NovelToon NovelToon
Arkaholic

Arkaholic

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Dijodohkan Orang Tua / Perjodohan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: siyunr

Satu sekolah tahu Lintang Gentariana adalah gadis paling gigih yang setiap hari memanggil nama Arka—atlet pencak silat kebanggaan sekolah yang sedingin es.

Dua tahun cintanya bertepuk sebelah tangan, sebuah wasiat tiba-tiba memaksa mereka menikah secara rahasia di bangku SMA.

Lintang mengira impiannya jadi nyata. Namun, ia keliru. Arka menikahinya tepat ketika dunia cowok itu di ambang runtuh.

Di sekolah Lintang adalah gadis yang selalu terlihat mengejar Arka, tapi di rumah, Lintang harus menghadapi kemarahan dan luka terdalam Arka.

Lantas, bagaimanakah kelanjutan kisah pernikahan rahasia mereka?

Sanggupkah Lintang bertahan, atau perpisahan justru menjadi jalan terbaik bagi keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siyunr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepanasan

Suasana kelas 12 IPS 2 mendadak berubah hening dan santai begitu guru mata pelajaran masuk dan langsung memberikan instruksi untuk mengerjakan latihan soal Bahasa Inggris. Hampir semua murid fokus ke buku masing-masing—kecuali Zahiya.

Cewek itu bolak-balik mencondongkan tubuhnya ke meja Lintang, berbisik heboh menanyakan arti kata yang tidak dia ketahui setiap dua menit sekali.

"Lin, nomor empat artinya apa sih? Ini specifically apaan maksudnya?" bisik Zahiya sambil mengetuk-ngetuk pulpennya ke meja Lintang.

"Secara khusus," jawab Lintang tanpa mengalihkan fokus dari bukunya.

Baru juga Lintang mau menulis jawaban nomor tujuh, Zahiya sudah mencolek bahunya lagi. "Kalau nomor delapan? Ini kalimatnya panjang bener, pusing gue bacanya."

Lintang mengembuskan napas pelan, mulai jengah. "Zahiya sayang, baca kamus atau buka Google Translate kek. Lu nanya mulu, kapan gue selesainya?"

Zahiya cuma menyengir tanpa dosa, lalu kembali mundur ke bangkunya sendiri untuk lanjut meraba-raba jawaban.

Sementara itu di meja paling belakang, Arka sama sekali tidak menyentuh buku tugasnya. Sepasang matanya justru fokus memperhatikan punggung Lintang yang duduk beberapa baris di depannya.

Jujur, saat ini dia benar-benar butuh bantuan istrinya itu karena kepalanya masih terlalu pening untuk berpikir keras membaca teks Bahasa Inggris yang panjang-panjang.

Arka akhirnya merogoh kantong celana, membuka ponsel, lalu mencari kontak bernama 'Lintang'.

Arka: Bagi contekan

Di barisan depan, Lintang yang baru saja mau menggoreskan pulpen refleks meraih ponselnya yang bergetar di atas paha. Alisnya langsung mengernyit dalam begitu membaca pesan singkat dari Arka.

Secara refleks, Lintang memutar tubuhnya sedikit, melirik ke arah meja paling belakang.

Tepat saat itu juga, pandangan mereka berdua bertemu. Arka sedang menatapnya datar sambil menopang dagu dengan satu tangan, sementara tangan satunya lagi memegang ponsel.

Lintang seketika mengerucutkan bibirnya jengkel. Tanpa suara, mulutnya bergerak membentuk kata, "Gak mau."

Melihat penolakan itu, Arka langsung melotot tanpa suara, memberi tatapan mengancam yang membuat Lintang buru-buru membalikkan badannya lagi menghadap meja. Tak lama, ponsel Lintang kembali bergetar berturut-turut.

Arka: cepetan

Arka: atau gue kurung lagi

Lintang membelalak heboh melihat pesan ancaman tersebut. Jantungnya sempat berdesir mengingat kejadian waktu itu, tapi rasa kesalnya jauh lebih mendominasi sekarang. Dengan sisa-sisa kejengkelannya, jemari Lintang bergerak cepat di atas layar.

Lintang: sialan, lu. kalau nggak ganteng, gak bakal gue kasih nih jawaban.

Sambil menggerutu pelan, Lintang mengangkat sedikit ponselnya, memposisikan kamera tepat di atas buku tugasnya, lalu mengambil foto lembar jawaban itu dengan cepat. Setelah memastikan tulisannya terbaca jelas, dia langsung mengirimkan foto tersebut ke ruang obrolan mereka, lengkap dengan satu pesan tambahan di bawahnya.

Lintang: telen tuh contekan. biar nggak bego.

...----------------...

Kringgg!

