan tambahan."
Mandor itu menggerutu pelan sambil berjalan menjauh, mengeluarkan ponselnya untuk menelepon seseorang.
Begitu pria itu berada di luar jarak dengar, Dito langsung mengusap dadanya lega. "Sumpah, Mas Rum. Tepat waktu banget. Kalau Mas nggak datang, Mbak Lyan bisa-bisa beneran batalin panggungnya. Jantungan aku."
Rumi tertawa pelan. "Makanya, kalau ngadepin orang lapangan, jangan cuma pakai kertas kontrak, Dit. Kadang harus digertak pakai nama bosnya."
Ia kemudian menatap Lyana, memperhatikan wajah gadis itu yang sedikit memerah karena sengatan matahari.
"Kamu istirahat dulu gih sana di sekre. Biar aku sama anak-anak cowok yang nungguin loading barang di sini. Nanti kalau udah beres, baru surat jalannya kubawa ke kamu buat ditanda tangani."
Lyana membuka tutup botol air mineral yang diberikan Rumi, meneguknya sedikit. Air dingin itu sukses meredakan rasa panas di tenggorokannya. Ia menatap tumpukan besi itu sekali lagi, memastikan tidak ada hal lain yang terlewat, sebelum akhirnya mengangguk.
"Oke. Jangan tanda tangan apa pun sebelum besinya bener-bener lengkap sepuluh kali delapan, Mas," pesan Lyana memperingatkan.
"Iya, iya, tenang aja," Rumi mengibaskan tangannya pelan, mengusir Lyana dengan gaya bercanda.
Lyana memutar tubuhnya, berjalan meninggalkan pelataran rektorat menuju gedung Fakultas Ilmu Budaya di mana sekretariat BEM berada. Namun, belum jauh ia melangkah, ia merasa seolah ada yang sedang memperhatikan mereka.
Refleks, Lyana mendongak ke arah gedung rektorat di sisi kirinya.
Di balkon lantai dua, tepat di depan ruang Senat Mahasiswa, seorang pria berkemeja biru muda sedang bersandar di pagar pembatas. Jarak mereka cukup jauh, tapi Lyana bisa mengenali postur dan wajah itu dengan jelas.
Satria. Ketua Senat Mahasiswa Universitas.
Laki-laki itu tidak melambai atau menunjukkan ekspresi apa pun. Ia hanya berdiri di sana, menatap lurus ke arah tumpukan besi panggung dan Rumi yang kini sedang mengobrol dengan beberapa anak teknik yang baru datang.
Sesaat, pandangan Satria turun, bertemu dengan mata Lyana.
Lyana tidak memalingkan wajahnya. Ia membalas tatapan itu dengan raut sedatar mungkin, menolak menunjukkan intimidasi atau ketakutan. Beberapa detik kemudian, Satria membalikkan badannya dan masuk kembali ke dalam ruangan ber-AC tersebut.
Lyana kembali melanjutkan langkahnya. Ada perasaan tidak enak yang tiba-tiba mengendap di dasar perutnya. Panggung memang akan berdiri hari ini, dan uang kas memang aman. Tapi tatapan Satria barusan seolah membawa pesan bisu.
Festival lusa mungkin tidak akan berjalan seaman yang mereka rencanakan.