NovelToon NovelToon
Di Bawah Sepatu, Di Atas Tahta

Di Bawah Sepatu, Di Atas Tahta

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Anak Genius / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: arrasy

Di balik sapu yang digenggamnya, Bagas menyimpan kecerdasan yang tak pernah disadari siapa pun. Ia pun diam-diam memendam rasa pada Naya, wanita yang dunianya terasa sejauh langit dan bumi darinya. Dihimpit kemiskinan dan biaya pengobatan ibu yang mahal, ia bertekad mengubah setiap informasi yang didengarnya menjadi jalan keluar. Cintanya yang tulus perlahan meluluhkan hati Naya, meski harus berhadapan dengan penghinaan, saingan licik, dan larangan tegas orang tua. Saat segalanya tampak mustahil dan terhalang tembok kasta tinggi, Bagas pergi membangun kerajaan bisnisnya sendiri dari nol. Ia kembali bukan lagi sebagai OB yang diremehkan, melainkan pengusaha sukses yang membuat semua orang terdiam kagum. Bukti nyata bahwa kesabaran dan ketajaman akal mampu mengangkat derajat setinggi langit. Akhirnya, ia bersanding dengan pujaan hati, hidup bahagia, dan membuktikan bahwa nasib buruk bisa diubah menjadi kemewahan yang abadi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rintihan di malam hari

Sore hari baru saja berganti senja saat Bagas mengayuh sepeda tuanya pulang ke rumah. Angin sore yang mulai dingin menerpa wajahnya yang terlihat lelah, tapi ia tak terlalu mempedulikannya. Di dalam tas kain usang yang tersampir di punggungnya, tersimpan rapi amplop gaji bulanannya. Jumlahnya memang tak seberapa, hasil kerja keras sebulan penuh mengelap kaca, menyapu lantai, dan melaksanakan perintah siapa saja.

 Sepanjang jalan pulang, bayangan wajah Naya sempat terlintas sekilas di kepalanya—cantik, dingin, dan jauh di atas jangkauannya. Tapi Bagas cepat-cepat mengusir bayangan itu. Buat apa melamunkan hal yang mustahil? Masalah di depan matanya jauh lebih nyata dan jauh lebih berat untuk dipikul.

Sesampainya di rumah, suasana remang langsung menyambutnya. Rumah kayu kecil itu hanya diterangi satu lampu bohlam lima watt yang bergantung di tengah ruangan, membuat sudut-sudut ruangan tampak gelap dan suram. Bagas segera memarkirkan sepedanya di beranda, lalu masuk dengan langkah pelan agar tidak berisik. Ia langsung berjalan menuju kamar ibunya yang ada di bagian belakang rumah.

"Ibu..." panggilnya pelan sambil membuka tirai kain pembatas kamar.

Di atas ranjang kayu yang empuknya sudah hilang sejak lama, Bu Siti terbaring lemah. Wajahnya terlihat semakin pucat dari biasanya, napasnya terdengar berat dan berbunyi, sementara keringat dingin membasahi dahi keriputnya. Mendengar suara anaknya, Bu Siti mencoba membuka mata, tapi kelopak matanya terasa begitu berat untuk diangkat.

"Bagas... kamu sudah pulang, Nak?" suaranya terdengar parau dan sangat lemah, hampir tak terdengar oleh telinga.

Bagas segera duduk di pinggir ranjang, tangannya yang kasar karena bekerja menggenggam tangan ibunya yang kurus kering dan dingin. Rasa nyeri langsung menjalar di dadanya setiap kali melihat kondisi ibunya seperti ini.

"Iya, Bu. Aku sudah pulang. Masih nggak enak ya bu badannya?" tanya Bagas lembut sambil mengusap keringat di dahi ibunya menggunakan punggung tangannya.

