NovelToon NovelToon
Satpam: Kekuatan Setara Seribu Tahun

Satpam: Kekuatan Setara Seribu Tahun

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Penyelamat / Action
Popularitas:248
Nilai: 5
Nama Author: Aldiaza Ahyani

Kaito Nakamura, pemuda keturunan penjaga warisan energi kuno dari pegunungan Jepang, datang ke Malang, Indonesia untuk memulai hidup baru sebagai orang biasa. Ia menyembunyikan kekuatan luar biasa yang terakumulasi selama lebih dari seribu tahun, memilih bekerja sebagai satpam di Gedung Surya Pratama agar tetap tenang dan jauh dari sorotan.

Namun kedamaiannya terganggu saat ia bertemu Anindya Prameswari, pewaris perusahaan tempat ia bekerja, serta kedatangan Rafael Wijaya—tunangan Anindya yang angkuh dan berkuasa. Saat terlibat dalam perselisihan, rahasia kekuatan Kaito perlahan mulai tercium, menjadikannya sasaran kebencian dan rencana jahat Rafael.

Di tengah tugas menjaga keamanan, menyembunyikan jati diri, dan tumbuhnya perasaan pada Anindya, Kaito harus memilih: tetap hidup dalam bayang-bayang, atau mengeluarkan kekuatan seribu tahun itu untuk melindungi orang-orang yang ia sayangi—meski berarti membongkar semua rahasianya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aldiaza Ahyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Di Balik Pintu Ruang Kerja

Begitu melangkah masuk ke dalam lobi gedung, suasana yang tadinya riuh dan penuh pandangan penasaran perlahan kembali tenang. Tapi ketenangan itu hanya di permukaan saja. Di dalam hati Anindya, ada rasa kesal dan kecewa yang mulai memuncak, sementara Rafael berjalan di sampingnya dengan wajah yang sudah berusaha diredam kemarahannya, meski masih terlihat jelas tidak senang.

Tanpa banyak bicara, Anindya berjalan cepat menuju lift. Rafael mengikuti di belakangnya, sesekali melirik ke arah pintu masuk tempat aku berdiri, tatapannya masih tajam dan penuh rasa tidak suka. Begitu pintu lift tertutup dan hanya ada mereka berdua di dalamnya, suasana terasa makin menegang.

Rafael yang tadinya berusaha bersikap sopan di depan orang banyak, mulai kembali menampakkan sifat aslinya. Ia mendekatkan diri ke arah Anindya, mencoba merangkul bahunya, tapi Anindya segera melangkah mundur sedikit, menjaga jarak.

“Kenapa bersikap dingin sekali, Anin? Aku baru saja datang jauh-jauh dari Jakarta, dan yang aku terima malah teguran di depan orang rendahan tadi,” kata Rafael dengan nada yang mulai terdengar kesal, meski masih berusaha menahan diri.

Anindya menatap lantai lift yang menyala angka-angka lantai, suaranya tenang tapi tegas. “Rafael, kamu tahu sendiri kenapa. Apa yang kamu lakukan tadi itu salah besar. Di tempat ini, tidak ada yang lebih tinggi dari aturan. Baik itu satpam, karyawan, sampai pemiliknya sekalipun.”

“Aturan? Aturan itu dibuat untuk orang biasa, bukan untuk kita!” potong Rafael dengan nada meninggi. “Kita ini orang yang punya nama, punya kekuasaan. Kenapa harus tunduk pada aturan yang dibuat untuk menjaga orang-orang kecil itu? Kalau aku bilang aku boleh masuk, ya sudah seharusnya mereka membungkuk dan mempersilakan aku lewat, bukan malah menghalangi dan memeriksa seperti tersangka pencuri!”

Pintu lift terbuka di lantai sepuluh, tempat ruang kerja utama Anindya berada. Anindya melangkah keluar lebih dulu, berjalan menuju ruang kerjanya yang luas dan tertata rapi. Begitu masuk dan pintu ditutup rapat, ia memutar badan dan menatap Rafael dengan pandangan yang serius.

