Thanaya Radiva dikira menikah adalah akhir dari kesepiannya. Arkan lelaki yang selalu setia mendengarkan keluh kesahnya setiap malam, selalu membuatnya bahagia.
Tapi setelah menikah, malam pertamanya jadi malam terakhir Arkan menyentuhnya. Akhir dari sikap hangatnya, semuanya telah berubah.
Sampai Naya tau, Mertuanya yang ternyata bermuka dua dan kehadiran Bara, adik Arkan, jadi bumerang dalam rumah tangganya. Bara lelaki dingin berhati hangat, siswa populer di sekolahnya dulu, menyimpan sejuta rahasia yang Naya ingin bongkar. Semakin Naya tahu, semakin ia terjebak dalam hati Bara.
Akankah Naya terus terjerat dalam cinta yang salah dengan adik iparnya? Atau ia akan mengakhiri jeratan itu demi suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 03•Aroma Yang Sama
Malam hari yang kacau berlalu dengan lambat, setiap jarum jam berpindah pada angka-angka lain Naya tau, matanya tak mampu terpejam malam itu, tak ada kantuk, tak ada lelah, pikirannya hanya menuju kepada Arkan.
Naya beralih dari kasurnya, ia duduk di pinggir kasur. Lalu berjalan menuju meja beberapa langkah. Tangannya mengambil satu buah foto, foto yang diambil dua tahun yang lalu saat dirinya baru wisuda.
Arkan memegang satu tangkai mawar merah dan Naya memeluk Arkan dengan raut wajah bahagia didepan gedung sekolahnya. Naya tersenyum melihat foto itu, ia kembali ke kasurnya, dipeluknya selembar foto itu lalu memejamkan mata berusaha untuk terlelap.
Malam itu sudah berlalu, suara ayam bersahutan dipagi yang dingin. Mentari belum menampakkan sinarnya. Naya sudah berdiri didapur, ia mencuci peralatan masak yang digunakan Arkan kemarin.
Dapurnya berantakan, sama seperti perasaannya sekarang. Bahkan Arkan belum datang sesuai ucapannya kemarin. Selesai mencuci piring, Naya bersiap untuk ke minimarket, hari ini libur kerja, ia memiliki waktu luang untuk jalan-jalan keluar kontrakan.
Siang harinya, matahari sudah tepat diatas kepala, sedari tadi ia terus melirik jam dan ponselnya tak ada tanda-tanda Arkan akan datang hari ini. Pesan Naya yang kemarin juga belum dibaca.
Naya mengambil ponselnya kembali yang ia lempar diatas meja. Ia menekan nama Arkan di deretan nomor paling atas, sengaja ia sematkan, ia prioritaskan, jarinya menekan tombol panggil. Baru mengarahkan ke telinga-nya sudah ada notifikasi kalau nomor tidak aktif.
Naya tersenyum pahit, ia kembali melempar ponselnya. Satu jam, dua jam, lima jam berlalu. Sore harinya suara pintu kontrakan Naya dibuka oleh seseorang. Naya yang duduk di sofa langsung menoleh keasal suara.
Arkan muncul, tanpa kabar apapun. Wajahnya sumringah, parfumnya mengisi ruangan kontrakan kecil Naya. "Maaf Nay, tadi aku ada kerjaan mendadak" ujarnya lalu duduk disamping Naya.
“Kamu belum mandi? Apa nggak jadi ke rumah aku?” tanya Arkan sambil menatap Naya dari atas ke bawah.
Naya langsung nunduk, agak malu. “Aku kira Mas nggak jadi datang. Chat nggak dibaca, nelpon juga nggak aktif.”
Arkan tersenyum. “Iya, ponsel aku baru nyala tadi. Makanya aku langsung kesini.”
Ia duduk lebih dekat ke Naya. Tapi Naya tanpa sadar menggeser sedikit. Hidungnya menangkap sesuatu. Wangi. Bukan wangi Arkan yang biasa dia hafal.
Ini lebih manis. Ada sentuhan wangi bunga yang lembut.
“Mas habis dari mana?” tanya Naya, suaranya datar.
“Dari kantor lah,” jawab Arkan cepat. “Tadi ada meeting sama klien.”
Naya mengangguk. Dia nggak nanya lebih lanjut. Tapi matanya memperhatikan Arkan lebih lama dari biasanya.
“Mas mau minum?” Naya bangkit, berusaha bersikap biasa aja.
