Lucien Scott, pengusaha muda yang menggawangi raksasa bisnis di bawah naungan GS Company, tak sadar telah jatuh cinta pada seorang gadis bernama Andrea. Sosok menggemaskan dengan sikap tegas dan terang-terangan, hadir memberikan warna baru di hidupnya yang terkontrol rapi tanpa cacat. Mencintai dengan bengis, menjadi perjalanan cinta cukup menggelitik di mata orang-orang sekitar mereka. Intrik sederhana menjadi pemanis saat keduanya mulai saling menyadari perasaan masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Perkara Lipstik
Pagi yang cerah, matahari bersinar terang. Veroz memperhatikan bosnya yang terlihat gembira saat akan pergi ke perusahaan. Sejak keluar dari rumah bosnya ini tak henti memamerkan senyum.
"Bagaimana penampilanku hari ini?" tanya Lucien tiba-tiba.
"Seperti biasa, Tuan. Anda terlalu memukau," jawab Veroz jujur. "Hari ini mau langsung ke perusahaan atau menjemput Nona Andrea terlebih dahulu?"
"Jemput dia."
"Baik."
Mobil bergerak menuju tempat tujuan. Sambil membuka ponsel, Lucien bersiul memainkan nada romantis. Akhirnya hari ini dia bisa kembali menyiksa Andrea setelah beberapa waktu lalu sempat hampir mati ketakutan melihatnya terbaring tak sadarkan diri di rumah sakit.
"Tuan, kapan Nona Andrea diizinkan untuk turun langsung ke lapangan? Kemarin model terbaru dari pakaian musim panas telah dirilis. Karena Nona Andrea terdaftar di bagian marketing pemasaran, manajer meminta kepastian untuk kehadirannya. Jika Anda mengizinkan, lusa Nona Andrea harus masuk ke live streaming guna memasarkan produk terbaru dari perusahaan kita," ucap Veroz menyampaikan laporan.
"Live streaming?" Kedua alis Lucien saling bertaut. " Apa hubungannya Andrea dengan live streaming?"
"Waktu itu kita sudah pernah membahas soal ini, Tuan. Saat Nona Andrea menyebarkan selebaran, saya melihat bakatnya dalam menarik perhatian masyarakat. Tentu saja hal ini sangat berhubungan dengan live streaming di mana nantinya dia akan bertugas untuk menarik minat pembeli terhadap produk milik perusahaan kita."
Lucien menghela nafas. Ada rasa tak rela muncul di hatinya saat membayangkan kalau Andrea akan dilihat oleh banyak orang.
"Anda jangan khawatir. Live streaming akan diadakan di dalam perusahaan," ucap Veroz tanggap akan keresahan hati bosnya.
(Dasar bucin. Siapa yang meminta agar Nona Andrea disiksa, sekarang siapa pula yang merasa tak rela)
"Kau aturlah mana yang baik. Pesanku jangan biarkan dia interaksi berlebihan dengan penonton, itu bisa merusak nama baik perusahaan. Apalagi jika yang direspon adalah pembeli laki-laki, langsung matikan live streamingnya dan minta dia kembali padaku. Biar aku yang menyiksanya sampai dia menangis!"
"Baik, Tuan."
Pikiran Lucien melanglang buana. Model pakaian musim panas identik dengan baju yang kurang bahan. Dan tiba-tiba saja dia tertawa saat membayangkan Andrea memakai salah satu dari pakaian tersebut.
"Veroz, coba kau bayangkan dengan tubuh Andrea yang pendek itu dia mengenakan bikini berwarna hitam lalu berenang di laut. Ikan teri pasti akan mengira kalau dia adalah induknya. Hahahahaha!"
"Memangnya Anda akan mengizinkan Nona Andrea berenang dengan pakaian seperti itu?" Veroz iseng meledek. "Saat musim panas, laut dipenuhi oleh banyak orang terutama para turis. Walaupun ukuran tubuhnya mini size, tapi dari segi wajah, Nona Andrea sangatlah menarik."
Benar juga. Wajah Lucien seketika menjadi masam saat membayangkan Andrea menjadi rebutan para turis.
"Itu Nona Andrea, Tuan," seru Veroz lalu menepikan mobil. Sebelum sempat dia keluar untuk membukakan pintu, Nona Andrea sudah lebih dulu masuk ke dalam. "Selamat pagi, Nona. Bagaimana kabarmu hari ini? Apakah sudah sehat?"
Tak langsung menjawab, Andrea dibuat heran oleh sikap dingin Lucien yang enggan menatapnya. Biasanya orang ini akan langsung mengeluarkan kalimat nyelekit begitu mereka bertemu. Heran, dia memajukan badan ke depan bermaksud bertanya pada Veroz.
"Bosmu kenapa? Sikapnya tiba-tiba jadi aneh begitu. Dia sakit?"
(Bukan sakit, Nona. Tetapi Tuan sedang terbakar cemburu karena membayangkan kau jadi rebutan turis di pantai)
"Hei, sedang apa kalian?" teriak Lucien murka. Hampir saja dia menjambak rambut Andrea yang begitu dekat dengan Veroz jika gadis ini tak melotot padanya. "Maaf, aku reflek."
"Makin hari sikapmu makin aneh saja, bos. Tiba-tiba diam tanpa sebab lalu berteriak seakan aku dan Veroz sedang berselingkuh di belakangmu. Kenapa sih?" omel Andrea mendesak jawaban. Dia kembali duduk ke posisi semula lalu menatap Lucien lekat. "Ada masalah di kantor? Atau kau sedang tidak enak badan?"
