NovelToon NovelToon
Ceruk Hati Zahra

Ceruk Hati Zahra

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:31.4k
Nilai: 5
Nama Author: picisan imut

Ada cinta yang tumbuh… bukan untuk dimiliki sepenuhnya, tapi untuk bertahan di hati yang sudah retak.

~ Zahra ~

Zahra menikahi Adnan, seorang duda yang kehilangan istrinya karena maut lebih dulu memanggil. Ia tahu, sejak awal, bahwa ia bukan cinta pertama. Ia hanya perempuan yang datang setelah sebuah kisah agung berakhir. Namun Zahra tetap memilih bertahan, menanam kasih di tanah hati yang sebagian masih ditumbuhi bayang-bayang masa lalu.
Setiap sudut rumah menyimpan kenangan yang bukan tentang dirinya dan Adnan.
Lalu sampai kapan sebuah hati sanggup bersabar?
Sampai kapan cinta bisa hidup tanpa benar-benar dimiliki?
Di antara kesetiaan, keikhlasan, dan luka yang tak pernah benar-benar sembuh… Zahra harus memilih: tetap berusaha mencintai, atau pergi menyelamatkan dirinya sendiri.
Sebab terkadang…
yang paling menyakitkan bukan tidak dicintai,
melainkan dicintai setengah hati oleh seseorang yang masih hidup di masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon picisan imut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

keputusan

Langit sore menggantung kelabu di sebuah tempat pemakaman umum. Pepohonan tua berdiri rapat, dedaunannya berdesir pelan ketika angin lewat, membawa aroma tanah basah dan bunga yang mulai layu. Di antara barisan nisan yang tersusun rapi, Adnan melangkah perlahan.

TPU ini bukan pemakaman biasa. Lahan yang bersih, terawat, dengan jalan setapak berpaving rapi. Biaya kontraknya lumayan mahal, namun Adnan tak pernah merasa keberatan mengeluarkan uang yang tak sedikit demi rumah abadi milik istrinya. Baginya, tempat ini bukan sekadar tanah. Di sinilah sebagian hatinya beristirahat.

Di tangannya, sebuket bunga lili putih yang selalu menjadi favorit bagi istrinya. Dulu, setiap kali melihat lili, Marwah selalu tersenyum kecil sambil berkata, “Putih itu tenang, Mas. Seperti doa yang tak bersuara.”

Kini langkah Adnan berhenti di satu pusara. Marwah Hastari. Tulisan yang sejatinya tak ingin di lihatnya ada di sebuah nisan dimanapun. Namun mereka tetaplah manusia yang tak bisa menolak, tatkala ajal pada akhirnya merenggutnya dari dunia. Dan, meski delapan tahun telah berlalu Ia tak pernah bosan untuk mendatanginya dengan cinta yang masih utuh membersamai.

Kini pria itu berlutut perlahan, meletakkan bunga di atas pusara, lalu mengangkat tangannya menyentuh batu nisan yang dingin. Ia menunduk, lalu mencium pucuk nisan itu dengan durasi yang cukup lama. Seakan tengah mengecup kening seseorang yang di kasihi dengan mata terpejam.

"Aku rindu, Sayang..." gumamnya lirih.

Kicau burung terdengar dari kejauhan. Angin berdesir lembut. Dunia seakan mengecil, menyisakan ia dan nama yang terukir di hadapannya. Lebih dari dua puluh menit, Adnan tak bergerak. Dalam diam itu, kenangan datang satu per satu. Wajah Marwah yang pucat di ranjang rumah sakit. Senyum tipisnya yang tetap ia paksakan. Tangannya yang dingin saat digenggam terakhir kali. Seolah belum lama ia mengikuti perjuangan hidup seorang Marwah, yang pada akhirnya Dia harus menyerah di ruang ICU.

