NovelToon NovelToon
Kabur Dari Tuan Muda

Kabur Dari Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nana

Rania terlahir kembali ke lima tahun sebelum tragedi dalam hidupnya terjadi. Di masa depan setelah ia menikah dengan Arya, Rania dijebak oleh Salsa dan dibunuh tepat di malam pertamanya. Di kesempatan kedua ini, ia akan menghindar dari pernikahan itu agar tidak mengalami nasib yang sama.

Berhasilkah ia kabur dari genggaman sang Tuan Muda dan menghindari takdir kematiannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3. Sudah Berubah

Arya mengulurkan tangannya berniat meraih lengan Rania untuk ia genggam. Namun Rania justru reflek mundur satu langkah menghindar darinya. Di kepalanya terputar adegan saat Arya dengan dingin menghentikan penyelidikan atas kematiannya karena ia sudah mati dan tidak berguna. Hatinya terasa seperti dihantam palu setiap kali mengingat itu.

"tidak, aku ingin ke perpustakaan."

Setelah mengatakan itu, Rania langsung mengambil tas dan bukunya lalu keluar dari pintu belakang kelas. Di setiap kelas memang ada dua pintu. Pintu depan sebagai pintu utama dan ada pintu belakang juga.

Arya melihat itu dengan raut bingung. Ia merasa tidak melakukan salah akhir-akhir ini. Sementara itu Rania terus berjalan cepat tanpa menoleh ke belakang.

"jangan ikut jangan ikut jangan ikut jangan ikut," gumamnya sepanjang langkah kakinya menuju perpustakaan.

"Ran, tungguin."

Si pemilik nama tidak menggubris panggilan temannya. Ia terus berjalan dengan mata lurus menatap ke depan dan mulut yang terus bergumam. Seperti sedang mengucapkan mantra setelah bertemu dengan setan.

Sesampainya di perpustakaan, Rania masuk dan berdiri di balik pintu sambil mengatur nafasnya. Melihat Dewi yang juga ikut masuk, ia langsung menarik tangan Dewi membuatnya hampir saja jatuh ke belakang.

"dia tidak ikut kan?"

"Arya? nggak ikut kayanya deh."

"huhh syukurlah, jantungku hampir saja copot."

"jantungmu baru hampir, jantungku sudah merosot sampe dengkul nih."

Rania menatap Dewi dan ditatap balik oleh Dewi lalu keduanya tertawa bersamaan. "SSSTTT," tegur seorang petugas membuat mereka berdua langsung terdiam di tempat.

Rania memilih duduk di tempat paling sudut. Tepat di sampingnya terdapat sebuah jendela kecil. Ia membuka jendela itu dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara. Angin langsung menyapa wajahnya membuatnya merasa sedikit segar.

"tumben nggak nempel sama Arya?"

Dewi bertanya langsung dengan cukup antusias namun masih dengan menjaga suara agar tidak terlalu berisik.

"dia pembawa sial."

"zaman sekarang mana ada pembawa sial, jangan percaya dukun ah."

"ck bukan dukun, tapi serius beneran. Sejak kenal sama dia, aku sering dipanggil ke bk."

Mendengar pernyataan itu, wajah dewi berubah terkejut. Namun sedetik kemudian langsung berubah lagi menjadi datar.

"itu karena kamu bandel sering melanggar peraturan sekolah."

Rania masih tidak menyerah, ia memajukan tubuhnya mendekat ke arah Dewi yang duduk di depannya. Meskipun terhalang oleh meja, itu tidak menurunkan semangatnya untuk berbagi cerita.

"bukan cuma itu, aku juga sering dimarahin sama ayah dan ibu."

"itu karena kamu sering pulang telat dan nilai jelek."

"tapi ya, uang jajanku sering hilang."

"hilang?"

"iya, setiap habis pergi sama Arya dan Dona."

"itu karena kamu yang bodoh traktir mereka berdua setiap hari, apalagi Dona itu."

"ya intinya begitulah, aku tidak mau dekat dengannya lagi."

"tidak mau dekat dengan siapa?" Tanya Arya.

Suara Arya yang tiba-tiba terdengar membuat Dewi dan Rania berteriak karena terkejut. Jantungnya seperti mau melompat keluar dari tempatnya.

"SSSTTT!" mereka bertiga reflek menoleh ke sekitar dan menemukan semua orang menatap dengan tatapan sinis.

"jangan berisik!" lanjut tegur seorang siswa ke mereka bertiga.