“Dengarkan aku baik-baik, Rafael. Selama ini aku bersedia menerima pertunangan ini hanya karena permintaan ayah dan kesepakatan kedua keluarga. Tapi bukan berarti kamu bisa berbuat semaunya sesuka hati. Orang yang menjaga pintu itu hanya menjalankan tugasnya. Kalau dia tidak memeriksa dan memastikan, siapa yang akan menjamin keamanan gedung ini? Kamu malah memerintahkan pengawalmu untuk memukulinya? Itu tindakan yang tidak beradab dan tidak bisa aku terima!”

Wajah Rafael memerah mendengar ucapan itu. Ia berjalan mendekati meja kerja, lalu menepuk permukaannya dengan keras, membuat barang-barang di atasnya bergetar.

“Jadi kamu memihak orang asing itu? Hanya seorang satpam biasa, tapi kamu membela dia lebih dari aku, calon suamimu sendiri? Apa istimewanya dia sampai kamu begitu melindunginya?” tanyanya dengan nada penuh cemburu dan curiga.

Anindya menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri agar tidak terbawa emosi. Ia duduk di kursi kerjanya, lalu menatap Rafael dengan pandangan lelah.

“Aku tidak memihak siapa-siapa. Aku hanya memihak kebenaran. Dia tidak melakukan kesalahan, justru dia bertindak benar. Kalau kamu datang dengan sopan, mengucapkan maksudmu, apakah dia akan menghalangi? Tentu saja tidak. Tapi kamu datang dengan gaya seperti pemilik dunia, menganggap semua orang di bawahmu, dan langsung ingin menyakiti orang yang tidak bersalah. Itu yang membuatku kecewa.”

Rafael berjalan mondar-mandir di dalam ruangan, tangannya mengepal kuat. Ia tahu ia tidak bisa memenangkan perdebatan ini, tapi rasa gengsinya terlalu tinggi untuk mengaku salah. Ia kemudian berhenti berjalan, menatap Anindya dengan pandangan yang menyembunyikan niat lain di baliknya.

“Baiklah, mungkin aku memang terlalu tergesa-gesa tadi. Aku minta maaf, ya? Aku hanya kesal karena sudah lama tidak bertemu denganmu, tapi malah terhambat begitu saja,” katanya tiba-tiba mengubah nada bicara, berusaha kembali bersikap manis. “Tapi bicarakan soal orang asing itu. Dari mana dia datang? Kenapa dia bisa bekerja di sini? Sepertinya dia bukan orang biasa, lho. Dua pengawalku yang sudah terlatih bertahun-tahun saja tidak bisa menyentuhnya sedikit pun.”

Anindya sedikit terkejut mendengar pengakuannya itu. Ia memang melihat kejadian tadi, tapi tidak menyangka bahwa kekuatan yang dimiliki Kaito sampai sehebat itu. Ia teringat kembali kejadian beberapa hari lalu, saat Kaito menahan pohon besar yang hampir roboh sendirian. Semua itu mulai terhubung dalam pikirannya.

“Dia bernama Kaito Nakamura, berasal dari Jepang. Baru bekerja di sini sekitar dua minggu. Soal kekuatannya… aku juga belum tahu pasti. Mungkin dia memang rajin berlatih bela diri sejak muda,” jawab Anindya dengan jujur, tapi ia tidak mau mengungkapkan rasa penasarannya lebih dalam.

Rafael tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya. “Orang asing dengan kekuatan yang tidak biasa… bekerja sebagai satpam di gedung milik kita. Kedengarannya aneh, bukan? Kita tidak tahu latar belakangnya yang sebenarnya. Bisa saja dia ini mata-mata dari perusahaan saingan, atau orang yang menyembunyikan sesuatu yang berbahaya. Sebaiknya kamu perhatikan dia lebih ketat lagi, atau lebih baik lagi, pecat saja dia dari pekerjaannya.”

