Tujuh tahun Pamela bertahan menjadi istri dari Zidan yang playboy, menantu yang ditindas, dan ibu yang tak dihargai anak-anaknya sendiri. Dia mengabdi dalam diam, hanya bermodalkan cinta.
Puncaknya hancur saat Zidan membawa selingkuhannya yang hamil tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka. Tanpa air mata, Pamela meletakkan surat cerai di meja makan, lalu pergi menghilang di tengah malam.
Awalnya keluarga Zidan bersorak senang si "miskin" telah pergi. Namun dalam hitungan minggu, rumah megah itu berubah menjadi neraka yang kacau tanpa kehadiran Pamela. Saat penyesalan mereka datang terlambat, Pamela ditemukan telah menjelma menjadi wanita sukses yang bersinar dan bahagia tanpa mereka.
Saat mereka bersujud memohon maaf, sanggupkah Zidan memenangkan kembali hati "mantan istri miskin" yang kini telah menjadi ratu?
...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 Sebuah Kotak di Meja Makan
...
Langkah kaki Pamela terdengar ringan namun pasti saat dia melewati lorong dapur menuju sebuah kamar kecil di sudut paling belakang. Kamar itu berukuran sempit, hanya memuat satu ranjang single dan satu lemari kayu tua yang pintunya sudah agak renggang. Di sinilah tempat Pamela sering mengasingkan diri ketika Zidan pulang membawa amarah, atau ketika kamar utama dikunci dari dalam setelah suaminya itu menghabiskan malam dengan wanita lain. Kamar ini adalah saksi bisu berapa liter air mata yang sudah dia tumpahkan selama tujuh tahun ini.
Tanpa membuang waktu, Pamela membuka lemari pakaian. Tangannya bergerak tenang, tidak ada lagi gemetar ketakutan. Dia tidak berniat membawa baju-baju daster pudar atau pakaian murah yang dibelikan Mama mertuanya agar dia tidak memalukan saat menyapu halaman depan.
Pamela hanya meraba bagian paling bawah lemari, menarik sebuah tas jinjing kain kanvas usang berwarna krem. Di dalam tas itulah dia menyimpan dunianya yang sebenarnya. Sebuah dunia sebelum dia mengenal nama Zidan.
Di dalamnya ada ijazah SMA miliknya, beberapa lembar sertifikat pelatihan menjahit yang sempat dia ikuti sebelum menikah, dan sebuah buku tabungan bank swasta kecil atas nama dirinya sendiri. Tabungan itu hanya berisi uang recehan sisa kembalian belanja pasar yang sengaja dia sisihkan seribu demi dua ribu rupiah selama bertahun-tahun. Jumlahnya tidak banyak, sangat jauh dari nominal sekali nongkrong Keysha di kafe mewah, namun bagi Pamela, ini adalah uang kebebasan.
Dari saku tas tersebut, Pamela mengeluarkan sebuah kotak bludru berwarna hitam berukuran sedang. Kotak itu tadinya ingin dia berikan sebagai hadiah kejutan ulang tahun pernikahan mereka yang ketujuh. Di dalam kotak itu bukan perhiasan mewah, melainkan tumpukan rapi kertas-kertas penting. Di bagian paling atas, selembar surat dengan kop resmi dari firma hukum yang sudah dia tandatangani: Surat Gugatan Cerai.
Di bawah surat cerai itu, terdapat lembaran-lembaran catatan medis dari klinik kecil di pinggir kota. Hasil diagnosis dokter menyatakan Pamela mengalami kelelahan kronis akut dan gangguan kecemasan parah akibat tekanan mental berkepanjangan. Tubuhnya sudah berada di ambang batas. Dokter bahkan memperingatkan bahwa jika dia tidak segera keluar dari lingkungan yang memicunya stres, fisiknya bisa ambruk total dalam hitungan bulan.
Pamela menatap pantulan dirinya di cermin kecil yang retak di sudut kamar. Wajah manis yang dulu selalu merona kini tampak pucat beralaskan lingkaran hitam di bawah mata.
"Cukup, Pamela. Kamu sudah membayar utang pembuktianmu pada dunia. Sekarang, saatnya pulang pada dirimu sendiri," bisiknya pada bayangan di cermin.
