Miles Sterling hanyalah seorang menantu miskin yang dihina dan direndahkan oleh istri dan keluarganya. Saat ibunya sakit parah dan butuh biaya operasi $250.000, istrinya justru menghabiskan $300.000 untuk pesta mantan kekasihnya.
Namun takdir berkata lain. Miles ternyata adalah satu-satunya pemilik 50 koin NexaChain—mata uang kripto yang nilainya kini melonjak menjadi $40 miliar. Dalam semalam, ia berubah dari pengemis menjadi miliarder sekaligus CEO NexaChain Global. , perusahaan raksasa di balik koin tersebut.
Kini, dengan kekayaan dan kekuasaan yang tak terbayangkan, Miles siap membalas semua penghinaan. Tapi akankah ia mampu mempertahankan segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergi Ke Acara Bersama Laura
Setelah meninggalkan kantor polisi, Miles tidak memanggil sopir ataupun menunggu mobil. Ia naik bus menuju mansionnya.
Ia mengembuskan napas panjang. "Theo benar."
Jika ia tidak datang, ia akan kehilangan kesempatan penting untuk mengamati mereka dari dekat. Mungkin mereka akan lengah di pesta itu. Mungkin seseorang akan melakukan kesalahan dan ia bisa mengetahui sesuatu. Nyawa ibu mungkin bergantung pada apa yang ia lihat atau dengar di pesta itu.
"Bos?"
Suara itu membuyarkan lamunannya. Ia mendongak dan melihat Laura menuruni tangga besar, tampak begitu cantik dan memukau.
"Ke mana saja kau seharian? Aku sudah mencoba menghubungimu beberapa kali, tapi kau tidak mengangkat telepon. Aku mulai khawatir, apalagi setelah telepon aneh pagi tadi sebelum kau pergi. Apa kau baik-baik saja?"
Miles mengusap wajahnya dengan kedua tangan. "Tidak, Laura. Aku tidak baik-baik saja."
Laura berjalan mendekat, ekspresinya langsung melunak. "Apa yang terjadi? Apa ada sesuatu yang terjadi selain telepon itu?"
Miles menyandarkan tubuhnya dan menatap langit-langit beberapa saat sebelum akhirnya berbicara. "Ibuku diculik."
Laura langsung membeku di tempat. "Apa?"
Miles kembali menatapnya, rasa sakit begitu jelas terdengar dari suaranya. "Dia dibawa langsung dari rumah sakit. Dokternya bilang ada beberapa orang datang dengan berpakaian seperti tenaga medis. Mereka mengaku sedang memindahkannya ke rumah sakit yang lebih canggih atas perintahku."
Tangan Laura langsung menutupi mulutnya. "Tapi... kau tidak..."
"Aku tidak pernah memberi izin apa pun," potong Miles, lalu menghela napas. "Orang di balik telepon itu... orang yang mengirim pesan ancaman itu... sudah merencanakan semuanya. Dan sampai sekarang kita masih belum tahu siapa mereka."
Laura perlahan duduk di sampingnya. "Apa kau punya petunjuk? Ada tersangka sama sekali?"
Rahang Miles mengeras. "Hanya keluarga Wycliff, Lily, dan Kelvin. Salah satu dari mereka, atau seseorang yang bekerja sama dengan mereka. Aku membawa mereka ke kantor polisi karena aku mencurigai mereka. Sekarang, aku semakin yakin."
Miles tiba-tiba menundukkan pandangannya ke lantai, kedua tangannya mengepal karena amarah yang mendidih di dalam dirinya. "Kalau mereka benar-benar terlibat dalam hilangnya ibuku... aku bersumpah, Laura, aku akan menghancurkan mereka dan memastikan mereka tidak akan pernah bisa bangkit lagi."
Laura menggenggam tangannya dengan lembut. "Lalu... bagaimana dengan acara VIP Executive Party?"
Miles menatapnya. "Kenapa dengan pesta itu?"
"Apa kau masih akan datang? Maksudku... setelah semua yang terjadi..."
Miles melihat jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 18.00.
Ia mengangguk pelan. "Ya. Aku harus datang. Pesta itu akan dipenuhi orang-orang yang perlu kuawasi. Kelvin, Lily... mungkin juga kedua orang tua Lily."
Ia menoleh kepadanya, dan tatapannya sedikit melunak. "Dan aku butuh seseorang menemaniku, seseorang yang cantik. Sejujurnya, aku tidak bisa memikirkan siapa pun yang lebih pantas daripada Laura Agnes, wajah kota ini, sekaligus satu-satunya miliarder wanita yang mampu membuat seluruh ruang rapat merasa gentar."