Rania, Dewi dan Arya membuat gestur minta maaf lalu keluar dari perpustakaan. Kini mereka tengah berada di lapangan tidak jauh dari perpustakaan. Rania dan Dewi duduk di kursi panjang, sementara Arya berdiri tepat di hadapan Rania dengan tangan di pinggang. Wajahnya terlihat serius seperti sedang menginterogasi Rania.

"kenapa menghindar?"

Rania menolak bertemu mata dengan Arya. Wajahnya ia palingkan ke arah lain agar tidak bertatapan langsung.

"tidak menghindar kok."

"terus tadi apa maksudmu tidak mau dekat denganku lagi?

"jangan ge-er deh, bukan kamu tapi monyet. Ada monyet tetangga yang suka ganggu."

Arya tentu saja tidak bodoh. Ia paham julukan monyet itu ditujukan kepadanya. Saat ia akan berbicara lagi, tiba-tiba Rania menggenggam kedua tangannya lalu berdiri. Arya dan Dewi tentu saja terkejut dengan tindakan yang tiba-tiba itu.

Rania melihat sosok yang sangat ia kenal di seberang lapangan. Matanya melotot dan keringat mulai membasahi dahinya.

'tidak tidak jangan ke sini' hatinya berbicara begitu keras sebagai alarm penanda bahaya.

"masalah ini kita bahas besok lagi ya, aku ada urusan mendadak. Nenekku baru saja melahirkan aku harus menjenguk cucuku. BYE!"

"eh Rania! t-tapi kan nenekmu sudah meninggal semua," ucap Dewi dengan nada bicara yang terus menurun di setiap katanya karena Rania sudah terlanjur lari menjauh meninggalkannya dengan Arya berdua saja.

"Arya? Dewi?"

Suara lembut itu menginterupsi keduanya. Dia adalah Salsa, primadona sekolah yang terkenal akan kecantikannya. Gadis yang dikagumi banyak siswa laki-laki tapi semua orang juga tau kalau dia hanya menyukai Arya seorang.

"oh aku ada urusan, pergi dulu ya. Mau jenguk neneknya Rania," kali ini Arya yang buru-buru pergi seolah sedang menghindar dari sumber masalah hidup.

"t-tapi kan..." Dewi tidak mampu menyelesaikan kalimatnya. Mereka berdua sangat cocok karena sama-sama gila.

"memangnya nenek Rania kenapa?" tanya Salsa kepada Dewi.

"tidak apa apa, aku duluan ya."

"iya."

Salsa menatap punggung Dewi yang mulai menjauh. "ada yang berubah," gumamnya lirih.

Ia sejak awal sudah melihat semuanya, saat Rania sengaja menghindari Arya di perpustakaan lalu tadi dia juga sengaja pergi dengan alasan yang tidak masuk akal. Dia juga terlihat panik saat melihatnya mendekat.

Seharusnya bukan seperti ini alurnya. Rania di kenal selalu nempel ke Arya apapun kondisinya. Tapi sekarang terang-terangan menghindarinya seolah laki-laki itu adalah wabah. Dengan ini, untuk sementara ia asumsikan bahwa Rania memang sudah berubah dan tidak lagi bodoh seperti dulu.

Salsa berniat untuk mengajak Rania berbicara empat mata nanti saat ada waktu yang pas. Untuk saat ini ia akan melihat dari jauh perkembangan situasinya.

.

Di mobil, Rania berulang kali mengusap dadanya yang masih berdebar. Ia tarik nafas untuk menenangkan diri namun tetap tidak bisa tenang. Kejadian masa lalu itu kembali terlintas di pikirannya. Tidak mungkin ia bersikap biasa saja setelah apa yang pernah dialaminya.

"non mau langsung pulang?" tanya sang supir.

Rania tiba-tiba teringat bahwa tepat di hari ini, ibunya akan pergi ke sebuah acara pesta namun mengalami kecelakaan di jalan dan mengakibatkannya mengalami koma selama dua tahun lalu harus menderita lumpuh kaki setelah sadar.

"pulang pak Ujang."

"baik non."

Tuhan memberikannya kesempatan kedua untuk mengulangi hidupnya. Ia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini begitu saja. Rania bertekad akan berusaha keras mengubah takdir hidupnya dan takdir buruk keluarganya. Dengan begitu, ia tidak akan mati mengenaskan dan orang tuanya hidup panjang umur dengan bahagia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!