Bu Siti mengangguk pelan, lalu tiba-tiba batuk-batuk kecil yang terdengar begitu menyakitkan. "Iya... dada Ibu rasanya sesak sekali, Nak. Terus pinggang ini juga sakit banget, rasanya mau patah kalau digerakkan sedikit saja. Rasanya seluruh badan ini sakit semua, nggak ada yang enak."

Hati Bagas makin perih mendengar keluhan itu. Ia tahu persis penyakit ibunya sudah lama menggerogoti tubuh wanita itu, tapi sampai sekarang ia belum bisa berbuat banyak. Biaya berobat ke dokter resmi sangat mahal, sementara penghasilannya pas-pasan, cukup untuk makan sehari-hari saja kalau diatur dengan sangat irit. Belum lagi harga obat-obatan di apotek yang makin lama makin melambung tinggi. Selama ini ia hanya mampu membeli obat generik di warung atau jamu racikan dukun kampung, yang efeknya hanya meredakan sebentar tapi tidak menyembuhkan sampai ke akarnya.

"Sabar ya, Bu. Nanti aku buatkan air hangat sama obat ya, biar agak enak badannya," kata Bagas berusaha terdengar tenang, meski di dalam hatinya ia sedang kalang kabut dan cemas setengah mati.

Bagas bangkit dan berjalan ke dapur yang sempit dan sederhana. Ia menyalakan kompor lalu merebus air. Sambil menunggu air mendidih, ia duduk diam sejenak di bangku kayu pendek. Ia mengeluarkan amplop gajinya dari saku baju, lalu membukanya pelan. Ia menghitung lembaran uang kertas di dalamnya satu per satu. Jumlahnya tetap sama, tak bertambah sedikit pun dari bulan lalu. Bagas menghela napas panjang, napas berat yang terasa sampai ke dada. Ia menghitung-hitung di dalam kepalanya dengan cepat. Uang untuk beli beras, uang untuk bayar listrik yang sudah lewat jatuh tempo, uang untuk beli obat ibu. Kalau semuanya dibayar lunas, sisa uangnya bahkan tak cukup untuk satu kali cek kesehatan ke puskesmas. Padahal ibu butuh perawatan lebih, butuh makanan bergizi, dan butuh obat yang lebih bagus kualitasnya.

"Kalau begini terus, kapan ibu bisa sembuh, Bu?" gumam Bagas sendiri pelan sambil menatap api kompor yang berkobar kecil. "Kalau cuma ngandelin gaji OB doang, kayaknya sampai kapan pun nggak bakal cukup."

Setelah air matang, Bagas menyeduh teh manis dan menyiapkan obat-obatan yang tinggal sedikit di dalam botol bekas. Ia kembali masuk ke kamar dan duduk di samping ibunya lagi. Ia menopang punggung ibunya agar bisa duduk sedikit, lalu menyuapi air hangat dan obat itu perlahan-lahan.

"Ayo Bu, diminum sampai habis ya. Nanti abis minum obat, tidur lagi pasti enak," bujuknya lembut.

Dengan susah payah, Bu Siti meneguk semua yang disodorkan anaknya. Matanya yang sudah mulai keruh menatap wajah Bagas lekat-lekat. Ia tahu betul apa yang dirasakan anaknya. Ia tahu Bagas bekerja sangat keras, berangkat pagi buta pulang malam hari, tak pernah mengeluh, tak pernah minta ini itu, semua demi dirinya. Rasa bersalah pun kini menghinggapi hati Bu Siti, membuat dadanya terasa sesak bukan karena sakit, tapi karena sedih.

"Bagas..." panggil ibunya lirih sambil memegang lengan anaknya.

"Ya, Bu? Ada apa? Sakit lagi?" tanya Bagas cepat, tangannya langsung menyentuh kening ibunya.

"Maafkan Ibu ya, Nak..." suara wanita itu mulai bergetar, matanya berkaca-kaca menahan tangis. "Maafkan Ibu kalau cuma jadi beban buat kamu. Seharusnya Ibu yang sehat, yang kerja bantuin kamu, yang nyenengin hidup kamu. Bukan malah begini... bikin kamu susah terus, bikin kamu pusing mikirin Ibu terus."