Bel istirahat berbunyi nyaring, memicu sorak lega dari seisi kelas. Dalam sekejap, murid-murid langsung berhamburan keluar menuju tujuan mereka masing-masing untuk melepas penat.

Zahiya langsung memutar tubuhnya, menatap Lintang dengan mata berbinar. "Lin, jajan yuk! Perut gue udah demo nih."

"Ayo," sahut Lintang sambil merapikan bukunya. "Tapi gue mau ke ruang musik dulu sebentar. Lu duluan aja ke kantin."

"Ooh, yaudah gue duluan ya. Nanti lu nyusul, awas aja kalau kagak muncul-muncul. Gue samperin lu ke ruang musik nanti!" ancam Zahiya sambil menunjuk Lintang dengan telunjuknya.

Lintang terkekeh melihat tingkah berseragam sahabatnya. "Iyee, bawel deh."

Setelah Zahiya melenggang pergi, Lintang buru-buru menarik ritsleting tasnya, lalu melangkah keluar dari kelas yang sudah mulai sepi. Langkah kakinya terasa ringan menyusuri koridor menuju ke ruang musik.

Begitu pintu ruang musik terbuka, Lintang agak terkejut. Di dalam ruangan kedap suara itu sudah ada Arjuna dan beberapa anggota band lainnya yang sedang menyetem alat musik masing-masing.

"Eh, rame toh? Kirain lu sendirian, Jun," komen Lintang sambil melangkah masuk.

Arjuna yang sedang memegang gitar menoleh, lalu tersenyum lebar. "Iya, nih. Anak-anak mau sekalian langsung latihan mumpung istirahat."

Farhan, sang drummer, langsung menyahut dari balik set drumnya. "Buset, katanya Arjuna baru minta bikinin lirik lagu kemaren sama lu. Sekarang udah jadi aja, Lin?"

Mendengar itu, Lintang langsung menepuk dadanya bangga. "Iyalah! Lintang yang bikin mah nggak pake berhari-hari. Beres dalam semalam!" ujar Lintang dengan nada sombong yang dibuat-buat.

Mikail, sang bassist, langsung tertawa renyah melihat tingkahnya. "Dipuji sebentar, sombongnya udah langsung meroket sampe langit ketujuh."

Lintang hanya menjulurkan lidahnya sekilas, lalu duduk di salah satu bangku kosong. Ia merogoh kantong dan menyodorkan selembar kertas berisikan coretan tangan rapi. "Nih, ada dua opsi reff seperti yang lu minta kemarin. Nadanya juga udah gue kirim lewat voice note, masih nggak bisa juga lu nyanyiin?"

Arjuna menerima kertas itu, membacanya sekilas sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Cowok itu menggeleng pelan. "Bisa sih, tapi kayak... ada yang kurang pas gitu lho, Lin, pas masuk ke bait kedua."

Lintang mengembuskan napas panjang, bersandar lelah di kursinya. "Padahal nadanya ringan banget itu, Jun," komen Lintang heran.

Hampir dua puluh menit berlalu di dalam ruangan itu. Dengan sabar, Lintang mengajari vokal band itu cara mengambil napas dan menyanyikan lirik baru tersebut, sekalian mencocokkannya dengan petikan gitar Arjuna untuk menyelaraskan musik. Begitu dirasa sudah pas, urusan mereka akhirnya selesai juga.

Tanpa bertele-tele lagi, Lintang langsung berpamitan dan bergegas menuju kantin. Perutnya sudah mulai terasa tidak enak. Gara-gara buru-buru tadi pagi, dia melewatkan sarapan, dan sekarang bel masuk jam berikutnya sudah semakin dekat.

Begitu sampai di area kantin yang padat dan bising, Lintang langsung celingak-celinguk. Matanya berputar ke setiap sudut mencari keberadaan Zahiya, namun batang hidung sahabatnya itu sama sekali tidak kelihatan.

"Heleh, katanya tadi nyuruh gue cepetan ke kantin. Pas gue udah di sini, dianya malah kagak ada," gerutu Lintang jengkel sambil memegangi perutnya yang mulai terasa melilit.

Karena sudah tidak tahan, Lintang langsung memutuskan untuk ikut mengantre di stan nasi goreng. Perutnya rasanya sudah kepanasan karena terlalu lama kosong. Suasana kantin yang pengap dan antrean yang panjang membuat kondisinya makin memburuk.

"Duhh, lama banget sih... kepala gue udah mulai pusing..." gumam Lintang pelan.

Pandangannya mendadak berputar kabur. Kamar mading, wajah orang-orang di sekitarnya, semuanya mendadak blur. Lintang berkali-kali mengerjapkan matanya, berusaha keras untuk tetap melek dan menjaga keseimbangan tubuhnya. Tapi, rasa perih yang teramat sangat di lambungnya membuat kekuatannya habis seketika.