Adnan merubah posisinya menjadi jongkok dengan punggungnya tegak, tatapannya tak lepas dari nisan itu. Ekspresinya yang datar, serta tenang sementara tangannya mengusap nisan berulang kali.

Dari ekspresinya, seolah ia tengah memikirkan sesuatu. Atau bahkan ingin mengatakan sesuatu yang tak kunjung keluar dari mulutnya.

Adnan menunduk, seiring dengan hembusan nafas berat yang ia lepaskan berkali-kali. Aku tidak bisa mengatakannya... batin Adnan berbisik.

Waktu pun berjalan. Bayangan pepohonan memanjang. Cahaya matahari perlahan meredup, berganti jingga lalu keabu-abuan. Adnan kembali menabur bunga di atas gundukan yang tertutup rumput hijau nun-rapi. Setekah itu dia bangkit, dan pergi meninggalkan kekasihnya yang telah terkubur bertahun-tahun lamanya.

...🥀🥀🥀...

Kembali ke rumah sakit...

Zahra duduk di sisi ranjang Abahnya. Di tangannya, sebuah Al-Qur’an kecil bersampul hijau. Bibirnya bergerak pelan, melantunkan ayat demi ayat dengan suara amat lirih bahkan hampir tak terdengar agar tak ingin mengganggu pasien lain.

“...fa inna ma’al ‘usri yusra…”

Setiap ayat terasa seperti pelukan dimana ia terus memikirkan sosok cinta pertamanya dalam hidup harus terbaring lemah dengan selang oksigen terpasang. Wajahnya yang dulu selalu berseri-seri, penuh kehangatan seorang pemimpin yang hampir tak pernah sekali pun memperlihatkan ekspresi kecut. Kini nampak pucat dan memprihatinkan. Ia tak bisa membayangkan ketika sumber kebahagiaannya di panggil Allah dalam waktu dekat ini.

sebulir air mata menitik. Zahra menyekanya dengan cepat dan mengakhiri lantunan ayat sucinya. Ia tak ingin Abahnya tau kalau saat ini hatinya tengah di kepung ketakutan sebab suara yang kian parau tersendat tangis.

Tangannya menutup Al-Qur’an perlahan, lalu meletakkannya di meja kecil. Ketika ia menoleh, ia mendapati Abah tengah menatapnya.

“Abah mau sesuatu? Minum?” tanya Zahra lembut sambil menggenggam tangan Abah.

Pria paruh baya itu menggeleng pelan. Namun tatapannya tak berubah. Ada sesuatu di sana yang ia tunggu. Zahra menarik napas dalam karena kepekaannya lantas mempererat genggaman tangannya.

“Bah…” lirihnya memanggil. “Teteh sebenarnya tidak ingin Abah terlalu memikirkan nasib hidup Teteh. Apapun itu, semua sudah menjadi garis kehidupan yang nggak bisa Teteh hindari.”

Abah mengedip pelan, mendengarkan dengan hati penuh harap atas keputusan yang telah di ambil anak itu.

“Kalau ada yang mau melamar Hanifah. Dan Hanifah setuju? Teteh nggak keberatan jika Hanifah harus melangkahi Teteh.”

Hening. Napas Abah terdengar lebih berat. Dadanya naik turun lebih dalam. Zahra melihat kekecewaan itu meskipun tak terucap, tapi terasa bagi perempuan berusia kepala tiga ini.

“Maafin Teteh, ya Abah…” lanjutnya lirih.

Ia menunduk, lalu dengan takzim mencium punggung tangan Abah. “Zahra tidak pernah tahu kalau Abah sepeduli ini sama Zahra. Tapi Zahra justru sering mengecewakan Abah. Dengan entengnya menolak setiap laki-laki yang berniat baik ingin meminangku."

Raut wajah Abah berubah hangat saat melihat punggung Zahra bergetar meskipun sebentar. Karena anak gadisnya kembali menahan isaknya. Tangan Abah yang satunya membelai kepala Zahra.