Mendengar ucapan itu, hati Bagas serasa dicabik-cabik. Ia segera memegang bahu ibunya pelan, menatap mata tua itu dengan tegas namun penuh kasih sayang yang mendalam.

"Jangan ngomong gitu dong, Bu. Ibu itu bukan beban, sama sekali nggak. Ibu itu ibuku, satu-satunya orang yang aku punya di dunia ini. Dulu waktu aku kecil, waktu Ayah pergi ninggalin kita sendirian, ibu juga yang banting tulang besarin aku kan? Ibu nyari makan ke mana aja, ibu rela nggak makan demi aku kenyang. Waktu itu ibu pernah ngomong aku beban nggak? Nggak kan? Nah, sekarang giliran aku, Bu. Udah kewajibanku ngurus ibu sampai sembuh. Aku ikhlas kok, aku nggak berat sama sekali, percaya sama aku ya," ucap Bagas panjang lebar, berusaha menenangkan sekaligus meyakinkan. Air mata hampir jatuh dari matanya, tapi ia tahan mati-matian. Ia nggak boleh nangis di depan ibunya, nanti ibunya makin sedih dan merasa bersalah.

Bu Siti hanya mengangguk lemah, air mata mulai menetes di pipi keriputnya. "Tapi Ibu lihat kamu capek banget, Nak. Kamu itu pintar, kamu pinter banget sebenernya. Waktu sekolah dulu nilaimu selalu paling tinggi kan? Sayang banget nasib kamu jadi begini... kalau saja kita punya uang, pasti kamu bisa kuliah, pasti kamu jadi orang hebat, pasti hidupmu enak."

Bagas tersenyum tipis, lalu mengelap air mata ibunya dengan jari telunjuknya yang kasar. "Udah ya, nggak usah dipikirin lagi. Rezeki nggak akan ke mana kok, Bu. Pelan-pelan aja, namanya juga usaha. Yang penting ibu sehat, aku udah senang banget, aku udah bersyukur banget."

Setelah membujuk dan mengusap punggung ibunya sampai Bu Siti kembali berbaring dan mulai terlelap karena rasa kantuk akibat obat, Bagas keluar kamar. Ia duduk di kursi kayu tua di beranda rumahnya, menatap gelapnya malam di lingkungan perkampungan padat itu. Suasana sepi, hanya terdengar suara jangkrik dan sesekali suara anjing menggonggong di kejauhan. Angin malam berhembus dingin menembus kemeja tipis yang ia pakai, membuatnya sedikit menggigil.

Pikirannya kembali melayang ke Gedung Artha Mas. Ia teringat lagi ruangan-ruangan dingin ber-AC, karpet tebal, kursi empuk, dan wajah-wajah orang yang hidupnya serba enak, bebas mikirin biaya berobat atau besok mau makan apa. Terutama teringat lagi wajah Naya. Di usia yang sama persis dengan Bagas, Naya sudah punya segalanya. Kekayaan, jabatan, pendidikan tinggi, kesehatan yang terjamin, masa depan cerah yang sudah terjamin sejak lahir. Sementara dia? Di sini, duduk di kursi reyot, bingung mau cari uang tambahan dari mana lagi.

"Kenapa ya hidup itu rasanya nggak adil banget?" tanya Bagas pada dirinya sendiri, suaranya pelan berbisik ke udara malam. "Aku kerja keras, aku jujur, aku mau belajar apa aja... tapi kenapa masih begini terus?"

Ia teringat lagi apa yang sering ia dengar saat sedang bekerja di lantai-lantai atas kantor. Di ruang rapat, di ruang makan karyawan, atau sekadar lewat di koridor, ia sering mendengar pembicaraan-pembicaraan besar. Dulu Bagas cuma lewat, menganggap itu cuma omong kosong orang kaya yang nggak ada hubungannya sama dia. Tapi sekarang... di tengah kepepet dan kebingungan ini, benak Bagas mulai bekerja lebih cepat dari biasanya.

