NovelToon NovelToon
BOBON PENDEKAR TERKUAT

BOBON PENDEKAR TERKUAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Mengubah Takdir / Action
Popularitas:944
Nilai: 5
Nama Author: GEELANG

Di Desa Windu Sari yang tenang, hiduplah Bobon, bocah polos yang selalu lapar dan membantu Nenek Mira menjual tahu. Tanpa sadar, ia memiliki kekuatan aneh yang kadang muncul tiba-tiba.

Nenek Mira menyimpan rahasia besar tentang asal-usulnya. Ketika peristiwa tak terduga terjadi, sosok asing mulai mengintai desa. Siapa sebenarnya Bobon, dan apa yang tersembunyi dalam dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GEELANG, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 - Kekacauan di Pasar

Pagi hari tiba dengan sinar matahari yang cerah. Bobon bangun dengan perasaan yang lebih ringan dari sebelumnya. Tidurnya semalam benar-benar nyenyak dan damai. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, dia tidak bermimpi buruk tentang masa lalu. Mungkin karena dia sudah mulai menerima kenangan itu dan bertekad untuk memperbaikinya.

Sarapan pagi berlangsung dengan suasana ceria. Bobon makan dengan lahap seperti biasa dan bahkan bercanda dengan Putri Laras. Keluarga kerajaan tampak lega melihat perubahan sikap Bobon.

"Kau terlihat lebih baik hari ini," kata Pangeran Bima sambil tersenyum.

"Aku tidur nyenyak, Pangeran. Rasanya seperti beban berat terangkat dari pundakku."

"Itu bagus. Ada rencana hari ini?"

"Aku ingin ke pasar. Ada beberapa hal yang ingin aku beli."

"Pasar? Kau bisa minta pelayan istana untuk membelikannya."

"Aku ingin pergi sendiri, Pangeran. Aku sudah lama tidak melihat kehidupan di luar istana."

Pangeran Bima mengangguk. "Baiklah. Tapi bawa beberapa penjaga. Untuk keamanan."

"Aku tidak butuh penjaga, Pangeran. Aku bisa melindungi diriku sendiri."

"Tapi tetap lebih aman. Setidaknya biarkan dua orang mengikutimu dari kejauhan."

Bobon akhirnya setuju. Dia tidak ingin membuat Pangeran Bima khawatir. Setelah sarapan, dia berjalan keluar istana menuju pasar kota.

Pasar Kerajaan Kencana sangat ramai. Pedagang-pedagang berjajar di sepanjang jalan dengan dagangan mereka. Ada yang menjual sayuran, buah-buahan, daging, ikan, kain, perhiasan, dan berbagai barang lainnya. Suara tawar-menawar dan obrolan memenuhi udara.

Bobon berjalan di antara kerumunan dengan mata berbinar. Dia suka melihat kehidupan pasar. Mengingatkannya pada masa-masa bersama Nenek Mira di Desa Windu Sari. Dia hampir bisa merasakan aroma tahu goreng yang dijual neneknya.

Dia berhenti di sebuah lapak yang menjual kue tradisional. Aroma manis dan gurih membuat perutnya keroncongan. "Permisi, berapa harga kue ini?"

"Seratus koin per potong, Nak," jawab pedagang tua itu.

Bobon mengeluarkan dompetnya dan membeli beberapa potong. Dia memakannya sambil berjalan dan menikmati rasa manis yang meleleh di mulutnya. Kue itu benar-benar enak. Dia ingin membeli lebih banyak untuk dibawa ke istana.

Tiba-tiba, keributan terjadi di ujung pasar. Bobon mendengar teriakan dan suara benda jatuh. Orang-orang mulai berlarian ke arah yang berlawanan.

"Ada apa?" tanya Bobon pada seorang pedagang yang lewat.

"Perampok! Mereka merampok toko emas di ujung sana!"

Bobon langsung berlari menuju sumber keributan. Di sana, dia melihat tiga orang bersenjata sedang mengacak-acak sebuah toko emas. Pemilik toko tergeletak di tanah dengan luka di kepalanya. Para perampok itu mengambil emas dan perhiasan sebanyak mungkin.

"Berhenti!" teriak Bobon.

Para perampok menoleh. Mereka tertawa melihat Bobon yang gemuk dan berpakaian sederhana. "Kau mau apa, bocah? Pergi sana kalau tidak mau celaka!"

"Aku bilang berhenti! Kembalikan barang-barang itu!"

Perampok utama mendekati Bobon dengan pisau di tangannya. "Kau ini tolol apa berani? Aku bisa membunuhmu dalam sekejap."

"Aku tidak takut padamu," kata Bobon dengan suara datar.

Perampok itu mengayunkan pisaunya. Tapi Bobon bergerak lebih cepat. Tubuhnya yang gemuk berputar dengan lincah, menghindari pisau itu dengan mudah. Dalam satu gerakan, tangannya mencengkeram pergelangan tangan perampok itu dan memutarnya.

Perampok itu berteriak kesakitan. Pisau jatuh ke tanah. Dua perampok lainnya terkehat dan menyerang bersamaan. Bobon menghindari setiap serangan dengan gerakan yang sempurna. Satu tendangan mengenai perut salah satu perampok dan membuatnya jatuh. Satu pukulan mengenai rahang perampok lainnya.