Anindya langsung menggeleng tegas. “Tidak bisa. Selama dia bekerja dengan baik, jujur, dan tidak melanggar aturan, tidak ada alasan untuk memecatnya. Justru dia terbukti bertanggung jawab dan berani. Kalau ada bahaya, dia bisa melindungi penghuni gedung ini. Itu justru keuntungan buat kita.”

Jawaban itu membuat Rafael semakin geram, tapi ia berusaha menyembunyikannya. Ia sadar, selama Anindya masih melindungi Kaito, dia tidak bisa berbuat apa-apa secara terang-terangan. Ia harus mencari cara lain.

“Baiklah, terserah kamu untuk saat ini. Tapi ingat kata-kataku, Anin. Jangan sampai menyesal nanti karena terlalu percaya pada orang yang tidak jelas asal-usulnya,” ucapnya dengan nada mengancam halus.

Ia kemudian berjalan mendekat, mencoba meraih tangan Anindya. “Ngomong-ngomong, aku datang hari ini bukan hanya untuk bertemu saja. Ayahku dan ayahmu sudah sepakat, bulan depan kita akan mengumumkan pertunangan ini secara resmi di hadapan banyak orang penting. Semua urusan bisnis dan aset juga akan disatukan mulai saat itu. Jadi, mulai sekarang, kita harus terlihat lebih serasi dan dekat, ya?”

Mendengar rencana itu, hati Anindya terasa berat. Ia tahu pertunangan ini lebih banyak didasari kesepakatan bisnis keluarga daripada perasaan cinta. Namun, selama ini ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa mungkin seiring berjalannya waktu, ia bisa terbiasa. Tapi sikap Rafael hari ini membuat keraguan itu makin besar.

“Baiklah, aku akan mempersiapkannya. Tapi satu syarat, Rafael. Mulai sekarang, jangan lagi bertindak semena-mena seperti tadi. Kalau kamu mau menjadi bagian dari keluarga ini, kamu harus menghargai orang-orang yang bekerja untuk kita,” tegas Anindya.

Rafael mengangguk cepat, meski di dalam hatinya ia sudah memutar rencana lain. “Baik, baik. Aku janji akan lebih hati-hati. Sekarang, boleh aku melihat laporan keuangan bulan ini? Aku ingin tahu perkembangan bisnis kita di cabang Malang ini.”

Saat Anindya mengambil berkas-berkas dari laci, Rafael melirik ke arah jendela kaca besar yang menghadap ke halaman depan gedung. Dari lantai sepuluh, ia bisa melihat jelas sosokku yang masih berdiri tegak di pos jaga, terlihat tenang dan tidak terganggu oleh kejadian tadi. Mata Rafael menyipit tajam, dan bisikan hatinya terdengar jelas:

“Kau orang asing itu… berani menghalangi jalanku dan membuatku malu di depan dia. Tunggu saja, tidak akan lama lagi aku akan membuatmu menyesal sudah menginjakkan kaki di negeri ini. Kekuatanmu mungkin besar, tapi aku punya cara lain untuk menjatuhkanmu tanpa harus mengangkat tinju.”

Di bawah sana, seolah merasakan tatapan berbahaya itu, aku mengangkat wajah sedikit menatap ke atas. Meskipun jaraknya jauh, naluriku yang terasah selama ribuan tahun bisa merasakan gelombang niat buruk yang datang dari ruangan itu. Aku menarik napas panjang, lalu kembali berdiri tegak.

Aku tahu, mulai hari ini, hidupku tidak lagi sesederhana yang aku bayangkan. Bukan hanya harus menyembunyikan kekuatanku, tapi sekarang juga harus menghadapi orang yang memiliki kekuasaan dan niat buruk. Dan di tengah semua ini, ada Anindya yang entah kenapa terus membuat hatiku merasa terlibat lebih dalam.

Perang dingin baru saja dimulai, dan aku harus tetap waspada dalam setiap langkahku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!