"Padahal aku ngerti apa yang mereka omongin," gumam Bagas sambil menatap jemarinya sendiri yang kotor terkena debu tadi siang. "Padahal aku ngerti jalannya bisnis itu kayak apa, aku ngerti hitung-hitungannya, aku ngerti untung ruginya. Cuma aku nggak punya modal, nggak punya kesempatan buat maju."

Ia teringat kejadian tadi siang saat bertemu Naya. Cara Naya berjalan, cara dia bicara, cara dia dipandang dan dihormati semua orang. Semua itu karena kekayaan dan kuasa ayahnya. Bagas sadar sepenuhnya, selama dia masih cuma jadi OB, dia bakal selamanya jadi bayangan yang nggak kelihatan. Selamanya bakal dilihat sebelah mata. Selamanya bakal susah menyembuhkan ibunya. Dan selamanya bakal cuma bisa memandang Naya dari jauh dengan rasa minder yang menyesakkan dada.

Tiba-tiba, tekad itu datang lagi, lebih kuat dan lebih tajam dari sebelumnya. Bagas mengepalkan tangannya erat-erat sampai buku jarinya memutih. Matanya yang tadinya sayu karena lelah kini kembali berkilap oleh nyala semangat yang baru menyala.

"Kalau begini terus, aku nggak bakal maju," batinnya bertekad bulat. "Aku harus ubah cara pikirku. Aku nggak cuma kerja buat gaji bulanan. Gedung itu, orang-orang di sana, semua informasi yang ada di sana, itu harta terbesar yang ada di depan mata, cuma belum aku pakai aja."

Malam itu, di tengah dingin dan kesusahan, Bagas membuat janji dalam hatinya yang paling dalam. Demi ibunya yang terbaring sakit, demi dirinya yang ingin dihargai manusia lain, dan demi sosok cantik yang masih terus terbayang di kepalanya—Naya—ia berjanji tidak akan diam saja.

Besok, lusa, dan hari-hari ke depan saat dia masuk kerja, ia bakal makin jeli melihat segala sesuatu. Ia bakal makin buka telinga lebar-lebar. Apa pun yang ia dengar, apa pun yang ia lihat, bakal ia simpan baik-baik di kepalanya. Siapa tahu, dari sekian banyak kata yang keluar dari mulut orang-orang kaya itu, ada satu celah kecil yang bisa ia pakai untuk mengubah nasibnya yang sekarang masih serba susah ini.

"Kamu tunggu aja... suatu saat nanti, aku bakal masuk ke dunia kamu, Naya," bisiknya pelan ke arah kegelapan malam dengan senyum tipis yang penuh ambisi. "Dan saat itu tiba, aku nggak bakal lagi pakai seragam biru lusuh ini."

Jam dinding tua di ruang tengah berdentang pukul sepuluh malam. Angin makin dingin berhembus, tapi Bagas sudah tidak merasa kedinginan lagi. Ada api yang mulai menyala di dalam dadanya, api keinginan kuat untuk bangkit dari keterpurukan. Perlahan ia bangkit masuk ke dalam rumah, mematikan lampu, dan berbaring di kasur tipisnya. Meski lelah luar biasa, malam itu Bagas susah tidur. Otaknya terus berputar, menyusun rencana-rencana kecil, merangkai potongan informasi yang sudah didapatnya selama ini, dan bersiap menyongsong hari esok dengan cara pandang yang baru. Bukan lagi sekadar OB yang menyapu lantai, tapi seorang pengamat cerdas yang sedang menunggu waktu yang tepat untuk beraksi.

1
miumiu
ada sedihnya tapi ada kekuatan juga. lanjuut ya thor.
curbel
seru juga. Dan enak dibaca. 👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!