Dalam waktu singkat, ketiga perampok itu terkapar di tanah. Mereka mengerang kesakitan dan tidak bisa bangun.

Warga pasar yang melihat bersorak. Mereka mengelilingi Bobon dan berterima kasih.

"Kau hebat, Nak!"

"Kau menyelamatkan toko kami!"

"Siapa namamu?"

Bobon menggaruk kepalanya dengan malu. "Aku Bobon. Aku hanya membantu."

"Bobon? Apakah kau Bobon yang menyelamatkan desa dari serangan bandit?"

"Iya. Tapi itu tidak penting. Yang penting toko emas ini selamat."

Pemilik toko emas bangkit dengan susah payah. Dia berlutut di depan Bobon dan menangis. "Terima kasih, Tuan. Kau menyelamatkan mata pencaharianku. Aku tidak tahu bagaimana membalasmu."

"Tidak perlu membalas apa pun. Tolong istirahat dan obati lukamu."

Bobon membantu pemilik toko berdiri. Dia melihat luka di kepala pria itu cukup dalam. "Kau harus ke tabib. Lukamu serius."

"Aku akan pergi, Tuan. Terima kasih sekali lagi."

Bobon tersenyum dan melambaikan tangan. Dia berjalan meninggalkan kerumunan yang masih memujinya. Dia tidak suka menjadi pusat perhatian. Dia hanya ingin membantu.

Saat dia berjalan kembali ke istana, dia melihat Sari berdiri di pinggir jalan. Gadis kecil itu tersenyum lebar.

"Bobon! Aku melihat semuanya! Kau luar biasa!"

"Kau di sini, Sari?"

"Aku ikut ibuku berbelanja. Lalu aku melihat keributan. Dan aku melihatmu mengalahkan para perampok!"

Bobon menggaruk kepalanya. "Itu hanya kebetulan. Aku tidak sengaja."

"Tidak, Bobon. Kau memang hebat. Semua orang di pasar bicara tentangmu. Mereka bilang kau pahlawan."

"Jangan terlalu berlebihan, Sari. Aku hanya Bobon."

Sari tertawa. "Kau selalu bilang begitu. Tapi kau tidak hanya Bobon. Kau istimewa."

Mereka berjalan bersama menuju istana. Sari bercerita tentang ibunya dan adik-adiknya. Bobon mendengarkan sambil tersenyum. Kehidupan Sari sederhana tapi penuh perjuangan. Dia mengagumi gadis kecil itu.

"Sari, aku berjanji akan melindungimu dan keluargamu," kata Bobon tiba-tiba.

Sari menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Terima kasih, Bobon. Kau sungguh baik."

"Aku hanya melakukan apa yang benar."

Saat mereka tiba di gerbang istana, Bobon melihat sesuatu yang aneh. Seorang pengemis tua duduk di dekat gerbang. Pengemis itu menatapnya dengan mata tajam.

Bobon mendekat. "Kak Tua?"

Pengemis itu tersenyum. "Kau mengenaliku, Bobon."

"Tentu. Kau yang memberiku gulungan kertas dulu."

"Benar. Aku datang untuk memberitahumu sesuatu."

"Apa?"

"Jenderal Seruling Kematian akan datang ke Kerajaan Kencana dalam tiga hari. Dia datang untuk menemui seseorang."

Bobon terkejut. "Wulan? Dia akan datang ke sini?"

"Iya. Dan dia datang untuk menemui orang yang meninggalkannya."

Bobon menggenggam erat kain biru di sakunya. "Aku akan menemuinya. Aku akan berbicara dengannya."

"Hati-hati, Bobon. Wulan bukanlah wanita yang kau kenal dulu. Dia sudah berubah. Dia bisa menyakitimu."

"Aku tidak peduli. Aku harus memperbaikinya."

Pengemis itu mengangguk. "Itu keputusanmu. Tapi ingat, cinta dan kebencian adalah dua sisi mata uang yang sama. Wulan mungkin mencintaimu, tapi kebenciannya bisa lebih kuat."

Bobon menatap pengemis itu dengan tekad di matanya. "Aku akan menghadapinya. Apapun yang terjadi."

Pengemis itu tersenyum. "Kau memang Pendekar Dewata. Tidak pernah menyerah. Aku berharap yang terbaik untukmu."

Pengemis itu menghilang dalam sekejap. Bobon berdiri di tempatnya, merenungkan semua yang baru saja dia dengar.

Wulan akan datang. Dan dia harus siap.

Malam harinya, Bobon duduk di balkon kamarnya dan memandangi bintang-bintang. Pikirannya penuh dengan Wulan. Dengan semua kenangan yang mulai kembali. Dengan rasa bersalah dan penyesalan.

"Aku akan menemui Wulan," bisiknya. "Aku akan meminta maaf. Dan aku akan membawanya kembali."

Di dadanya, segel keempat berdenyut dengan hangat. Seolah-olah segel itu setuju dengan keputusannya.

Besok adalah hari baru. Dan Bobon akan melangkah lebih dekat pada takdirnya. Pada Wulan. Pada cinta yang hilang.

1
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
Tak kira judulnya Babon, jebule Bobon🗿👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!