Dia menutup kotak bludru itu, mendekapnya di dada selama beberapa detik, lalu berjalan keluar dari kamar kecil tersebut sambil menenteng tas kanvas usangnya.
Sementara itu, di ruang makan, suasana masih tegang. Mama mertua Pamela masih mengomel dengan napas memburu, merasa harga dirinya sebagai nyonya besar diinjak-injak oleh pembangkangan Pamela.
"Zidan! Kamu lihat itu istri kurang ajar kamu! Mau jadi apa dia berani bicara begitu di depan saya?! Benar-benar tidak tahu diuntung!" pekik Mama mertua sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan tangan. "Usir dia sekarang juga! Biar dia tahu rasa bagaimana rasanya jadi gelandangan lagi di luar sana!"
Keysha ikut memanaskan suasana sambil memijat bahu ibunya. "Iya, Kak Zid. Usir aja si Pamela itu. Biar Kak Karina yang gantiin posisinya. Malu-maluin banget punya kakak ipar kayak dia, sok suci tapi gak tahu diri."
Karina sendiri hanya diam sambil melempar senyum kemenangan yang tipis. Dia merapatkan tubuhnya pada Zidan, berpura-pura ketakutan dengan drama yang terjadi. "Sayang... aku takut. Nanti kalau dia nekat ngapa-ngapain anak kita gimana?" pancing Karina dengan suara yang dibuat bergetar.
Zidan tidak merespons ucapan wanita-wanita di sekitarnya. Tatapan matanya masih tertuju pada lorong dapur tempat Pamela menghilang tadi. Rahangnya mengeras, dadanya naik turun menahan emosi yang bergemuruh. Sifat narsis dan ego tingginya merasa tercoreng hebat. Selama tujuh tahun, Pamela adalah sosok yang penurut, tidak pernah membantah, dan selalu menerima segala perlakuannya seolah Zidan adalah Tuhan dalam hidupnya. Bagaimana mungkin wanita miskin itu tiba-tiba berani menatap matanya dengan pandangan sedingin itu?
"Dia gak akan berani pergi," ucap Zidan akhirnya, suaranya terdengar sangat yakin dan penuh keangkuhan. "Dia gak punya uang, gak punya keluarga, dan gak punya tempat bersandar. Paling cuma gertakan sambal biar aku iba. Kita lihat seberapa jauh dia bisa bertahan di luar rumah tanpa uang dariku."
Tepat setelah Zidan menyelesaikan kalimatnya, Pamela kembali muncul dari lorong dapur. Dia tidak lagi mengenakan celemek memasak. Tas kanvas usang tersampir di pundaknya. Langkah kakinya konstan, tidak terburu-buru, memancarkan aura ketenangan yang membuat ruang makan itu mendadak hening kembali.
Zidan menatap tas kanvas di pundak Pamela dan mendengus remeh. "Oh, jadi kamu beneran mau main drama angkat kaki malam-malam begini, Pam? Bagus. Keluar dari rumah ini, dan jangan pernah berpikir untuk memohon-mohon kembali merangkak di kakiku saat kamu kelaparan besok pagi."
Pamela menghentikan langkahnya tepat di ujung meja makan. Dia tidak memandang Zidan dengan tatapan terluka seperti biasanya. Tatapannya kosong, seolah Zidan hanyalah seonggok benda mati yang kebetulan menghalangi jalannya.
Dengan gerakan perlahan, Pamela meletakkan kotak bludru hitam yang dipegangnya tepat di tengah-tengah meja makan mewah itu, tepat di samping sisa lelehan lilin kue tart yang hancur.
"Semua hal yang aku pikul selama tujuh tahun ini, aku tinggalkan di dalam kotak ini," ujar Pamela, suaranya terdengar sangat jernih dan bergaung di ruangan yang luas tersebut. "Surat cerai sudah aku tandatangani. Kamu hanya perlu membubuhkan tanda tanganmu, Zidan, lalu kirimkan kembali ke pengadilan. Aku tidak meminta harta gono-gini sepeser pun. Aku tidak sudi membawa satu rupiah pun uang yang berasal dari keringat perselingkuhanmu."
Mama mertua dan Keysha terbelalak mendengar kata 'surat cerai'. Mereka mengira Pamela hanya akan merajuk, namun perempuan itu ternyata sudah menyiapkan semuanya.