Laura tersenyum sambil menyibakkan sehelai rambut dari wajahnya. "Dengan senang hati, Tuan Sterling."
Miles tertawa kecil, lelah tetapi tulus. "Terima kasih. Aku memang membutuhkannya."
Laura berdiri dari sofa di samping Miles lalu merapikan pakaiannya. "Kalau begitu, kalau kita benar-benar akan pergi, aku harus mulai bersiap. Waktu kita tidak banyak."
Setelah Laura pergi, Miles tetap duduk diam beberapa saat lagi.
Pukul 19.30, Laura kembali ke kamar Miles.
Miles berdiri di dekat jendela, mengenakan tuksedo hitam yang dijahit khusus untuknya, dengan dasi yang terpasang sempurna.
Kedatangan Laura membuat ruangan itu seketika hening.
Ia mengenakan gaun merah tua yang membuatnya tampak begitu anggun dan berkelas. Gaun itu membalut lekuk tubuhnya dengan sempurna, dipadukan dengan kalung yang memancarkan kemewahan dan kelas tinggi. Rambutnya ditata dengan sempurna, sementara anting-antingnya berkilau seperti bintang.
Miles menatapnya, benar-benar terpukau. "Kau terlihat... luar biasa."
Laura menyeringai tipis. "Kau juga. Sekarang ayo kita pergi memenangkan sebuah penghargaan."
Miles mengulurkan lengannya, dan Laura langsung menggandengnya.
Beberapa menit kemudian, mereka menaiki salah satu mobil sport termahal di dunia yang terparkir di garasi Miles... Pagani Zonda HP Barchetta senilai 17,5 juta dolar.
Laura mengemudikan mobil itu keluar. Jalanan dipenuhi orang-orang yang datang menghadiri VIP Executive Party, salah satu acara tahunan paling bergengsi di negara itu. Ketika mereka tiba di lokasi acara, jelas terlihat bahwa acara itu dipenuhi tamu-tamu berpengaruh.
Seluruh lokasi acara memancarkan kemewahan bahkan dari bagian luarnya. Ratusan mobil mewah terparkir rapi berjajar.
Namun tak satu pun mampu menandingi Pagani yang baru saja ditumpangi Miles.
Saat pintu mobil terangkat, Miles turun lebih dulu lalu mengulurkan tangan kepada Laura yang turun dengan anggun. Para fotografer di pintu masuk ternganga sejenak sebelum buru-buru memotret. Laura Agnes bersama seorang pria misterius? Media pasti akan sibuk besok.
Miles menggandeng lengan Laura, lalu mereka mulai berjalan menuju karpet merah. Laura sedikit mendekat ke arahnya.
"Cobalah menjaga ekspresimu tetap datar," bisiknya. "Tersenyumlah seolah-olah kau memiliki semua yang mereka impikan tetapi tak akan pernah mampu mereka beli."
Miles mengangguk. "Baik."
Baru saja mereka tiba di depan tali pembatas beludru, ponsel Laura berdering. Ada panggilan masuk. Ia melirik layarnya lalu mengernyit.
"Hanya panggilan bisnis sebentar. Aku akan menyusulmu masuk secepat mungkin," bisiknya.
Miles mengangguk sambil melepaskan gandengan tangannya. "Kalau begitu aku akan menunggumu di dalam."
Ia pun melanjutkan langkahnya seorang diri.
Dan di sanalah mereka berada. Dari kejauhan, Miles melihat mereka berdiri membelakanginya sambil menghadap pintu masuk.
Kelvin dan Lily berdiri di dekat gerbang, berpakaian semewah mungkin, mata mereka sibuk menyapu sekeliling mencari orang untuk dipandang rendah. Kelvin mengenakan tuksedo biru tua dengan kancing manset emas. Sementara Lily mengenakan gaun sutra berwarna hijau zamrud.
Lily yang pertama kali melihat Miles.
Begitu mata mereka bertemu, ia langsung tertawa terbahak-bahak. "Ya Tuhan. Siapa yang meminjamkan jas itu kepadamu? Kau terlihat seperti kambing yang berpura-pura menjadi pria terhormat."
Kelvin menoleh dan ikut menyeringai sinis. "Lily benar. Jas itu terlihat konyol di tubuhmu. Aku pernah melihat manekin yang tampil lebih bagus. Tapi yang lebih penting, apa yang sebenarnya kau lakukan di sini, Miles?"
Miles berhenti tepat di depan mereka. Wajahnya sama sekali tidak terusik, kedua tangannya tetap berada di dalam saku. Matanya menyapu wajah menyebalkan mereka berdua, tetapi ia tidak mengucapkan sepatah kata pun.
miles ceo dingin dn kejam,agar lebih menarik membacanya thorr👍👍