Bruk.

"Eh!—"

Di tengah tubuhnya yang oleng dan siap menghantam lantai koridor kantin, sebuah tangan kekar dan besar dengan sigap menyanggah pinggang dan bahunya. Lintang tidak sampai jatuh ke lantai. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, mata lemasnya bergulir lirih melirik ke atas, menatap wajah cowok yang menahannya.

"Arjuna..." gumam Lintang nyaris berbisik.

Lintang hendak mencoba bertumpu pada kakinya sendiri untuk berdiri tegak lagi, tetapi tubuhnya kembali lunglai dan hendak ambruk karena perutnya benar-benar terasa seperti diremas dengan kasar.

"Eh, Lin! Lu kenapa?!" tanya Arjuna panik, wajah santainya langsung berubah tegang melihat bibir Lintang yang mendadak pucat.

"Nggak papa... cuman laper aja," ujar Lintang lirih, suaranya terdengar sangat lemas.

"Ayo ke UKS dulu, nanti gue yang beliin makanannya ke sana."

Tanpa menunggu persetujuan atau bantahan dari vokal band itu, Arjuna langsung membalikkan tubuhnya.

Dengan gerakan cepat namun hati-hati, dia menyergap tubuh Lintang dan langsung menggendong gadis itu di punggungnya, membawa Lintang menjauh dari kerumunan kantin yang mulai memperhatikan mereka.

...----------------...

Arka melangkah lebar menuruni anak tangga menuju koridor lantai satu. Dia baru saja nekat merokok diam-diam di gudang belakang sekolah yang sepi.

Di sebelahnya, Leon berjalan membuntuti sambil terus-menerus menceramahinya tanpa henti.

"Bro, lu kenapa tiba-tiba jadi ngerokok gini sih? Mana langsung habis tiga batang begitu, bau tembakau semua tuh baju lu," omel Leon dengan dahi berkerut cemas.

Sebenarnya, Leon hanya merasa kasihan dan khawatir setengah mati. Dia tahu betul temannya ini sedang hancur semenjak kepergian Bundanya yang belum genap dua minggu lalu. Arka yang biasanya tenang, sekarang berubah jadi liar dan berani melanggar aturan sekolah.

"Lu nggak kasihan apa sama Bunda lu? Beliau baru aja tenang di sana, Ka. Pasti sedih banget kalau bisa liat lu jadi berantakan kayak gini sekarang," ujar Leon, berusaha menyentuh sisi lembut sahabatnya.

Mendengar nama itu disebut, langkah Arka sempat goyah. Namun sedetik kemudian, tatapannya kembali berubah menjadi amat dingin.

"Ck. Gak usah bawa-bawa Bunda gue. Dia udah nggak ada," ujar Arka ketus. Suaranya terdengar sangat tajam, menahan gejolak emosi di tenggorokan.

Leon langsung menepuk jidatnya sendiri, frustrasi. "Astaga... gue cuma ngingetin, Ka! Gak usah ngegas!"

Sret!

Langkah kaki Arka mendadak berhenti di ujung koridor dekat belokan arah UKS. Gerakan mendadak itu sukses membuat dada Leon menabrak punggung tegap Arka dengan cukup keras.

"Woy, kenapa berhenti mendadak sih?! Sakit nih idung gue!" protes Leon refleks sambil mengusap hidungnya yang memerah.

Namun, Arka sama sekali tidak memedulikan protes sahabatnya. Pandangan matanya lurus mengunci satu objek di depan sana. Seketika itu juga, rahang Arka mengeras dengan sangat rapat. Kedua tangannya di dalam saku celana mengepal amat erat hingga buku-buku jarinya memutih.

Tepat beberapa meter di depan mereka, Arjuna sedang berjalan terburu-buru sambil menggendong Lintang di punggungnya menuju ruang UKS. Kepala Lintang tampak terkulai lemas di bahu Arjuna, membuat Arka benar-benar ingin menarik paksa istrinya itu sekarang juga dari sana.

Melihat Lintang—satu-satunya perempuan yang kini berstatus sebagai istrinya—bersandar di punggung cowok lain, membuat Arka cemburu hebat.

Leon yang awalnya mengomel, ikut melemparkan pandangan ke arah yang sama. Alisnya berkerut heran saat mengenali sosok gadis yang digendong tersebut.

"Lah? Itu si Lintang kenapa digendong Arjuna? Pingsan kah?" tanya Leon polos. Dia sama sekali tidak tahu status rahasia di antara Arka dan Lintang.

Arka mendengus kasar. Dia membuang muka dengan tatapan yang sangat dingin, tajam, sekaligus frustrasi.

1
siyuu nr
🩷
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!