"Andrea, kau tidak boleh sembarangan menebar pesona pada pria lain. Itu bisa mencederai citra perusahaan. Tahu!"
"Haaa??!"
Mulut Andrea terbuka lebar, kaget sekaligus bingung mendengar ucapan Lucien barusan. Dituduh menebar pesona dan mencederai citra perusahaan? Apa orang ini sudah gila? Dia saja baru akan kembali bekerja setelah tiga hari terkurung di rumah sakit, lalu kapan tebar pesonanya?
"Jangan besar kepala dulu. Aku begini demi kebaikanmu juga," ucap Lucien sambil mengendurkan ikatan dasi di leher. Mendadak suasana jadi terasa kikuk setelah dia kelepasan bicara.
"Kebaikan apa yang kau maksud, bos? Bukankah sejak aku diterima bekerja di GS Company kau selalu membuatku berada di sisimu? Menyiksaku dengan berbagai macam pekerjaan yang tak masuk akal, bagaimana mungkin aku punya waktu untuk tebar pesona pada pria lain? Jika pun iya, orang itu pasti dirimu. Atau Veroz."
Tiba-tiba namanya disebut, Veroz jadi panik sendiri. Bosnya pasti salah paham. Sedetik pun tak pernah dia mencuri pandang atau lebih buruknya terpesona pada Nona Andrea. Dia tak sebodoh itu sengaja mencari masalah yang bisa membuatnya kehilangan pekerjaan.
"Saya tidak pernah terpesona, Tuan. Tolong Anda jangan salah memahami ucapan Nona Andrea barusan," ucap Veroz gesit memberi penjelasan.
"Cepat juga kau melindungi masa depanmu," sindir Lucien terus-terang. "Aku bahkan belum sempat melirikmu, dan kau sudah lebih dulu menjelaskan."
"Memang seperti itu faktanya, Tuan."
"Hmmm,"
Sebelah alis Andrea terangkat ke atas. Dua orang ini sedang membicarakan apa, seolah menganggapnya tidak ada di sana.
"Hari ini kau ku ijinkan tidak menempel dulu padaku. Veroz sudah menemukan posisi yang tepat untukmu di perusahaan. Ikutlah dengannya."
"Tunggu, sepertinya ada yang harus diralat dari ucapanmu barusan." Andrea duduk menyamping. "Lucien, aku perlu menegaskan sesuatu. Di kantor aku bukan menempel padamu, tapi sedang berjuang mendedikasikan diri sebagai karyawan magang. Jadi tolong jangan sembarangan bicara. Oke?"
"Baiklah," sahut Lucien cuek. Masih saja tak mau mengaku, padahal sangat jelas kalau Andrea begitu menikmati waktu saat sedang menempel padanya. Tapi ya sudahlah, dia malas memperpanjang. Ujung-ujungnya tetap tak akan mau mengaku juga.
"Hei, ada apa dengan reaksimu? Kau sedang mengejekku ya?"
"Lubang telingamu tersumbat tronton ya? Kapan aku mengucapkan kalimat yang mengejekmu?"
"Barusan."
"Kapan?"
"Ekspresimu seperti meremehkanku." Bibir Andrea maju ke depan. Cemberut.
"Ckck, baru kubilang jangan tebar pesona di depan pria lain, sekarang kau malah terang-terangan menggodaku. Apa maksudnya memajukan bibir begitu? Mau pamer kalau bibirmu kering karena tak mampu beli lipstik? Merah muda begitu, tidak ada bagus-bagusnya. Dasar miskin. Cihhh."
Khas Lucien Scott. Lain di mulut lain di hati. Di mulut melontarkan ejekan, di dalam hati sedang mati-matian menahan diri agar tidak menggigit bibir Andrea. Sampai panas dingin dia menahan keinginan tersebut.
Jika biasanya Andrea akan balas mengejek Lucien, kali ini reaksinya agak berbeda. Dia diam dan matanya berkaca-kaca.
"Aku memang miskin, tapi bukan berarti aku tidak mampu beli lipstik. Kak Zein bilang aku sudah cukup cantik dengan apa adanya diriku," lirih Andrea menahan tangis.
(Nona, tolong jangan pernah sebut nama pria lain di depan Tuan Lucien. Aku kasihan dengan orang itu)
Deg deg deg
Jantung Lucien berdegup kuat sekali menyaksikan Andrea yang hampir menangis setelah diejek miskin olehnya. Saking merasa bersalah, dia tak menghiraukan nama Kak Zein yang barusan disebut.
"Ke-kenapa menangis? Akukan cuma bercanda," ucap Lucien gugup. Dia tak menyangka reaksi Andrea akan sedramatis ini. Biasanya kan gadis ini selalu memberontak.
"Bos, biar bagaimanapun juga aku ini perempuan. Siapa yang tak sedih jika penampilannya diejek dan dianggap tak mampu berbelanja?"
"Lalu kau mau apa?"
"Tadi katamu aku ini tak mampu beli lipstik. Iyakan?"
Veroz duduk tegak saat bosnya menepuk pundaknya. Pasti perintah tak masuk akal.
"Borong semua lipstik yang disukai para wanita. Pilih dari brand terbaik. Tunjukkan pada semua orang kalau aku ini kaya raya dan juga royal."
Andrea meng*lum senyum. Kena juga akhirnya orang sombong ini. Siapa suruh terus mengejeknya miskin, sekalian saja dia peras uangnya. Hahahaha.
***
Sudah lama juga, nggk pernah baca novel dari penulis ini. 😂😂😂 Terakir tahun 2022 yang lalu dah. Waktu Di Novel "Love Story Eleanor dan Gabriele... 😂😂😂