“Nggak usah, Nay. Aku sebentar aja kesini. Aku capek banget, kepala rasanya mau pecah,” kata Arkan sambil mengusap pelipisnya.
Naya berhenti di depan dispenser. Tangannya diam beberapa detik.
“Mas jadi nggak ke rumah kamu hari ini?” tanyanya pelan tanpa menoleh.
Arkan terdiam. “Maaf ya… besok aja. Aku bener-bener nggak kuat hari ini.”
Naya nggak jawab. Ia cuma menuang air ke gelas, padahal Arkan bilang nggak mau minum.
Arkan pamit pulang sepuluh menit kemudian. Sebelum pergi, ia mengecup kening Naya. Singkat.
Tapi Naya tidak memejamkan matanya. Dan begitu pintu tertutup, ia langsung berjalan ke sofa tempat Arkan tadi duduk. Ia menghirup udara di sana.
Masih ada sisa wangi itu. Wangi yang bukan milik Arkan.
Naya menutup mata. Dadanya sesak.
...----------------...
Titik-titik hujan jatuh di tengah rimbunnya pohon pinggir jalan. Tetesannya menghantam aspal yang masih kering. Naya segera menutup kepalanya dengan tudung hoodie yang ia pakai.
Malam itu dingin menusuk kulit, tapi perutnya yang lapar tak bisa ditahan lagi. Ia masuk ke dalam minimarket, tersenyum kecil mengingat masa lima tahun lalu saat ia bekerja di tempat ini.
Matanya menyapu deretan rak yang rapi, penuh berbagai merek mie instan. Langkahnya berhenti di satu mie cup. Mie yang sering dibeli Arkan. Naya tersenyum tipis, lalu mengambilnya.
“Maaf, Mbak. Saya duluan yang mau ambil,” suara perempuan di sebelahnya membuat Naya terkejut.
“Tapi udah saya ambil duluan, Mbak,” jawab Naya sambil memperlihatkan mie cup itu.
Dari sekian banyak merek di rak, yang Naya pegang memang tinggal satu. Perempuan berkemeja kerja itu menatap tajam. “Tapi saya yang lihat duluan.”
Tanpa basa-basi, ia merebut mie cup dari tangan Naya.
Semakin dekat, Naya mencium aroma parfum perempuan itu. Familiar. Sangat familiar. Tapi ia tak bisa mengingat di mana pernah mencium aroma semirip ini.
Naya menghela napas kasar. Ia menepis pikiran itu dan mengambil mie merek lain, lalu langsung membayar di kasir.
Sampai di rumah, mie itu ia letakkan di meja. Tak disentuh. Tak dimasak. Ia memilih masuk ke kamar.
Malam itu berlalu begitu saja. Tak ada telepon. Tak ada chat. Tak ada sapaan “selamat pagi” dari Arkan seperti biasanya.
Jam sudah menunjukkan pukul 07.30. Naya segera merapikan bajunya. Setengah jam naik taksi menuju kantor. Tepat jam 8 ia harus sudah sampai.
Ia mengecek make-up tipis di wajahnya. Kelihatan lebih segar dari semalam. Lalu mengambil tas dan berjalan cepat keluar gang. Taksinya sudah menunggu di jalan raya.
Untuk menyeberang, Naya biasa menunggu lampu merah. Sambil menunggu, ia membuka ponsel untuk membalas pesan grup kantor.
Tanpa sadar waktunya mepet. Lampu akan segera berubah hijau. Dengan cepat Naya menyeberang. Tapi tiba-tiba sebuah mobil hitam melaju kencang dari sampingnya.
“Aaaa!”
Naya berteriak. Matanya terpejam. Jantungnya seperti mau copot.
Mobil itu berhenti. Nyaris menyenggol kakinya. Naya terjatuh, bukan karena tertabrak, tapi karena syok. Kakinya lemas. Napasnya tercekat.
“Mbak nggak apa-apa?”
Suara laki-laki dari depan mobil itu. Pintu mobilnya telah terbuka.
Naya mengangkat wajah. Dadanya masih sesak. Matanya bertemu dengan sepasang mata yang nyaris sempurna.
Pria tampan. Wajah yang tak asing.
Raut Naya berubah.
“Bara…?”
Mereka saling menatap. Beberapa detik yang terasa lama. Jelas mereka saling mengenal. Atau… apakah Bara tak mengenali Naya?