"Lalu... bagaimana dengan anak-anak?!" tanya Mama mertua ketus, teringat pada cucu kembarnya yang masih tidur di kamar atas.
Pamela memejamkan matanya sejenak. Menyebut kata 'anak-anak' adalah satu-satunya hal yang membuat dadanya kembali berdenyut perih. Namun, dia teringat bagaimana tatapan asing kedua anaknya kemarin, bagaimana mereka membentaknya dan lebih memilih pelukan neneknya serta barang-barang mahal dari selingkuhan Zidan. Pamela sadar, di rumah ini, anak-anaknya sudah diajarkan untuk membencinya.
"Anak-anak... mereka sudah memilih jalan mereka sendiri," kata Pamela dengan suara yang sedikit bergetar, namun dia cepat-cepat menguasai emosinya kembali. "Kalian selalu bilang aku tidak pantas mendidik mereka karena aku miskin dan bodoh. Jadi, silakan rawat mereka dengan cara kaya kalian. Aku melepaskan hak asuh mereka malam ini. Ketika mereka sudah besar nanti dan mengerti apa arti kebenaran, biarkan takdir yang mempertemukan kami kembali."
Zidan melangkah maju, wajahnya memerah padam karena murka. Dia merasa harga dirinya dihempaskan ke titik paling rendah oleh wanita yang selama ini dia anggap remeh. Dia mencengkeram lengan Pamela dengan sangat keras, mencoba mengintimidasi.
"Pamela! Kamu pikir pernikahan ini main-main, hah?! Kamu berani menceraikan aku?! Kamu pikir siapa dirimu?!" bentak Zidan tepat di depan wajah Pamela.
Pamela menahan rasa sakit di lengannya akibat cengkeraman kasar Zidan. Dia tidak mundur selangkah pun. Matanya menatap lurus ke dalam manik mata Zidan dengan keberanian yang belum pernah dia tunjukkan sebelumnya.
"Aku adalah Pamela, wanita yang salah meletakkan cintanya selama tujuh tahun," jawab Pamela lirih namun tajam. "Lepaskan tanganmu, Zidan. Kamu tidak punya hak lagi atas tubuhku. Mulai detik ini, kita adalah orang asing."
Dengan sentakan kuat yang tak terduga, Pamela berhasil melepaskan lengannya dari cengkeraman Zidan. Pria itu tertegun, terkejut dengan kekuatan perlawanan Pamela.
Tanpa menoleh lagi, Pamela membalikkan badannya. Dia melangkah menuju pintu depan rumah mewah tersebut. Setiap langkah yang dia ambil terasa seperti mengikis satu per satu kenangan buruk, satu per satu makian mertua, dan satu per satu rasa sakit hati yang diberikan Zidan.
Saat tangannya menyentuh gagang pintu kayu besar di depan, suara bentakan Zidan kembali terdengar dari arah ruang makan.
"Pergi sana, Pamela! Pergi dan jangan pernah kembali! Aku pastikan kamu akan menyesal dan hidup luntang-lantung di jalanan!" teriak Zidan dengan penuh emosi yang meledak-ledak.
Pamela tidak menjawab. Dia membuka pintu depan. Angin malam yang dingin langsung menyambut wajahnya, namun kali ini terasa sangat menyegarkan. Dia melangkah keluar, menutup pintu besar itu dengan suara dentuman pelan yang menandai berakhirnya masa pengabdiannya yang buta.
Di dalam rumah, Zidan berdiri terpaku di dekat meja makan. Napasnya memburu. Perasaannya mendadak tidak menentu. Ada rasa amarah yang membakar egonya, namun di sudut hatinya yang paling dalam, ada sebuah kekosongan aneh yang tiba-tiba muncul saat mendengar suara pintu depan tertutup.
"Sudahlah, Zidan. Biarkan saja perempuan kampung itu pergi. Paling besok sore dia sudah menangis di depan pagar meminta maaf," ucap Mama sambil mendekati meja makan, bersiap membuka kotak bludru hitam yang ditinggalkan Pamela dengan rasa penasaran yang besar.
Namun, malam itu, tidak ada satu pun dari mereka yang menyadari bahwa kepergian Pamela di tengah malam adalah awal dari runtuhnya pondasi waras di dalam rumah megah tersebut.
...
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
🌷🌸🌷🌸
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
saling support sabi kali ya😉