"Abah minta maaf kalau Abah terlalu menuntut Teteh," balas pria renta itu lirih.

Zahra mengangkat wajah. Ia menggeleng pelan. Senyumnya di paksa mengembang meskipun bibirnya bergetar menahan tangis.

"Kali ini Teteh bersedia, Bah."

Keningnya berkerut. Ia belum sepenuhnya memahami maksud putrinya yang tiba-tiba mengatakan itu.

“Teteh bersedia menerima pilihan Abah kali ini. Zahra...,” kata-katanya tersendat karena masih adanya keraguan di hatinya. “Zahra bersedia… untuk dijodohkan dengan siapapun itu. Dan bersedia menikah dalam waktu dekat ini.”

Sejenak, dunia seperti berhenti. Mata Abah berkaca-kaca. Air mata menggenang di pelupuknya. Pria yang rambut dan jenggotnya hampir memutih itu berusaha menahan tangis, namun gagal. Sebuah senyum rapuh terbit di wajahnya.

“Alhamdulillah…” suaranya serak. Sangat lirih.

Tangannya yang lemah menggenggam tangan Zahra sekuat tenaga yang ia punya. Getaran kecil terasa sebab haru yang tak terbendung.

Zahra ikut menangis saat kedua tangan Abah melebar, ia lantas menyambutnya. Menghambur ke pelukan Abah yang hangat. Tangisnya yang akhirnya pecah setelah sekian lama ia tahan, bukan hanya karena ketakutannya dengan kondisi Abah. Namun juga karena keraguan serta ketidaksiapannya menerima pinangan dari laki-laki asing yang bahkan belum pernah ia lihat seperti apa wajahnya. sungguh ia tak peduli soal tampang, yang terpenting ia yakin dengan pilihan Abah sudah pasti hatinya akan baik dan soleh.

Ya Allah… jika ini jalan yang kau berikan padaku. Tolong buatlah aku tidak menyesal atas keputusan ini. Berikanlah yang terbaik siapapun dia dalam hal keimanannya. —batin Zahra dalam pelukan Abah.

1
Hera sasuwe
👍
Nuryanto Yanto
lanjut kak
Bunda'Nya Reihan Kusnadi
kak imut kapan up lgi,..????
FiKiBiMi
kapan kak upnya.. panjang bener liburnya.
Umi Jasmine
kok blm up date
eka noviasih
/Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Good//Good//Good/
Cah Dangsambuh
tetap semangat kak kami maklum tapi tetap selalu nunggu,makasih masih tetep merhatikan kita🤣👍🙏
Bunda'Nya Reihan Kusnadi
duhhhhh mau dong ngabisin duit bulanan aww 😆😆😆
picisan imut: impian bgt ya Kak 🤣
total 1 replies
Susilawati
Aamiin ya robbal alamiin 🤲
Susilawati
Selamat hari raya Idul fitri, mohon maaf lahir dan batin juga thor 🙏
picisan imut: 🥰🥰🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Umi Jasmine
mohon maaf lahir & batin thoor
Syakila Uuy
aamiin ya robbal alamiin 🤲🥰
Anjellita
hatimu memang seluas samudrah zahra
Anjellita
waduh kok bisa kamu ngak buang surat keramat itu si adnan alamat berabeh dah
Anjellita
alhamdulillah up juga
Nuryanto Yanto
makasih up nya kak selamat hari raya idul fitri mohon maaf lahir dan batin🙏
Momo Bulbul: selamat hari raya idul fitri ka imut mohon maaf lahir batin
🙏🙏🙏
total 1 replies
Ai Meysi
makasih dah nyempetin up ka di malam tskbir.. mohon maap lahir batin ya ka🙏🙏😍
Oha Hermawan
kayak nya hamidun tuh c zauhara ya neng imut..
Anjellita
alhamdulillah akhirnya up juga
Umi Jasmine
semangat kak imut.... santai aja, kita setia menunggu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!